Tampilkan postingan dengan label #CareLeuser. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #CareLeuser. Tampilkan semua postingan

Pesona Agusen, Daerah Bekas Penghasil Ganja Terbaik Dunia

Spot swafoto yang ada di Desa Wisata Agusen, Gayo Lues


AGUSEN, itulah nama daerah yang kami kunjungi dalam kegiatan Field Trip Bersama Jurnalis Aceh, Komunitas Video Dokumentasi, & Blogger. Kegiatan ini disponsori oleh USAID dalam program Bersama Mengawal Ekosistem Leuser. 

Aku tak menyangka bahwa Agusen itu adalah nama salah satu daerah di Kabupaten Gayo Lues. Ketika Mbak Bernita (panitia Field Trip) mengirimku undangan karena tulisanku di #ceritaleuser terpilih untuk mengikuti kegiatan ini, aku mengira Agusen itu nama program mereka. Rupanya Agusen adalah nama perkampungan yang katanya dulu penghasil ganja terbaik di dunia. 

Enam bulan yang lalu aku pernah ke Gayo Lues untuk mengikuti kegiatan Perempuan Peduli Leuser (PPL) yang dibuat oleh USAID Lestari. Tepatnya itu di Blangkejeren, tapi aku hanya mengunjungi beberapa tempat seperti Pining dan Bukit Cinta. Sungguh pesona daerah seribu bukit ini sangat membekas di ingatanku, hingga aku membuat sebuah tulisan yang berjudul Ada apa di Negeri Seribu Bukit, Gayo Lues? Tulisan ini dimuat di websitenya Lestari dan menjadi tulisan pengujung terbanyak di blogku. 

Penampilan tari saman oleh anak-anak di Desa Agusen
Kali ini aku diundang kembali oleh lembaga yang sama, tak lain kalau bukan menulis pesona daerah penghasil kopi terbaik di dunia ini. Tentu aku dengan senang hati menerima tawaran ini, padahal dua hari sebelumnya aku mengikuti kegiatan Lawatan Sejarah Nasional (Lasenas) 2018 dan mengunjungi tiga kabupaten berbeda selama lima hari. Namun, tidak ada sedikit pun rasa capek di tubuhku ketika aku harus kembali untuk meliput daerah seribu bukit ini. 

Perjalanan Menuju Agusen 

Butuh waktu 14 jam lamanya dari Banda Aceh menuju Kabupaten Gayo Lues. Aku berangkat dengan salah satu teman blogger bernama Iqbal dan Jurnalis Serambi Indonesia bernama Asnawi Kumar. Kami bertiga menyewa mobil Kijang Inova untuk mengantarkan kami ke daerah yang dimaksud. 

Di perjalanan, kami terlibat percakapan tentang daerah tujuan yang menjadi tempat kegiatan Field Trip. Tak ada satu pun diantara kami yang tahu di mana lokasi daerah itu, termasuk sopir yang bernama pak Ramzi itu tidak tahu di mana Agusen, walau dia sudah puluhan kali ke Gayo Lues. 

Salah satu jembatan gantung yang ada di Desa Agusen
Rupanya Iqbal dan Pak Asnawi sudah mencari tahu informasi daerah ini di internet. Daerah yang katanya dulu penghasil ganja, tapi sekarang diubah menjadi desa wisata. Di sana ada perkebunan kopi, sungai yang mengalir dari kaki Pegunungan Leuser, dan tentunya udara yang sejuk. 

Aku hanya diam mendengar cerita mereka karena aku memang tidak sempat mencari tahu informasi tentang Agusen, lantaran sibuk menyiapkan tulisan lawatan sejarah yang aku ikuti sebelumnya. 

Di sepanjang perjalanan aku hanya bisa berdecak kagum dan tertegun melihat pemadangan indah, apalagi saat melewati Danau Lut Tawar di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah. 

Ini kali pertamaku melewati lintas Gayo pada siang hari dan menyaksikan pesona alam yang di kelilingi oleh pegunungan. Sangat berbeda dengan lintas barat selatan arah kampungku yang sepanjang jalannya disuguhi dengan pesona pantai dan laut. 

Pesona keindahan Lut Tawar di Takengon, Aceh Tengah
Hingga akhirnya matahari pun berganti posisi dengan bintang dan bulan, sedangkan kami masih di dalam perjalanan menuju Agusen. Mbak Bernita mengirim titik lokasi Agusen melalui google map kepadaku. Sayangnya arah yang kami ikuti tidak sesuai dengan petunjuk yang tertera di google map. Akibatnya kami terlalu jauh meninggalkan Blangkejeren, hingga memasuki perbatasan Aceh Tenggara. 

Iqbal mencoba menghubungi Mbak Bernita, tapi juga tidak ada kejelasan arah. Apalagi di tengah malam yang gelap gulita, udara dingin pun mulai menusuk tulang. Pak Asnawi menelpon kembali Mbak Bernita meminta menjemput kami di Blangkejeran, supaya dipandu ke lokasi yang dituju. Pak Ramzi pun memutar balik arah mobil menuju Blangkejeren. Di sana sudah ada mobil Inova Hitam menunggu kami dan Pak Ramzi pun mengikuti mobil itu. 

Kami memasuki arah kanan menuju bandara kemudian berbelok lagi ke arah kanan menuju desa Agusen. Di situ terlihat panplet jalan selamat datang ke desa wisata Agusen, tapi karena gelap, aku tidak sempat mengambil fotonya. Di sepanjang jalan yang kami lewati, tidak ada cahaya kecuali lampu mobil dan bintang-bintang di angkasa. Setelah 30 menit lamanya, akhirnya kami tiba di sebuah perkampungan yang bernama Agusen. Di sini kami di bawa ke kantor Pengulu (alias kantor kepala desa) dan disambut oleh mbak Bernita dan Mas Een, serta beberapa warga setempat. 

Tidak lama di situ, aku pun diantar oleh seorang pemuda menggunakan sepeda motor ke rumah Pak Selamet yang menjadi tempat bermalamku. Aku tidak bisa melihat pesona kampung itu di malam hari, karena jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Yang terdengar hanya suara gemiricik air, jangkrik, dan kodok yang bunyinya bersahut-sahutan. 

Sesampainya di rumah Pak Selamet, di sana ada mbak Maria (Fasilitatorku saat pelatihan PPL) dan beberapa teman-teman lainnya dari Aceh Selatan. Aku disambut ramah oleh keluarga Pak Selamet dan disuguhi teh hangat serta makanan lezat goreng teri, plus gulai ikan dengan bunga kecombrang kesukaanku. 

Setalah makan, aku pun membersihkan diri ke kamar mandi. Katika air yang tiada henti mengalir ke bak kamar mandi itu kusentuh, Subhanallah sejuknya. Aku sempat shock dengan dinginnya air yang seperti air es itu. Cepat-cepat kubasuh muka dan menggosok gigi, lalu meringkuk ke selimut tebal yang disediakan tuan rumah. 

Apa Benar Agusen Penghasil Ganja Terbaik di Dunia? 

Matahari kembali berganti posisi dengan bintang dan bulan. Kali ini sinarnya begitu sempurna seolah tahu akan kedatangan kami ke desa ini. Selepas sarapan di rumah Pak Selamet, aku keluar menyambut matahari pagi. 

Pesona saat matahari terbit di Agusen
Ketika kupalingkan wajahku ke kanan, terlihat puluhan batang kopi yang mirip seperti bongsai. Ternyata kebun kopi Pak Selamet ada di samping kanan rumahnya. Di samping kanan rumahnya, ada kolam ikan yang sengaja dipelihara dan sekitar enam meter di depan rumahnya terbentang hamparan sawah yang menguning. Aku begitu terpesona melihat keindahan alam di desa ini. 

Aku bersama teman-teman menyambut dengan girang indahnya suasana pagi di Agusen. Lelah yang semalam mengusik tubuhku karena menempuh perjalanan selama 14 jam lebih, hilang seketika. Di hadapanku terpampang keindahan alam bak lukisan yang menakjubkan. 

Kami pun menuju ke kantor Pengulu sebagai tempat start field trip hari ini. Jarak rumah Pak Selamet dengan kantor Pengulu sekitar 200 meter. Di sepanjang jalan setapak yang kami lewati, kiri kanannya terdapat persawahan warga. Kemudian kami harus melewati jembatan gantung yang di bawahnya terdapat sungai yang begitu jernih. 

Sungai Agusen yang berbatu dan beraliran deras
Dari atas jembatan kita bisa melihat pegunungan yang tinggi menjulang mengelilingi desa ini. Pesonanya sungguh luar biasa indah meyejukkan mata. Aku pun heran, “kok bisa ada perkampungan di tengah hutan begini ya?” Namun, aku masih kepikiran apa benar dulunya tempat ini sebagai penghasil ganja terbaik di dunia?

Menuju Tanjung Lipet 

Sebelum kegiatan Field Trip kami diberi sambutan dulu oleh Peugulu (kepala desa) Agusen yang bernama Pak Ramadan. Dia menyampaikan ucapan selamat datang ke desa mereka yang sedang berbenah menjadi desa wisata. Berbagai fasilitas sedang dipersiapkan untuk wisatawan yang ingin menikmati pesona desa ini. 

Sambutan hangat dari beberapa perangkat desa itu mengantar kepergian kami menuju Tanjung Lipet. Sebelumnya kami debekali dengan arahan dan peraturan sebelum berkunjung ke sana, termasuk tidak boleh menggunakan makanan berbahan plastik. Jadi, kami dibagikan satu per orangnya tumbler minuman sebagai persediaan air minun selama mendaki ke Tanjungg Lipet. Perjalanan pun dimulai. 

Kami melewati jembatan, sawah, perumahan warga, kebun kopi, dan akhirnya tiba di tepi sungai. Kami pun juga harus menyeberangi sungai dengan arus yang lumayan deras itu. Tentunya punya trik untuk melewati sungai yang dalamnya setinggi paha orang dewasa. 

Peserta Field Trip sebagian ada yang sudah duluan naik ke Tanjung Lipet

Selanjutnya kami mendaki pegunungan yang kemiringannya hampir 90º. Ada sekitar 40 orang yang terlibat dalam field trip yang dibuat oleh USAID ini. Selain peserta, juga ada pemuda lokal yang memandu kami selama perjalanan. Mereka sangat ramah dan juga mau bersedia membawakan barang dan tas kami. 

Mereka adalah pemuda yang dilatih oleh dinas pariwisata setempat untuk memandu wisatawan yang datang di desa mereka. Rata-rata mereka adalah anak-anak yang ayahnya terlibat dalam kasus penanaman ganja di Agusen. Ada yang ayahnya sekarang mendekam di penjara, ada juga yang lari enetah ke mana karena tersangkut kasus penanaman ganja di Agusen. 

Para pemuda ini, tentu tidak ingin bernasib sama dengan ayah mereka. Jadi, menjadi pemandu bagi wisatawan adalah solusinya. Selain itu, sekarang mereka juga berladang kopi, cabe, dan serai sebagai ganti pekerjaan orang tuanya dulu yang berladang ganja. 

Mereka terlihat cekatan dalam memandu kami yang rata-rata bukanlah pendaki yang andal. Hingga akhirnya kami sampai ke puncak Tanjung Lipet dan menyaksikan pesona Agusen di ketinggian kurang lebih 1800 mdpl. 

Perjalanan menuju Tanjung Lipet
Desa kecil yang sekarang menjadi desa wisata itu terlihat indah dari atas Tanjung Lipet. Rumah penduduk terlihat bagai kotak-kotak kecil dengan aliran sungai yang mengiringinya. 

Dulu Ladang Ganja, Sekarang Desa Wisata 

Ternyata benar, dulunya desa ini adalah ladang ganja dan penghasil ganja terbaik di dunia. Informasi ini langsung disampaikan oleh Bupati Gayo Lues H. Muhammad Amru ketika acara diskusi dan dialog setelah kegiatan field trip. 

Akibatnya ada sekitar 900 masayarakat Gayo Lues yang mendekam di penjara karena kasus narkoba. Selain itu lebih dari 1000 orang dari daerah ini menjadi buronan karena kasus penanaman ganja. 

Pesona keindahan Agusen
Tentu saja para pemandu yang tadi membawakan tasku, tidak ingin bernasib sama dengan lelaki lainnya yang menjadi buronan. Makanya mereka lebih senang desa ini dijadikan sebagai obyek wisata, dibandingkan ladang ganja. Walaupun penghasilan mereka tidak sebesar menanam ganja, tapi mereka bisa hidup lebih tenang dan bisa menikmati keindahan alam. 

Desa ini sedang berproses menjadi desa destinasi wisata. Berbagai fasilitas sedang dibangun seperti home stay, peralatan untuk tracking, tubing jeram, birdwatching, wildlife camping, dan lainnya. 

Kita berharap ke depan Agusen akan benar-benar menjadi pesonanya Gayo Lues. Tidak lagi dikenal sebagai penghasil ganja terbaik dunia, tapi menjadi destinasi wisata dunia.

Bila ingin melihat video pesona Agusen, bisa lihat di chanel YouTubeku.


#CeritaLeuser Potensi Ekowisata di Kawasan Penyangga Leuser Aceh Selatan

Lanskap Kabupaten Aceh Selatan
Baru sebulan lalu, tepatnya pada Selasa, 20 Maret 2018 Aceh Selatan digenangi banjir akibat meluapnya sungai-sungai yang berada di kawasan penyangga Leuser. Ratusan rumah penduduk menjadi sasaran dari keganasan air yang tak lagi bersahabat. 

Aliran sungai yang melalui pemukiman penduduk, menjadi sangat menakutkan karena sudah berubah warna bercampur dengan lumpur. Hal yang lebih menakutkan lagi ialah bahaya longsor yang sewaktu-waktu bisa memakan korban harta dan juga nyawa. 
Banjir 20 Maret 2018 di Aceh Selatan
Keadaan seperti ini wajar dialami oleh masyarakat yang berada di sekitar penyangga Leuser, mengingat tingkat deforestasi di Aceh Selatan menjadi yang tertinggi di tahun 2017. 

Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HakA) bersama dengan Forum Konservasi Leuser (FKL) menyebutkan kerusakan hutan atau deforestasi yang terjadi di Aceh Selatan mencapai 1.847 hektare, disusul Aceh Timur 1.222 hektare, dan Nagan Raya 946 hektare. 

Bila ini terus-terusan terjadi, tidak menutup kemungkinan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang ada di Aceh Selatan akan terancam dirambah masyarakat yang ingin membuat asap dapurnya tetap mengepul. 
Pembukaan Jalan Baru di Kawasan Buffer Zone Aceh Selatan
Oleh karena itu, kawasan penyangga (Buffer Zone) yang ada di sebagian kawasan di Aceh Selatan harus dimanfaatkan dengan baik supaya KEL tidak diganggu. 


Keuntungan Berada Di Kawasan Penyangga 

Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) membentang luas di dua Propinsi Aceh dan Sumatera Utara. Terdapat beberapa kabupaten yang ditetapkan sebagai KEL salah satunya ialah Aceh Selatan. 

Daerah ini selain berbatasan langsung dengan KEL di lintasan Medan-Tapaktuan di Rantau Sialang, terdapat juga kawasan penyangga yang membatasi Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). 
Adanya kawasan penyangga membuat topografi Aceh Selatan dilalui oleh banyak sungai dan air terjun yang indah. Bahkan ada air terjun yang tidak jauh letaknya dari bibir pantai seperti Air Terjun Air Dingin di Kecamatan Samadua. 

Tidak hanya itu, air terjun juga terdapat di Kecamatan Tapaktuan yaitu Air Terjun Tingkat Tujuh dan Kecamatan Kluet Tengah. Terdapat juga banyak sungai yang dijadikan sebagai kolam pemandian seperti Kolam Pemandian Aroya dan Panjupian di Kecamatan Tapaktuan. 
Air Terjun Air Dingin
Bila kondisi alam sedang baik, tempat ini dijadikan sebagai objek wisata bagi wisatawan. Tidak terhitung jumlah tempat wisata alam yang terdapat di Aceh Selatan, setiap kecamatan pasti ada objek wisata yang bisa dinikmati. Entah itu air terjun, sungai, kolam pemandian, pantai, gunung, batu, dan banyak lainnya. 

Hanya saja selama ini wisata di Aceh Selatan hanya terfokus untuk menikmati objek wisatanya saja, sedangkan lingkungan yang berada di sekitarnya diabaikan. Akibatnya di mana ada objek wisata, pasti banyak sampah yang bertaburan karena plastik makanan yang di bawa oleh wisatawan. 
Sampah yang bertaburan di tepi pantai lokasi wisata Rindu Alam Tapaktuan
Yang menjadi penerima manfaat dari tempat wisata itu hanya pemilik usaha seperti pedagang dan pengelola tempat wisata. Bahkan terkadang tempat wisata itu dijadikan sebagai tempat maksiat bagi wisatawan yang tidak mengerti tentang wisata sebenarnya. 

Masyarakat setempat hanya bisa geram melihat kondisi tersebut, sehigga menimbulkan pemikiran negatif bagi masyarakat bahwa setiap tempat wisata akan rawan terjadinya kemaksiatan.

Potensi untuk Diterapkannya Konsep Ekowisata 

Untuk objek wisata di Aceh Selatan, tidak terhitung lagi jumlahnya karena setiap tempat bisa dinikmati keindahannya. Bila potensi ini dikelola dengan baik berdasarkan konsep ekowisata, tentunya tidak akan ada lagi yang berniat merambah hutan dan mengeksploitasi alam seperti tambang di Aceh Selatan. 
Lokasi wisata Air Terjun Air Dingin yang bisa dijadikan jalur tracking sepeda
Ekowisata adalah wisata yang bertanggung jawab terhadap alam, memberdayakan masyarakat, dan meningkatkan kesadaran lingkungan. Ada tiga komponen dasar yang harus dipenuhi untuk menerapkan konsep ini. Oleh karena itu, lintas sektor sangat diperlukan supaya ekowisata bisa berjalan dengan baik. 

Bila dikaji lebih dalam sangat memungkinkan ekowisata ini diterapkan di Aceh Selatan. Apalagi dengan adanya dana desa di masing-masing gampong dapat dijadikan sebagai upaya untuk mempermudah jalannya ekowisata. Salah satu prioritas penggunaan dana desa ialah kegiatan pengelolaan hutan dan pantai di desa. Tentunya ini bisa dianggarkan untuk memenuhi komponen pertama dari ekowisata yaitu konservasi alam. 
Sumber mata air di Gampong Air Sialang Hilir, Kecamatan Samadua
Hal ini bisa dilakukan dengan membuat tempat-tempat sampah di setiap objek wisata, penyediaan toilet yang layak, peraturan yang harus dipatuhi pengunjung, dan petugas yang memantau pengunjung yang tidak tertib di objek wisata tersebut. Intinya obek wisata di tempat tersebut tetap terjaga keasliannya sehingga bisa dinikmati terus menerus. 

Komponen kedua ialah memberdayakan masyarakat setempat untuk menjual barang hasil olahannya, baik berupa makanan, kerajinan, jasa, dan sebagainya. Sehingga tempat wisata tersebut dapat membangun perekonomian masyarakat. 
Kelompok pengrajin rajut di Gampong Air Sialang Hilir, Kec. Samadua
Komponen terakhir ialah meningkatkan keasadaran lingkungan hidup dengan mengajak masyarakat setempat dan wisatawan untuk lebih dekat dengan alam. Misalnya dengan menerapkan peraturan bagi setiap wisatawan tidak diperbolehkan membawa makanan yang berbungkus plastik. Memberi denda bagi wisatawan yang membuang sampah sembarangan dan denda bagi penjual yang menggunakan bungkusan plastik. 

Selain itu juga bisa disediakan paket wisata untuk memanen pala, atau membuat pala sambutan. Aceh Selatan yang terkenal dengan tanaman pala bisa dijadikan sebagai sarana belajar wisatawan untuk memanfaatkan pala sebagai tanaman hijau yang bernilai ekonomi.

Memetik pala di kebun pala, salah satu paket wisata yang bisa ditawarkan di ekowisata

Jika komponen di atas sudah dipahami dan diterapkan, KEL di Aceh Selatan dapat terjaga dengan baik karena kawasan penyangga dapat dimanfaatkan dengan tepat sasaran. Semoga dengan adanya potensi ini, Aceh Selatan bisa dijadikan salah satu daerah ekowisata terbaik di Aceh. 

Referensi 








Harapan Untuk Leuser

Humaira Aina

Jangan pernah menebang pohon di sana, agar Leuser tetap terjaga dengan baik dan nyaman. (Humaira Aina).
Itulah harapan Humaira untuk Leuser. Diantara 11 orang anak yang mengirimkan kupon yang dibuat oleh Leuser dalam upaya Mengenal Leuser Lebih Dekat, Humaira satu-satunya anak yang mengenal Leuser. Dia mengatakan bahwa Leuser adalah hutan yang harus dilindungi.

Sedangkan anak-anak lainnya bertanya-tanya apa itu Leuser? Baru kali ini mereka mendengar tentang Leuser. Meskipun demikian tidak mengurangi antusias mereka untuk berpartisipasi mengirimkan kupon.

Aku mengajak anak-anak di tempatku mengajar supaya mengirimkan kupon tersebut. Kupon dapat diambil dari koran Serambi Indonesia terbitan hari Minggu di Rubrik Serambi Kids.

USAID Lestari mem-booking satu halaman Serambi pada hari Minggu yang dikhususkan untuk mengenal Leuser lebih dekat. Di situ dijelaskan sekilas tentang Leuser dan hewan yang dilindungi tinggal di Leuser. Setiap edisi selama lima minggu, terdapat kupon tentang harapan untuk Leuser.

Tampilan halaman Serambi Kids edisi 14 Februari 2018
Siapa saja boleh berpartisipasi mengirimkannya, tapi hanya untuk anak-anak yang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Kupon dikirimkan ke alamat LESTARI Leuser: Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh, Gedung C Jl. Jendral Sudirman No. 21. Banda Aceh. Setiap minggunya akan ada 20 pemenang yang akan mendapatkan tas cantik dan tempat minum dari USAID Lestari.

Hadiah bagi pemenang Harapan untuk Leuser
Anak-anak pun sangat semangat ketika aku mengatakan ada hadiahnya. Mereka ingin ikut berpartisipasi, tapi banyak yang masih bingung tentang Leuser itu sendiri. Aku pun menjelaskannya dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak-anak.

“Leuser itu hutan yang terdapat di Aceh dan dilindungi. Disinilah tempat hidup hewan-hewan yang dilindungi seperti gajah, badak, orangutan, dan harimau”.

“Kenapa kita harus menjaga Leuser Umi?” Salah satu anak bertanya kepadaku. Dia terlihat kesulitan menyebut kata Leuser, karena memang baru kali ini dia mendengarnya.

“Supaya hewan-hewan itu punya tempat tinggal jadi nggak mengganggu kita. Makanya kita tidak boleh menebang pohon sembarangan di hutan Leuser, karena selain bisa merusak tempat tinggal mereka, juga bisa mengakibatkan banjir besar karena tidak ada lagi pohon yang menahan air.”

“Jadi, kalau kita tebang hutan bisa mengakibatkan banjir ya Mi?” Khalil makin penasaran dengan penjelasanku berikutnya.

Kemudian disambut oleh Amel “ Iya lah, kok nggak ada pohon lagi rumah kita bisa kebanjiran.”

“Hewan-hewan yang tinggal di sana juga terganggu kalau hutannya ditebang” Nafis pun ikut menimpali menjawab pertanyaan dari kawannya.

Aku tersenyum mendengar jawaban mereka, karena mereka sudah sedikit mengerti tentang Leuser. Inilah saat yang tepat untuk mengenalkan kepada mereka tentang Leuser, karena banyak yang tidak tahu tentang Leuser. Jangankan anak-anak bahkan orang dewasa pun juga tidak mengenal Leuser.

Hafiz lagi menulis harapannya untuk Leuser

Selamat Buat Pemanang

Minggu pertama ada lima anak yang memberikan kupon itu kepadaku untuk dititipkan ke kantor USAID Lestari. Ternyata kelima anak itu masuk sebagai pemenang dan diumumkan di koran Serambi di Minggu berikutnya. Mereka sangat senang saat melihat nama-nama mereka muncul di koran sebagai pemenang. Bahkan ada anak yang sengaja membawa koran dan memperlihatkan namanya kepadaku.

Ini dia pemenang Serambi Kids edisi 14 Januari 2018
Rupanya semangat itu menular kepada anak-anak lain, kemudian mereka mengirimkannya beramai-ramai kepadaku.

Tidak hanya anak di tempatku mengajar, aku juga mengajak Nurul yang saat itu sedang di kemoterapi untuk menuliskan harapannya untuk Leuser.

Walaupun sedang di kemoterapi, masih bisa menuliskan?
Dia begitu antusias untuk ikut berpartisipasi meski saat itu sedang di kemoterapi. Dia menyempatkan menulis harapannya untuk Leuser.
Supaya Leuser dapat terjaga dengan baik. Jadi Nurul masih bisa menghirup udara segar dan minum air bersih. (Nurul Amalia).
Aku juga mengajak Intan salah satu anak di panti asuhan tempat kegiatan sosialku. Sama halnya dengan anak lain, Intan belum mengenal Leuser. Aku pun menjelaskan sekilas kepadanya dan menyuruhnya untuk membaca informasi yang ada di koran tersebut tentang Leuser.
Menjaga pohon-pohon di hutan supaya tidak terjadi longsor. Aku cinta Leuser. (Intan).
Aku senang melihat partisipasi mereka menuliskan harapan untuk Leuser, sehingga dengan begitu mereka bisa mengetahui tentang hutan yang menjadi sumber udara dan air bersih bagi makhluk di bumi.

Seperti inilah harapan mereka untuk Leuser.


Semoga Hewan yang ada di Leuser bisa tenang dan tidak punah seperti dinausourus dulu. Amin. Jadi, kita tidak boleh membakar hutan lagi. (Kamalia Nura Minarifa).
Supaya hutannya terjaga dan terlindungi. Kasihan kalau hewan-hewannya tidak punya tempat tinggal lagi kalau hutannya rusak. (Sofia).

Semrawut Wajah Aceh Selatan Ketika Pala Tak Lagi Berbunga


Kematian pala sudah lama terdengar, jauh sebelum aku sadar betapa berdampaknya masalah ini bagi kehidupan masyarakat di Aceh Selatan. Sekitar awal tahun 2000 geliat perekonomian masyarakat benar-benar menurun secara teratur. Tambahnya lagi puncak konflik yang menjadikan Aceh sebagai daerah darurat militer membuat masyarakat kehilangan kesempatan untuk merawat tanaman palanya. 

Kebun pala tak terurus lagi, hutan yang ditanami pala tak bisa dikunjungi. Ketika itu pula serangan jamur akar putih dan hewan penggerek batang mulai datang menyerang. Ribuan hektar tanaman pala milik petani mati membuat duka yang amat dalam bagi petani pala.

Batang pala yang mati di Panton Luas, Tapaktuan Aceh Selatan 
Terbayang akan kenangan ketika pala mulai berbunga, masyarakat beramai ramai memetik buahnya. Seperti yang tertulis dalam buku mantan Bupati Aceh Selatan Sayed Mudhahar Ahmad Ketika Pala Mulai Berbunga. Oh., betapa indahnya negeri pala ini dulunya.

Lengang 

Kematian pala itu sudah berlangsung lama, ternyata begini dampaknya. Kotaku menjadi lengang bagai kota sakit yang tidak mempunyai denyut kehidupan. 

Pada bulan November 2017 lalu program Perempuan Peduli Leuser diadakan di Kota Tapaktuan. Aku sangat senang karena menjadi tuan rumah. Pastinya aku akan bisa mengajak teman-temanku untuk menikmati keindahan kota pala ini.
Tugu Pala di Tengah Kota Tapaktuan
Aku baru tersadar ketika teman-temanku bertanya, di mana tempat ngopi atau minum sirup pala yang asyik, wisata kuliner yang bisa dinikmati, dan pusat oleh-oleh khas Aceh Selatan. Entah aku yang kurang tahu di mana lokasinya, tapi ketika malam tiba aku bingung mau membawa mereka kemana.

Setahu aku dulunya di pelabuhan ada tempat kuliner yang menjajakan makanan, tapi sayangnya tidak ada lagi sekarang. Suasana kota pun juga tidak seramai dulu menurutku yang dulunya ketika malam dipenuhi banyak orang. Tapi sekarang aku merasa ngeri pulang dari Tapaktuan ke Samadua pada pukul 21.00 malam.

Tidak hanya itu, kampungku yang dulunya merupakan pusat perbelanjaan terbesar di Samadua yaitu Air Sialang kini hanya meninggalkan rukonya saja. Aku ingat betul bagaimana ibu menceritakan betapa ramainya kampungku ini didatangi oleh banyak orang untuk berbelanja. 

Apalagi setelah panen pala saat mendekati lebaran. Semua orang berbagi rezeki dari hasil panen pala itu. Para pedagang pun samakin ramai, sehingga nama jalan di Air Sialang dibuat menjadi Jalan Perdagangan Air Sialang.

Bukan saja di Air Sialang, pusat perbelanjaan seperti di Tapaktuan, Manggeng, dan Kota Fajar juga penuh dengan aktifitas perdagangan. Sayangnya setelah kematian pala semua menjadi lengang. Entah kamana para pembeli itu, hingga kativitas pasar pun tidak semeriah dulu.

Jalan Perdagangan Air Sialang Samadua, Aceh Selatan yang kini tinggal rukonya saja
Para pedagang di Air Sialang pun hijrah ke tempat lain seperti Nagan Raya, Sinabang, dan Subulussalam untuk bisa melajutkan kegiatan daganganya. Toko yang berjajar di sepanjang Pasar Air Sialang tutup, meninggalkan kenangan indah ketika pala masih berjaya.

Sekarang aku baru tersadar bahwa karena kematian palalah yang mengakibatkan ini semua. Masyarakat Aceh Selatan yang mayoritasnya petani pala telah kehilangan sumber matapencahariannya. 

Ketika sumber rezeki telah berkurang, tentunya geliat perekonomian masyarakat melemah sehingga pasar-pasar pun menghilang. Orang-orang harus memilih barang-barang yang menjadi prioritas untuk dibeli demi kelangsungan hidup mereka. Makanya aktivitas di Aceh Selatan terkesan lengang.

Nasib Petani Pala

Aku dan teman-teman Perempuan Peduli Leuser bermaksud untuk mengangkat isu ini menjadi sebuah media kampanye lingkungan. Lalu kami berkujunjung untuk melihat para petani pala dan mendengarkan kisah mereka semenjak kematian pala ini.

Seorang petani pala dari Panton Luas Tapaktuan menceritakan bagaimana sedih hidupnya setelah kematian pala ini. Dearah yang merupakan buffer zone Leuser ini merupakan daerah terakhir merasakan dampak kematian pala. 
Petani Pala yang Sedang Memetik Buah Pala di Batu Itam, Tapaktuan Aceh Selatan
Tepatanya tahun 2015, di mana semua tanaman palanya mengering menggurkan daun, dan meninggalkan kerangka. Seperti tersambar petir, tanaman pala itu mengering dan mati seketika menyisakan tangis dari petani-petani yang merawatnya.

Petani telah mencoba berkali-kali menanam kembali pala di tempat yang sama, tapi hasilnya pala juga tidak kian berbunga. Tanaman ini jadi makanan empuk bagi jamur akar putih dan hewan penggerek batang. Masyarakat pun spesimis untuk menanami kembali pala, karena setiap ditanam akan mati lagi karena penyakitnya yang tidak bisa teratasi.

Kini banyak masyarakat kehilangan matapencaharian dan anak-anaknya kehilangan masa depan. Karena dulunya hasil pala inilah yang bisa mensejahterakan masyarakat Aceh Selatan dan juga untuk menyekolahkan anak-anaknya untuk mendapatkan gelar sarjana.

Kini semua hanya tinggal kenangan. Wajah Aceh Selatan yang tertulis dalam buku Seraut Wajah Aceh Selatan Ketika Pala Mulai Berbunga berubah menjadi semrawut wajah Aceh Selatan ketika pala tak lagi berbunga.

Berikut aku tampilkan jejak rekaman wajah Aceh Selatan yang kini merindukan kembali kajayaan pala.



Surat di Tahun 2059 "Air Sialang Tanpa Air"

Saat aku mengikuti kegiatan perempuan peduli leuser di Gayo Lues, kami ditampilkan sebuah video dengan judul Surat dari teman di tahun 2070

Di video itu menceritakan tentang kehidupan manusia di tahun 2070 yang sangat susah mendapatkan air. Benda ini telah menjadi langka dan merupakan benda yang paling berharga dibandingkan apa pun, mengalah harga emas atau pun bitcoin.

Dari video itu aku terinspirasi untuk menuliskan surat di tahun 2059, di mana umurku saat itu 67 tahun. Aku menggambarkan kampungku sendiri yang merupakan Dearah Aliran Sungai (DAS) tidak lagi memiliki air, karena masalah lingkungan yang membuat sumber mata air di kampungku  mengering.

Inilah suratku yang aku tulis pada 15 Oktober 2017.

Surat di Tahun 2059

Air Sialang tanpa air

Saat ini orang bukan lagi menyebut kampung ini sebagai Air Sialang, tapi air basalang (Air dipinjam). Air lebih berharga dari segenggam emas dan sebongkah berlian. Jika ingin mendapatkan air, masyarakat harus menunggu hujan yang hanya turun 2 kali dalam setahun. 

Air hanya ada di tempat perusahaan air yang mengolah air limbah menjadi air untuk kebutuhan sehari-hari, jika pun ingin mendapatkan air tersebut, mereka harus meminjamnya terlebih dahulu ke perusahaan air, dan harus menggantinya kembali dengan air.

Jika dia tidak mampu membayarnya, maka dia akan dipenjarakan dan dibiarkan mati karena kehausan.

Salah satu sumber mata air yang ada di Air Sialang pada tahun 2017

Orang-orang berperang karena memperebutkan air. Orang yang paling kaya adalah orang yang mempunyai sumur, walaupun airnya sebentar-sebentar mengering. Banyak perpecahan yg terjadi karena memperebutkan sumber mata air, bahkan pertumpahan darah terjadi karena air.

Cucu-cucuku tidak percaya kampung ini mempunyai banyak kolam dengan sumber mata air yang begitu jernih. Bahkan dia tidak percaya bahwa dulu aku bisa mandi lebih dari 3 kali sehari dan berenang sepuasnya di kolam pemandian.

Anak-anak di tahun 2017 masih bisa mandi berenang, melompat-lompat menikmati kolam renang

Mereka juga tidak percaya bahwa aku mencuci baju dengan air karena baju-baju mereka hanya digunakan sekali pakai langsung dibuang.

Usiaku saat ini 67 tahun, tapi wajahku seperti orang usia 100 tahun. Aku terkena penyakit ginjal kronik yang membuatku menahan sakit bertahun-tahun, akibat kurang mengkonsumsi air.

Anak-anakku yang berusia 30 tahun seperti usia 50 tahun, 20 tahun lebih tua dibandingkan saat usiaku seperti itu.

Ini saat usiaku 26 tahun yang masih bisa menikmati jernihnya air dan
teman-temanku yang berasal dari Banda Aceh sangat senang melihat sumber mata air ini

Ketika mereka melahirkan, anak-anak mereka terlahir dengan daya imun tubuh yang lemah, bahkan mereka sudah terindikasi terkena kanker kulit sebelum dia tumbuh dewasa.

Ketika mereka mau mandi, mereka harus menggunakan tisu basah, dan membersihkan kotoran dengan tisu. Bahkan mereka tidak mandi sampai berbulan-bulan karena tidak ada air. Jangankan untuk mandi, kebutuhan air untuk minum pun juga dibatasi.

Dulunya aku diwajibkan minum 8 gelas sehari, tapi saat ini kami hanya boleh minum setengah gelas sehari yang membuat kulit kami keriput kerena dehidrasi. Rambut di kepala kami tidak bisa tumbuh, karena sel-sel rambut di kepala kami tidak berkembang dengan baik, tapi itu menguntungkan kami karena kami tidak perlu keramas dan membutuhkan air untuk perawatan rambut.

Meskipun penampilan kami kini terlihat aneh seperti alien, itulah kami manusia di tahun 2059.

Saat usiaku 26 tahun, aku pernah terlibat dalam kegiatan perempuan peduli leuser. Kami mengangkat isu air sebagai bahan advokasi ke seluruh lapisan masyarakat. Sayangnya mereka tidak mempercayai bahwa air itu bisa habis, termasuk di kampungku yang sekarang berganti nama dengan sebutan Air Basalang.

Aku berusaha mengangkat isu konservasi air di tahun 2017
Adakah yang mau ikut denganku?

Sekarang ketika sumber mata air itu benar hilang, baru mereka sadar bahwa betapa pentingnya air di kehidupan mereka. Batang Air Sialang yang mengairi 3 kampung tersebut, sekarang berganti dengan tumpukan sampah. Air hanya menjadi kenangan terindah di kampung ini.

Jika aku bisa kembali ke tahun 2017, aku benar-benar ingin menjadi perempuan peduli lingkungan dan mengajak kerjasama dengan semua lapisan masyarakat untuk menjaga lingkunganku, terutama hutan Leuser yang merupakan sumber terbesar penyimpan air.

Jika kamu bisa kembali ke tahun 2017, apa yang ingin kau lakukan supaya air benar-benar tidak hilang dan hanya menjadi sebuah kenangan?


"YS" Renungan di tahun 2059.

Hutan Leuser Surga Tersembunyi, Ini Lima Alasannya

Sumber Foto : www.leuserlestari.com
Pernah menyaksikan film fiksi ilmiah 3-D yang berjudul Avatar? Kamu pasti akan terkesan dengan pesona hutan yang luar biasa indah di sepanjang film tersebut. 

Planet yang diberi nama Pandora tersebut menyajikan bentuk visual keindahan alam berupa pohon, sungai, air terjun, dan binatang liar lainnya. Film yang menghabiskan dana 237 juta USD di tahun 2009 ini, berhasil menarik perhatian jutaan penonton di seluruh dunia.

Sekarang kita bukan berbicara tentang keindahan Planet Pandora yang ada di film animasi tersebut, tapi planet yang sebenarnya. Satu-satunya planet yang ditempati oleh berbagai macam makhluk hidup di dunia. 

Tempat bernaungnya kehidupan manusia yang bernama Planet Bumi. Meskipun sejak lahir kita sudah berada di sini, tapi tidak semua tempat bisa kita jelajahi.

Aku yang lahir di Indonesia misalnya, tentunya lebih bisa menceritakan tentang daerahku, dibandingkan harus bercerita tentang Hutan Amazon yang ada di Amerika sana. 

Tepatnya di Pulau Sumatera, aku lahir dan besar di daerah yang mempunyai bukit barisan bernama Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Sebuah hutan hujan tropis yang telah ditetapkan dunia, sebagai Situs Warisan Dunia oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).
Sumber Foto : www.leuserlestari.com
TNGL ini sangat luas, mencakup dua propinsi yaitu Aceh dan Sumatera Utara. Di Aceh sendiri TNGL berada di beberapa kabupaten seperti Gayo Lues, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Aceh Singkil, Aceh Barat Daya, dan Aceh Selatan kampungku sendiri.

Sejak lama hutan ini telah menjadi sumber kehidupan di kampungku. Tempat sumber mata air, sumber makanan, tempat hidupnya berbagai macam margasatwa, dan sebagai surga dunia bagi pecinta lingkungan.
Sumber Foto : www.leuserlestari.com
Ada lima alasan menurutku TNGL ini disebut sebagai surga tersembunyi.

1. Keindahan sungai dan air terjun 

Tidak hanya sebagai paru-paru dunia, TNGL juga sebagi sumber mata air bagi masyarakat. Air yang sampai ke permukiman warga saat ini dan juga mengalir ke rumahku berasal dari aliran sungai hutan Leuser.
Sumber Foto : www.leuserlestari.com
Tidak diragukan lagi bahwa di Leuser terdapat banyak aliran sungai dengan air jernih dan dingin. Seolah kita bisa melepaskan dahaga dengan berendam di sungai. 

Air terjun dengan ketinggian mencapai 50 meter menambah keindahan mata memandang. Suasananya cukup alami, ditengah hutan yang dikelilingi pohon-pohon yang menjulang tinggi.
Sumber Foto : www.leuserlestari.com
Begitulah yang dituturkan oleh orang-orang yang telah sampai ke pedalaman Leuser. Meskipun aku belum pernah ke sana, tapi cerita mereka membuatku mempunyai impian untuk menuju ke sana.

2. Tempat hidupnya margasatwa yang jarang kita lihat

Di film Avatar mungkin kamu melihat berbagai jenis binatang yang aneh dan tidak ditemukan di kehidupan nyata. Namun di Leuser kamu menemukan satwa liar yang tidak ditemukan di kota. 

Bisa jadi kamu melihatnya di kebun binatang atau di kumpulan foto internet dan buku tentang satwa liar. Tapi sensasinya sungguh berbeda jika kamu menyaksikan sendiri dan masuk ke Hutan Leuser.
Sumber Foto : www.leuserlestari.com
Di daerahku, kawasan Leuser sangat dekat bahkan jalan nasionalnya pun melewati kawasan Leuser ini. Sesekali orangutan, gajah, dan kadang harimau melewati jalan ini. 

Jika kita memasuki lebih dalam hutan tersebut, maka kita menemukan berbagai macam jenis satwa liar lainnya yang hidup secara alami. Tentunya dipandu oleh penjaga hutan seperti anggota rangger yang direkrut dari kalangan mahasiswa, petani, aktivis lingkungan dan mantan pemburu satwa liar oleh Forum Konservasi Leuser (FKL).
Sumber Foto : www.leuserlestari.com
Melihat secara langusung aktivitas satwa liar ini tentunya memberikan pengalaman tersendiri bagi kita. Orangutan yang bergelantungan di pohon, kicauan burung dengan berbagai jenis, dan banyak lagi binatang-binatang lainnya yang mencuri perhatian kita saat melintasinya. 

3. Tumbuhan indah dan pohon-pohon yang berusia ratusan tahun

Siapa yang tidak takjub melihat taman bunga yang berada di tengah hutan dengan warna yang beraneka ragam. Masih dari cerita seorang teman yang merupakan penggiat konservasi lingkungan, beliau mengatakan bahwa banyak tanaman indah yang kita jumpai di sana. Seolah kita memang benar sedang berada di surga. 
Sumber Foto : www.leuserlestari.com
Ada bunga yang begitu mencolok warnanya, sehingga menarik kumbang-kumbang untuk mendekatinya. Begitu juga pohon-pohon berukuran raksasa yang berusia ratusan tahun, seolah membuat dunia imajinasi kita hidup ketika berada di hutan sana. 
Sumber Foto : www.hikayatbanda.com
4. Pesona di puncak Gunung Leuser

Butuh waktu sekitar satu minggu jalan kaki untuk sampai ke puncak Leuser, namun perjalanan itu akan tergantikan dengan pesona puncak Leuser yang begitu menawan. 
Sumber Foto : www.leuserlestari.com
Kita seakan berada di atas awan mirip dengan film Avatar, namun di sini tidak ada binatang terbang yang bisa ditunggangi manusia. 

Sensasi yang menakjubkan lagi saat melihat matahari terbit, kita berasa dekat dengan matahari bahkan bisa menggapainya. Sungguh suasana seperti ini sangat langka, bahkan untuk sampai ke puncak Leuser.

Sumber Foto : www.leuserlestari.com
Untuk mendapatkan surga itu kan mahal, kita saja untuk bisa masuk surga harus membelanjakan untuk kebaikan. Jadi, kalau mau ke surga Leuser perlu biaya juga dong.

5. Tradisi saman sebagi pengawal Leuser

Jika kamu ingin melihat bagaimana budaya masyarakat di sekitar Leuser, maka lihatlah tari saman. Tari yang ditetapkan sebagai Daftar Representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia oleh UNESCO, telah berhasil membuat Aceh di kenal dunia.
Sumber Foto : Zulfan Monika
Tari ini mempunyai syair pesan dakwah dan nasehat untuk menjaga alam yang dilantunkan melalui Bahasa Gayo. Setiap gerakan tubuh yang ditampilkan penari mempunyai arti, begitu juga dengan pakaian kerawang yang digunakannya.

Meskipun kita tidak mengetahui syair dalam Bahasa Gayo yang disampaikan, namun ada keterikatan batin saat mereka menarikan saman. Apalagi jika ada pergelaran tari saman masal, seperti yang pernah diadakan pada bulan Agustus lalu mencapai lebih dari 10.001 penari.
Sumber Foto : www.lintasgayo.com
Sungguh menakjubkan bukan? Surga yang terdapat di ujung Pulau Sumatera ini begitu menggoda, bahkan aktor ternama kelas dunia Leonardo Decaprio sudah menyempatkan diri untuk berkunjung kemari. Lantas kamu kapan menikmati surga ini?

Jika kamu ingin merasakan suasana alam seperti di film 3-D Avatar, Hutan Leuser menjadi salah satu tempat yang tepat untukmu. 

Kamu bisa langsung menuju situs tiket.com untuk melakukan perjalanan menuju Aceh. Nah, setelah sampai ke Aceh bagaimana?

Tenang saja karena penggiat pariwisata Aceh sudah banyak disini. Kamu bisa langsung kepoin instagram dinas pariwisata Aceh @disbudpar_aceh atau pun Generasi Pesona Indonesia chapter Aceh @genpiaceh untuk menanyakan informasi paket wisata menuju Hutan Leuser.

Mereka akan membantumu untuk mengarahkan ke surga tersembunyi Hutan Leuser. Yang penting kamu cari tiket dulu melalui tiket.com, kerena lebih murah dan lebih mudah tentunya. 

Aku tunggu di surga tersembunyi di daerahku ya.