Tampilkan postingan dengan label #ceritaleuser. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #ceritaleuser. Tampilkan semua postingan

Pesona Agusen, Daerah Bekas Penghasil Ganja Terbaik Dunia

Spot swafoto yang ada di Desa Wisata Agusen, Gayo Lues


AGUSEN, itulah nama daerah yang kami kunjungi dalam kegiatan Field Trip Bersama Jurnalis Aceh, Komunitas Video Dokumentasi, & Blogger. Kegiatan ini disponsori oleh USAID dalam program Bersama Mengawal Ekosistem Leuser. 

Aku tak menyangka bahwa Agusen itu adalah nama salah satu daerah di Kabupaten Gayo Lues. Ketika Mbak Bernita (panitia Field Trip) mengirimku undangan karena tulisanku di #ceritaleuser terpilih untuk mengikuti kegiatan ini, aku mengira Agusen itu nama program mereka. Rupanya Agusen adalah nama perkampungan yang katanya dulu penghasil ganja terbaik di dunia. 

Enam bulan yang lalu aku pernah ke Gayo Lues untuk mengikuti kegiatan Perempuan Peduli Leuser (PPL) yang dibuat oleh USAID Lestari. Tepatnya itu di Blangkejeren, tapi aku hanya mengunjungi beberapa tempat seperti Pining dan Bukit Cinta. Sungguh pesona daerah seribu bukit ini sangat membekas di ingatanku, hingga aku membuat sebuah tulisan yang berjudul Ada apa di Negeri Seribu Bukit, Gayo Lues? Tulisan ini dimuat di websitenya Lestari dan menjadi tulisan pengujung terbanyak di blogku. 

Penampilan tari saman oleh anak-anak di Desa Agusen
Kali ini aku diundang kembali oleh lembaga yang sama, tak lain kalau bukan menulis pesona daerah penghasil kopi terbaik di dunia ini. Tentu aku dengan senang hati menerima tawaran ini, padahal dua hari sebelumnya aku mengikuti kegiatan Lawatan Sejarah Nasional (Lasenas) 2018 dan mengunjungi tiga kabupaten berbeda selama lima hari. Namun, tidak ada sedikit pun rasa capek di tubuhku ketika aku harus kembali untuk meliput daerah seribu bukit ini. 

Perjalanan Menuju Agusen 

Butuh waktu 14 jam lamanya dari Banda Aceh menuju Kabupaten Gayo Lues. Aku berangkat dengan salah satu teman blogger bernama Iqbal dan Jurnalis Serambi Indonesia bernama Asnawi Kumar. Kami bertiga menyewa mobil Kijang Inova untuk mengantarkan kami ke daerah yang dimaksud. 

Di perjalanan, kami terlibat percakapan tentang daerah tujuan yang menjadi tempat kegiatan Field Trip. Tak ada satu pun diantara kami yang tahu di mana lokasi daerah itu, termasuk sopir yang bernama pak Ramzi itu tidak tahu di mana Agusen, walau dia sudah puluhan kali ke Gayo Lues. 

Salah satu jembatan gantung yang ada di Desa Agusen
Rupanya Iqbal dan Pak Asnawi sudah mencari tahu informasi daerah ini di internet. Daerah yang katanya dulu penghasil ganja, tapi sekarang diubah menjadi desa wisata. Di sana ada perkebunan kopi, sungai yang mengalir dari kaki Pegunungan Leuser, dan tentunya udara yang sejuk. 

Aku hanya diam mendengar cerita mereka karena aku memang tidak sempat mencari tahu informasi tentang Agusen, lantaran sibuk menyiapkan tulisan lawatan sejarah yang aku ikuti sebelumnya. 

Di sepanjang perjalanan aku hanya bisa berdecak kagum dan tertegun melihat pemadangan indah, apalagi saat melewati Danau Lut Tawar di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah. 

Ini kali pertamaku melewati lintas Gayo pada siang hari dan menyaksikan pesona alam yang di kelilingi oleh pegunungan. Sangat berbeda dengan lintas barat selatan arah kampungku yang sepanjang jalannya disuguhi dengan pesona pantai dan laut. 

Pesona keindahan Lut Tawar di Takengon, Aceh Tengah
Hingga akhirnya matahari pun berganti posisi dengan bintang dan bulan, sedangkan kami masih di dalam perjalanan menuju Agusen. Mbak Bernita mengirim titik lokasi Agusen melalui google map kepadaku. Sayangnya arah yang kami ikuti tidak sesuai dengan petunjuk yang tertera di google map. Akibatnya kami terlalu jauh meninggalkan Blangkejeren, hingga memasuki perbatasan Aceh Tenggara. 

Iqbal mencoba menghubungi Mbak Bernita, tapi juga tidak ada kejelasan arah. Apalagi di tengah malam yang gelap gulita, udara dingin pun mulai menusuk tulang. Pak Asnawi menelpon kembali Mbak Bernita meminta menjemput kami di Blangkejeran, supaya dipandu ke lokasi yang dituju. Pak Ramzi pun memutar balik arah mobil menuju Blangkejeren. Di sana sudah ada mobil Inova Hitam menunggu kami dan Pak Ramzi pun mengikuti mobil itu. 

Kami memasuki arah kanan menuju bandara kemudian berbelok lagi ke arah kanan menuju desa Agusen. Di situ terlihat panplet jalan selamat datang ke desa wisata Agusen, tapi karena gelap, aku tidak sempat mengambil fotonya. Di sepanjang jalan yang kami lewati, tidak ada cahaya kecuali lampu mobil dan bintang-bintang di angkasa. Setelah 30 menit lamanya, akhirnya kami tiba di sebuah perkampungan yang bernama Agusen. Di sini kami di bawa ke kantor Pengulu (alias kantor kepala desa) dan disambut oleh mbak Bernita dan Mas Een, serta beberapa warga setempat. 

Tidak lama di situ, aku pun diantar oleh seorang pemuda menggunakan sepeda motor ke rumah Pak Selamet yang menjadi tempat bermalamku. Aku tidak bisa melihat pesona kampung itu di malam hari, karena jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Yang terdengar hanya suara gemiricik air, jangkrik, dan kodok yang bunyinya bersahut-sahutan. 

Sesampainya di rumah Pak Selamet, di sana ada mbak Maria (Fasilitatorku saat pelatihan PPL) dan beberapa teman-teman lainnya dari Aceh Selatan. Aku disambut ramah oleh keluarga Pak Selamet dan disuguhi teh hangat serta makanan lezat goreng teri, plus gulai ikan dengan bunga kecombrang kesukaanku. 

Setalah makan, aku pun membersihkan diri ke kamar mandi. Katika air yang tiada henti mengalir ke bak kamar mandi itu kusentuh, Subhanallah sejuknya. Aku sempat shock dengan dinginnya air yang seperti air es itu. Cepat-cepat kubasuh muka dan menggosok gigi, lalu meringkuk ke selimut tebal yang disediakan tuan rumah. 

Apa Benar Agusen Penghasil Ganja Terbaik di Dunia? 

Matahari kembali berganti posisi dengan bintang dan bulan. Kali ini sinarnya begitu sempurna seolah tahu akan kedatangan kami ke desa ini. Selepas sarapan di rumah Pak Selamet, aku keluar menyambut matahari pagi. 

Pesona saat matahari terbit di Agusen
Ketika kupalingkan wajahku ke kanan, terlihat puluhan batang kopi yang mirip seperti bongsai. Ternyata kebun kopi Pak Selamet ada di samping kanan rumahnya. Di samping kanan rumahnya, ada kolam ikan yang sengaja dipelihara dan sekitar enam meter di depan rumahnya terbentang hamparan sawah yang menguning. Aku begitu terpesona melihat keindahan alam di desa ini. 

Aku bersama teman-teman menyambut dengan girang indahnya suasana pagi di Agusen. Lelah yang semalam mengusik tubuhku karena menempuh perjalanan selama 14 jam lebih, hilang seketika. Di hadapanku terpampang keindahan alam bak lukisan yang menakjubkan. 

Kami pun menuju ke kantor Pengulu sebagai tempat start field trip hari ini. Jarak rumah Pak Selamet dengan kantor Pengulu sekitar 200 meter. Di sepanjang jalan setapak yang kami lewati, kiri kanannya terdapat persawahan warga. Kemudian kami harus melewati jembatan gantung yang di bawahnya terdapat sungai yang begitu jernih. 

Sungai Agusen yang berbatu dan beraliran deras
Dari atas jembatan kita bisa melihat pegunungan yang tinggi menjulang mengelilingi desa ini. Pesonanya sungguh luar biasa indah meyejukkan mata. Aku pun heran, “kok bisa ada perkampungan di tengah hutan begini ya?” Namun, aku masih kepikiran apa benar dulunya tempat ini sebagai penghasil ganja terbaik di dunia?

Menuju Tanjung Lipet 

Sebelum kegiatan Field Trip kami diberi sambutan dulu oleh Peugulu (kepala desa) Agusen yang bernama Pak Ramadan. Dia menyampaikan ucapan selamat datang ke desa mereka yang sedang berbenah menjadi desa wisata. Berbagai fasilitas sedang dipersiapkan untuk wisatawan yang ingin menikmati pesona desa ini. 

Sambutan hangat dari beberapa perangkat desa itu mengantar kepergian kami menuju Tanjung Lipet. Sebelumnya kami debekali dengan arahan dan peraturan sebelum berkunjung ke sana, termasuk tidak boleh menggunakan makanan berbahan plastik. Jadi, kami dibagikan satu per orangnya tumbler minuman sebagai persediaan air minun selama mendaki ke Tanjungg Lipet. Perjalanan pun dimulai. 

Kami melewati jembatan, sawah, perumahan warga, kebun kopi, dan akhirnya tiba di tepi sungai. Kami pun juga harus menyeberangi sungai dengan arus yang lumayan deras itu. Tentunya punya trik untuk melewati sungai yang dalamnya setinggi paha orang dewasa. 

Peserta Field Trip sebagian ada yang sudah duluan naik ke Tanjung Lipet

Selanjutnya kami mendaki pegunungan yang kemiringannya hampir 90º. Ada sekitar 40 orang yang terlibat dalam field trip yang dibuat oleh USAID ini. Selain peserta, juga ada pemuda lokal yang memandu kami selama perjalanan. Mereka sangat ramah dan juga mau bersedia membawakan barang dan tas kami. 

Mereka adalah pemuda yang dilatih oleh dinas pariwisata setempat untuk memandu wisatawan yang datang di desa mereka. Rata-rata mereka adalah anak-anak yang ayahnya terlibat dalam kasus penanaman ganja di Agusen. Ada yang ayahnya sekarang mendekam di penjara, ada juga yang lari enetah ke mana karena tersangkut kasus penanaman ganja di Agusen. 

Para pemuda ini, tentu tidak ingin bernasib sama dengan ayah mereka. Jadi, menjadi pemandu bagi wisatawan adalah solusinya. Selain itu, sekarang mereka juga berladang kopi, cabe, dan serai sebagai ganti pekerjaan orang tuanya dulu yang berladang ganja. 

Mereka terlihat cekatan dalam memandu kami yang rata-rata bukanlah pendaki yang andal. Hingga akhirnya kami sampai ke puncak Tanjung Lipet dan menyaksikan pesona Agusen di ketinggian kurang lebih 1800 mdpl. 

Perjalanan menuju Tanjung Lipet
Desa kecil yang sekarang menjadi desa wisata itu terlihat indah dari atas Tanjung Lipet. Rumah penduduk terlihat bagai kotak-kotak kecil dengan aliran sungai yang mengiringinya. 

Dulu Ladang Ganja, Sekarang Desa Wisata 

Ternyata benar, dulunya desa ini adalah ladang ganja dan penghasil ganja terbaik di dunia. Informasi ini langsung disampaikan oleh Bupati Gayo Lues H. Muhammad Amru ketika acara diskusi dan dialog setelah kegiatan field trip. 

Akibatnya ada sekitar 900 masayarakat Gayo Lues yang mendekam di penjara karena kasus narkoba. Selain itu lebih dari 1000 orang dari daerah ini menjadi buronan karena kasus penanaman ganja. 

Pesona keindahan Agusen
Tentu saja para pemandu yang tadi membawakan tasku, tidak ingin bernasib sama dengan lelaki lainnya yang menjadi buronan. Makanya mereka lebih senang desa ini dijadikan sebagai obyek wisata, dibandingkan ladang ganja. Walaupun penghasilan mereka tidak sebesar menanam ganja, tapi mereka bisa hidup lebih tenang dan bisa menikmati keindahan alam. 

Desa ini sedang berproses menjadi desa destinasi wisata. Berbagai fasilitas sedang dibangun seperti home stay, peralatan untuk tracking, tubing jeram, birdwatching, wildlife camping, dan lainnya. 

Kita berharap ke depan Agusen akan benar-benar menjadi pesonanya Gayo Lues. Tidak lagi dikenal sebagai penghasil ganja terbaik dunia, tapi menjadi destinasi wisata dunia.

Bila ingin melihat video pesona Agusen, bisa lihat di chanel YouTubeku.


#CeritaLeuser Potensi Ekowisata di Kawasan Penyangga Leuser Aceh Selatan

Lanskap Kabupaten Aceh Selatan
Baru sebulan lalu, tepatnya pada Selasa, 20 Maret 2018 Aceh Selatan digenangi banjir akibat meluapnya sungai-sungai yang berada di kawasan penyangga Leuser. Ratusan rumah penduduk menjadi sasaran dari keganasan air yang tak lagi bersahabat. 

Aliran sungai yang melalui pemukiman penduduk, menjadi sangat menakutkan karena sudah berubah warna bercampur dengan lumpur. Hal yang lebih menakutkan lagi ialah bahaya longsor yang sewaktu-waktu bisa memakan korban harta dan juga nyawa. 
Banjir 20 Maret 2018 di Aceh Selatan
Keadaan seperti ini wajar dialami oleh masyarakat yang berada di sekitar penyangga Leuser, mengingat tingkat deforestasi di Aceh Selatan menjadi yang tertinggi di tahun 2017. 

Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HakA) bersama dengan Forum Konservasi Leuser (FKL) menyebutkan kerusakan hutan atau deforestasi yang terjadi di Aceh Selatan mencapai 1.847 hektare, disusul Aceh Timur 1.222 hektare, dan Nagan Raya 946 hektare. 

Bila ini terus-terusan terjadi, tidak menutup kemungkinan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang ada di Aceh Selatan akan terancam dirambah masyarakat yang ingin membuat asap dapurnya tetap mengepul. 
Pembukaan Jalan Baru di Kawasan Buffer Zone Aceh Selatan
Oleh karena itu, kawasan penyangga (Buffer Zone) yang ada di sebagian kawasan di Aceh Selatan harus dimanfaatkan dengan baik supaya KEL tidak diganggu. 


Keuntungan Berada Di Kawasan Penyangga 

Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) membentang luas di dua Propinsi Aceh dan Sumatera Utara. Terdapat beberapa kabupaten yang ditetapkan sebagai KEL salah satunya ialah Aceh Selatan. 

Daerah ini selain berbatasan langsung dengan KEL di lintasan Medan-Tapaktuan di Rantau Sialang, terdapat juga kawasan penyangga yang membatasi Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). 
Adanya kawasan penyangga membuat topografi Aceh Selatan dilalui oleh banyak sungai dan air terjun yang indah. Bahkan ada air terjun yang tidak jauh letaknya dari bibir pantai seperti Air Terjun Air Dingin di Kecamatan Samadua. 

Tidak hanya itu, air terjun juga terdapat di Kecamatan Tapaktuan yaitu Air Terjun Tingkat Tujuh dan Kecamatan Kluet Tengah. Terdapat juga banyak sungai yang dijadikan sebagai kolam pemandian seperti Kolam Pemandian Aroya dan Panjupian di Kecamatan Tapaktuan. 
Air Terjun Air Dingin
Bila kondisi alam sedang baik, tempat ini dijadikan sebagai objek wisata bagi wisatawan. Tidak terhitung jumlah tempat wisata alam yang terdapat di Aceh Selatan, setiap kecamatan pasti ada objek wisata yang bisa dinikmati. Entah itu air terjun, sungai, kolam pemandian, pantai, gunung, batu, dan banyak lainnya. 

Hanya saja selama ini wisata di Aceh Selatan hanya terfokus untuk menikmati objek wisatanya saja, sedangkan lingkungan yang berada di sekitarnya diabaikan. Akibatnya di mana ada objek wisata, pasti banyak sampah yang bertaburan karena plastik makanan yang di bawa oleh wisatawan. 
Sampah yang bertaburan di tepi pantai lokasi wisata Rindu Alam Tapaktuan
Yang menjadi penerima manfaat dari tempat wisata itu hanya pemilik usaha seperti pedagang dan pengelola tempat wisata. Bahkan terkadang tempat wisata itu dijadikan sebagai tempat maksiat bagi wisatawan yang tidak mengerti tentang wisata sebenarnya. 

Masyarakat setempat hanya bisa geram melihat kondisi tersebut, sehigga menimbulkan pemikiran negatif bagi masyarakat bahwa setiap tempat wisata akan rawan terjadinya kemaksiatan.

Potensi untuk Diterapkannya Konsep Ekowisata 

Untuk objek wisata di Aceh Selatan, tidak terhitung lagi jumlahnya karena setiap tempat bisa dinikmati keindahannya. Bila potensi ini dikelola dengan baik berdasarkan konsep ekowisata, tentunya tidak akan ada lagi yang berniat merambah hutan dan mengeksploitasi alam seperti tambang di Aceh Selatan. 
Lokasi wisata Air Terjun Air Dingin yang bisa dijadikan jalur tracking sepeda
Ekowisata adalah wisata yang bertanggung jawab terhadap alam, memberdayakan masyarakat, dan meningkatkan kesadaran lingkungan. Ada tiga komponen dasar yang harus dipenuhi untuk menerapkan konsep ini. Oleh karena itu, lintas sektor sangat diperlukan supaya ekowisata bisa berjalan dengan baik. 

Bila dikaji lebih dalam sangat memungkinkan ekowisata ini diterapkan di Aceh Selatan. Apalagi dengan adanya dana desa di masing-masing gampong dapat dijadikan sebagai upaya untuk mempermudah jalannya ekowisata. Salah satu prioritas penggunaan dana desa ialah kegiatan pengelolaan hutan dan pantai di desa. Tentunya ini bisa dianggarkan untuk memenuhi komponen pertama dari ekowisata yaitu konservasi alam. 
Sumber mata air di Gampong Air Sialang Hilir, Kecamatan Samadua
Hal ini bisa dilakukan dengan membuat tempat-tempat sampah di setiap objek wisata, penyediaan toilet yang layak, peraturan yang harus dipatuhi pengunjung, dan petugas yang memantau pengunjung yang tidak tertib di objek wisata tersebut. Intinya obek wisata di tempat tersebut tetap terjaga keasliannya sehingga bisa dinikmati terus menerus. 

Komponen kedua ialah memberdayakan masyarakat setempat untuk menjual barang hasil olahannya, baik berupa makanan, kerajinan, jasa, dan sebagainya. Sehingga tempat wisata tersebut dapat membangun perekonomian masyarakat. 
Kelompok pengrajin rajut di Gampong Air Sialang Hilir, Kec. Samadua
Komponen terakhir ialah meningkatkan keasadaran lingkungan hidup dengan mengajak masyarakat setempat dan wisatawan untuk lebih dekat dengan alam. Misalnya dengan menerapkan peraturan bagi setiap wisatawan tidak diperbolehkan membawa makanan yang berbungkus plastik. Memberi denda bagi wisatawan yang membuang sampah sembarangan dan denda bagi penjual yang menggunakan bungkusan plastik. 

Selain itu juga bisa disediakan paket wisata untuk memanen pala, atau membuat pala sambutan. Aceh Selatan yang terkenal dengan tanaman pala bisa dijadikan sebagai sarana belajar wisatawan untuk memanfaatkan pala sebagai tanaman hijau yang bernilai ekonomi.

Memetik pala di kebun pala, salah satu paket wisata yang bisa ditawarkan di ekowisata

Jika komponen di atas sudah dipahami dan diterapkan, KEL di Aceh Selatan dapat terjaga dengan baik karena kawasan penyangga dapat dimanfaatkan dengan tepat sasaran. Semoga dengan adanya potensi ini, Aceh Selatan bisa dijadikan salah satu daerah ekowisata terbaik di Aceh. 

Referensi