Karhutla dan Ancaman di Meja Makan



Pada Jumat, 16 Oktober 2026, saya kembali mengikuti Online Gathering ECO Blogger Squad (EBS). Kali ini, kami membahas tema Dari Gambut ke Meja Makan: Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan.

Tema ini terasa begitu dekat dengan kehidupan kita. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya persoalan pohon yang terbakar atau hutan yang menghilang. Dampaknya bisa meluas hingga udara yang kita hirup, sumber air, kesehatan, dan makanan yang tersedia di meja makan.

Belakangan, kabut asap akibat karhutla di Kalimantan, asapnya tiba juga ke Aceh. Bahkan ini sudah menjadi masalah karena dapat menggangu berbagai aktivitas dan kesehatan. Ketika udara tercemar, masyarakat harus lebih waspada, menggunakan masker, bahkan aktivitas sekolah dapat terganggu. Ini bukan pertama kalinya kita menghadapi persoalan asap. Lalu, mengapa kita terus mengulang masalah yang sama?

Gambut Bukan Lahan Kosong

Dalam sesi pertama bertajuk Peatland Is Not Wasteland, Yoga Aprillianno dari Pantau Gambut menjelaskan pentingnya ekosistem gambut bagi kehidupan.

Indonesia memiliki salah satu ekosistem gambut tropis terluas di dunia. Gambut terbentuk dari tumpukan bahan organik yang terurai sangat lambat selama ribuan tahun. Ekosistem ini menyimpan karbon dalam jumlah besar sekaligus berperan penting dalam mengatur tata air dan menjaga keseimbangan iklim.

Gambut juga memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air. Namun, ketika dikeringkan melalui kanal untuk membuka lahan perkebunan, keseimbangan alaminya terganggu. Gambut yang kering menjadi lebih mudah terbakar. Lapisan mineral pirit yang terpapar oksigen juga dapat teroksidasi dan menghasilkan keasaman tinggi. Air asam yang mengalir ke sungai berpotensi mengganggu kehidupan organisme di dalamnya.

Ketika lahan gambut dikeringkan 
Artinya, kerusakan gambut tidak berhenti di lokasi kebakaran. Dampaknya dapat menjalar ke lingkungan dan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Yang sering terlupakan, gambut juga menyimpan sumber pangan. Ada sagu, rumbia, nipah, talas, dan berbagai tumbuhan lain yang dimanfaatkan masyarakat setempat. Jika ekosistem ini rusak dan digantikan oleh perkebunan monokultur, kita bukan hanya kehilangan hutan, tetapi juga kehilangan keanekaragaman hayati dan sumber pangan lokal.

Ketika Pangan Diseragamkan

Persoalan ini semakin menarik ketika memasuki sesi kedua bersama Ahmad Arif dari Kompas, yang membahas tentang Keragaman Biokultural, Kunci Kedaulatan Pangan dan Iklim.

Saya kembali diingatkan bahwa Indonesia bukan hanya kaya akan alam, tetapi juga kaya akan budaya dan tradisi pangan. Setiap daerah memiliki sumber makanan, cara mengolah, dan kebiasaan makan yang tumbuh bersama lingkungan mereka.
Mama dari Papua mengolah sagu menjadi pangan utama 

Sayangnya, konsumsi pangan kita semakin bertumpu pada beras dan gandum. Padahal, masyarakat Nusantara memiliki sumber karbohidrat lain, seperti sagu, jagung, dan ubi.

Di Papua, misalnya, sagu telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Karena itu, pembangunan pangan seharusnya tidak mengabaikan kebiasaan dan pengetahuan lokal. Berbagai program perluasan sawah di Papua, termasuk di Merauke, juga perlu memperhatikan keberlanjutan lingkungan, hak masyarakat adat, dan keberadaan sumber pangan yang telah mereka andalkan.

Pemerintah mengumumkan capaian swasembada beras untuk 2025 pada awal Januari 2026. Namun, bagi saya, keberhasilan produksi beras perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga keragaman pangan. Swasembada satu komoditas belum otomatis berarti seluruh masyarakat memiliki akses terhadap pangan yang cukup, bergizi, dan sesuai kebutuhan mereka.

Dalam pemaparan tersebut, saya juga tertarik pada contoh perubahan pola konsumsi masyarakat. Ketika makanan instan semakin mudah dijangkau, sementara pangan lokal kehilangan tempatnya, yang berubah bukan hanya isi piring, tetapi juga hubungan masyarakat dengan alam dan budayanya.

Pola makan yang tidak seimbang, terutama jika tinggi gula, garam, dan lemak, juga dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular darah tinggi (hipertensi), darah manis (diabetes melitus), stroke, gagal jantung dan ginjal. Karena itu, membicarakan pangan seharusnya tidak berhenti pada jumlah produksi. Kita perlu memikirkan kualitas, keterjangkauan, kebiasaan makan, dan kesehatan masyarakat.

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Keberagaman

Dari gathering ini, saya belajar bahwa gambut dan pangan ternyata memiliki hubungan yang sangat erat. Ketika gambut rusak, kita kehilangan fungsi ekologis, keanekaragaman hayati, dan potensi sumber pangan. Ketika pangan diseragamkan, kita berisiko melupakan pengetahuan lokal yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Bagi saya, kedaulatan pangan bukan sekadar tentang seberapa banyak makanan diproduksi, melainkan juga tentang kemampuan masyarakat mengenali, mengakses, dan mempertahankan sumber pangannya sendiri.

Kita tidak harus meninggalkan beras untuk menghargai sagu, jagung, atau ubi. Kita hanya perlu memberi ruang yang adil bagi setiap sumber pangan untuk tumbuh dan berkembang sesuai potensi wilayahnya.
Sumber karbohidrat yang beragam 

Menjaga gambut berarti menjaga air, iklim, keanekaragaman hayati, dan kehidupan masyarakat. Pada saat yang sama, menghargai pangan lokal berarti merawat identitas dan pengetahuan yang menjadi bagian dari kekayaan Indonesia.

Pada akhirnya, hutan yang terbakar bukan hanya kehilangan pepohonan. Ada kehidupan yang ikut terancam, ada sumber pangan yang mungkin hilang, dan ada pengetahuan yang berisiko terlupakan.

Sebab, apa yang kita jaga hari ini akan menentukan apa yang bisa kita makan esok hari. Dan ketika kita menjaga keberagaman alam serta pangan Nusantara, sesungguhnya kita sedang merawat masa depan generasi berikutnya.

Andai semua kita bisa kembali memaknai alam, akan banyak sumber pangan yang bisa mencegah kita dari kelaparan 




Ternyata Mangrove Bisa Dimakan: Belajar Ketahanan Pangan dari Raja Ampat






“Ternyata buah mangrove bisa dimakan?”

Pertanyaan itu spontan muncul dalam pikiran saya ketika mengikuti Online Gathering ECO Blogger Squad (EBS), Jumat, 25 September 2026. Selama ini, saya mengenal mangrove hanya sebagai pohon yang tumbuh di wilayah pesisir.

Saya tahu mangrove penting untuk menjaga pantai, menahan abrasi, dan menjadi bagian dari ekosistem pesisir. Tetapi bahwa buahnya bisa diolah menjadi makanan? Jujur, saya baru mengetahuinya dalam pertemuan tersebut.

Saya sudah bergabung dengan EBS sejak 2020. Selama itu pula, kami cukup sering mengikuti online gathering untuk belajar berbagai isu lingkungan. Setiap pertemuan seperti membuka jendela pengetahuan baru. Kali ini, tema yang dibahas adalah “Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove di Raja Ampat.”



Raja Ampat selama ini lebih sering saya kenal melalui keindahan laut, pulau-pulau kecil, dan kekayaan biodiversitasnya. Padahal, kawasan ini juga memiliki ekosistem mangrove yang penting.

Data pemerintah terbaru menempatkan Raja Ampat sebagai salah satu kawasan mangrove utama di Indonesia, sementara secara keseluruhan Papua merupakan wilayah dengan sebaran mangrove terbesar di Indonesia.

Dari Pohon Penahan Abrasi Menjadi Sumber Pangan

Narasumber pertama, Bung Daniel Kbareh, Program Officer The Asia Foundation (TAF). Dia memaparkan tentang Ketahanan Pangan Berbasis Mangrove di Raja Ampat.

Dari pemaparan Bung Daniel, saya mendapatkan pengetahuan yang benar-benar baru. Buah mangrove jenis Bruguiera gymnorrhiza, atau yang dikenal sebagai lindur, ternyata dapat diolah menjadi tepung.

Tepung tersebut kemudian dapat digunakan sebagai bahan pangan. Berbagai penelitian juga telah mendokumentasikan pemanfaatan Bruguiera gymnorrhiza sebagai bahan pangan, termasuk untuk tepung dan produk olahan seperti kue atau makanan ringan.

Dalam pemaparan tersebut, saya juga diperkenalkan pada berbagai bentuk pemanfaatan hasil mangrove, mulai dari olahan tepung, sirup, minuman kesehatan, hingga kue dan keripik.

Saya benar-benar dibuat berpikir ulang. Selama ini, ketika mendengar kata mangrove, yang muncul dalam bayangan saya adalah bibit kecil yang ditanam di pinggir pantai.

Ingatan saya bahkan kembali pada masa setelah tsunami di Aceh. Saat itu, penanaman mangrove banyak dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga kawasan pesisir. Dalam pemahaman saya yang sederhana, fungsi mangrove berhenti sampai di sana: melindungi pantai.

Ternyata saya keliru karena pengetahuan saya memang belum selesai. Mangrove tidak hanya berdiri sebagai benteng alami pesisir. Di tangan masyarakat yang memiliki pengetahuan tentangnya, mangrove juga dapat menjadi bagian dari sumber pangan dan penghidupan.

Ketika Perempuan Menjadi Bagian Penting dari Ketahanan Pangan

Pemaparan kedua disampaikan oleh Bapak Wiwiyai Steve, Program Manager Perkumpulan Kawanan Pesisir Raja Ampat (PKPRA). Ia membahas tentang “Membangun Ketahanan Pangan Lokal Melalui Penguatan Kelompok Perempuan dalam Memanfaatkan Mangrove di Kawasan Hutan Desa Kampung Friwen.”

Bagian ini menarik perhatian saya karena pembahasannya tidak berhenti pada bagaimana mangrove dimanfaatkan, tetapi juga tentang siapa yang menjadi penggeraknya.

Di Kampung Friwen, berbagai upaya dilakukan untuk menjaga dan memulihkan mangrove. Mulai dari pembibitan, persemaian, hingga penanaman kembali pada kawasan yang mengalami kerusakan.

Tetapi restorasi ternyata tidak berhenti pada menanam kembali pohon. Ada pula upaya mengembangkan produk mangrove sebagai pangan lokal dan jasa lingkungan. Bahkan ada program adopsi mangrove yang dapat melibatkan wisatawan.

Di sinilah saya melihat hubungan yang menarik antara lingkungan dan masyarakat. Mangrove dijaga, tetapi masyarakat juga memperoleh ruang untuk belajar mengelola potensinya secara berkelanjutan.

Dan yang tidak kalah penting, kelompok perempuan ditempatkan sebagai bagian dari proses tersebut.

Perempuan bukan hanya penerima manfaat dari program lingkungan. Mereka dapat menjadi pengelola pengetahuan, pengolah produk, penggerak kegiatan, sekaligus bagian dari upaya menjaga ekosistem tempat mereka hidup.

Bagi saya, ini memberikan makna baru tentang ketahanan pangan. Selama ini, ketika mendengar istilah ketahanan pangan, pikiran saya langsung menuju sawah, kebun, ladang, atau hasil pertanian. Padahal, masyarakat pesisir memiliki ruang hidup yang berbeda. Laut, pesisir, dan mangrove juga dapat menjadi bagian dari sumber kehidupan.

Dari Tidak Tahu Menjadi Ingin Terus Belajar

Kalau saya mengingat kembali perjalanan saya mengenal mangrove, semuanya terjadi secara bertahap.

Saya baru mengenal mangrove lebih dekat ketika pindah ke Banda Aceh untuk kuliah pada 2010. Kemudian pada 2024, dalam offline gathering EBS di Jakarta, saya pernah menanam mangrove bersama teman-teman.

Saat itu saya berpikir sedang ikut menjaga lingkungan. Hari ini, setelah mendengar cerita dari Raja Ampat, saya menyadari bahwa menanam hanyalah salah satu bagian dari perjalanan panjang menjaga mangrove.

Kita juga perlu memahami ekosistemnya. Mengenal masyarakat yang hidup berdampingan dengannya. Memahami pengetahuan lokal yang diwariskan. Mengetahui bagaimana sumber daya alam dapat dimanfaatkan tanpa merusaknya.

Bagi saya, pembelajaran dari Raja Ampat ini sederhana tetapi dalam: alam sering kali menyimpan manfaat yang belum kita ketahui karena kita belum cukup mengenalnya.

Mangrove bukan sekadar pohon yang kita tanam untuk menyelamatkan pesisir. Ia adalah bagian dari kehidupan.

Ada pangan. Ada penghidupan. Ada pengetahuan lokal. Ada perempuan yang ikut menjaga dan mengolahnya. Ada masyarakat yang berusaha memulihkan ekosistemnya.

Dan mungkin, ketahanan pangan tidak selalu harus dicari dari sesuatu yang jauh. Kadang-kadang, jawabannya sudah tumbuh di sekitar kita. Hanya saja, kita perlu belajar melihatnya dengan cara yang lebih utuh.

Saya yang dulu bahkan tidak tahu bahwa buah mangrove bisa menjadi makanan, kini justru semakin penasaran untuk terus belajar. Karena semakin mengenal alam, semakin saya sadar: ternyata masih banyak hal yang belum saya ketahui.
Menanam pohon mangrove saat
offline gathering bersama EBS 2024






Kearifan Lokal Menjaga Alam



Dulu saat kecil, saya sering melihat nenek mengambil daun pandan berduri untuk dibuat anyaman tikar dan tas. Dalam proses pengerjaannya menggunakan beberapa tahapan yang membutuhkan waktu beberapa hari hingga minggu.

Mulai dari pengambilan daun pandan di semak-semak, membuang durinya, didiang menggunakan bara api, dihaluskan menggunakan sembilu, diraut menjadi lembaran kecil, direndam di dalam telaga dua hari dua malam, hingga direbus menggunakan pewarna alami sehingga menghasilkan warna biru, ungu, atau merah muda sesuai pewarna dari tanaman atau tumbuhan yang digunakan. Kemudian barulah dianyam menjadi tikar atau tas sesuai yang diinginkan.

Ilustrasi Gambar nenek yang sedang membuat anyaman tikar

Semua tahapan itu dilakukan secara manual dengan peralatan seadanya. Namun, hal seperti ini tidak bisa saya jumpai lagi. Bahkan saya sudah jarang melihat warga menggunakan tikar pandan sebagai alas duduk. Kebanyak menggunakan tikar plastik, karpet, atau bahan lainnya buatan pabrikan. Dan bila tikar itu robek atau usang jadi sampah yang sulit teruraikan di tanah oleh mikroorganisme karena bahannya sintetis.

Orang terdahulu memanfaatkan tumbuhan yang ada di hutan dan sekitarnya dengan seperlunya sesuai kebutuhan. Inilah yang disebut sebagai kearifan lokal di mana pengetahuan dan nilai-nilai diwariskan secara turun temurun. Namun, seiring berjalanan waktu dan perkembangan zaman banyak kearifan lokal tiap daerah hilang.

Nilai-nilai yang mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan alam dan merawat lingkungan dengan penuh tanggung jawab sirna. Semua berganti dengan serba cepat dan instan tanpa mempertimbangkan nilai-nilai yang ada. Bahkan eksplorasi terhadap alam pun marak terjadi yang menjadi ancaman bagi kehidupan generasi mendatang di bumi.

Nenun, Tradisi Suku Dayak Iban yang Masih Lestari

Dalam tradisi Dayak Iban, menenun bukan hanya soal membuat kain, tetapi juga mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga alam. Sebab dalam proses pengerjaannya melalui beberapa tahapan yang sarat akan makna dan nilai-nilai dalam menjaga alam.

Dokumentasi dari slide power point Margaretha


Begitulah yang saya ketahui dari Kak Margaretha Mala yang merupakan Ketua Komunitas Tenun Endo Sagadok. Di tengah banyaknya tradisi yang hilang seperti cerita saya di atas, ia tergerak dan terpanggil untuk mempelajari tenun, sehingga bisa meneruskan kepada anak-anak muda, pelajar dan siapa saja yang mau untuk belajar menenun.

“Dengan menenun, berarti saya ikut berperan serta dalam melestarikan nilai-nilai luhur budaya dan tradisi Suku Dayak Iban, khususnya menenun.” Ucap kak Margaretha saat mengisi materi online gathering Eco Blogger Squad, 28 Februari 2025.



Dalam menenun, Suku Dayak Iban menggunakan pewarna alam seperti renggat padi, mengkudu akar, engkerbai, sebagai upaya konservasi terhadap jenis-jenis tumbuhan yang ada di alam. Hal ini tentu dapat mengurangi pencemaran lingkungan akibat pewarna sintesis pakaian.

Prosesnya membutuhkan waktu lama karena ada beberapa tahapan yang dilalui seperti pembuatan pewarna alam untuk mewarnai benang yang akan digunakan dalam menenun, nakar/perminyakan dengan memperhatikan ketentuan khusus.

Misalnya nakar tidak boleh dilakukan pada saat orang meninggal dunia, wanita hamil dan menstruasi tidak dibolehkan mengikuti upacara nakar, proses pencampuran ramuan harus orang tua yang beruban, upacara nakar tidak boleh dilakukan di dalam rumah, dan benang yang sudah di nakar harus dimasukkan ke dalam rumah betang dan dijaga sepanjang malam.

Kak Margaretha berperan sebagai fasilitator ibu-ibu pengrajin Tenun Dusun Sadap untuk mempromosikan dan menjual kain tenun tersebut pada pembeli dari luar negeri. Bahasa halusnya ia menyebut pembeli sebagai pengadopsi tenun. Sebab dilihat dari pengerjaannya, tentu harganya tidak ternilai karena melibatkan banyak tahapan dan proses yang sakral.

Dengan adanya prosesi ini mengajarkan kita bahwa kearifan lokal mengajak kita untuk selalu menghargai dan melestarikan alam demi kebaikan bersama dan masa depan yang berkelanjutan.

Ecoprint Wujud Modern Keselarasan Alam

Kearifan lokal mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan alam, dan trend Ecoprint merupakan wujud modern dari prinsip-prinsip tersebut. Ecoprint merupakan teknik percetakan yang memanfaatkan pewarna alami dari tumbuhan untuk menciptakan pola unik pada kain, kertas, atau material lainnya.

Teknik ini adalah inovasi kontemporer yang terinspirasi oleh tradisi-tradisi lokal dalam memanfaatkan alam secara bijak, sehingga dapat dikatakan bahwa ia mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal dalam praktik modernnya.

Seperti yang dilakukan oleh Novieta Tourisia, Founder Cinta Bumi Artisans menghubungkan metode dan teknik pewarnaan alami tradisional dengan kontemporer pada kain atau limbah kain.

Ia menyebutnya Upcycled Fashion, yaitu perjalanan sehat selaras melalui sandang berkesadaran dan berkelanjutan. Barang-barang yang sudah lama di lemari, diolah kembali dengan teknik Ecoprint sehingga menghasilkan karya yang luar biasa dan tentunya ramah lingkungan.

Saya mendapatkan satu paket Ecoprint Kit dari beliau. Saat online gathering Eco Blogger kami diajarkan cara membuat Ecoprint di atas Tote bag yang sudah disediakan. Beberapa alat seperti stik kayu, tali goni, dan dedaunan kering menjadi pengalaman seru bagi saya. 

Stik kayu dan tali goni yang digunakan untuk membuat Ecoprint, dokumentasi dari FB Cinta Bumi Artisans

Meskipun sedikit ribet dalam pengerjaannya, tapi di sini saya belajar bahwa dengan kreativitas , inovasi, dan penghargaan terhadap alam alam, kita dapat menciptakan solusi yang indah dan berkelanjutan seperti yang dilakukan oleh nenek moyang kita terdahulu. Sehingga alam, lingkungan, dan budaya pun tetap terjaga dengan baik untuk generasi sekarang dan juga yang akan datang.

Hasil dari Ecoprint, dkumentasi dari FB Cinta Bumi Artisans


Produk dari Cinta Bumi Artisans, dokumentasi dari FB Cinta Bumi Artisans



Saatnya Ganti Laptop dengan ASUS Vivobook Go 14, Laptop Ringan yang Cepat Loadingnya


Ketika deadline menulis lagi banyak-banyaknya, eh laptopku malah berulah. Padahal beberapa tulisan sudah siap di-posting ke blog. Namun, dia tak mau menyala dan hanya muncul tulisan Restarting dengan lingkaran bola-bola kecil mengelilinginya (pertanda sedang memproses/loading).