Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Kreasi Kasab Aceh di Bantal Sandaran Kursi


Pada umumnya kasab Aceh digunakan untuk dekorasi pelaminan saat acara sunatan atau pernikahan. Sebab penggunaan pelaminan kasab sesuatu yang diharuskan bagi masyarakat Aceh ketika melaksanakan sebuah kenduri sunatan atau pernikahan, bahkan sudah menjadi adat yang diharuskan.

Jadi, kalau kamu pergi ke acara undangan pernikahan di Aceh atau yang menggunakan adat Aceh, pasti ada terpajang pelaminan kasab yang digunakan saat bersanding. Pelaminan itu memiliki ukiran yang beragam, seperti bunga, pucuk rebung, daun-daun dan lainnya yang disulam menggunakan benang kasab bewarna emas.

Pelaminan Kasab Aceh Selatan

Ukiran-ukiran yang disebut sebagai motif tersebut juga mempunyai makna dan filosofi tersendiri sesuai dengan berbagai daerah yang ada di Aceh. Seperti kasab Aceh Selatan misalnya yang menggunakan pelaminan maracu tunggang baliak mempunyai makna dan filosofi di setiap motif yang merangkai pelaminan tersebut.

Untuk lebih jelasnya tentang makna dan filosofinya, silakan baca Mengenal Makna Pelaminan Kasab Emas "Aneuk Jame"

Kreasi Kasab

Sebelumnya aku sudah pernah membuat kreasi kasab Aceh ke baju, gelang, gantungan kunci, dan syal. Namun, kreasi kasab untuk bantal sandaran kursi belum pernah dibuat karena tidak ada permintaan pasar.


Rupanya salah seorang warga Aceh yang tinggal di Jakarta tertarik untuk membuat kreasi kasab Aceh di bantalan sandaran kursi. Setelah bergeleria mencari pengrajin kasab untuk membuat kreasi yang diinginkannya, akhirnya ia menemukan akun instagramku yang memposting video pembuatan kasab.

Singkat cerita akhirnya kami deal untuk membuat kreasi kasab di bantalan kursi sesuai keinginannya. Aku mengirimkan foto-foto motif kasab yang kemungkinan bisa dibuat untuk sandaran kursi. Dari beberapa motif yang kukirimkan, akhirnya ada 7 buah bantal sandaran kursi yang akan dibuatkan benang kasab.

Untuk jenis kainnya, dia sendiri yang memilihkannya dan mengirimkannya langsung dari Jakarta. Kain yang digunakan ialah jenis kain Jaguard dan Valvet. Namun, biasanya untuk menjahit kasab pelaminan, kami menggunakan kain beludru.
Jenis kain Jaguard

Jenis kain Valvet

Oleh karena ini permintaan konsumen, kami pun ikut saja sesuai dengan yang diinginkan. Sebab selama ini kami membuat kasab berdasarkan orderan, jarang sekali yang ready karena mengingat pengerjaannya yang cukup lama dan butuh banyak tenaga.

Untuk mengerjakan pesanan ini, dibutuhkan beberapa pengrajin yang dimulai dari melukis motif kasabnya, menyulam kasab, dan menjahit hasil sulaman kasab tersebut menjadi bantal. Total pengrajin yang terlibat dalam pengerjaan ini ada 4 orang.

Berikut beberapa kreasi kasab Aceh di bantal sandaran kursi yang kami buat lengkap dengan makna dari motif kasab tersebut.

1. Motif Bunga Situnjung 


Bunga situnjung dalam kehidupan nyata tidaklah ada, hanya berupa gambaran pemikiran masyarakat Aneuk Jamee yang dituangkan dalam bentuk yang berupa runcing pada bagian atasnya. 

Motif ini diambil dari pelaminan kasab Aceh Selatan, biasanya terdapat di Maracu. Ada pun makna dari bunga situnjung ini menurut buku Makna Pelaminan Kasab Aneuk Jamee Aceh Selatan ialah keagungan budi nurani masyarakat Aceh Selatan.

2. Motif Tanaman Padi  


Motif tanaman padi ini biasanya terdapat pada bagian dalansi di pelaminan kasab Aceh Selatan. Makna dari motif ini diibaratkan seperti pada yang semakin tua semakin merunduk, jadi kita perlu belajar dari siklus kehidupan padi. Walau usianya cukup pendek, yaitu beberapa bulan saja, tapi mampu mendatangkan banyak manfaat bagi makhluk hidup lainnya. 


3. Motif Tali Air


Motif tali air ini biasanya digunakan di pinggir setiap sulaman kasab. Adapun maknanya ialah sebagai simbol persatuan masyarakat Aneuk Jamee Tapaktuan, Aceh Selatan. 

Kreasi kasab Aceh di kain jaguard warna hitam

4. Motif Daun Kacang dan Pucuk Rebung


Daun kacang yang dimaksud di sini ialah kacang panjang yang daunnya tumbuh menjalar ke depan. Kacang panjang ini sifatnya menjalar maju dan tidak peduli terhadap apa yang ada di depannya. Jika dianalogikan dalam kehidupan, bahwa perjuangan dalam mencapai sebuah tujuan  hidup hendaknya tidak mengenal kata mundur. 

Motif daun kacang biasanya digunakan di banta gadang pelaminan kasab Aceh Selatan. Motif ini dijadikan sebagai tamsilan bahwa kehidupan hendaknya seperti daun kacang yang terus bergerak maju untuk mencapai sebuah tujuan hidup.  

Sedangkan pucuk rebung ialah bentuk dari bambu muda yang biasanya digunakan untuk sayur atau gulai bagi sebagian masyarakat Aceh Selatan. Bentuknya yang lebar pada bagian bawah dan meruncing ke atas bermakna sebagi pucuk pimpinan. 

5. Motif Situnjung di empat sudut


Motif seperti ini biasanya terdapat di alas daluang tempat meletakkan makanan untuk prosesi peusijuk dalam adat pernikahan Aceh. Makna dari motif bunga situnjung sama seperti yang dijelaskan di atas.

6. Motif Pohon Kelapa


Motif ini sebenarnya tidak ada di dalam pelaminan kasab. Hanya saja ada permintaan dari pemesan disuruh buat seperti ini. Ya, sebagai pengrajin kasab kita akan buat sesuai yang diinginkannya.

Kreasi kasab di kain jaguard warna hijau

7. Motif Situnjung di ujung lapiak dalung


Motif ini terdapat pada ujung lapiak dalung. Untuk bantal sandaran kursi yang ini disulam di bahan kain valvet. Nah, bagaimana menurutmu untuk hasil yang ini?

Itulah beberapa kreasi kasab Aceh yang disulam menggunakan benang emas untuk bantal sandaran kursi. Bagi kamu yang mau pesan kasab, silakan hubungi Yell Saints (0852 6008 0834). 

Oia, kasab sulam benang emas ini dibuat secara manual dengan tangan oleh para pengrajinnya. Jadi, butuh waktu lama untuk pengerjannya. Mohon dimaklumi, dengan kondisi ini ya teman-teman. 

Salam dari pengrajin kasab Samadua, Aceh Selatan, Aceh.




Tradisi Memberi Makan Bidan (Mablien) dalam Budaya Aceh



Usia kehamilanku baru saja beranjak enam bulan, tapi ibu sudah sibuk merencanakan persiapan untuk kenduri memberi makan bidan (jok bu mablien). Dia menghubungi bidan kampung atau yang biasa disebut mablien atau mak blien. Ibu menanyakan kesediaan mablien tersebut untuk datang ke rumah kami karena akan dilakukan kenduri jok bu mablien

Mablien merupakan sebutan untuk dukun beranak bagi masyarakat Aceh.
Tradisi memberi makan bidan merupakan tradisi masyarakat Aceh untuk meminta bantuan secara hormat kepada mablien dalam membantu proses persalinan perempuan yang sedang hamil. 

Jadwal jok bu mablien pun ditentukan, yaitu jatuh pada hari Jumat, 4 Oktober 2019. Setelah mendapat persetujuan dari mablien, mertua dan keluarga dari pihak suamiku pun diundang ke rumah untuk melakukan prosesi jok bu mablien

Keluarga besarku akan mengadakan kenduri, tapi bukanlah kenduri secara besar-besaran seperti pernikahan. Hanya melibatkan beberapa keluarga intiku dan suami, serta seorang mablien yang nantinya membantu proses persalinanku. Kemudian beberapa rantangan nasi beserta lauknya di antar ke rumah para anak yatim sebagai sedekah yang merupakan bagian dari kenduri ini. 

Makanan yang dibawa untuk perempuan hamil

Dalam tradisi jok bu mablien yang sebenarnya, pihak keluarga laki-laki akan membawa idang/talam yang berisi berbagai makanan untuk perempuan hamil tersebut. Hanya saja, saat proses jok bu mablien pada kehamilanku, mereka menggantinya dengan sejumlah uang. Jadi, keluargakulah yang menyiapkan hidangan untuk disantap bersama-sama. 

Mablien dalam Sebuah Tradisi 

Keberadaan mablien dalam budaya Aceh seperti sebuah mata rantai kepercayaan adat bagi masyarakat. Khususnya bagi masyarakat di perkampungan yang masih menjunjung tinggi adat dan budaya Aceh. 

Meskipun sekarang sudah banyak persalinan perempuan hamil dilakukan di rumah sakit dengan pertolongan dokter dan bidan, tapi keberadaan mablien ini tetap tidak bisa ditinggalkan. 

Seperti aku misalnya yang setiap bulan melakukan pemeriksaan kehamilan ke bidan klinik dan sesekali ke praktik dokter kandungan. Namun, aku tetap menggunakan jasa mablien dan mengikuti proses jok bu mablien sesuai dengan tradisi yang berlaku. 

Menurut kepercayaan masyarakat Aceh, ritual yang dilakukan oleh mablien dirasakan mempunyai nilai lebih untuk memberikan keselamatan bagi calon ibu dan anak yang dilahirkan. Selain itu, juga terdapat hubungan emosional yang begitu kuat antara mablien dengan perempuan hamil tersebut, suaminya, ibu dan ibu mertuanya, serta keluarganya. 

Ilustrasi saat mablien melakukan tugasnya 

Hal itu dikarenakan saat proses jok bu mablien semua keluarga dari perempuan hamil tersebut berkumpul dan dilakukan serah terima antara mertua dan mablien

Proses Serah Terima 

Jadi, waktu itu setelah kami makan bersama dengan mablien dan keluarga dari pihak suamiku, mablien yang telah dipilih oleh ibuku memeriksa kandunganku. 

Kami pun menuju ke kamarku dan si mablien mulai melaksanakan tugasnya. Dia memeriksa perutku dengan sangat hati-hati menggunakan minyak zaitun. Awalnya aku ragu dengannya karena takut perutku dipijat atau diurut seperti kebanyakan diomongin orang. Ternyata dia hanya mengoleskan minyak zaitun sembari meng-palpasi (meraba) perutku. 

Sentuhan tangannya sangat lembut, lebih lembut dibandingkan bidan klinik saat memeriksa kandunganku. Meskipun kerutan tangannya begitu jelas terlihat karena usia yang tak lagi muda, pengalaman membuktikan bahwa ia memang terbiasa melakukan pekerjaan ini. 

“Bayimu cantik benar, Nek. Jaga dia baik-baik dan jangan melakukan pekerjaan berat untuk sementara waktu ini,” ujarnya kepadaku sambil tersenyum. 

Entah dari mana dia tahu jenis kelamin bayiku, padahal dia cuma memegang perutku tanpa menggunakan alat ultrasonografi (USG) seperti dokter kandungan pada umumnya. Aku membalas senyumnya sambil mengucapkan hamdallah. 

Sebelumnya, aku memang sudah pernah USG ke dokter kandungan dan hasilnya bayiku perempuan. Namun, aku dan ibu tidak pernah mengatakan kepada mablien tersebut jenis kelamin bayiku. Ternyata dia mengetahuinya sendiri dengan cara meraba perutku. 

Setelah itu, mablien tersebut keluar dan menyampaikan hasil pemeriksaannya kepada keluarga besarku. Terutama kepada ibu mertua dan suamiku. Dia juga menyampaikan bahwa bayi yang kukandung cantik dan kondisinya dalam keadaan sehat. 

Seusai serah terima antara mertuaku dengan mablien

Terlihat wajah-wajah senang saat mablien tersebut menyampaikan kabar itu. Rasa syukur dan bahagia menyelimuti seluruh keluarga besarku. Kemudian, barulah dilakukan proses serah terima antara ibu mertuaku dengan mablien

Sebelumnya ibuku sudah menyediakan satu rantangan nasi lengkap dengan lauk paukya, beras satu bambu, dan dua buah kelapa yang diserahkan kepada mablien untuk dibawa pulang. Sedangkan ibu mertuaku memberinya sejumlah uang yang diisikan di dalam amplop dan saat itulah terjadi proses serah terima atau yang disebut peunulang

Artinya hidup dan mati perempuan hamil tersebut diserahkan kepada mablien selama proses persalinan. Mablien setelah menerima peunulang itu menjadi kewajiban baginya untuk menjenguk setiap saat perempuan hamil tersebut dan melayani sepenuhnya bila ada keluhan yang terjadi pada perempuan hamil itu. 

Proses Peunulang

Begitu juga setelah melahirkan, mablien akan datang untuk mengurusi pasiennya. Mulai dari memandikan, meramu dan meracik obat, memijat, dan hal-hal lainnya seperti layaknya seorang pelayan. 

Hal inilah yang membuat peran mablien tidak bisa digantikan oleh dokter atau pun bidan sehingga hubungan emosional antara mablien dengan pasien dan keluarganya terjalin dengan sangat baik. 

Oleh karena itulah, banyak masyarakat Aceh lebih suka menggunakan jasa mablien ketimbang pelayanan yang diberikan tenaga kesehatan. Nah, bagaimana dengan kondisi sekarang? Tunggu tulisanku berikutnya tentang Keberadaan mablien di zaman milenial.

Gunongan, Cagar Budaya Indonesia yang Berwujud Pembuktian Cinta


Bila di India kita menyaksikan kemegahan Tajmahal sebagai bukti cinta Kaisar Shah Jahan kepada istrinya, Mumtaz Mahal, di Aceh juga terdapat bangunan sebagai perwujudan pembuktian cinta sultan kepada permaisurinya. 

Bangunan itu berada di tengah Kota Banda Aceh, Aceh dan ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya Taman Sari Gunongan pada 12 Januari 1999. Maukah kalian aku ceritakan bagaimana sejarah dan kisah dari Gunongan ini? Bacalah hingga selesai supaya memori kolektif generasi sekarang terawat dan tidak musnah. 

Cerita ini bermula dari peristiwa heroik yang menakjubkan, hingga menjadi kisah cinta yang begitu romantis. Sebuah bukti cinta dari seorang sultan Aceh kepada permaisurinya yang didapat dengan jalan penaklukan perang. 

Narasi visual mural di bantaran sungai Krueng Daroy tentang kisah pembangunan Gunongan.
Sumber foto: www.aimbudimanblogspot.com

Alkisah, pada tahun 1613 M Malaka diserang dari berbagai arah. Bangsa Portugis yang telah menduduki Malaka, didesak oleh kekuatan baru yang berasal dari Aceh. Kesultanan Aceh yang saat itu dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636), terus melakukan ekspansi wilayah kekuasaan dengan menaklukkan beberapa kawasan Melayu dan mengambil alih jalur pelayaran di Selat Malaka. Akibatnya wilayah di Semenanjung Malaya, termasuk Johor, Malaka, Pahang, Keudah, Perak, hingga Patani di Thailand takluk pada kekuatan perang anak muda Aceh ini. 

Berbeda dengan penakluk lain seperti Kaisar Mongol yang pernah menguasi Asia dan Eropa, Genghis Khan membumihanguskan dan membantai penduduk wilayah taklukannya. Namun, hal itu tidak dilakukan oleh Sultan Iskandar Muda. Dia membawa orang-orang dari daerah taklukannya itu ke Aceh dan menjadikan wilayah tersebut menjadi bagian dari kerjaan Aceh. 

Apakah mereka ditawan, disakiti, atau dihabisi ketika sampai di Aceh? Tidak. Malah mereka dijadikan saudara sama halnya saat Nabi Muhammad saw membawa Kaum Muhajirin hijrah dari Mekkah ke Madinah dan dijadikan saudara di sana oleh Kaum Anshar. 

Bahkan Sultan Iskandar Muda sendiri mempersunting Putri Khamalia dari Kerajaan Pahang yang dibawanya setelah penaklukan Pahang, Malaysia kemudian dijadikannya sebagai permaisuri sultan. Oleh masyarakat Aceh, mereka menyebutnya Putroe Phang (Putri Pahang) karena berasal dari negeri Pahang. 

Gambar Putri Khamalia atau yang dikenal Ptrroe Phang

Tidak sekadar hanya menikahi, Sultan Iskandar Muda berusaha mengambil hati Putroe Phang sepenuhnya dan membuatnya merasa betah tinggal di Aceh. Sultan memerintahkan kepada bawahannya (utoih-utoih Aceh/ tukang-tukang Aceh) untuk membuat sebuah bangunan berbentuk gunung buatan kecil yang disebut sebagai Gunongan. 

Gunongan ini berada tidak jauh dari istana dan dibuat dengan kontur menyurapai daerah asal Putroe Phang, yaitu Pahang. Bentuknya bergunung-gunung dan dilengkapi dengan taman indah dengan berbagai macam tanaman bunga dan buah-buahan. Seperti yang dijelaskan dalam kitab Bustanus’s-salatin, karangan Nuru’d-din ar Raniry dalam bab XIII buku kedua kitab tersebut menyebutkan taman ini menyerupai taman dalam Surga Firdaus. 

Tinggi Gunongan ini sekitar 9,5 meter, bercat putih yang terdiri atas tiga tingkat dan berbentuk oktagonal (bersegi delapan) seperti bunga yang sedang mekar. Bila Sultan sedang melakukan tugasnya di luar daerah, Putroe Phang menghibur diri dengan bermain di Gonongan ini bersama dayang-dayang kerajaan. 

Di samping Gunongan mengalir sungai Darul Asyiqi yang airnya sangat jernih dan biasanya digunakan Putroe Phang sebagai tempat pemandian. Ibarat surga, di dalam taman yang disebut sebagai Taman Sari Gunongan atau Taman Gairah ini semua kebutuhan permaisuri terpenuhi sehingga ia lupa akan kerinduan terhadap kampung halamannya. 
Penampakan gunongan dari atas
Sumber dari gettyimages.co.uk

Gunongan dalam Memori Kolektif orang Malaysia dan Aceh 

Bila kita tilik cerita sebelumnya, Putroe Phang berasal dari wilayah taklukan perang Sultan Iskandar Muda. Bisa saja dia melakukan sekehendak hati untuk menuruti nafsu seperti sultan atau raja pada umumnya, tapi bukan itu yang dicari Sultan Iskandar Muda karena ia mengubah perang dengan cinta dan kekerabatan. 

Perasaan cinta Sultan Iskandar Muda tidak saja dibuktikannya melalui bangunan bersejarah Taman Sari Gunongan. Ia juga menikahkan putrinya Putri Sri Alam Safiatud-din Tajul-Alam dengan Sultan Iskandar Tsani yang merupakan putra Sultan Pahang bernama Ahmad Syah. Kemudian Sultan Iskandar Tsani diangkat menjadi sultan untuk menggantikan Sultan Iskandar Muda setelah dia mangkat. 

Sumber foto: instagram @rey_awek

Memori kolektif itulah yang membuat para pelancong Malaysia menyempatkan diri berkunjung ke Taman Sari Gunongan untuk melihat bukti sejarah masa lalu. Hal ini karena ada kedekatan sejarah masa lalu mereka dengan objek cagar budaya yang dituju.

Namun, sayangnya bagi warga Aceh sendiri tidak menjadikan cerita itu sebagai memori kolektif yang dapat menjaga dan merawat identitas bangsa Aceh. Itulah yang aku temukan saat berkunjung di Taman Sari Gunongan, Jalan T. Umar nomor 1 Banda Aceh, pada Minggu (17/11/2019). 

Di Minggu pagi itu, tidak banyak yang mengunjungi tempat ini, hanya aku dan dua wisatawan dari Bandung dan Cirebon yang kutemui di sana. Namanya Pak Aang dan Pak Didi. Mereka takjub dengan penataan dan keindahan dari Taman Sari Gunongan. Namun, mereka tidak mempunyai memori kolektif terhadap bangunan ini, hanya sekadar tahu melalui papan informasi yang dituliskan di sekitar taman. 

Kemudian ada dua orang remaja Aceh yang berstatus sebagai siswa di salah satu sekolah di Banda Aceh yang datang ke Gunongan dalam rangka membuat tugas sekolah. Namanya Riska dan Hasnani. Mereka baru pertama kali datang ke Gunongan dikarenakan tugas tersebut. Sebelumnya mereka tidak tertarik untuk datang walau sudah sering melewati kawasan Taman Sari Gunongan. 


Menurut satpam yang menjaga situs cagar budaya Taman Sari Gunongan, Pak Muslim, bahwa wisatawan Malaysia yang biasanya sering mengunjungi tempat ini, lengkap dengan pemandunya. Mereka mempunyai ketertarikan khusus karena ada memori kolektif yang tergambar dalam perjalanan sejarah pembangunan Gunongan. 

"Orang Aceh sendiri datang ke Gunongan hanya sekadar untuk foto-foto dan menikmati keindahan yang ada di sekitar Gunongan. Bangunan ini memang terawat secara fisik, tapi memori kolektifnya musnah sehingga perlu dibangun kembali", kata Pak Muslim kepadaku. 

Pesan Pelestarian Cagar Budaya 

Perlu diketahui bahwa pelestarian cagar budaya tidak hanya terkait dengan objek dari cagar budayanya saja. Tetapi, meliputi aspek lain seperti pemanfaatan untuk ilmu pengetahuan, sejarah, agama, jati diri, kebudayaan, maupun ekonomi melalui pariwisata yang keuntungannya dapat dirasakan oleh masyarakat. 

Namun kenyataannya, selama ini pelestarian lebih ditekankan pada perlindungan dan pendokumentasian seperti memugar atau melindungi dari kerusakan dan kehancuran. Pemanfaatan sebagai salah satu aspek lain dari pelestarian belum mendapatkan perhatian khusus. Oleh karena itu, perlu dilakukan berbagai strategi untuk mendatangkan kemanfaatan bagi masyarakat seperti mengemas informasi tentang sejarah cagar budaya tersebut seindah dan semenarik mungkin. 

Misalnya menyajikan informasi cagar budaya tersebut dalam bentuk visual seperti video dan audio melalui musik khas dari daerah tersebut beserta dengan penjelasan dari objek cagar budaya. Sehingga saat pengunjung datang tidak hanya melihat objek dari cagar budaya itu saja, tapi juga mendapatkan pengetahuan tersebut dan sensasi yang memunculkan memori kolektif pengujung ketika memasuki kawasan situs cagar budaya tersebut. 

Bila semua cagar budaya Indonesia disajikan dalam bentuk menarik seperti itu, aku yakin cagar budaya tersebut akan terawat tidak hanya bentuk fisiknya, tapi juga sejarah yang menyertainya sehingga tidak ada cagar budaya yang musnah baik dalam bentuk fisik maupun dalam memori kolektif masyarakat itu sendiri. 

Masyarakat pun akan tertarik mengunjungi cagar budaya yang dapat memacu pengembangan ekonomi, sehingga hasilnya bisa digunakan untuk pemeliharaan cagar budaya dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Penutup 

Mengingat cagar budaya dapat berfungsi untuk memperjelas identitas suatu bangsa, maka mari kita rawat bersama cagar budaya Indonesia. Salah satunya dengan berpartisipasi menyumbangkan ide dan pemikiran melalui tulisan seperti ini, agar para pemerintah dan pengambil kebijakan bisa menjadikan solusi terbaik dalam menjaga, merawat, dan memanfaatkan cagar budaya Indonesia. 

Bagi kamu yang mempunyai cerita menarik tentang cagar budaya Indonesia di sekitarmu, ayo ikut berpartisipasi dalam lomba blog "Cagar Budaya Indonesia; Rawat atau Musnah”. Kamu bisa menjelaskan kondisi cagar budaya yang ada di daerahmu seperti dalam tulisanku ini dan menyampaikan pesan untuk merawatnya agar tidak musnah ditelan zaman. 


Referensi 

1. Alfian, T.H.I. (2005). Aceh Kembali ke Masa Depan. Jakarta: IKJ Press. 

2. Emtas, M.U. (2009). Sejarah dan Kebudayaan Aceh. Banda Aceh: Yayasan Busafat. 

3. Rusdi, Salya. (2017). Situs Cagar Budaya Komplek Taman Sari Gunongan dalam Catatan Sejarah. Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh: Buletin Arabes. 

4. Sudirman. (2017). Strategi Pengemasan Informasi Benda Cagar Budaya dalam Rangka Pembelajaran Sejarah. Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh: Buletin Arabes. 


Perempuan dan Kopi

Memetik kopi di Desa Agusen, Gayo Lues

Merahnya biji kopi sungguh menggoda tanganku untuk memetiknya. Aku memanjat dan berusaha mengambil satu-persatu biji kopi tersebut. Meskipun batangnya mencapai ketinggian empat sampai enam meter, tidak menyurutkan nyaliku untuk memanjat pohon kopi itu. 

Terkadang nenekku berteriak mengingatkanku agar tidak terlalu ke ujung dahan kopi, tapi justru aku lebih suka ke bagian ujung karena dahannya semakin rendah dan aku bisa bergelantungan di dahannya. Sesekali aku mencicipi kopi merah yang menggoda itu sebelum kumasukkan ke dalam keranjang. Rasanya manis-manis kelat dan lengket karena getahnya yang licin. Namun, aku sangat suka menjilati dan mengupas kulitnya pakai gigi. 

Pohon kopi yang tumbuh di samping rumah nenek sangat kuat, sehingga tidak mudah patah bila aku dan teman-temanku memanjatnya bersama-sama. Baru setelah dua puluh tahun, aku mengetahui jenis kopi yang ada di samping rumah nenek adalah jenis kopi robusta. 

Sesuai dengan namanya robust yang artinya kuat, maka wajarlah batang kopi tersebut bisa dinaiki oleh beberapa anak seusiaku yang dulu masih enam tahun. Setelah biji kopi tersebut terkumpul, maka nenek akan menumbuk dan menjemurnya sampai kulitnya terkupas dan menghasilkan beras kopi yang siap direndang. 

Pohon kopi

**** 

Sungguh masih lekat di ingatanku momen memanjat kopi dan mengumpulkan bijinya bersama teman-teman. Namun, ada satu lagi yang benar-benar kuingat sampai sekarang yaitu proses merendang kopi yang dilakukan oleh para perempuan di kampungku. 

Mereka mengolahnya secara tradisional tanpa menggunakan mesin. Beras kopi tersebut direndang atau digongseng di dalam kuali besar dengan menggunakan kayu bakar. Setelah hangus, kopi tersebut ditumbuk dan diayak (disaring) hingga menjadi bubuk kopi yang siap digunakan. Proses inilah yang disebut rendang kopi dan telah menjadi tradisi di kampungku Aceh Selatan. 


Proses pengolahan kopi secara tradisional

Sekitar dua puluh tahun yang lalu, merendang kopi merupakan hal yang rutin dilakukan setiap bulan. Uniknya, tidak ada sedikit pun campur tangan laki-laki saat proses merendang kopi, walau penikmat kopi paling banyak ialah kaum laki-laki. Namun, hal itu tidak menjadi masalah bagi kaum perempuan karena saat merendang kopi adalah cara perempuan ini bisa berkumpul dengan sesama perempuan lainnya. 

Proses merendang kopi tidak bisa dilakukan oleh satu orang saja, makanya butuh beberapa orang untuk bisa terlibat di dalamnya. Dulu ibu dan nenekku berpakat terlebih dahulu dengan beberapa tetangganya saat hendak merendang kopi. 

Mereka menentukan harinya agar bisa berkumpul di satu tempat. Orang yang diajak pun juga mempunyai beras kopi yang akan direndang, sama halnya dengan nenek dan ibu punya beras kopi juga. Kemudian beras kopi tersebut dikumpulkan menjadi satu yang nanti hasilnya, dibagi sesuai dengan jumlah beras kopi yang dikumpulkan. 

Saat proses merendang kopi, mereka mempunyai bagian pekerjaan masing-masing. Ada yang mendapat bagian membuat tungku api, merendang kopi, menumbuk, dan menyaring. 


Kegiatan merendang kopi di kampungku

Biasanya mereka menghabiskan waktu sekitar setengah hari untuk melakukan proses ini. Namun, bila beras kopi yang direndang banyak, bisa menghabiskan waktu seharian penuh. Serbuk kopi yang dihasilkan bisa digunakan untuk persediaan kopi satu bulan ke depan karena kopi adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat Aceh Selatan. 

Begitu jaga saat ada kenduri seperti pernikahan atau sunat rasul. Biasanya di Aceh Selatan kenduri tersebut sampai beberapa hari dan persediaan kopi selalu harus ada karena para tamu yang hadir akan disajikan kopi hitam. 

Oleh karena itu, dua minggu sebelum hari H, orang rumah yang mengadakan kenduri, mengundang sanak saudara dan para tetangga untuk merendang kopi sebagai persediaan untuk acara kenduri. Mereka secara suka rela datang membantu untuk merendang kopi yang jumlahnya sampai berkilo-kilo. 

Kopi dan Kebersamaan Dulu dan Sekarang 

Ada bentuk kebersamaan yang didapat saat proses merendang kopi. Pekerjaan yang membutuhkan tenaga banyak orang ini dapat dijadikan sebagai cara untuk bersilaturahmi antar sesama tetangga. Prosesnya yang lama memberi ruang dan waktu para perempuan untuk berbagi cerita sesama mereka, sehingga antara satu dengan yang lainnya saling mengenal karena sering bertemu. 

Dalam proses merendang kopi ini juga mempunyai nilai saling tolong menolong, terutama saat kenduri. Terdapat interaksi sosial di dalamnya karena unsur saling membantu sangat erat terjalin dengan adanya kegiatan merendang kopi ini. Tradisi merendang kopi sudah bertahun-tahun berlangsung di Aceh Selatan sampai akhirnya mesin giling menggantikan lesung dan jungki sebagai alat penumbuk beras kopi. 


Makan siang bersama setelah merendang kopi

Sekarang merendang kopi tidak seperti dulu lagi membutuhkan waktu yang lama dan banyak orang. Cukup satu orang yang merendangnya dan kemudian di antar ke tempat mesin penggiling beras kopi yang sudah direndang. Tidak ada lagi proses penumbukan dan penyaringan seperti dulu dan tradisi merendang kopi ini pun lama-lama akan tergeser. 

Sudah sangat jarang aku melihat kumpulan ibu-ibu yang duduk secara berkelompok melakukan proses merendang kopi. Begitu juga saat kenduri karena semuanya sudah digantikan dengan mesin sehingga tenaga manusia pun tidak diperlukan lagi. Memang tergolong praktis dan tidak menghabiskan waktu lama bila semua itu dilakukan oleh mesin. Namun, ada nilai yang hilang dari proses ini yaitu nilai kebersamaan dan tolong menolong. 

Rasa kopi yang diproses dengan digiling mesin dan ditumbuk secara manual pun berbeda nikmatnya. Kopi yang ditumbuk dengan tangan-tangan perempuan ini lebih nikmat rasanya ketimbang yang digiling menggunakan mesin. 

Ada rasa yang sulit diungkapkan ketika menikmati kopi hasil olahan para perempuan. Dulu aku sangat menyukai seduan kopi dari hasil olahan kopi yang dibuat secara manual ini. Rasa manis keasaman dan pahit berpadu menjadi satu hingga aku menjadi candu. Kopi nenek yang diseduhnya setiap pagi menjadi sasaranku meskipun aku sering dilarang untuk meminumnya. 

Puluhan tahun telah berlalu, aku tidak lagi menyukai kopi. Bukannya aku muak dengan kopi, tapi perutku tidak bisa menerimannya lagi, lantaran kadar asam lambungku yang terlalu tinggi. Namun, aku rindu dengan tradisi merendang kopi, bukan hanya rindu dengan suasananya tapi juga rindu akan kenikmatan kopinya. 
Cara perempuan milenial menikmati kopi di kedai kopi

Sekarang di zaman milenial ini, muncul tradisi baru yang disebut ngopi sebagai cara untuk berkumpul di kedai kopi. Bahkan yang dulunya perempuan tabu berada di warung kopi untuk menikmati kopi, kini menjadi trend yang digemari oleh kaum hawa. 

Tidak ada lagi tradisi merendang kopi karena semuanya sudah digantikan dengan alat super canggih pengolah kopi. Para perempuan yang dulunya duduk di depan tumpukan tungku api, berpeluh-peluh menahan panas bara api yang menyala saat merendang kopi, kini bisa duduk santai goyang-goyang kaki di kedai kopi. 

Tinggal pesan, kopi pun tersedia di atas meja. Berbeda dengan dulu di mana perempuan pelaku utama dalam pengolahan kopi yang disediakan untuk keluarga. Meskipun sekarang cukup praktis untuk mendapatkan bubuk kopi, tapi aku kehilangan momen masa laluku yang begitu alami dan menyenangkan. 

Semoga tradisi merendang kopi di Aceh Selatan ini bisa dibangkitkan kembali sehingga tradisi ini bisa menjadi cara untuk mengenang masa lalu.


Proses merendang kopi secara tradisional

Makna Pelaminanku dalam Budaya Aceh

Pelaminan pernikahanku dalam Budaya Aceh
Foto dokumen pribadi Yell Saints

Iringan musik tari ranup lampuan menggema di telingaku, saat rombongan linto baro (pengantin pria) tiba di kediamanku Gampong Air Sialang Hilir, Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan. Saat itulah prosesi adat berlangsung, di mana para penari menyambut kedatangan mereka dengan tarian yang disebut sebagai pemulia jamee



Cerana yang berisikan sirih, pinang, gambir, dan kapur dibalut menjadi satu yang ditutup dengan kain bersulamkan kasab benang emas. Para penari tersebut menyuguhkan cerana itu kepada linto baro yang kemudian diambil isinya dan diganti dengan amplop berisi uang. 

Penyambutan rombongan linto baro dengan tari ranup lampuan.
Foto dokumen pribadi Yell Saints

Aku hanya bisa mendengar iringan musik itu dari dalam kamar dan tidak bisa menyaksikan prosesi adat yang sedang berlangsung di luar sana. Sebagai dara baro (pengantin wanita), aku harus menunggu linto baro memasuki rumah. Setelah itu barulah nanti kami dipersandingkan di sebuah pelaminan yang bersulamkan benang emas dan menjadi pelaminan adat dalam pernikahan budaya Aceh. 

Di pelaminan inilah aku dan suami diperlakukan seperti seorang raja dan ratu yang didampingi oleh penganjo (sebutan pendamping pengantin dari etnis Aceh) dan penginang (sebutan pendamping pengantin dari etsnis Aneuk Jamee). Kebetulan suami berasal dari etnis Aceh dan aku dari etnis Aneuk Jamee. Saat bersanding di pelaminan, kami mengikuti prosesi adat Aneuk Jamee karena pada saat itu kami bersanding di pelaminan adat Aneuk Jamee yang berada di rumahku. 

Bersanding di pelaminan adat Aneuk Jamee didampingi oleh penganjo dan penginang.
Foto dokumen pribadi Yell Saints
Upacara pernikahan adat dalam budaya Aceh sangat beragam, tergantung pada masing-masing etnis dan ciri khasnya. Aku yang berasal dari etnis Aneuk Jamee tentunya menggunakan cara pernikahan adat sesuai dengan ketentuan adat yang berlaku. Salah satu ciri khas dari pernikahan adat Aneuk Jamee ialah menggunakan pelaminan kasab sulam benang emas. Pelaminan ini wajib digunakan bagi siapa saja yang melangsungkan pernikahan adat karena mengandung banyak makna di setiap motif dan tampilan pelaminan tersebut. 

Unsur Kebudayaan Aceh dalam Pelaminan Kasab 

Sebagaimana ciri khas kebudayaan Aceh tidak bisa terlepas dari sejarah, adat-istiadat dan agama Islam. Dalam pelaminan kasab, terdapat ciri-ciri tersebut sehingga unsur kebudayaan Aceh terlihat jelas dalam tampilannya. 

Pelaminan kasab Aneuk Jamee ini penuh dengan makna dan filosofi yang bernafaskan agama Islam. Selain itu juga mengandung sejarah, khususnya masyarakat Aneuk Jamee yang mendiami pesisir Aceh Selatan, yaitu Kota Tapaktuan. Sehingga penggunaan pelaminan kasab sudah menjadi ketetapan adat bagi masyarakat Aneuk Jamee di Aceh Selatan. 

Ada dua jenis pelaminan kasab yang digunakan masyarakat Aneuk Jamee saat acara pernikahan, yaitu pelaminan kasab maracu tunggang baliak dan maracu dua. Pelaminan kasab yang aku gunakan ialah pelaminan maracu dua karena prosesi acara pernikahan yang dilaksanakan oleh keluargaku menggunakan adat biasa dan tidak memotong kerbau.

Pelaminan kasab maracu tunggang baliak.
Foto dokumen pribadi Yell Saints

Berbeda dengan pelaminan maracu tunggang baliak yang menggunakan adat penuh, tuan rumah yang mengadakan kenduri haruslah memotong kerbau dan disaksikan oleh masyarakat gampong serta perangkat adat. Jadi, bagi siapa saja yang melaksanakan acara pernikahan adat, kita bisa mengetahui besar kecilnya acara tersebut sesuai dengan pelaminan kasab yang terpasang di rumah tersebut. 

Pelaminan kasab ini wajib digunakan salah satunya karena unsur-unsur kebudayaan Aceh begitu kental di dalamnya. Ini sudah menjadi ketetapan adat yang berlaku di masyarakat Aneuk Jamee di Aceh Selatan, bila tidak menggunakan pelaminan kasab maka akan mendapatkan sanksi adat. 

Sebagaimana yang disebutkan Kluckhohn dalam bukunya Universal Categories of Culture (1953), ada tujuh unsur pokok kebudayaan yang dapat ditemukan pada setiap masyarakat di seluruh dunia. Namun, di pelaminan kasab yang kupakai saat acara pernikahanku terdapat enam unsur yang ada di dalamnya. 

1. Religi 

Masyarakat Aneuk Jamee yang mayoritasnya beragama Islam memaknai pelaminan kasab tersebut bersandikan Islam sehingga bagian-bagian di dalamnya dikaitkan dengan unsur religi. 

Pelaminan pernikahanku menggunakan maracu dua yang menurut T. Laksamana seorang pemuka adat Aneuk Jamee bermakna dua kalimat syahadat dalam rukun Islam. 

Pelaminan kasab maracu dua.
Foto dokumen pribadi Yell Saints
Maracu yang berbentuk segi tiga dengan motif bunga situnjung di dalamnya bermakna sebagai keagungan budi nurani masyarakat Aneuk Jamee Aceh Selatan. Maracu ini dipasangkan dengan tapak yang dibatasi dengan banta gadang. 

Di samping kanan dan kiri maracu terdapat tiga buah kipas berwarna kuning, merah dan hijau yang bila digabungkan berjumlah enam. Ini bermakna sebagai rukun iman yang dimaksudkan agar kedua mempelai menguatkan keimanan mereka ketika hidup berumah tangga.



2. Bahasa dan Sastra 

Hal ini sesuai dengan fungsi kasab sebagai alat komunikasi satu arah untuk menyampaikan pesan-pesan kehidupan bagi kedua mempelai. Seperti yang telah dijelaskan di atas, semua yang membentuk pelaminan kasab tersebut mempunyai makna dan filosofi. 

3. Sistem Pengetahuan 

Motif-motif yang disulam di kasab mempunyai banyak pengetahuan yang dapat diambil dan diterapkan dalam kehidupan. Misalnya motif yang terdapat dalam banta gadang terdiri atas enam motif ragam kasab dengan maknanya seperti gambar berikut. 


4. Sistem Sosial Masyarakat 

Saat pelaminan kasab dipasang, hendaknya dihadiri oleh tuha peut sebagai orang yang mengetahui tentang adat. Sebelum itu, diadakan dulu pakat dengan orang kampung yang terdiri atas pakat orang rumah, pakat niniak mamak, dan pakat ramai. Jadi, saat acara kenduri dilangsungkan semua masyarakat yang ada di wilayah tersebut terlibat membantu menyukseskan acara. 

Dalam hal ini, pelaminan kasab sebagai pertanda bahwa di rumah tersebut sedang berlangsungnya acara pernikahan adat. 

5. Ekonomi 

Pelaminan kasab dijahit menggunakan tangan oleh pengrajin dan menjadi sumber ekonomi bagi sebagian kaum perempuan di kampungku. Dikarenakan pelaminan kasab selalu digunakan saat acara pernikahan, maka permintaan akan barang-barang yang bersulamkan kasab selalu ada sehingga sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup pengrajin. 

6. Kesenian 

Terdapat unsur seni yang begitu tinggi dan indah di dalam pelaminan kasab karena dibuat menggunakan keterampilan tangan dengan cara menyulamnya. Kerajinan ini termasuk salah satu seni kriya yang merupakan sebuah seni rupa terapan nusantara. 

Tampilannya yang begitu indah dan mempunyai ciri khas hanya bisa digunakan oleh masyarakat etnis Aneuk Jamee. Inilah yang membuatnya menjadi unik dan menarik sehingga dijadikan bagian dalam budaya Aceh. 

Bersanding di pelaminan kasab yang disediakan oleh keluargaku ini menjadi sebuah penghormatan terbesar bagiku. Terutama karena adanya unsur budaya yang melekat di dalamnya sehingga membuatku bangga duduk di atasnya. 

Upacara adat yang kulalui menjadi pengalaman yang sangat berharga bagiku. Mungkin berbeda dengan pengalaman teman-temanku yang duduk bersanding di pelaminan dalam gedung mewah yang telah bercampur dengan budaya luar. 

Sebagai generasi milenial, aku harus menularkan kebanggaan ini kepada teman-temanku yang kurang paham terhadap Budaya Aceh. Oleh karena itu, cerita pernikahanku ini perlu ditulis agar menjadi informasi bagi generasi milenial sebagai penyambung estafet budaya Aceh. 

Ini budayaku, bagaimana denganmu?
Foto dokumen pribadi Yell Saints




Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Blog dengan tema "Budaya Aceh di Mata Milenial"