Tampilkan postingan dengan label Dunia Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Anak. Tampilkan semua postingan

Kenali Perkembangan Psikososial Anak saat Memasuki Usia Toddler

Cahya di usia 14 bulan

Jelang usia dua tahun, anakku Cahya mulai menunjukkan tingkah perilaku temper tantrumnya. Ia bisa menangis sejadi-jadinya bila tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Begitu pula saat diminta melakukan sesuatu, seperti diajak mandi, makan, atau sebagainya. Secara spontan langsung mengatakan tidak.

Moodnya pun sering kali berubah-ubah, bahkan dalam hitungan menit. Bila sedang bermain atau memusatkan diri pada suatu aktivitas, beberapa menit kemudian ia bisa sangat marah karena tidak mampu memanupulasi suatu mainan entah itu menutup atau membuka kotak mainan atau menata rapi mainannya.

Dengan teriakan disertai tangisan, ia melempar mainan tersebut. Namun, beberapa menit kemudian ia tertawa kembali ketika berhasil dibantu untuk membuka atau menutup kotak mainannya. Jangan tanya bagaimana kondisi rumah saat dia sedang bermain, semua berantakan bagai kapal pecah yang tak terurus. Walau sudah dibereskan di saat ia sedang tidur, kondisi semula kembali lagi setelah ia bangun dan mulai membuat isi rumah amburadul.

Jangan coba-coba dilarang atau dimarahi saat ia mulai beraksi, bisa-bisa ia bertambah marah dan menjadi temper tantrum yang kemudian cepat-cepat menarik kaki kita untuk minta digendong. Bahkan tidak peduli kita sedang memasak, mencuci, atau sedang di kamar mandi, ia terus berteriak untuk dipeluk atau sekadar digendong.

Cahya dengan semua kreativitasnya

Pernah sewaktu aku hendak memasak makanannya, mangkok kaca yang kuletak di samping meja makan diambilnya menggunakan sebelah tangan. Saat itu aku sedang memegang gayung yang berisi air. Melihat Cahya memegang mangkok kaca dengan sebelah tangan, aku pun berlari ingin mengambilnya, takut mangkok tersebut pecah di depannya.

Rupanya saat aku berlari, air di dalam gayung tersebut tumpah ke lantai dan aku terpeleset setelah berhasil mengambil mangkok kaca dari tangan Cahya. Badanku terhempas ke lantai, untung kepalaku tidak terbentur hanya saja seluruh bajuku basah terkena air.

Badanku terasa remuk dan kepalaku pusing karena tubuhku terhempas terlalu keras membentur lantai. Aku terdiam beberapa saat, sambil meringis kesakitan. Melihat aku yang tergelatak di lantai, Cahya langsung histeris menangis sejadi-jadinya, takut aku kenapa-kenapa. Aku memeluknya, tapi tubuhku tidak sanggup menggendongnya karena pinggangku terasa ngilu saat bangun.

Saat itu, hanya aku dan Cahya yang tinggal di rumah karena Abahnya sedang ada keperluan di luar. Jadi, aku biarkan semua kekacauan yang ada di dapur itu sambil berpindah untuk mengganti pakaianku yang basah. Rupanya, Cahya kembali lagi ke dapur dan bermain air bekas tumpahan yang belum sempat kubereskan tadi. Dia pun akhirnya ikut basah karena bermain air, padahal sebelumnya dia sudah rapi.

Melihat tingkahnya itu, aku pun jadi emosi dan memarahinya. Aku benar-benar dipenuhi rasa amarah saat itu dan tak sengaja memukul kakinya hingga ia menangis. Namun perasaan bersalah muncul setelah itu yang membuatku sadar bahwa tak seharusnya aku melakukan hal seperti itu. Aku bertanya, apakah anak seusia Cahya ini memang seperti ini tingkahnya, atau justru anakku saja yang begini?

Masa Toddler

Cahya sedang mengamati gambar di buku favoritnya


Masa toddler sering diistilahkan dengan terrible two, di mana anak masih bersifat egosentris dan semua hal berpusat pada dirinya. Periode ini mulai dari usia 12 – 36 bulan, Masa ini merupakan masa eksplorasi lingkungan yang intensif karena anak berusaha mencari tahu bagaimana semua terjadi dan bagaimana mengontrol orang lain melalui perilaku temper tantrum, negativisme, dan keras kepalanya.

Temper tantrum adalah keadaan ketika anak meluapkan emosinya dengan cara menangis kencang-kencang, berguling-guling di lantai, hingga melempar barang. 

Di massa terrible two ini merupakan benar-benar sesuatu yang sangat menantang bagi orang tua. Apalagi bagi orang tua pemula yang belum berpengalaman mengasuh anak sepertiku. Kadang, emosi bisa mengusai diri karena tingkah laku si anak. Namun, perlu diiingat ini masa yang sangat penting untuk pencapaian perkembangan dan pertumbuhan anak.

Mereka ibarat mesin fotokopi dari orang tuanya. Sebab, apa yang ditunjukkan orang tua itulah yang menjadi perilakunya ketika dewasa sehingga bila kita membesarkan anak dengan bentakan dan penuh emosi maka ia akan tumbuh menjadi individu yang emosional dan penuh amarah.

Untungnya aku cepat-cepat kembali membuka buku lama yang pernah kupelajari selama di perkuliahan tentang tumbuh kembang anak. Jadi, aku bisa bersikap lebih positif terhadap tingkah laku negatif yang ditunjukkan anak sehingga aku tidak salah mengambil sikap selama periode toddler ini.

Merawat anak harus punya ilmu, makanya harus sering baca buku. Untung masih ada buku pertinggal saat aku kuliah di keperawatan dulu. Ini buku wajib bagi kami yang mengambil mata kuliah keperawatan pediatrik (anak)


Sebenarnya ada beberapa perkembangan yang terjadi di masa toddler ini, yaitu perkembangan biologis, psikososial, kognitif, spiritual, citra tubuh, seksualitas, dan sosial. Namun, di tulisan ini aku akan membahas tentang perkembangan psikososial toddler saja karena ada kaitannya dengan ceritaku di atas. Semoga saja di lain waktu aku mengulas tentang perkembangan toddler lainnya.

Perkembangan Psikososial



Menurut Erikson (Bapak pencetus teori perkembangan psikososial) tugas perkembangan pada masa toddler adalah menguasai sensasi autonomi (mandiri) VS mengatasi sensasi ragu dan malu-malu.

Perkembangan autonomi selama periode toddler berpusat pada peningkatan kemampuan anak untuk mengendalikan tubuh, diri, dan lingkungan sekitarnya. Mereka ingin melakukan hal-hal untuk diri mereka sendiri, menggunakan keterampilan motorik yang baru mereka peroleh seperti berjalan, memanjat, dan memanupulasi, serta menggunakan kekuatan mental mereka dalam memilih dan membuat keputusan.

Pembelajaran yang mereka peroleh sebagian besar didapat dari meniru aktivitas dan perilaku orang lain. Wajar bila Cahya saat ini, cukup cepat meniru apa pun yang kita kerjakan atau yang ia lihat. Entah itu pekerjaan sehari-hari yang kita lakukan, seperti menyapu, mencuci, dan memasak atau suara-suara yang ada di sekitarnya seperti suara binatang atau orang-orang terdekatnya.

Sedangkan perasaan negatif seperti ragu dan malu muncul ketika anak diremehkan atau ketika pilihan-pilihan mereka yang kita anggap membahayakan dilarang oleh orang tua. Kemudian kita memaksakannya untuk bergantung kepada orang tua, walau padahal sebenarnya mereka mampu melakukannya.

Di usia toddler, Cahya mulai meniru perilaku orang lain di sekitarnya

Misalnya saat anak ingin sendiri mengambil air di atas meja, makan sendiri, atau menaiki dan menuruni tangga. Peran orang tua di sini harusanya hanya mengawasi atas tindakan yang mereka lakukan karena bila dilarang, sudah tentu mereka menangis dan bersikeras untuk melakukannya. Jadi, tugas kita hanya memantau tindakan yang dilakukannya dengan cara tetap berada dekat di samping anak, sehingga ketika dia jatuh atau lepas kendali, orang tua bisa cepat membantunya.

Namun, jika di masa toddler anak kebanyakan dilarang, jangan salahkan dirinya bila anak akan menjadi individu yang ragu-ragu dan pemalu. Sebab, ia merasa ada yang mengontrol dirinya sehingga muncul keraguan dan malu pada dirinya walau sebenarnya ia mampu melakukannya.


Karakteristik utama yang ada pada toddler dalam pencarian autonomi mereka ialah negativisme dan ritualisme. Ketika toddler berusaha mengekspresikan keinginannya, mereka sering bertingkah negativisme, yaitu respons yang selalu negatif terhadap permintaan.

Seperti cerita saya di atas, ketika Cahya diajak makan, mandi, tidur, atau sebagainya ia langsung mengatakan tidak. Begitu pula saat ada sesuatu barang baru yang ada di tangannya atau makanan, ketika diminta ia langsung mengatakan tidak dan menarik benda tersebut. Ini bukan berarti anak pelit, tapi karena sedang masanya ia berperilaku seperti itu, yaitu perilaku negativisme.

Saat Cahya kesal tidak bisa menghidupkan kipas angin

Beberapa orang tua menganggap perilaku ini menjengkelkan dan bukannya menangani secara konstruktif, tapi malah marah dan emosi. Bila respons itu yang diperlihatkan orang tua, maka akan mengancam anak dalam pencarian mereka untuk mempelajari metode berinteraksi dengan orang lain secara baik dan benar.

Perlu orang tua ketahui bahwa negativisme bukanlah suatu ekspresi keras kepala atau perilaku kurang ajar, melainkan pernyataan tegas akan kebutuhan mengontrol diri. Metode yang bisa dilakukan orang tua untuk menghadapi perilaku ini ialah dengan mengurangi kesempatan anak dalam memberi jawaban tidak.

Bertanya kepada anak “Apakah kamu mau tidur sekarang? atau mau mandi?” merupakan pertanyaan yang pasti jawabannya “tidak” dengan tegas. Orang tua harusnya mengubah pola komunikasi mereka dengan mengatakan “sudah waktunya jam tidur dan langsung bertindak sesuai dengan perintah.”

Orang tua juga bisa membuat pertanyaan pilihan untuk menghindari anak mengatakan tidak. Misalnya, “kamu mau makan dulu atau mandi terlebih dahulu?”. Mungkin orang tua juga bisa menyodorkan langsung pilihannya, seperti “Kamu boleh memilih roti isi selai kacang dan jeli, atau mi ayam untuk makan siang.” Dengan begini, anak cenderung akan memilih satu pilihan daripada mengatakan tidak.

Lawan dari negativisme ialah ritualisme, yaitu upaya dalam membentuk sikap seseorang dengan cara menperkenalkan perilaku dalam rutinitas tertentu, sehingga menjadi sebuah kebiasaan. Todler berani menghadapi bahaya dengan rasa aman jika mereka tahu bahwa orang, tempat, dan rutinitas yang telah dikenalkannya dengan baik masih ada.

Misalnya saat anak akan tidur, orang tua membaca cerita atau menyanyikan lagu terlebih dahulu sehingga anak memahami ini sebuah ritual sebelum tidur. Tanpa ritual yang nyaman, hanya ada sedikit kesempatan untuk menggunakan autonomi. Konsekwensinya, anak menjadi ketergantungan dan regresi.

Kembalinya pola fungsi seseorang saat ini ke tingkat perilaku sebelumnya dinamai regresi. Misalnya anak kembali menghisap jempol atau ngompol di celana padahal sebelumnya ia sudah bisa melakukan toileting dengan baik. Hal ini terjadi bila anak dihadapkan dalam situasi yang tidak nyaman atau stress.

Apabila regresi terjadi, pendekatan terbaik yang bisa dilakukan orang tua ialah mengacuhkannya dan memuji pola perilaku benar yang sudah ada. Regresi adalah cara anak mengatakan, “Aku tidak dapat menghadapi stress pada saat ini dan menyempurnakan keterampilan ini dengan baik, tetapi aku akan dapat menghadapinya jika ayah dan ibu sabar dan mengerti tentang sikapku ini.”

Pada masa Toddler inilah perlu pendampingan dari orang tua dengan benar

Nah, begitulah perkembangan psikososial yang terjadi saat anak memasuki usia toddler. Memang berat fase ini, tapi sebagai orang tua cobalah untuk mengerti keadaan anak di masa terrible twoe ini karena masa ini menentukan kehidupan anak selanjutnya.

Sebab keberhasilan pencapaian tugas di massa toddler tergantung orang tua, maka sudah saatnya ayah dan bunda untuk memahami setiap pertumbuhan dan perkembangan anak dengan belajar ilmunya.

Untuk lebih mudahnya, ayah bunda bisa belajar tentang anak dengan membuka website https://www.ibupedia.com/. Di sini terdapat berbagai informasi yang disajikan dalam bentuk artikel yang mudah dibaca dan dipahami, seperti 9 Faktor yang Dapat Mempengaruhi Jenis Temperamen Anak.

Jadi, tidak perlu balik-balik buku Keperawatan Pediatrik yang beratnya hampir satu kg itu. Cukup aku saja yang melakukannya, karena ayah bunda bisa mendapatkan semua informasi tentang anak dengan mengklik Ibupedia.

4 Hal yang Harus Diperhatikan Saat Bermain dengan Anak


Tugas anak adalah bermain. Bila ada orang dewasa melarang anak untuk bermain, maka perlu diperbaiki lagi isi kepalanya. Sama halnya seperti tugas orang tua ialah bekerja, mencari nafkah, dan memenuhi kebutuhan keluarga, maka begitulah anak yang pekerjaannya sahari-hari ialah bermain.

Melalui bermain, anak belajar tentang dunia mereka dan bagaimana meghadapi lingkungan objek, waktu, ruang, struktur, dan orang di dalamnya. Anak juga belajar tentang diri mereka sendiri yang ada dalam lingkungan tersebut-apa yang dapat mereka lakukan, bagaimana menghubungkan sesuatu dengan situasi, dan bagaimana mengadaptasi diri sendiri pada tuntutan sosial yang dibebankan kepada mereka.

Dalam bermain, anak secara kontinu mempraktikkan proses hidup yang rumit dan penuh stress, proses komunikasi, dan mencapai hubungan yang memuaskan dengan orang lain. Misalnya seperti main masak-masakan, di sini anak belajar mempraktikkan peran dan identitas yang dimainkan oleh anggota keluarga. Begitu pula dengan permainan lainnya yang dapat berfungsi menunjang proses perkembangan anak, baik itu perkembangan intelektual, sosial, kreativitas, dan sensorimotornya.



Nah, tugas orang tua ialah mendukung proses perkembangan tersebut dengan meyediakan waktu bermain secara khusus dan rutin bersama anak. Jangan biarkan anak tumbuh dan berkembang dengan sendirinya tanpa ada bimbingan orang tua yang menyertainya. Sebab, anak adalah amanah yang dititipkan Tuhan kepada orang tuanya.

Sebagian orang tua menganggap bermain adalah suatu hal yang biasa, tanpa didampingi pun anak bisa sendirinya bermain sesuai dengan kreativitas mereka. Namun, perlu diingat bahwa kebersamaan saat bermain menjadi memori jangka panjang bagi anak tentang seberapa besar perhatian orang tuanya kepada mereka.

Bisa jadi memori ini akan teringat sampai dewasa yang menimbulkan rasa kasih dan sayangnya kepada orang tua sehingga ketika ayah dan ibunya sudah tua, maka ia tidak akan mengabaikan orang tuanya. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk meluangkan waktu bermain bersama anak. Akan tetapi, perlu diketahui ada 4 hal yang harus diperhatikan saat bermain dengan anak, yaitu.

1. Berikan jenis mainan dan permainan yang disukai anak

Terkadang orang tua terlalu bernafsu membeli banyak mainan, sehingga semua mainan dijajalkan kepada anak. Akibatnya anak menjadi bingung karena terlalu banyak mainan yang ada di depannya. Bisa jadi anak akan merasa cepat bosan dan menginginkan mainan lebih banyak lagi karena tidak puas dengan mainan yang ada.

Jadi, untuk ayah dan bunda perlu mengetahui mainan apa yang benar-benar disukai oleh anak. Biasanya ia akan begitu tertarik setiap kali melihat benda tersebut, bisa jadi itu mobil-mobilan, robot, boneka atau jenis mainan lainnya.

Begitu pula dengan jenis permainannya, ikutilah permainan yang disukai anak dan jangan memaksakan sebuah permainan yang kita anggap baik untuk dia, tapi ia tidak menyukainya.


2. Posisikan diri seperti anak-anak

Meskipun ayah-bunda sudah dewasa, tapi cobalah untuk memposisikan diri seperti anak-anak saat bermain dengan mereka. Bila anak duduk bermain di lantai, jangan ragu-ragu untuk duduk juga di lantai dan ikut bermain bersamanya.

Jika ia sedang berguling-guling di tempat tidur, bergabunglah bersamanya dan ikut melakukan apa yang ia lakukan. Jangan melarangnya karena takut tempat tidur mejadi berantakan. Bereskanlah seusai bermain dan ajarkan kepada anak apa yang harus ia lakukan setelah permainan tersebut.

Bila ayah-bunda langsung melarangnya ketika ia bermain guling-guling di tempat tidur, maka itu akan melukai hati anak dan berpengaruh pada rasa inferioritas atau kurangnya kepercayaan diri pada anak yang mengakibatkan ia merasa takut bila melakukan sesuatu.


3. Buat anak merasa senang

Biasanya dalam bermain, anak selalu ingin menang saat bermain menang-kalah. Biarkan anak menang ketika ayah-bunda bermain bersama dalam permainan tersebut. Buat anak merasa senang, sehingga ia begitu menikmati permainan tersebut.

Secara tidak langsung, anak akan memperoleh sebuah pengakuan dan belajar mengenal kemampuan dirinya. Ia pun merasa dihargai yang akan membentuk kepercayaan dirinya. Namun, ayah-bunda perlu mengajarkan kepada si kecil bila ia bermain dengan teman-temannya, maka ia tidak selalu harus menjadi pemenang. Ajarkan juga arti kekalahan dan bagaimana cara meyikapinya dengan baik. Dengan cara ini, anak akan belajar menghargai orang lain dan menerima kenyataan yang dihadapinya.


4. Tidak membentak anak

Ini juga harus menjadi perhatian bagi ayah-bunda. Jangan sesekali membentak anak bila ia tidak mampu melakukan permainan tertentu atau marah ketika anak membiarkan mainannya bertaburan.

Bentakan akan membuat anak tumbuh menjadi orang pemarah dan emosional karena ia akan belajar dengan cara mengamati orang tuanya ketika menyelesaikan masalah. 

Akhirnya anak pun juga mengikuti perilaku yang sama seperti orang tuanya dan bila ada adiknya melakukan hal yang tidak disenanginya saat bermain, ia pun akan membentaknya. Oleh karena itu, ayah-bunda harus sabar bila berhadapan dengan si kecil saat bermain.


Itulah 4 hal yang harus diperhatkan saat bermain dengan anak. Perlu diingat ayah-bunda bahawa anak hanya memiliki kesempatan sekali untuk tumbuh dan berkembang. Temanilah setiap fase tumbuh kembangnya, sebab waktu tidak akan bisa diputar ulang.

Forum Literasi untuk Mereka yang Berseragam Merah Putih

Sumber foto http://www.gurusd.net

Sore itu murid-muridku terlihat berbeda, tidak ada senyum di wajah mereka dan tidak ada sambutan ketika aku tiba ke Taman Pendidikan Al-Quran (TPA). Biasanya mereka selalu menyambut kedatanganku, menyalami, dan menggandeng tanganku menuju tempat yang biasa kami gunakan untuk belajar mengaji Al-Quran. 

Sebagian dari mereka masih mengenakan seragam merah putih, hanya jilbabnya saja yang diganti menggunakan jilbab yang lebih bewarna. Aku memberi salam kepada mereka dan dilanjutkan dengan pertanyaan pembuka yang biasa aku gunakan sebelum memulai mengajar. 

Apa kabar semua?” Mereka menjawab dengan serentak “Alhamdulillah, luar biasa, tetap semangat, Allahuakabar, yes”. Itu jawaban khas ala murid-murid TPA di tempatku mengajar. 

Akan tetapi, kali ini suasananya tidak semegah kalimat penyemangat yang diucapkan mereka. Tatapan mereka kosong, terlihat wajah lelah di muka mereka, salah satu anak yang bernama Zahwa meminta kepadaku supaya hari ini belajar mengajinya ditiadakan. 

Belum selesai Zahwa bicara, si Nasywa pun ikut menampali dengan berkata bahwa mereka baru pulang dari sekolah dan masih mengenakan seragam sekolah karena tidak sempat pulang ke rumah untuk mengganti baju. Murid lainnya yaitu Nafis, Rifa, Zahra, dan Najwa juga setuju dengan dua temannya itu supaya hari ini kelas mengajinya ditiadakan.

Aku sempat heran kenapa mereka terlalu melotot tidak mau mengaji, karena biasanya mereka anak-anak yang aktif dan berebut menjadi yang pertama untuk menyetor bacaan Al-Quran kepadaku. Tapi hari ini mereka tak ubahnya seperti burung kehilangan sayap, bahkan Najwa yang biasanya banyak ngomong menjadi pendiam. 

Tidak ada satu pun yang mengambil meja, apalagi mengeluarkan juz ‘amma dan buku tulis. Mereka duduk diam mengelilingiku dan meminta kembali kepadaku supaya hari ini tidak usah mengaji, tapi kali ini dengan sedikit rengekan Zahra merayuku. 

Aku menanyakan alasan mereka kenapa tidak mau mengaji hari ini. Aku mencoba menanyakannya dengan bahasa sehalus mungkin supaya mereka mau terbuka, rupanya pertanyaan itu memancing emosi Nafis. Dia menuangkan kekesalannya dengan kata-kata yang bernada tinggi, dilanjutkan Najwa yang juga kesal dengan banyaknya pekerjaan rumah yang diberikan kepadanya. 

Sebenarnya jadwal hari ini adalah menyetor hafalan bacaan Al-Quran, tapi apa yang dijawab Zahra membuatku tersentak dan menjadi pertanyaan besar bagiku apa yang sebenarnya terjadi di sekolah mereka?

Umi, kenapa harus menghafal Al-Quran lagi? Umi tahu di kepala ku ini sudah banyak hafalan pelajaran di sekolah. Belum lagi ibu guru kasih PR, hampir semua pelajaran kami punya PR, ini ditambah lagi dengan hafalan Al-Quran. Sakit kepala kami banyak kali hafalan.” 

Aku pun mendapat benang merah dari masalah itu, rupanya mereka sedang kesal dengan tugas-tugas yang diberikan di sekolah. Mereka tidak bisa menyampaikan ke guru mereka karena tidak semua murid mendapatkan perhatian dari guru dan mengetahui permasalahan yang dilamai setiap murid. 

Aku sebagai guru mereka di TPA kadang menjadi tempat curhat mereka ketika ada permasalahan di sekolah atau pun di rumah. Di TPA satu kelompok ada lima sampai delapan orang anak yang diasuh oleh satu orang guru mengaji, mereka memanggilnya dengan sebutan ‘Umi’. Panggilan seperti itu supaya anak-anak bisa menjadi lebih dekat dengan pengajarnya. 

Jumlah murid di kelasku ada enam orang, sehingga memudahkan bagiku untuk mengetahui dan mengidentifikasi ketika mereka mempunyai masalah.

Ruang Komunikasi

Aku bukanlah profesional yang latar belakang keilmuannya keguruan, tapi aku berasal dari kalangan profesional kesehatan, yaitu perawat. Sejak masih kuliah aku sudah mulai mengajar di tempat ini, sehingga setelah selesai kuliah pun aku juga masih mengajar di tempat yang digunakan sebagai tempat belajar baca tulis Al-Quran untuk anak usia empat sampai 12 tahun.

Aku tidak mengetahui banyak hal tentang kurikulum pendidikan formal seperti di sekolah dasar. Kurikulum di TPA menekankan pada tiga aspek yaitu bermain, cerita, dan bernyanyi. Jadi, sebelum belajar mengaji, anak-anak diberikan kesempatan untuk bermain, kemudian dibawakan cerita kisah nabi dan dilanjutkan dengan menyanyikan shalawat dan lagu islami. 

Beda halnya dengan sekolah yang lebih menekankan pada pengetahuan umum dan pencapaian atas target kurikulum yang telah ditetapkan, sehingga memaksa anak-anak seperti Zahwa, Zahra, Nafis, Najwa, Rifa dan Nasywa untuk bisa menguasai berbagai mata pelajaran.

Aku memaklumi kondisi mereka, usia sekolah merupakan saat mereka dihadapkan dengan berbagai macam persoalan dasar tentang pengetahuan yang mengharuskan mereka untuk mengenal orang lain selain keluarga inti. 

Banyak pengalaman yang didapat di sekolah, namun terkadang ada anak yang menjadi beban pikiran ketika tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas sekolah dengan baik. Di lain sisi tuntutan orang tua dan guru agar anak tersebut bisa mengusai pelajaran sekolah membuat anak stres, sehingga mengganggu proses tumbuh kembang mereka. 

Saat kuliah dulu aku pernah mempelajari tentang teori perkembangan sosial yang dikemukakan oleh Erikson (1963). Masa ini disebut sebagai tahap industri dan inferioritas. Usia enam sampai 12 tahun seperti murid-muridku itu merupakan periode pematangan dalam hubungan sosial mereka dengan orang lain. 

Mereka mau terlibat dalam mengerjakan tugas dan aktivitas sampai selesai. Mereka juga belajar berkopetensi dan bekerjasama dengan orang lain. inilah yang disebut sebagai tahap industri, dimana anak usia sekolah ingin sekali mengembangkan keterampilan dan berpartisipasi dalam pekerjaan yang berarti dan berguna secara sosial. 

Akan tetapi jika terlalu banyak yang diharapkan dari mereka atau tidak dapat memenuhi standar yang ditetapkan orang lain kepada mereka, maka timbul rasa inferioritas yang membuat mereka menjadi rendah diri. 

Oleh karena itu perlu adanya ruang komunikasi antara orang tua, guru dan anggota keluarga lainnya dengan anak. Begitulah yang aku lakukan ketika murid-muridku mempunyai masalah di sekolah. Kami membuka ruang komunikasi dengan menceritakan masalah yang dialaminya di sekolah, baik itu karena pelajaran atau pun masalah dengan teman sebaya. 

Ketika mereka tidak mau mengaji berarti mereka butuh didengar tentang masalah yang sedang mereka alami. Kebetulan jadwal TPA dilakukan sore hari setelah pulang sekolah, banyak kejadian di sekolah berimbas pada suasana ruang kelas di TPA, karena mereka akan mengaitkan kejadian di sekolah dengan di TPA. Jadi, ruang komunikasi dapat dijadikan sebagai alternatif untuk mengetahui tentang perasaan mereka.

Forum Ekspresi Diri

Aku tidak mengetahui di tempat murid-muridku bersekolah apakah mempunyai forum untuk mengekspresikan diri. Mungkin ekstrakurikuler seperti pramuka, sanggar seni, musik, tari, dan lainnya bisa dijadikan tempat mengekspresikan diri. Biasanya itu berbentuk organisasi atau komunitas, namun forum yang lebih memfokuskan pada penuangan perasaan diri atau hobi seperti bercerita, menulis, bernyanyi jarang menjadi fokus utama di sekolah.

Zahra pernah bilang kepadaku bahwa di sekolah dia terlibat sebagai dokter kecil, berperan membantu teman-temannya yang sakit dan mengukur tinggi badan anak-anak kelas satu. Akan tetapi tidak ada tempat untuk mengasah kreatifitasnya dalam membuat dan membaca puisi, karena hobi Zahra membaca dan menulis puisi. 

Kembarannya yaitu Zahwa sangat senang menjadi presenter atau moderator, apalagi jika divideokan aksinya. Dia berlagak seperti pemandu wisata yang menjelaskan berbagai tempat, bahkan dia sering membuka video di Youtube untuk melihat berbagai acara yang menarik perhatiannya. 

Begitu juga dengan Nasywa yang sering sekali menggambar di sela-sela jadwal mengaji, namun di sekolah pelajaran seni jarang sekali membahas materi menggambar. Najwa yang hobinya bercerita dan menyanyi juga tidak mendaptkan tempat untuk mengekspresikan diri, atau Nafis yang suka ceramah dan Rifa yang sering diam-diam suka menulis. Mereka semua mempunyai hobi masing-masing yang sebenarnya itu bagian dari literasi. 

Sepintas pengamatanku bahwa saat ini pemerintah sedang mengupayakan membuat Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di berbagai jenjang pendidikan. Hal ini sesuai dengan temuan tentang rendahnyan literasi bagi para siswa di Indonesia. 

Hasil test Indonesian National Assessment Programme (INAP) yang mengambil sampel siswa kelas 4 SD di 34 propinsi di Indonesia, menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca, sains, dan matematika siswa masih sangat rendah. Sehingga adanya GLS ini sebagai upaya untuk menjadikan sekolah sebagai komunitas pembelajaran literasi.

Tentunya dalam hal ini harus ada forum untuk mengembangkan kemampuan literasi siswa. GLS yang dimaknai sebagai cara untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai media aktivitas seperti membaca, melihat, menyimak, menulis, dan berbicara harusnya mempunyai kelas tersendiri sebagai implementasi gerakan literasi di sekolah dasar. 

Forum tersebut dibuat untuk memberikan ruang bagi murid untuk menampilkan bakat dan minatnya. Aku sering menerapkan hal ini kepada murid-muridku, biasanya aku membuatnya di hari Sabtu. 

Di forum tersebut masing-masing murid membawa bekal makanan dari rumah dengan porsi cukup dimakan untuk dirinya dan temannya. Aku pun juga membawa bekal makanan yang nantinya dibagikan kepada semua anak, begitu juga dengan masing-masing mereka akan membagi makanannya ke teman lainnya.

Cara ini berhasil membuat mereka saling akrab satu sama lainnya yang menurut Erikson usia ini sangat bagus untuk perkembangan psikososial mereka. 

Setelah itu kami sepakat untuk menetukan tema forum ekspresi diri pada hari itu. Jika sepakat untuk membaca dan bercerita, maka setiap anak akan memilih satu cerita untuk dibacakan yang kemudian teman-teman lainnya akan menyimak dan menanggapi cerita tersebut. Namun jika hari itu dipilih materi tentang pertunjukkan bakat, maka mereka akan menampilkan puisi, nyanyi, ceramah, atau pun lainnya yang menjadi bakat mereka. 

Forum ini juga bisa menjadi ajang untuk melatih mereka menuangkan perasaan yang mereka rasakan. Aku biasanya menyuruh mereka menulis tentang aktivitas mereka di sekolah, atau pun hal-hal yang mereka sukai. Cara ini secara tidak langsung melatih kemampuan literasi mereka dalam pemilihan kata yang dituangkan ke dalam bentuk tulisan. 

Aku juga pernah menyuruh mereka menjadi komentator untuk melatih mereka berbicara. Ada satu anak yang mempraktikkan gerakan shalat, kemudian teman-teman lainnya memperhatikan dan memberikan komentar terhadap gerakan-gerakan yang tidak sesuai dengan gerakan shalat. 

Selain itu mereka juga dianjurkan untuk memberikan pujian kepada temannya yang benar mempraktikkan gerakan shalat. Rupanya cara seperti ini membuat mereka mempunyai tanggung jawab karena dipercayai sebagai orang yang telah mengerti gerakan shalat. Ternyata murid-muridku adalah komentator yang andal, karena mereka sudah bisa membedakan gerakan shalat yang benar dan yang tidak.

Beberapa cara seperti yang aku lakukan di atas bisa dijadikan sebagai implementasi gerakan literasi di sekolah dasar dengan membuka ruang komunikasi dan forum ekspresi diri. 

Meskipun aku bukanlah seorang yang berlatar belakang keilmuan keguruan, tapi aku belajar banyak hal tentang tumbuh kembang anak di jurusan keperawatan. Bagiku menjadi seorang pendidik itu tidak hanya dikalangan guru, tapi semua kita adalah pendidik bagi anak-anak kita. 

Bukan sekadar mengajarkan dari tidak tahu menjadi tahu, tidak mampu menjadi mampu, tapi juga merawatnya dan memberikan haknya sesuai dengan masa tumbuh kembangmya.

Implementasi gerakan literasi di sekolah dasar menurutku bukan sebatas mengajarkan mereka membaca, melihat, menyimak, menulis, dan berbicara supaya kemampuannya meningkat. 

Akan tetapi juga membantu mereka dalam mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai media aktivitas sesuai dengan kebutuhan mereka, karena setiap tahap pertumbuhan dan perkembangan anak mempunyai kapasitas masing-masing sesuai dengan masanya.

Adanya forum ini membuat Zahra, Zahwa, Najwa, Nasywa, Nafis, dan Rifa mempunyai tempat untuk mengekspresikan diri sesuai dengan bakatnya dan mempunyai tempat untuk menceritakan berbagai permasalahan yang mereka hadapi saat ruang komunikasi.

Aku, Zahra, Zahwa, Nasywa, Najwa dan Rifa di forum Ekspresi Diri.