Ternyata Mangrove Bisa Dimakan: Belajar Ketahanan Pangan dari Raja Ampat






“Ternyata buah mangrove bisa dimakan?”

Pertanyaan itu spontan muncul dalam pikiran saya ketika mengikuti Online Gathering ECO Blogger Squad (EBS), Jumat, 25 September 2026. Selama ini, saya mengenal mangrove hanya sebagai pohon yang tumbuh di wilayah pesisir.

Saya tahu mangrove penting untuk menjaga pantai, menahan abrasi, dan menjadi bagian dari ekosistem pesisir. Tetapi bahwa buahnya bisa diolah menjadi makanan? Jujur, saya baru mengetahuinya dalam pertemuan tersebut.

Saya sudah bergabung dengan EBS sejak 2020. Selama itu pula, kami cukup sering mengikuti online gathering untuk belajar berbagai isu lingkungan. Setiap pertemuan seperti membuka jendela pengetahuan baru. Kali ini, tema yang dibahas adalah “Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove di Raja Ampat.”



Raja Ampat selama ini lebih sering saya kenal melalui keindahan laut, pulau-pulau kecil, dan kekayaan biodiversitasnya. Padahal, kawasan ini juga memiliki ekosistem mangrove yang penting.

Data pemerintah terbaru menempatkan Raja Ampat sebagai salah satu kawasan mangrove utama di Indonesia, sementara secara keseluruhan Papua merupakan wilayah dengan sebaran mangrove terbesar di Indonesia.

Dari Pohon Penahan Abrasi Menjadi Sumber Pangan

Narasumber pertama, Bung Daniel Kbareh, Program Officer The Asia Foundation (TAF). Dia memaparkan tentang Ketahanan Pangan Berbasis Mangrove di Raja Ampat.

Dari pemaparan Bung Daniel, saya mendapatkan pengetahuan yang benar-benar baru. Buah mangrove jenis Bruguiera gymnorrhiza, atau yang dikenal sebagai lindur, ternyata dapat diolah menjadi tepung.

Tepung tersebut kemudian dapat digunakan sebagai bahan pangan. Berbagai penelitian juga telah mendokumentasikan pemanfaatan Bruguiera gymnorrhiza sebagai bahan pangan, termasuk untuk tepung dan produk olahan seperti kue atau makanan ringan.

Dalam pemaparan tersebut, saya juga diperkenalkan pada berbagai bentuk pemanfaatan hasil mangrove, mulai dari olahan tepung, sirup, minuman kesehatan, hingga kue dan keripik.

Saya benar-benar dibuat berpikir ulang. Selama ini, ketika mendengar kata mangrove, yang muncul dalam bayangan saya adalah bibit kecil yang ditanam di pinggir pantai.

Ingatan saya bahkan kembali pada masa setelah tsunami di Aceh. Saat itu, penanaman mangrove banyak dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga kawasan pesisir. Dalam pemahaman saya yang sederhana, fungsi mangrove berhenti sampai di sana: melindungi pantai.

Ternyata saya keliru karena pengetahuan saya memang belum selesai. Mangrove tidak hanya berdiri sebagai benteng alami pesisir. Di tangan masyarakat yang memiliki pengetahuan tentangnya, mangrove juga dapat menjadi bagian dari sumber pangan dan penghidupan.

Ketika Perempuan Menjadi Bagian Penting dari Ketahanan Pangan

Pemaparan kedua disampaikan oleh Bapak Wiwiyai Steve, Program Manager Perkumpulan Kawanan Pesisir Raja Ampat (PKPRA). Ia membahas tentang “Membangun Ketahanan Pangan Lokal Melalui Penguatan Kelompok Perempuan dalam Memanfaatkan Mangrove di Kawasan Hutan Desa Kampung Friwen.”

Bagian ini menarik perhatian saya karena pembahasannya tidak berhenti pada bagaimana mangrove dimanfaatkan, tetapi juga tentang siapa yang menjadi penggeraknya.

Di Kampung Friwen, berbagai upaya dilakukan untuk menjaga dan memulihkan mangrove. Mulai dari pembibitan, persemaian, hingga penanaman kembali pada kawasan yang mengalami kerusakan.

Tetapi restorasi ternyata tidak berhenti pada menanam kembali pohon. Ada pula upaya mengembangkan produk mangrove sebagai pangan lokal dan jasa lingkungan. Bahkan ada program adopsi mangrove yang dapat melibatkan wisatawan.

Di sinilah saya melihat hubungan yang menarik antara lingkungan dan masyarakat. Mangrove dijaga, tetapi masyarakat juga memperoleh ruang untuk belajar mengelola potensinya secara berkelanjutan.

Dan yang tidak kalah penting, kelompok perempuan ditempatkan sebagai bagian dari proses tersebut.

Perempuan bukan hanya penerima manfaat dari program lingkungan. Mereka dapat menjadi pengelola pengetahuan, pengolah produk, penggerak kegiatan, sekaligus bagian dari upaya menjaga ekosistem tempat mereka hidup.

Bagi saya, ini memberikan makna baru tentang ketahanan pangan. Selama ini, ketika mendengar istilah ketahanan pangan, pikiran saya langsung menuju sawah, kebun, ladang, atau hasil pertanian. Padahal, masyarakat pesisir memiliki ruang hidup yang berbeda. Laut, pesisir, dan mangrove juga dapat menjadi bagian dari sumber kehidupan.

Dari Tidak Tahu Menjadi Ingin Terus Belajar

Kalau saya mengingat kembali perjalanan saya mengenal mangrove, semuanya terjadi secara bertahap.

Saya baru mengenal mangrove lebih dekat ketika pindah ke Banda Aceh untuk kuliah pada 2010. Kemudian pada 2024, dalam offline gathering EBS di Jakarta, saya pernah menanam mangrove bersama teman-teman.

Saat itu saya berpikir sedang ikut menjaga lingkungan. Hari ini, setelah mendengar cerita dari Raja Ampat, saya menyadari bahwa menanam hanyalah salah satu bagian dari perjalanan panjang menjaga mangrove.

Kita juga perlu memahami ekosistemnya. Mengenal masyarakat yang hidup berdampingan dengannya. Memahami pengetahuan lokal yang diwariskan. Mengetahui bagaimana sumber daya alam dapat dimanfaatkan tanpa merusaknya.

Bagi saya, pembelajaran dari Raja Ampat ini sederhana tetapi dalam: alam sering kali menyimpan manfaat yang belum kita ketahui karena kita belum cukup mengenalnya.

Mangrove bukan sekadar pohon yang kita tanam untuk menyelamatkan pesisir. Ia adalah bagian dari kehidupan.

Ada pangan. Ada penghidupan. Ada pengetahuan lokal. Ada perempuan yang ikut menjaga dan mengolahnya. Ada masyarakat yang berusaha memulihkan ekosistemnya.

Dan mungkin, ketahanan pangan tidak selalu harus dicari dari sesuatu yang jauh. Kadang-kadang, jawabannya sudah tumbuh di sekitar kita. Hanya saja, kita perlu belajar melihatnya dengan cara yang lebih utuh.

Saya yang dulu bahkan tidak tahu bahwa buah mangrove bisa menjadi makanan, kini justru semakin penasaran untuk terus belajar. Karena semakin mengenal alam, semakin saya sadar: ternyata masih banyak hal yang belum saya ketahui.
Menanam pohon mangrove saat
offline gathering bersama EBS 2024






Kearifan Lokal Menjaga Alam



Dulu saat kecil, saya sering melihat nenek mengambil daun pandan berduri untuk dibuat anyaman tikar dan tas. Dalam proses pengerjaannya menggunakan beberapa tahapan yang membutuhkan waktu beberapa hari hingga minggu.

Mulai dari pengambilan daun pandan di semak-semak, membuang durinya, didiang menggunakan bara api, dihaluskan menggunakan sembilu, diraut menjadi lembaran kecil, direndam di dalam telaga dua hari dua malam, hingga direbus menggunakan pewarna alami sehingga menghasilkan warna biru, ungu, atau merah muda sesuai pewarna dari tanaman atau tumbuhan yang digunakan. Kemudian barulah dianyam menjadi tikar atau tas sesuai yang diinginkan.

Ilustrasi Gambar nenek yang sedang membuat anyaman tikar

Semua tahapan itu dilakukan secara manual dengan peralatan seadanya. Namun, hal seperti ini tidak bisa saya jumpai lagi. Bahkan saya sudah jarang melihat warga menggunakan tikar pandan sebagai alas duduk. Kebanyak menggunakan tikar plastik, karpet, atau bahan lainnya buatan pabrikan. Dan bila tikar itu robek atau usang jadi sampah yang sulit teruraikan di tanah oleh mikroorganisme karena bahannya sintetis.

Orang terdahulu memanfaatkan tumbuhan yang ada di hutan dan sekitarnya dengan seperlunya sesuai kebutuhan. Inilah yang disebut sebagai kearifan lokal di mana pengetahuan dan nilai-nilai diwariskan secara turun temurun. Namun, seiring berjalanan waktu dan perkembangan zaman banyak kearifan lokal tiap daerah hilang.

Nilai-nilai yang mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan alam dan merawat lingkungan dengan penuh tanggung jawab sirna. Semua berganti dengan serba cepat dan instan tanpa mempertimbangkan nilai-nilai yang ada. Bahkan eksplorasi terhadap alam pun marak terjadi yang menjadi ancaman bagi kehidupan generasi mendatang di bumi.

Nenun, Tradisi Suku Dayak Iban yang Masih Lestari

Dalam tradisi Dayak Iban, menenun bukan hanya soal membuat kain, tetapi juga mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga alam. Sebab dalam proses pengerjaannya melalui beberapa tahapan yang sarat akan makna dan nilai-nilai dalam menjaga alam.

Dokumentasi dari slide power point Margaretha


Begitulah yang saya ketahui dari Kak Margaretha Mala yang merupakan Ketua Komunitas Tenun Endo Sagadok. Di tengah banyaknya tradisi yang hilang seperti cerita saya di atas, ia tergerak dan terpanggil untuk mempelajari tenun, sehingga bisa meneruskan kepada anak-anak muda, pelajar dan siapa saja yang mau untuk belajar menenun.

“Dengan menenun, berarti saya ikut berperan serta dalam melestarikan nilai-nilai luhur budaya dan tradisi Suku Dayak Iban, khususnya menenun.” Ucap kak Margaretha saat mengisi materi online gathering Eco Blogger Squad, 28 Februari 2025.



Dalam menenun, Suku Dayak Iban menggunakan pewarna alam seperti renggat padi, mengkudu akar, engkerbai, sebagai upaya konservasi terhadap jenis-jenis tumbuhan yang ada di alam. Hal ini tentu dapat mengurangi pencemaran lingkungan akibat pewarna sintesis pakaian.

Prosesnya membutuhkan waktu lama karena ada beberapa tahapan yang dilalui seperti pembuatan pewarna alam untuk mewarnai benang yang akan digunakan dalam menenun, nakar/perminyakan dengan memperhatikan ketentuan khusus.

Misalnya nakar tidak boleh dilakukan pada saat orang meninggal dunia, wanita hamil dan menstruasi tidak dibolehkan mengikuti upacara nakar, proses pencampuran ramuan harus orang tua yang beruban, upacara nakar tidak boleh dilakukan di dalam rumah, dan benang yang sudah di nakar harus dimasukkan ke dalam rumah betang dan dijaga sepanjang malam.

Kak Margaretha berperan sebagai fasilitator ibu-ibu pengrajin Tenun Dusun Sadap untuk mempromosikan dan menjual kain tenun tersebut pada pembeli dari luar negeri. Bahasa halusnya ia menyebut pembeli sebagai pengadopsi tenun. Sebab dilihat dari pengerjaannya, tentu harganya tidak ternilai karena melibatkan banyak tahapan dan proses yang sakral.

Dengan adanya prosesi ini mengajarkan kita bahwa kearifan lokal mengajak kita untuk selalu menghargai dan melestarikan alam demi kebaikan bersama dan masa depan yang berkelanjutan.

Ecoprint Wujud Modern Keselarasan Alam

Kearifan lokal mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan alam, dan trend Ecoprint merupakan wujud modern dari prinsip-prinsip tersebut. Ecoprint merupakan teknik percetakan yang memanfaatkan pewarna alami dari tumbuhan untuk menciptakan pola unik pada kain, kertas, atau material lainnya.

Teknik ini adalah inovasi kontemporer yang terinspirasi oleh tradisi-tradisi lokal dalam memanfaatkan alam secara bijak, sehingga dapat dikatakan bahwa ia mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal dalam praktik modernnya.

Seperti yang dilakukan oleh Novieta Tourisia, Founder Cinta Bumi Artisans menghubungkan metode dan teknik pewarnaan alami tradisional dengan kontemporer pada kain atau limbah kain.

Ia menyebutnya Upcycled Fashion, yaitu perjalanan sehat selaras melalui sandang berkesadaran dan berkelanjutan. Barang-barang yang sudah lama di lemari, diolah kembali dengan teknik Ecoprint sehingga menghasilkan karya yang luar biasa dan tentunya ramah lingkungan.

Saya mendapatkan satu paket Ecoprint Kit dari beliau. Saat online gathering Eco Blogger kami diajarkan cara membuat Ecoprint di atas Tote bag yang sudah disediakan. Beberapa alat seperti stik kayu, tali goni, dan dedaunan kering menjadi pengalaman seru bagi saya. 

Stik kayu dan tali goni yang digunakan untuk membuat Ecoprint, dokumentasi dari FB Cinta Bumi Artisans

Meskipun sedikit ribet dalam pengerjaannya, tapi di sini saya belajar bahwa dengan kreativitas , inovasi, dan penghargaan terhadap alam alam, kita dapat menciptakan solusi yang indah dan berkelanjutan seperti yang dilakukan oleh nenek moyang kita terdahulu. Sehingga alam, lingkungan, dan budaya pun tetap terjaga dengan baik untuk generasi sekarang dan juga yang akan datang.

Hasil dari Ecoprint, dkumentasi dari FB Cinta Bumi Artisans


Produk dari Cinta Bumi Artisans, dokumentasi dari FB Cinta Bumi Artisans



Saatnya Ganti Laptop dengan ASUS Vivobook Go 14, Laptop Ringan yang Cepat Loadingnya


Ketika deadline menulis lagi banyak-banyaknya, eh laptopku malah berulah. Padahal beberapa tulisan sudah siap di-posting ke blog. Namun, dia tak mau menyala dan hanya muncul tulisan Restarting dengan lingkaran bola-bola kecil mengelilinginya (pertanda sedang memproses/loading).

Budaya Hemat Listrik Penyelamat Bumi dari Krisis Iklim



“Hemat pangkal kaya” begitulah pepatah lama. Namun, perilaku menghemat listrik ini bisa diterapkan untuk membantu mengurangi krisis iklim saat ini. Bagaimana caranya?

Ayo kita ingat kembali ke cerita zaman dahulu kala. Menurut cerita ibuku, di tahun 70-an di saat listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) belum masuk desa, kehidupan masyarakat aman-aman saja.

Ketika siang hari, masyarakat menggunakan cahaya matahari sebagai penerang, untuk mengeringkan pakaian, membantu mereka berladang, dan menunjang proses pertanian. Di kala malam, masyarakat menggunakan pelita, lampu dari minyak tanah, dan suloh (penerang dari bambu yang berbahan bakar minyak tanah) sebagai penerang ruangan.

Di beberapa masjid sudah terdapat mesin pembangkit listrik yang berbahan bakar solar seperti genset saat ini, sehingga bisa menerangi beberapa rumah yang berada di sekitar masjid. Setiap rumah hanya diperbolehkan menggunakan 1 bola lampu. Penggunaan mesin ini hanya berlaku sampai pukul 22.00 WIB, seusai salat Isya mesin tersebut dimatikan dan dihidupkan besok malamnya lagi.

Setiap malam terus begitu dan masyarakat menerima kehidupan seperti itu. Sebab memang kondisinya di kala itu minim lampu karena listrik belum disokong oleh negara. Semua masyarakat harus terima dengan lapang dada.

PLN Masuk Desa

Hingga pada akhirnya Perusahaan Listrik Negara (PLN) masuk desa, semua menyambut gembira karena dunia yang selama ini gelap di malam hari akan menjadi terang. Terlebih motonya PLN ialah “Listrik untuk kebutuhan yang lebih baik” sehingga adanya listrik di sebuah rumah kala itu, dapat menunjukkan status ekonomi dari keluarga tersebut.

Kedatangan listrik ini rupanya membawa jalan masuk berbagai macam teknologi, seperti televisi, telepon, lemari pendingin (kulkas), rice cooker, blender, dispenser, mesin cuci pakaian, dan berbagai alat kebutuhan rumah tangga lainnya yang menggunakan listrik.

Sehingga yang awalnya kebutuhan listrik sebagai penerang berubah menjadi kebutuhan untuk meringankan pekerjaan rumah tangga, sehingga yang awalanya kebutuhan listrik 2 amper untuk satu keluarga naik menjadi 4 amper. Semua itu demi kebutuhan yang lebih baik.

Berhematlah Menggunakan Listrik

Ibuku sering bilang, berhematlah menggunakan listrik. Pakailah seperlunya saja, bahkan untuk menyalakan televisi saja ada waktu-waktunya. Saat menampung air di bak mandi menggunakan mesin air, harus menunggu sampai penuh baru boleh ditinggalkan dan hanya boleh dihidupkan lagi saat air di bak mandi sudah habis. Kalau siang, lampu tidak boleh dihidupkan dan saat tidur malam lampu semua dimatikan. Kita pun tidur dalam gelap.

Dulu aku sering kesal ke ibu, menganggapnya pelit karena membatasi menggunakan listrik. Namun, kian hari aku baru sadar maksud dan tujuannya untuk menghemat listrik supaya tanjakan penggunaan listrik tidak terlalu besar. Namun, dibalik itu semua adalah bagaimana kita bisa menggunakan sesuatu secukupnya saja. Sebab, alam akan tetap seimbang bila kita menggunakan sekadarnya saja.

Sekarang lihatlah kebutuhan listrik meningkat tajam, sayangnya PLN masih menggunakan batu bara sebagai pembangkit listriknya. Sehingga aktivitas penambangan batu bara terus terjadi untuk memenuhi pasokan listrik negara. Karena kebetulan PLN adalah satu-satunya perusahaan pembangkit listrik yang ada di Indonesia, mau tidak mau dampak lingkungan akibat aktivitas pembakaran batu bara berefek besar pada pencemaran udara.

Desakan untuk menggunakan energy terbarukan oleh berbagai pihak dan lembaga lingkungan terus disuarakan. Agar PLN menggunakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan sehingga polusi yang dikeluarkan aman dan tidak menimbulkan pencemaran yang mengakibatkan perubahan iklim. Jadi, pemerintah menggagas system Co-firing sebagai strategi transisi energi.

Benarkah Co-Firing Solusi untuk Transisi Energi yang Ramah Lingkungan?

Aku baru mendengar istilah Co-Firing saat kegiatan online gathering Eco Blogger Squad, pada 20 Oktober lalu. Kali ini kita mengangkat tema “Semangat Orang Muda Menjaga Bumi Indonesia.” Ada tiga narasumber dari perempuan muda yang memperjuangkan perubahan iklim dengan cara mereka sendiri dan timnya.


Dari ketiga narasumber tersebut, aku lebih tertarik materi yang disampaikan oleh Kak Amalya Reza, Manajer Bioenergi atTrend Asia, yaitu tentang Mengenal Penerapan Co-firing (Metode Oplos Batubara dengan Biomassa di PLTU Indonesia).

Dalam presentasinya, Kak Amalya menampilkan sebuah video yang mebuatku tidak habis pikir kenapa pemerintah bisa-bisanya membuat rencana halu seperti itu. Bukannya memfokuskan pada energi angin dan surya, tapi malah ngotot tetap menggunakan batu bara sebagai energi pembangkit listrik.

Jadi pemerintah tetap menggunakan batu bara dengan mencampurkan biomassa untuk dibakar bersama di PLTU. Metode inilah yang disebut dengan co-firing. Jenis biomassa yang gencar diwacanakan pemerintah ialah pelet kayu.



PLN mengklaim bahwa praktik co-firing biomassa pelet kayu ini menjadi cara paling jitu untuk transisi energi. Sebab menurut mereka tidak perlu lagi membangun pembangkit tenaga listrik energi terbarukan dari awal.

Namun, tahukah kamu darimana biomassa pelet kayu tersebut diambil? Yups dari HUTAN. Namun, jangan bayangkan hutan dengan beraneka jenis pohon & hewan ya karena penerapan co-firing ini butuh bahan baku biomassa pelet kayu dalam jumlah besar yang kayunya itu sejenis atau homegen.

Untuk memenuhi kebutuhan pelet kayu tersebut, oleh pemerintah dibuatlah program penanaman tanaman monokultur. Jadi, ini semacam kebun kayu yang dibalut dengan nama “HUTAN TANAMAN ENERGI.”

Skemanya Begini

Pertama pemerintah akan menentukan wilayah yang akan dikembangkan menjadi koneksi Hutan Tanaman Energi. Kemudian pohon sejenis ditanami dalam konsesi lahan yang izinnya dikeluarkan pemerintah.

Selanjutnya ketika pohon sudah tumbuh besar, pohonnya ditebang dan diangkut ke pabrik untuk dijadikan serbuk dan dipadatkan menjadi pelet kayu. Inilah yang akan dikirim ke PLTU-PLTU seluruh Indonesia untuk dibakar bersama batubara.

Seluruh rangkaian aktivitas pembuatan pelet kayu ini akan melepas emisi gas rumah kaca ke atmosfir bumi. Termasuk proses pembukaan lahan dan hutan.

Program Hutan Tanaman Energi ini dilakukan untuk memenuhi target implementasi co-firing di 107 unit PLTU di seluruh Indonesia hingga 2025.

Dengan jumlah PLTU sebanyak itu dan asumsi praktik co-firing 95-90% batubara, dicampur 5-10% biomassa, maka PLN butuh kurang lebih 10.2 juta ton pertahun biomassa pelet kayu. Wah, di dapat darimana pasokan pelet kayu sebanyak itu ya? Lagi dan lagi kita harus mengorbankan hutan alami untuk membuka hutan buatan.

Berdasarkan prediksi Trend Asia, jumlah bahan baku biomassa seperti itu akan membutuhkan lahan Hutan Tanaman Energi paling sedikit 2,33 juta hektare atau sebanyak 35x luas daratan ibukota Jakarta.

Itu artinya program Hutan Tanaman Energi ini akan berpotensi menimbulkan deforestasi besar-besaran. Parahnya lagi, jika belajar dari kesalahan Program Hutan Tanaman Industri, potensi hutan alam yang terdampak juga besar loh.

Imbasnya habitat satwa liar, hewan dan tumbuhan endemik yang ada di hutan alami bisa rusak. Tidak hanya berdampak pada hewan dan tumbuhan saja, deforestasi juga akan menimbulkan konflik lahan bagi masyarakat adat dan masyarakat lokal karena menghilangkan hutan alam sebagai warung hidup dan apotek hidup masyarakat.

Trend asia juga menghitung seluruh proses ini berpotensi menghasilkan total emisi hingga 26,48 juta ton, setara karbondioksida pertahun. Jadi, alih-alih emisinya berkurang seperti yang diklaim pemerintah, metode co-firing atau oplos batubara dengan biomassa ini malah akan terus menambah emisi pada tahun 2023. Ujungnya ini semua berdampak ke situasi krisis iklim di Indonesia yang semakin parah. Omong kosong bukan, kita bisa mengurangi emisi energi.

Kenapa Ini Bisa Terjadi?

Karena kebutuhan energi khususnya listrik terus meningkat setiap tahunnya. Mau tidak mau, PLN sebagai satu-satunya perusahaan listrik negara harus memenuhi kebutuhan tersebut. Jadi, kita sehari-hari sebagai pengguna listrik harus sadar diri. Jangan tahunya berkoar-koar untuk mendesak pemerintah melakukan energi terbarukan, tapi kita malah boros energi dalam penggunaan barang-barang rumah tangga.

Jadi, bila sudah tahu kondisinya begini, kembalilah ke budaya menghemat listrik, seperti yang diterapkan oleh orang tua kita dulu. Gunakan seperlunya dan matikan listrik selebihnya. Itu aksi kecil yang bisa kita lakukan saat ini.

Selain itu kita juga bisa mendesak pemerintah untuk tidak melanjutkan program co-firing ini. Tapi meminta pemerintah agar tidak egois mengelola listrik seluruh rakyat Indonesia sendiri. Harusnya pemerintah memberi kesempatan bagi masyarakat mengeluarkan ide dan cara mereka untuk menghasilkan energi secara mandiri.

Sebab, banyak masyarakat yang sudah mulai menggunakan energi terbarukan untuk menghasilkan listrik seperti panel surya. Andaikan kebutuhan listrik masyarakat di kelola oleh masyarakat sendiri, bukan sepenuhnya oleh negara, aku rasa itu lebih baik. Seperti zaman dahulu yang menggunakan energy listrik sesuai kebutuhan bukan karena kemudahannya.