Tampilkan postingan dengan label Banda Aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Banda Aceh. Tampilkan semua postingan

Banda Aceh dari Gelap Menjadi Gemilang

Kompleks Masjid Keuchik Leumik yang berada di Gampong Lamseupeung,
Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh. Foto : Taufan Mustafa.


Tahun 2008, pertama kali saya menginjakkan kaki ke Kota Banda Aceh, empat tahun setelah tsunami memporak-porandakan isi kota ini. Saya melihatnya melalui siaran televisi, di saat kota yang menjadi ibukota propinsi ini terpuruk akibat dampak bencana yang maha dahsyat tersebut. Puing-puing bangunan menyatu dengan tumpukan mayat, setelah gelombang besar berwarna hitam menyapu badan jalan kota ini. Bahkan, Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi kebanggaan rakyat Aceh tak luput dari hantaman tsunami pada tahun 2004. 

Sebanyak 110.229 jiwa meninggal dunia, 12.132 orang hilang, dan 703.518 orang kehilangan tempat tinggal akibat bencana tersebut (Data dari Bappenas). Berbagai fasilitas umum, perkantoran, sekolah-sekolah, dan rumah-rumah penduduk hancur menimbulkan luka dan pilu bagi setiap mata yang menyaksikannya di layar kaca. Semua orang terhenyuh menyaksikan peristiwa itu karena inilah bencana terbesar sepanjang sejarah Aceh modern. 

Saya begitu takut melihat kejadian itu, meskipun saya tidak mengalaminya secara langsung karena di daerah saya Aceh Selatan tidak terkena tsunami, tapi pemberitaan di televisi terus menghantui saya hingga saya tidak ingin mengunjungi Kota Banda Aceh. Saat itu, saya berusia 12 tahun. Namun, saya cukup mengerti tentang kejadian yang melanda Banda Aceh. Kejadian tsunami tahun 2004, secara tidak langsung membuat saya menjadi trauma karena informasi yang saya terima melalui televisi terus-menerus berisi tentang pemberitaan kengerian tsunami. 

Empat tahun setalah tsunami, saya diutus oleh Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Aceh Selatan untuk menghadiri kegiatan kepemudaan di Banda Aceh. Saya tidak bisa menolak tawaran itu karena saat itu, saya bagian dari anggota Palang Merah Remaja (PMR). Dari pihak sekolah pun juga meminta saya ikut serta sehingga saya harus berangkat ke kota bekas hantaman tsunami ini. Ada perasaan cemas dan was-was ketika pertama kali datang ke Banda Aceh, apalagi orang tua saya tidak mengizinkan mengunjungi kota ini. Namun, saya melawan rasa cemas dan takut itu dengan memutuskan pergi ke Banda Aceh, agar informasi negatif yang saya terima selama ini lewat pemberitaan televisi, bisa terbantahkan. 


Optimisme Kota Banda Aceh 

Saya saat pertama kali datang ke Banda Aceh tahun 2008.
Foto dokumen pribadi.

Sesampainya di Banda Aceh, saya tertegun melihat kota yang empat tahun silam diluluhlantakkan oleh tsunami optimis keluar dari keterpurukan. Tidak seperti yang saya saksikan di televisi di mana banyak mayat bergelimpangan dangan puing-puing bangunan. Nyatanya, kota ini mampu bangkit kembali menata kehidupan dengan membangun kembali fasilitas yang hancur karena gempa dan tsunami. 

Lapangan Blang Padang yang sempat saya saksikan di layar kaca dipenuhi tumpukan sampah tsunami, nyatanya begitu bersih dengan Aceh Thanks the Word di sepanjang lintasan lapangan tersebut. Itulah baru pertama kali saya melihat lapangan seluas itu dengan ucapan terima kasih dari seluruh dunia. Di sebelahnya dibangun gedung yang diperuntukkan sebagai Museum Tsunami yang saat itu tahun 2008 masih dalam tahap pembangunan awal. 

Masjid Raya Baiturahman yang sering ditayangkan di televisi dengan gambar perempuan berjilbab menutup mulut dan hidungnya, berdiri di depan masjid bersama tumpukan sampah tsunami, nyatanya sudah kembali bersih saat saya datang kemari tahun 2008. Padahal sebelum ke Banda Aceh gambar tersebut seperti kaset yang diputar terus menerus dalam ingatan saya, sambil terdengar sayup-sayup lagu Badai Pasti Berlalu yang ditayangkan di layar kaca saat memberitakan situasi tsunami di Banda Aceh. 

Foto Banda Aceh yang digambarkan oleh berbagai media saat itu.
Sumber foto dari google.

Sembilan tahun kemudian, setelah saya menetap di Banda Aceh tepatnya tahun 2017 Masjid Raya Baiturrahman mempunyai wajah baru sebagai icon Kota Gemilang. Masjid ini dibugarkan dengan penambahan 12 unit payung elektrik bak masjid yang ada di Kota Madinah. Lantai marmer yang kini melapisi halaman masjid menjadi taman keluarga bagi para jamaah dan wisatawan yang datang berkunjung kemari. 

Keoptimisan pemerintah Kota Banda Aceh untuk membuat kota yang dulunya gelap karena gempa dan tsunami menjadi kota yang gemilang terlihat jelas dari berbagai program yang dijalankan. Salah satunya program pemantapan sektor pariwisata sebagai upaya membangkitkan ekonomi rakyat. Pemikiran saya yang dulu hanya terfokus pada tsunami saat berada di Banda Aceh, kini 100% berubah menjadi kota untuk mencari kehidupan yang gemilang. 

Bagaimana tidak, di Banda Acehlah tempat berkembangnya berbagai komunitas sehingga saya bisa menyalurkan bakat dan hobi yang saya geluti. Dari hobi menulis dan bergabung dengan beberapa komunitas kepenulisan di Aceh, saya bisa membiayai kehidupan tinggal di Banda Aceh sehingga memutuskan untuk tinggal di sini. Begitu juga dengan teman-teman saya yang mempunyai hobi bernyanyi atau desainer, lewat komunitas dan jejaring yang ada di Banda Aceh, membawa kariernya melejit sehingga asap dapurnya bisa tetap mengepul. Ini bisa dibuktikan dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Banda Aceh 83,95, lebih tinggi dari IPM nasional yang hanya 70,81 di tahun 2017 (Data dari Pemerintah Kota Banda Aceh). 

Begitu juga dengan pelaku usaha kreatif yang tergabung di Usaha Kecil Menengah (UKM). Melalui program pembiayaan untuk UKM dalam bentuk modal usaha yang diberikan Pemerintah Banda Aceh, UKM yang ada di Banda Aceh bisa berkembang sehingga banyak gerai usaha kreatif yang muncul di kota ini. Seperti pembentukan lembaga keuangan mikro PT Mahirah Muamalah yang telah mempunyai 30.000 nasabah dari berbagai kalangan seperti pedagang kecil menengah, industri rumah tangga, kelompok ekonomi perempuan, dan bisnis ekonomi masyarakat perorangan. 

Tidak hanya itu, pelaku usaha kreatif ini dibekali dengan berbagai ilmu seperti teknik pemasaran melalui media sosial, pelatihan UKM, dan kegiatan-kegiatan yang memungkinkan para UKM turut serta dalam menjual produk-produk mereka di event yang diadakan pemerintah. Saya pun merasakannya saat bergabung dengan UKM, banyak pelatihan yang diberikan pemerintah untuk meningkatkan kemampuan UKM di Banda Aceh. 

Berbagai kegiatan pun sering digelar, baik itu budaya, kreativitas, keagamaan, dan acara untuk kaum milenial pun menjadi tempat yang tepat bila digelar di Banda Aceh. Bahkan kelompok disabilitas pun mendapat tempat di Kota Gemilang ini. Begitu juga bagi non muslim bisa melakukan aktivitasnya tanpa terusik oleh umat muslim yang mendominasi kota ini. Beberapa kali saya mengadakan kegiatan di Banda Aceh mengundang teman-teman disabilitas dan non muslim, semua berjalan baik sehingga terlihat jelas kota ini begitu toleran. 

Disabilitas pun bisa berkreativitas di Banda Aceh. Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman
mendorong kursi roda salah seorang disabilitas daksa. Foto dokumen pribadi.


Saya Banda Aceh 

Ingatan saya tentang Banda Aceh memang belum terlalu banyak karena saya bukanlah orang yang lahir dan besar di Banda Aceh. Namun, saya memilih tinggal di Banda Aceh setelah bertahun-tahun menetap di sini karena alasan pendidikan. Namun, selepas pendidikan saya enggan untuk pulang kembali ke kampung halaman saya. Bukan karena saya bersuami dengan orang Banda Aceh dan mendapatkan pekerjaan di sini, toh suami saya juga orang yang asalnya sama dengan saya. 

Saya tinggal di Banda Aceh karena kenyamanan dan berbagai fasilitas yang ada di kota ini membantu meningkatkan karir saya. Akses transportasi, kesehatan, dan pelayanan publik dapat diperoleh dengan mudah sehingga beberapa penghargaan telah diterima oleh pemerintah Kota Banda Aceh. Seperti Kota Referensi Layanan Pendidikan Aceh, Predikat Kepatuhan Tinggi Terhadap Standar Pelayanan Publik, Piala Adipura, dan berbagai penghargaan lain telah diperoleh Banda Aceh. 

Di usia Banda Aceh yang ke-814 ini tentunya telah banyak terobosan baru yang membuat kota ini semakin gemilang. Kota yang dulu sempat gelap karena hantaman tsunami kini terus menjadi Kota Gemilang. Pemikiran saya terhadap kota ini yang semula hanya terfokus tsunami pun juga berubah. Namun, ingatan itu tentu tidak pernah terlupakan mengingat kota ini merupakan basis tsunami dan menjadi kota yang paling rawan terhadap bencana. 

Pesan saya kepada Pemerintah Kota Banda Aceh jangan pernah lupakan sejarah karena menurut sejarahnya kota ini sudah tiga kali terkena hantaman tsunami selama satu abad terakhir. Bahkan pusat pemerintahan kota pun beberapa kali berpindah dari Lamuri, Kampung Pande, hingga ke tempat yang sekarang ini. Belajar dari sejarah, hendaknya dalam membangun kota ini harus ada perencanaan untuk mitigasi bencana agar kota yang sudah gemilang tidak akan redup dan kemudian tenggelam.

Mancari Tahu Sejarah Masjid Pendopo Gubernur Aceh

Masjid Pendopo Gubernur Aceh

Masjid ini berada di kompleks Pendopo Gubernur Aceh Kampung Baru, Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Masjid yang dibangun di atas tanah peninggalan kerajaan Sultan Aceh ini sebenarnya hanya diperuntukkan keluarga gubernur dan orang-orang bekerja di dalamnya.

Dua tahun yang lalu sempat terdengar kabar bahwa tidak boleh sembarangan orang salat di masjid ini. Alasannya demi keamanan kompleks yang didiami oleh gubernur Aceh.

Namun sekarang, masjid ini bebas dimasuki oleh siapa saja yang ingin salat di dalamnya. Tentunya melewati pagar yang dijaga oleh petugas keamanan dan dipantau melalui CCTV, setiap orang yang memasuki pintu gerbang pagar.

Aku sering salat maghrib dan isya berjamaah di masjid kediaman Gubernur Aceh ini. Biasanya hanya orang-orang berada di sekitar masjid atau sedang melaksanakan acara di pendopo yang salat di sini. Paling banyak jamaahnya sekitar 15 orang yang didominasi oleh laki-laki dan anak-anak yang tinggal di sekitar kompleks.

Bagian samping masjid

Dua kali dalam seminggu, pasti aku kemari untuk salat maghrib dan isya berjamaah karena masjid ini telah menjadi masjid favoriku. Ketika aku ada masalah, galau, senang, dan bahagia, aku kemari untuk menenangkan hati, jiwa, dan perasaanku atau sekadar berjalan-jalan sambil menghayal tentang kehidupan masa lalu.

Di masjid ini juga aku sering bertemu dengan si dia (calon suami) yang sudi mendengarkan khayalanku dan menemaniku menikmati suasana di masjid ini. Ada keterikatan batin antara aku dan masjid yang kuyakin mempunyai sejarah yang besar ini. Aku selalu merasa nyaman berlama-lama di sini dan berharap mengetahui sejarah dari tempat ini.

Sebagai tanah peninggalan Sultan Aceh, tentunya dulu tempat ini merupakan kompleks Sultan karena tidak jauh dari pendopo terdapat gunongan. Krueng (sungai) Daroy yang mengalir di bawah masjid pun tentu mempunyai sejarahnya.

Pernah suatu hari salah seorang perempuan yang kutemui di masjid mengatakan kepadaku bahwa dulunya sungai yang mengalir di bawah masjid ini sangat bersih. Hingga batu-batu di dalam sungai kelihatan jalas karena kejernihan airnya. “Saat itu pada masa pemerintahan Ali Hasyimi sebagai Gubernur Aceh” kata ibu yang berusia sekitar 50 tahun itu.

Khayalanku pun semakin menjadi-jadi dan membayangkan bagaimana kalau sungai ini benar-benar bersih seperti dulunya.

Lintasan krueng daroy melewati masjid

Sayangnya aku tidak memperoleh informasi secara detail darinya karena dia buru-buru mau salat. Aku juga belum menemukan referensi yang tepat tentang sejarah masjid ini. Hanya sejarah dari pendopo yang katanya bekas dari kediaman Gubernur Belanda dan sekarang dijadikan Rumah Dinas Gubernur Aceh. Sedangkan sejarah sebelumnya, khususnya pada masa kejayaan kesultanan Aceh tidaklah disebutkan.

Aku sering berkhayal di bawah pohon trembesi yang kutaksir usianya ratusan tahun itu. Aku berharap pohon itu bisa mengatakan kepadaku tentang sejarah yang disaksikannya di tempat ini. Aku ingin masuk ke dalam pohon tersebut dan mengetahui kilas sejarah di dalamnya, atau mungkin ada pintu ke masa lalu sehingga aku bisa melihat kondisi masa lalu di tempat ini.

Aku berharap pohon ini bisa menceritakan sejarah masjid ini kepadaku

Khayalanku itu sering disambut tawa oleh si dia yang kandang menganggapku terlalu imajinatif. Aku juga menyuruhnya untuk menjadi gubernur nantinya supaya aku bisa tinggal di kompleks ini. Rupanya tawanya bertambah besar ketika aku berkhayal seperti itu.

Interior Masjid

Berbeda dengan masjid pada umumnya yang banyak bertulisakan kaligrafi ayat Al-quran di dinding masjid, tapi tidak ada satu pun terdapat di masjid ini. Yang ada hanya ukiran geometri yang berbentuk bunga-bunga bermotif di sekeliling masjid. Termasuk di tempat imam berdiri tidak adapun kalimat-kalimat tauhid atau tulisan Allah dan Muhammad.

Tempat berdirinya imam saat salat

Aku tidak tahu kenapa desain masjid ini seperti itu dan itulah yang membuat rasa penasaranku muncul, beserta dengan penasaran sejarahnya. Di samping masjid, di lorong menuju tempat wudhu laki-laki terdapat tanaman angrek yang berbagai macam jenisnya.

Anggrek-angrek itu digantung sepanjang lorong menuju jalan ke bagian belakang gedung pendopo. Asumsiku anggrek-anggrek ini milik istri gubernur, tapi aku tidak tahu bertanya ke siapa karena setiap aku salat di masjid kediaman gubernur itu, tidak pernah sekali pun aku melihat gubernur atau istrinya salat di masjid miliknya. Terlebih sekarang Gubernur Aceh sedang mendekam di balik jeruji besi tahanan KPK.

Anggrek-angrek ini siapa punya ya?

Sampai saat ini aku masih mencari tahu tentang sejarah masjid ini, terutama peradaban yang pernah ada di lokasi tempat berdirinya Masjid Pendopo Gubernur Aceh.

Inilah Hotel Termewah dan Termahal di Banda Aceh

Siapa yang tidak senang bisa menginap di hotel mewah dan mahal, apalagi ini zamannya narsis-narsisan. Pasti jadi banyak bahan deh untuk upload foto ke instagram. 


Nah, kamu perlu tahu hotel termewah dan termahal di Banda Aceh. Semoga saja ada undangan seminar, atau wrokshop di hotel tersebut. Jadi, bisa gratisan menginap di sana. 

Atau bagi kamu yang penghasilannya sudah menyanggupi untuk membayar per malamnya, langsung saja booking, apa salahnya mencobakan? Serunya lagi kalau menginap bareng suami atau istri, terasa dunia milik berdua. Eh, macam sudah punya suami saja. 

Baiklah, inilah deretan hotel termewah dan termahal di Banda Aceh, versi Yell Saints.

1. Hermes Palace Hotel

Aku yakin bagi kamu yang pernah ke Banda Aceh, pasti tahu hotel ini. Letaknya yang strategis sangat mudah diakses. 

Halaman Hermes Palace Hotel
Doc. Tim Survey GenPi Aceh

Jika dari kantor Gubernur Aceh, persis di depannya ada persimpangan jalan menuju arah Lampineung. Ikuti saja jalan tersebut dan setelah 1 Km kamu akan menemukan bangunan yang megah dan mewah ala Timur Tengah. Tepatnya di Jl. T. Panglima Nyak Makam, Banda Aceh.

Di depan hotel terdapat beberapa batang pohon kurma dan jalan menuju hotel dibuat sedikit menanjak. Di dalam hotel terdapat fasilitas berupa restaurant yang muat untuk 152 orang, mushalla dengan kapasitas 50 orang, dan 3 buah ruang meeting yang berkapasitas sekitar 80 orang per ruangnya.

Di lantai satu terdapat kolam renang yang lumayan besar dan disampingnya juga ada cafe mini. Kamu bisa memesan makanan setelah lelah berenang. 

Seru ya, kalau bisa berenang di sini!Sumber foto https://www.hermespalacehotel.com/

Tidak perlu khawatir dengan kendaraanmu, karena disediakan tempat parkir di lantai dasar yang muat untuk 20 mobil, dan ratusan sepeda motor.

Mau tahu berapa harga per kamarnya? Hmm, siap-siap telan ludah ya, he he. Di hotel ini terdapat 154 kamar dengan tipe dan harga yang beragam.

Untuk kamar dengan tipe; 

President suit dihargai Rp6.824.272 tersedia dua buah kamar.

Execuitive suite Rp3.656.296 tersedia delapan buah kamar.

Junior suite Rp2.747.360 tersedia 20 kamar.

Grand Deluxe Rp2.131.360 tersedia 12 kamar.

Deluxe Rp1.795.250 tersedia 112 kamar.

Berminat untuk menginap di sini? Kamu bisa pesan dengan menghubungi kontak 0851 755 5888 dan email info@hermespalacehotel.com. Atau kalau mau informasi lebih lanjut bisa langsung buka https://www.hermespalacehotel.com/


2. Grand Arabia Hotel

Dulunya hotel ini bernama Vapiliun Seulawah, namun sejak tahun 2016 lalu namanya berganti menjadi Grand Arabia Hotel. Tempatnya berada di depan lapangan Blangpadang, jl. Prof. Majid 11. No. 3 Banda Aceh. 

Interiornya terkesan elegant ya, apalagi ada lampu kristal yang menyala begitu indah.
Sumber foto https://www.pegipegi.com

Hotel ini sekarang sedang tahap renovasi untuk perluasan hotel. Saat tim kami melakukan pendataan, kamar yang tersedia ada 57 kamar dengan katagori sebagai berikut.

President dengan tarif per malamnya Rp3.500.000 tersedia 2 kamar.

Suite Junior Rp1.200.000 tersedia 4 kamar.

Deluxe Rp780.000 tersedia 20 kamar.

Superior Rp650.000 tersedia 31 kamar.

Restaurant pada lantai satu hotel
Sumber foto https://www.pegipegi.com

Fasilitas yang tersedia yaitu restaurant yang berada di lantai satu muat untuk 40 orang, mushalla dengan kapasitas 15 orang, dan satu buah ruang pertemuan yang berkapasitas 150 orang.

Kamu bisa stalking langsung ke instagram mereka @grandarabia atau telpon ke (0651) 22788 jika berminat untuk menginap di hotel ini


3. The Pade Hotel

Hotel ini memang mempunyai ciri khas tersendiri dibandingkan hotel lainnya. Dikarenakan lokasi hotel ini dulunya sawah, maka dibuatlah nama hotelnya The Pade. Kata yang berasal dari campuran Inggris dan Aceh, pade maksudnya padi.

Tanaman padi yang menghiasi meja di ruang tunggu hotel
Doc. Tim Survey GenPi Aceh

Uniknya di setiap meja yang ada di lobi hotel dihiasi dengan tanaman padi yang berada di dalam pot. Ya, sesuai dengan nama hotelnya juga yaitu the pade.

Meskipun hotel ini berada di tepi jalan raya yaitu Jl. Soekarno No.1 Desa Daroy Kamue, Kec. Darul Imarah, pemandangannya tidak hanya tertuju pada jalan dan kendaraan saja. Tapi lihatlah suasana di belakangnya sungguh alami. 

Apalagi ada kolam renangnya di dalam hotel, membuat liburanmu sangat menyenangkan jika menginap di tempat ini.

Nah, sekarang coba kita lihat berapa harga sewa kamarnya per malam.

Suite Mountain View Rp2.585.000 tersedia 6 kamar.

Suite Garden View 1.925.000 tersedia 59 kamar.

Deluxe Rp1.155.000 tersedia 52 kamar.

Kapan lagi kamu bisa menikmati pemandangan seperti ini kalau tidak di The Pade Hotel
Doc. Tim Survey GenPi Aceh

Tempat ini cocok banget untuk kamu yang ingin merasakan suasan persawahan dan pegunungan, namun tetap dalam kemewahan hotel berbintang. 

Tertarik dengan fasilitas yang disediakan? So, kamu bisa langsung hubungi ke no 0852 3324 500 atau email ke info@thepade.com.


4. Mekkah Hotel

Jangan pikir karena namanya Mekkah hotelnya berada di Kota Mekkah, tapi di Aceh juga ada hotel yang namanya Mekkah. Hotel ini beralamat di Jln. Tgk. Daud Bereuh, Banda Aceh.

Tempatnya cukup strategis bersebelahan dengan Masjid Al-Makmkur yang arsitektur bangunannya mirip Timur Tengah. Berasa sedang berada di timur tengah saat suara azan memanggil yang langsung terdengar di kamar-kamar hotel.

Ada mirip kayak hotel di Mekkah?
Doc. Tim Survey GenPi Aceh

Hotel yang terdiri dari enam lantai ini terdapat 125 kamar dengan harga per malamnya disesuaikan dengan tipe kamar.

Executive Rp2.500.000 tersedia satu kamar

Suite Rp2.000.000 tersedia kamar

Family Rp1.000.000 tersedia 35 kamar

Deluxe Rp667.000 tersedia 50 kamar

Standart Rp500.000 tersedia 35 kamar

Fasilitas yang tersedia di hotel ini berupa restaurant dengan kapasitas 100 orang, mushalla kapasitas 20 orang dan tiga buah ruang pertemuan dengan kapasitas 20, 50, dan 100 orang.
Cie.., lagaknya kayak mau pesan kamar saja.
Doc. Tim Survey GenPi Aceh

Jika kamu berminat untuk menginap di hotel ini langsung saja booking melalui no 0812 6297 5052 atau kirim email ke hotelmekkah@gmail.com


5. Grand Nanggroe Hotel

Hotel yang berada di Jl. Tgk Imum Lueng Bata ini termasuk deretan hotel mewah dan mahal di Banda Aceh berikutnya. Aku belum pernah menginap di hotel ini, beda seperti empat hotel di atas yang bisa aku paparkan secara rinci.

Semoga ke depannya diberi kesempatan untuk menginap di hotel ini :D
Sumber foto dari http://acehtourism.travel/

Saat survey pun aku juga tidak ikut ke hotel ini. Hanya melihat sepintas dari foto temanku yang mendapat jatah meng-survey hotel ini. Yang menjadi perhatianku dalam beberapa foto yang diambil di hotel ini ialah kolam renangnya. Keren banget, pasti enak banget bisa berenang di hotel mewah dan mahal ini. 

Berenang yuk, biar kayak orang-orang, he he.
Doc. Tim Survey GenPi Aceh
Jumlah kamar yang tersedia di hotel ini sebanyak 51 kamar dengan tipe sebagai berikut.

Executive Suite Rp1.950.000 tersedia 3 kamar.

Deluxe Triple Rp1.050.000 tersedia 13 kamar.

Grand Deluxe Rp1.000.000 tersedia 23 kamar.

Deluxe Rp750.000 tersedia 12 kamar.

Untuk informasi lebih detailnya bisa diakses di www.grandnanggroehotel@yahoo.com. Kamu bisa menghubungi langsung ke nomor telpon (0651) 35779 jika berminat untuk bermalam di sini, atau bisa juga dengan mengirimkan email ke gnh_reservation@yahoo.com.

6. Oasis Hotel

Di hotel ini aku juga belum pernah menginap, tapi dulu aku pernah beberapa kali ke hotel ini mengikuti seminar. Jadi, sedikit tahu lah bagaimana isi dalam hotel ini.
Halaman depan Hotel Oasis
Doc. Tim Survey GenPi Aceh
Hotelnya berada di Jln. Imum Lueng Bata no 115 dan hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit dari pusat kota. 

Interiornya cukup nyaman dipandang mata, dengan nuansa warna coklat dan ukiran kayu bermotif pinto Aceh bisa digunakan sebagai background foto.

Ruang tunggu di Oasis Hotel
Doc. Tim Survey GenPi Aceh
Fasilitas yang tersedia yaitu restaurant dengan kapasitas 150 s.d 200 orang, mushalla yang muat untuk 45 orang jamaah dan ruang meeting dengan kapasitas 200 s.d 250 orang.

Ketersediaan kamar di hotel ini ada 90 kamar dengan dua tipe kamar yang berbeda.

Suite room dihargai dengan Rp1.800.000 per malam dan tersedia 6 kamar.

Deluxe dengan harga Rp900.000 tersedia 8 kamar.

Info lebih lanjutnya kamu bisa buka situsnya di marketing @oasisatjehhotel.com. Jika kamu tertarik untuk menginap di sini langsung saja hubungi ke no 0811 6856 999.


7. Grand Permata Hati

Di hotel ini aku juga belum pernah menginap, tapi aku pernah sekali masuk kemari. Rupanya banyak spot menarik yang bisa digunakan untuk selfie.

Bagian depan Grand Permatahati Hotel
Doc. Tim Survey GenPi Aceh

Interiornya kece gitu, cocok banget untuk anak-ank muda. Hotel ini terletak di Jln. Sultan Iskandarmuda No.17, Gp Blang Oi, Kec. Meuraxa. Tidak jauh dari pelabuhan Ulhe Leu.

Hotel ini terdiri dari 60 kamar dengan 4 tipe dan masing-masing harga per malamnya disesuaikan dengan tipe kamar.

Suite Rp1.400.000 tersedia 2 kamar.

Deluxe Rp650.000 tersedia 21 kamar.

Superior Rp550.000 tersedia 35 kamar.

VIP Rp800.000 tersedia 2 kamar.

Spot yang bisa kamu ambil untuk selfie
Doc. Tim Survey GenPi Aceh

Fasilitas lainnya yang tersedia yaitu restaurant dengan kapasitas 50 orang dan mushalla kapasitas jamaah 50 orang.

Informasi lebih lanjutnya kamu bisa melihat langsung di info.gph@permatahatihotels.com atau www.permatahatihotels.com. Facebook nya juga ada loe, dengan nama permata hati hotel.

Untuk pemesanan hotel langsung saja telpon ke no 0651 8052 0016.

Itu dia hotel mewah dan mahal di Banda Aceh, harganya bisa saja berubah-ubah karena di waktu-waktu tertentu ada harga promo yang jauh dibandingkan harga biasanya.

Semua informasi ini aku rangkum saat melakukan survey untuk menunjang fasilitas pariwisata halal, kerja sama dengan dinas pariwisata propinsi.