Ternyata Mangrove Bisa Dimakan: Belajar Ketahanan Pangan dari Raja Ampat

“Ternyata buah mangrove bisa dimakan?”
Pertanyaan itu spontan muncul dalam pikiran saya ketika mengikuti Online Gathering ECO Blogger Squad (EBS), Jumat, 25 September 2026. Selama ini, saya mengenal mangrove hanya sebagai pohon yang tumbuh di wilayah pesisir.
Saya tahu mangrove penting untuk menjaga pantai, menahan abrasi, dan menjadi bagian dari ekosistem pesisir. Tetapi bahwa buahnya bisa diolah menjadi makanan? Jujur, saya baru mengetahuinya dalam pertemuan tersebut.
Saya sudah bergabung dengan EBS sejak 2020. Selama itu pula, kami cukup sering mengikuti online gathering untuk belajar berbagai isu lingkungan. Setiap pertemuan seperti membuka jendela pengetahuan baru. Kali ini, tema yang dibahas adalah “Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove di Raja Ampat.”
Raja Ampat selama ini lebih sering saya kenal melalui keindahan laut, pulau-pulau kecil, dan kekayaan biodiversitasnya. Padahal, kawasan ini juga memiliki ekosistem mangrove yang penting.
Data pemerintah terbaru menempatkan Raja Ampat sebagai salah satu kawasan mangrove utama di Indonesia, sementara secara keseluruhan Papua merupakan wilayah dengan sebaran mangrove terbesar di Indonesia.
Dari Pohon Penahan Abrasi Menjadi Sumber Pangan
Narasumber pertama, Bung Daniel Kbareh, Program Officer The Asia Foundation (TAF). Dia memaparkan tentang Ketahanan Pangan Berbasis Mangrove di Raja Ampat.Dari pemaparan Bung Daniel, saya mendapatkan pengetahuan yang benar-benar baru. Buah mangrove jenis Bruguiera gymnorrhiza, atau yang dikenal sebagai lindur, ternyata dapat diolah menjadi tepung.
Tepung tersebut kemudian dapat digunakan sebagai bahan pangan. Berbagai penelitian juga telah mendokumentasikan pemanfaatan Bruguiera gymnorrhiza sebagai bahan pangan, termasuk untuk tepung dan produk olahan seperti kue atau makanan ringan.
Dalam pemaparan tersebut, saya juga diperkenalkan pada berbagai bentuk pemanfaatan hasil mangrove, mulai dari olahan tepung, sirup, minuman kesehatan, hingga kue dan keripik.
Saya benar-benar dibuat berpikir ulang. Selama ini, ketika mendengar kata mangrove, yang muncul dalam bayangan saya adalah bibit kecil yang ditanam di pinggir pantai.
Ingatan saya bahkan kembali pada masa setelah tsunami di Aceh. Saat itu, penanaman mangrove banyak dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga kawasan pesisir. Dalam pemahaman saya yang sederhana, fungsi mangrove berhenti sampai di sana: melindungi pantai.
Ternyata saya keliru karena pengetahuan saya memang belum selesai. Mangrove tidak hanya berdiri sebagai benteng alami pesisir. Di tangan masyarakat yang memiliki pengetahuan tentangnya, mangrove juga dapat menjadi bagian dari sumber pangan dan penghidupan.
Ketika Perempuan Menjadi Bagian Penting dari Ketahanan Pangan
Pemaparan kedua disampaikan oleh Bapak Wiwiyai Steve, Program Manager Perkumpulan Kawanan Pesisir Raja Ampat (PKPRA). Ia membahas tentang “Membangun Ketahanan Pangan Lokal Melalui Penguatan Kelompok Perempuan dalam Memanfaatkan Mangrove di Kawasan Hutan Desa Kampung Friwen.”Bagian ini menarik perhatian saya karena pembahasannya tidak berhenti pada bagaimana mangrove dimanfaatkan, tetapi juga tentang siapa yang menjadi penggeraknya.
Di Kampung Friwen, berbagai upaya dilakukan untuk menjaga dan memulihkan mangrove. Mulai dari pembibitan, persemaian, hingga penanaman kembali pada kawasan yang mengalami kerusakan.
Tetapi restorasi ternyata tidak berhenti pada menanam kembali pohon. Ada pula upaya mengembangkan produk mangrove sebagai pangan lokal dan jasa lingkungan. Bahkan ada program adopsi mangrove yang dapat melibatkan wisatawan.
Di sinilah saya melihat hubungan yang menarik antara lingkungan dan masyarakat. Mangrove dijaga, tetapi masyarakat juga memperoleh ruang untuk belajar mengelola potensinya secara berkelanjutan.
Dan yang tidak kalah penting, kelompok perempuan ditempatkan sebagai bagian dari proses tersebut.
Perempuan bukan hanya penerima manfaat dari program lingkungan. Mereka dapat menjadi pengelola pengetahuan, pengolah produk, penggerak kegiatan, sekaligus bagian dari upaya menjaga ekosistem tempat mereka hidup.
Bagi saya, ini memberikan makna baru tentang ketahanan pangan. Selama ini, ketika mendengar istilah ketahanan pangan, pikiran saya langsung menuju sawah, kebun, ladang, atau hasil pertanian. Padahal, masyarakat pesisir memiliki ruang hidup yang berbeda. Laut, pesisir, dan mangrove juga dapat menjadi bagian dari sumber kehidupan.
Dari Tidak Tahu Menjadi Ingin Terus Belajar
Kalau saya mengingat kembali perjalanan saya mengenal mangrove, semuanya terjadi secara bertahap.Saya baru mengenal mangrove lebih dekat ketika pindah ke Banda Aceh untuk kuliah pada 2010. Kemudian pada 2024, dalam offline gathering EBS di Jakarta, saya pernah menanam mangrove bersama teman-teman.
Saat itu saya berpikir sedang ikut menjaga lingkungan. Hari ini, setelah mendengar cerita dari Raja Ampat, saya menyadari bahwa menanam hanyalah salah satu bagian dari perjalanan panjang menjaga mangrove.
Kita juga perlu memahami ekosistemnya. Mengenal masyarakat yang hidup berdampingan dengannya. Memahami pengetahuan lokal yang diwariskan. Mengetahui bagaimana sumber daya alam dapat dimanfaatkan tanpa merusaknya.
Bagi saya, pembelajaran dari Raja Ampat ini sederhana tetapi dalam: alam sering kali menyimpan manfaat yang belum kita ketahui karena kita belum cukup mengenalnya.
Mangrove bukan sekadar pohon yang kita tanam untuk menyelamatkan pesisir. Ia adalah bagian dari kehidupan.
Ada pangan. Ada penghidupan. Ada pengetahuan lokal. Ada perempuan yang ikut menjaga dan mengolahnya. Ada masyarakat yang berusaha memulihkan ekosistemnya.
Dan mungkin, ketahanan pangan tidak selalu harus dicari dari sesuatu yang jauh. Kadang-kadang, jawabannya sudah tumbuh di sekitar kita. Hanya saja, kita perlu belajar melihatnya dengan cara yang lebih utuh.
Saya yang dulu bahkan tidak tahu bahwa buah mangrove bisa menjadi makanan, kini justru semakin penasaran untuk terus belajar. Karena semakin mengenal alam, semakin saya sadar: ternyata masih banyak hal yang belum saya ketahui.
![]() |
| Menanam pohon mangrove saat offline gathering bersama EBS 2024 |





