Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Baju Pengantin Buatan Ibu

Baju yang kugunakan saat akad nikah
pada Kamis, 21 Februari 2019.
Saat aku memutuskan menggunakan baju pengantin dengan warna hitam, banyak yang tidak setuju. Khususnya orang-orang di sekitarku seperti saudara, teman, rekan kerja, dan para kerabatku. Mereka terdoktrin dengan kebiasaan banyak orang yang mengenakan baju pengantin berwarna putih saat akad nikah. Padahal tidak ada ketentuan khusus yang mewajibkan para mempelai yang akan melangsungkan akad nikah untuk menggunakan baju pengantin berwarna putih.

Hanya karena trend yang sering diperlihatkan di layar kaca, para artis menggunakan baju pengantin berwarna putih saat akad nikah, maka banyak yang menirunya tidak terkecuali masyarakat Aceh. Beberapa komentar datang dari orang-orang terdekatku, agar aku mengurungkan niatku itu. Hampir saja aku berubah fikiran, tapi untungnya aku membaca dan mencari beberapa sumber terkait baju pengantin Aceh pada tempo dulu.

Di tengah kegalauan itu, ibuku setuju dengan pilihanku karena dia paham betul seleraku. Setiap keputusanku dipenuhi dengan pertimbangan dan makna. Sejak kecil hingga dewasa, ibu selalu berperan menjahitkan baju untuk hari-hari pentingku. Saat aku pertama memasuki sekolah di taman kanak-kanak hingga ke perguruan tinggi, seragam yang kupakai ialah jahitan ibu. Begitu juga saat ada acara lomba, karnaval, hari lebaran, dan wisuda semua baju yang kukenakan merupakan buatan dari tangan perempuan yang melahirkanku.



Perempuan yang menjahitkan baju pengantin untukku ibuku tersayang
Ibu memang tidak pernah sekolah kustum menjahit, sekolahnya saja hanya tamatan sekolah dasar (SD). Namun, ibu ialah pelajar yang hebat karena keahliannya yang mampu belajar secara otodidak. Tidak terhitung puluhan bajuku telah dijahitnya, maka wajarlah aku menginginkan dia yang menjahit baju pengantinku dan tidak menyewa baju pengantin sebagaimana kebiasaan kebanyakan orang.

Jadi diri sendiri


Detik-detik saat ijab qabul
Aku tidak ingin tampil sebagai orang lain di hari pernikahanku termasuk menggunakan atribut yang melekat pada tubuhku. Sebulan sebelum hari pernikahan, aku mengatakan kepada calon suamiku bahwa aku tidak akan menyewa baju pengantin, tapi akan membuatnya sendiri. 

Setelah diperhitungkan biaya untuk membeli bakal baju, ternyata harganya tidak jauh beda dengan baju pengantin yang disewa oleh jasa perias pengantin.

“Emang apa tidak masalah kalau baju pengantinnya kita jahit sendiri? Nanti menyalahi aturan pula,” katanya kepadaku.

“Tidak ada aturan baku terkait baju pengantin saat akad nikah. Aku sudah menanyakan ke pakarnya Nurdin AR. Semua itu tergantung selera,” ujarku kepadanya.

Dia pun menyetujuinya termasuk pemilihan warna hitam yang menjadi tema pernikahan kami nantinya. Namun, dia bertanya apa alasanku memilih warna hitam yang kebanyakan orang, diidentikkan sebagai warna berduka cita.

Tentu bukan perkara mudah meyakinkan dirinya yang biasa kritis agar mengikuti kehendakku. Sebelum aku beradu komentar dan argumen dengannya, aku mencari beberapa informasi dan referensi untuk menguatkan argumenku dan meyakinkan dirinya.

Aku mencari informasi tentang sejarah penggunaan baju pengantin warna putih, baju pengantin Aceh tempo dulu, dan makna serta filosofi dari warna hitam. Berikut penjelasanku kepadanya sehingga dia mantap dengan pilihanku.


Sejarah penggunaan baju pengantin warna putih

Baju Pengantin Ratu Victoria
Trend penggunaan baju pengantin warna putih bermula dari pernikahan Ratu Inggris yaitu Ratu Victoria dengan Albert of Saxe-Coburg pada 10 Februari 1840. Ratu Victoria memilih warna putih karena dia ingin membuktikan, dia dapat memimpin rakyatnya menuju penghematan karena kondisi perekonomian saat itu sedang memburuk. Sebab saat itu, putih adalah warna yang paling murah, karena tidak perlu menggunakan pewarna untuk melukis kain. Selain itu, Ratu memiliki alasan lain, yakni tidak ingin mengubah renda putih yang sudah dipesannya. 

Dia menggunakan baju pengantin berwarna putih yang dihiasi renda buatan tangan Honiton dengan hiasan bunga di kepala, di hari pernikahannya. Penampilannya itu menimbulkan kontroversi di kalangan rakyatnya dan pengamat kerjaan yang beranggapan baju pengantin itu, terlalu sederhana untuk seorang ratu. 


Padahal pada masa itu, baju pengantin umumnya menggunakan warna yang cerah dengan biaya pewarnaan yang mahal. Namun, kesederhanaannya itu menunjukkan siapa dirinya dan kondisi yang dialami rakyatnya saat itu. Dia tidak mau menghabiskan uang kerajaan untuk mewarnai baju pengantinnya. Sejak saat itulah, trend baju pengantin warna putih dimulai yang kemudian diikuti oleh banyak orang, khususnya bagi kaum kristiani pengikut ratu Inggris yang menikah di gereja. 

Aku bukanlah seorang kristiani yang harus menggunakan baju pengantin warna putih di hari pernikahanku, seperti kebanyakan orang. Aku Tidak ingin mengikuti trend tanpa mengetahui sejarah penggunaannya. Oleh karena itulah, aku tidak menggunakan warna putih pada baju pengantinku.

Warna putih adalah warna ketiadaan yang tidak mempunyai warna sama sekali, makanya saat kita dikembalikan ke tanah (meninggal dunia) dibalut dengan pakaian putih. Pengantar jenazah pun juga menggunakan pakaian putih, berbeda dengan umat kristiani yang justru menggunakan pakaian hitam untuk menunjukkan situasi berkabung. Jadi, haruskah aku menggunakan baju dengan warna putih di hari pernikahanku?


Terinspirasi dari Baju Pengantin Aceh Tempo Dulu

Dulu dan sekarang, tetap menggunakan warna hitam

Dikarenakan aku tidak ingin menggunakan baju pengantin berwarna putih, maka aku mencari baju pengantin Aceh tempo dulu. Berdasarkan hasil temuanku saat berselancar di internet, masyarakat Aceh tempo dulu banyak menggunakan pakaian berwarna gelap. Bahkan pakaian yang biasanya digunakan oleh raja-raja Aceh identik degan warna hitam yang melambangkan kemegahan, keagungan, dan kewibawaan.

Masyarakat Gayo dan Alas pun juga menggunakan pakaian dengan dasar hitam yang dihiasi karawang gayo untuk baju pengantinnya. Menurut masyarakat gayo warna hitam adalah warna tanah yang bermakna rakyat. Sebagaimana halnya rakyat dalam hal ini manusia, berasal dari tanah dan ketika meninggal dunia kembali ke tanah.

Oleh karena itu pula, pilihan baju pengantinku jatuh pada warna hitam yang merupakan warna dasar yang ada di Aceh selain hijau, merah, dan kuning. Keinginan untuk menggunakan pakaian hitam pun semakin kuat ketika aku melihat foto mantan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudoyono dan istrinya Ani Yudoyono menggunakan pakaian serba hitam saat mengunjungi Aceh di bulan Januari lalu.

Orang hebat akan belajar dari sejarah 


Makna Hitam Bagiku

Dari dua penjelasan di atas membuat suamiku terpengaruh untuk mengikuti keinginanku. Terlebih aku menyampaikan makna dan filosofi warna hitam menurut versiku. Seyogyanya pernikahan menjadi titik awal untuk memulai kehidupan baru, jadi kami harus menanggalkan semua atribut yang melekat pada diri kami dari masing-masing keluarga untuk membentuk konsep baru dalam rumah tangga. 

Sah, memulai kehidupan baru
Warna hitam adalah sebagai dasar kami memulai kehidupan baru yang nantinya seiring berjalannya waktu akan kami beri warna. Jadi, baju pengantin yang kami gunakan tidak semata-mata hanya pakaian untuk mempercantik dan memperindah penampilan kami karena dalam proses pembuatannya dipenuhi makna dan filosofi.

Menyulam Baju Pengantin

Kusulam baju pengantinku agar lebih bermakna
Sebagai anak yang terlahir dari keluarga pengrajin kasab sulam benang emas, aku ingin menampilkan kearifan lokal daerah di baju pengantinku. Jadi, motif pada bagian dada dan ujung tangan baju yang kukenakan disulam dengan benang mas motif situnjung


Motif bunga situnjung yang merupakan ciri khas Aneuk Jamee 
Motif ini mempunyai makna keagungan hati nurani masyarakat aneuk jamee Aceh Selatan. Aku sendiri yang menyulamnyanya menggunakan tangan. Makanya, aku pulang kampung sebulan lebih cepat sebelum hari pernikahku untuk membuat baju pengantinku.

Setelah selesai disulam, ibuku yang menyelesaikan pengerjaannya hingga menjadi baju pengantin sesuai yang kuinginkan. Awalnya, aku ingin mengenakan kain songket dengan motif yang dipakai Pak SBY dan istrinya. Songket itu aku pinjam dari komunitas I Love Songket Aceh (ILSA) yang merupakan komunitas yang kubentuk pada tahun 2015 lalu.

Namun, ibuku menyarankan untuk menggunakan kain rok dari kain bajunya yang berusia lebih dari 20 tahun. Aku masih ingat saat ibu menggunakan pakaian tersebut, dia kelihatan sangat cantik. Sayangnya baju tersebut tidak bisa lagi digunakannya.

“Pakai saja kain ini, ibu pun juga tidak pernah lagi menggunakan pakaian ini. Meskipun usia kain ini sudah puluhan tahun, tapi masih bagus dan bisa digunakan,” kata ibu kepadaku.

Aku sangat bahagia mendapatkan kain dari baju yang pernah digunakannya puluhan tahun yang lalu. Kemudian ibu merombak pakainya itu menjadi bagian bawahan dari baju pengantinku dan suamiku. Kami sangat bangga menggunakan baju buatan ibu yang bahannya juga bagian dari baju ibu yang pernah digunakannya puluhan tahun yang lalu. 



Foto bersama dengan teman-teman suamiku.

Meskipun baju tersebut bagian dari baju bekas ibu, tapi hasilnya sangat memuaskan. Apresiasi pun datang dari teman-temanku yang melihat baju pengantin yang aku pakai. Apalagi saat aku menceritakan proses pembuatan baju dan bahan yang digunakannya. Tidak perlu harus menghabiskan banyak uang menyewa baju pengantin yang hanya sehari saja digunakan, kemudian digunakan lagi oleh pengantin yang lain.



Foto bersama dengan teman-temanku.

Manfaatkan kreativitas yang kamu punya, semua akan menjadi lebih menarik dan membuat hari pernikahanmu kelihatan berbeda, apalagi dibalut dengan cerita. Peran ibu sangat besar bagi kehidupanku, bahkan saat statusku berganti menjadi seorang istri, dia tetap memberikan yang terbaik untukku. Baju pengantin ini akan menjadi sejarah bagiku yang menjadi cerita hebat bagi generasiku.







Perempuan di dalam Kerangkeng

Lengkingan suara yang bersumber dari rumah pengusaha kue pala itu, mampir ke telingaku. Diikuti suara besi yang digoyang-goyang secara paksa. Suara gaduh yang menimbulkan iba hati.

Kukira ada keributan di dalam rumah itu. Membuat kakiku melangkah ragu untuk masuk. “Anaknya sakit, jadi memang sering teriak-teriak” kata Iis yang sekampung dengan pengusaha pala itu. 

Aku, Iis, dan Rachmi bermaksud untuk mengabil video tentang pengolahan kue pala yang dikelola oleh Bu Indah (nama samaran).

Di sela-sela kesibukannya dalam membuat manisan kue pala, dia masih sempat melayani kami dan mempersilakan masuk. Tangannya cekatan mengaduk-ngaduk kue pala sambil menaburkan butiran gula pasir di atasnya. 

Kami mengutarakan maksud kedatangan kemari untuk melihat proses pembuatan kue pala. Perempuan paruh baya itu pun membiarkan kami mengabil beberapa videonya saat proses penjemuran kue pala.

Akan tetapi, ada suara yang membuat hati mencekam, teriakan seseorang yang meminta di keluarkan dari kerangkeng berjeruji besi, membuat konsentrasi kami buyar seketika. 

Wajah Bu Indah pucat pasi saat teriakan itu makin menjadi-jadi, mungkin dia merasa tidak enak dengan kami tamu-tamunya. 

Kami hanya terpaku melihat Bu Indah mengerjakan pekerjaannya, tanpa berani bertanya apa yang sedang terjadi. 

Suara pukulan, tendangan, dan bunyi besi yang digoyang-goyang membuat kami merasa tidak enak untuk mewawancarai Bu Indah. Tambahnya lagi mendengar suara teriakan perempuan yang minta dikeluarkan, membuat rasa penasaran kami ingin melihat siapa sosok manusia di balik jeruji besi itu.

“Sabar ya Nak, nanti Ibu mandikan.” Kalimat itu terlontar dari mulut perempuan pengusaha kue pala itu. Aku pun angkat bicara menanyakan apa yang sedang terjadi.

Bu Indah diam seketika, menarik nafas dan terlihat berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaanku. Aku merasa tidak enak menanyakan hal itu. 

Dengan mata berkaca-kaca Bu Indah menceritakan apa yang terjadi. Teriakan itu adalah teriakan anaknya yang meminta dikeluarkan dari kerangkeng. Dia terpaksa mengurung anaknya di kamar berukuaran 2x1 meter yang dibatasi dengan jeruji besi karena anaknya mengalami gangguan jiwa.

Menurutnya dia telah membawa anaknya berobat ke mana pun, tapi juga tidak sembuh-sembuh. Bahkan dia sempat ditipu oleh dukun yang membuatnya kehilangan uang sebanyak 3 juta. 

Berbagai cara dan upaya telah dilakukannya termasuk membawa anaknnya ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ), tapi semua tak berarti apa-apa. Ada rawut wajah kecewa pada perempuan berusia 54 tahun itu. Sekarang Bu Indah terpaksa mengurung anaknya di dalam kerangkeng karena sering lari dari rumah.

Tambahnya lagi lingkungan di sekitarnya juga memandang buruk anaknya yang dicap ‘gila’. Saat anaknya keluar rumah, orang-orang mengganggunya, menertawakan, mengejek, bahkan memperolok-olok anaknya itu.

Itulah yang menyebabkannya mengamuk dan melempar batu kepada orang-orang yang mengganggunya, tapi yang salah tetap anaknya tersebut karena dianggap ‘gila’. 

Kadang anaknya itu pun mendapat pukulan dari suaminya, bertahun-tahun penderitaan itu ditanggungnya. Suaranya sedikit tercekat saat menyebut nama suaminya, seperti ada yang ditutup-tutupinya.

Bu Indah segera ke luar membawa kue-kue palanya untuk dijemur. Iis membisikkan kepadaku bahwa dia dulu pernah satu sekolah dengan perempuan di dalam kerangkeng itu. Ayahnya memang dikenal sering memukul anak-anaknya, bahkan orang-orang sekitar juga mengetahui hal demikian, namun tidak bisa berbuat apa-apa, termasuk Iis yang satu kampung dengannya.

Aku mencoba mendekati kerangkeng itu dan mengajaknya bicara, disusul Iis yang agak ketakutan dan berjalan di belakangku.

Perempuan di dalam kerangkeng itu menatapku. Jarakku dengannya hanya satu meter, dibatasi oleh besi-besi yang mirip dengan ruangan penjara.

Suara teriakan yang membuat hati iba itu sirna, berganti dengan suara berisik kendaraan yang lalu lalang melintasi jalan raya, tepat berada di depan rumah pengusaha pala itu. 

Perempuan itu terlentang di lantai tanpa beralas tikar. Dari sela-sela besi aku melihatnya. Kulitnya putih bersih, parasnya menawan mirip gadis cina dengan mata sipit. Lalu dia memalingkan wajahnya dariku ketika aku melangkah semakin dekat.

Aku bertanya siapa namanya kepada Iis. “ Biasanya dia dipanggil Elok, tapi nama aslinya Laila (nama samaran)” jawab Iis.

Elok yang berada di dalam kerangkeng

“Elok, lihat dong kemari. Aku mau kenalan.” Aku mencoba untuk berinteraksi dengannya. Dia menolehku, kemudian tersenyum. Tapi itu tidak bertahan lama, karena dia memalingkan lagi mukanya ke tembok.

Aku mencoba memanggilnya lagi, kali ini bertanya kabar. Dia menjawab, tapi aku tidak bisa mengerti apa yang dia katakan. Hanya kata “iya” yang bisa kudengar dengan jelas, selebihnya aku tidak paham.

Iis pun ikut menyapanya, dia sudah mulai berani mendekat dan mencoba berinteraksi dengan teman kecilnya dulu. 

Reaksi perempuan di dalam kerangkeng itu pun tetap sama. Aku, Iis, dan kemudian menyusul Rachmi setelah wawancara dengan Ibu Indah, duduk bergabung di depan kerangkeng. 

Aku bertanya apakah dia bisa bangun dari posisi terlentang? Dia menggeleng sambil berkata ‘sakit’ dan menunjuk mulutnya. Mulutnya terlihat kaku, padahal dari gerak-geriknya, dia mau menyampaikan sesuatu kepadaku. 

Aku menyuruhnya bangun, tapi dia tetap menggeleng. Lalu dia memalingkan wajahnya lagi sambil menarik-narik telinganya dan berkata sesuatu.

Orang yang mengalami gangguan jiwa biasanya sering berhalusinasi, baik itu halusinasi pendengaran, penglihatan, perabaan, maupun penciuman. Halusinasi itu muncul karena adanya gangguan sistem saraf di otak mereka, sehingga memunculkan objek yang bisa dilihat, didengar, diraba, atau dicium. Sedangkan orang normal tidak merasakannya.

Aku tahu dia sedang berhalusinasi, maka dari itu aku terus mengajaknya berbicara. Untuk menghilangkan halusinasinya aku harus mengalihkan fokus halusinasinya kepadaku. Begitu salah satu metode dari sekian banyak metode yang bisa digunakan untuk mengusir halusinasi. Aku sering melakukannya saat praktik di rumah sakit jiwa.

Aku terus memotivasinya untuk duduk. Berbagai cara aku lakukan, begitu juga Iis dan Rachmi yang terus membujuknya untuk mau duduk. Kami bertiga hampir putus asa dan mencoba untuk diam sejenak.

Tiba-tiba, dia langsung berdiri. Aku kaget melihatnya, begitu juga Iis dan Rachmi yang kemudian ikut berdiri. 

Aku memberi pujian kepadanya, sambil mengulurkan tangan untuk salaman. Dia menghindar. Aku mencoba meyakinkannya bahwa aku tidak akan menyaktinya. 

Iis dan Rachmi pun ikut mengulurkan tanganya ke dalam kerangkeng itu. Dia menggerakkan tangannya untuk bersalaman dengan kami. Belum pun tangannya menyentuh tangan kami, dia sudah menariknya lagi dan kemudian menghadap dinding sambil berbicara sesuatu.

Aku melihat kaki kuku dan tangannya sangat panjang. Bahkan saking panjangnya kuku itu sudah membengkok. Aku menawarkan diri untuk memotong kukunya.

Ibu Indah yang sedari tadi memperhatikan kami bekata dengan suara lirih “Ternyata Tuhan mempunyai cara sendiri untuk mengirimkan orang-orang baik. Kalian tidak jijik terhadap anakku, bahkan mau memotong kukunya. Sedangkan kerabat kami sendiri, jangan pun mendekat berkunjung pun tidak pernah melihat Elok.”

Hatiku bagai teriris sembilu saat mendengar kata Bu Indah. Aku membayangkan bagaimana jika itu terjadi padaku? Cairan bening keluar tanpa sengaja di ujung mataku. Aku terbawa emosi melihat drama nyata dari keluarga ini.

Bagaimana mungkin kita belum puas dan sering marah-marah bila tidak mendapatkan sesauatu yang kita inginkan. Kesal bila ditolak, benci karena disakiti, dan iri saat orang lain berlebih. 

Padahal ada orang lain yang terkurung dalam sepetak kamar kecil, tak ubahnya seperti kandang. Mereka menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi yang semakin berkarat dimakan usia. 

Jangan hanya melihat orang-orang yang berada di atas kita, sesekali cobalah melihat ke bawah karena banyak orang yang tidak beruntung hidupnya seperti perempuan yang bernama Elok. 

Kisah perempuan di dalam kerangkeng ini hendaknya menjadi sebuah renungan buat kita semua supaya lebih peduli lagi dengan mereka yang mengalami sakit jiwa. Sama halnya dengan sakit fisik, orang yang sakit jiwa juga perlu teman, sahabat, dan dukungan dari sanak saudaranya.

Ibuku Pengrajin KASAB

Ibuku yang sedang menjahit kasab

Kasab merupakan kerajinan dari benang emas dengan menggunakan teknik jahit timbul atau couching. Kegunaannya untuk dekorasi pelaminan dalam upacara tradisi seperti pernikahan, sunatan, dan kematian. Bagian-bagian dari kasab ini jika disatukan, dan ditata akan membentuk pelaminan kasab. 
   
Pelaminan Kasab Aneuk Jamee

Pelaminan kasab ini dihasilkan oleh tangang-tangan pengrajin yang trampil menjahit benang kasab di atas kain beludru bewarna merah, kuning, hijau atau biru. 
Melalui tangan pengrajin, keberlangsungan kasab bisa terjaga hingga digunakan sampai detik ini.

Hampir 30 tahun ibu menekuni profesi ini, siang dan malam dihabiskan untuk membuat kasab-kasab yang dipesan orang. Untunglah ada kasab ini yang membantu perekonomian keluraga kami, apalagi dulu pada masa konflik bersenjata Aceh yang mengharuskan Ibu bekerja keras untuk membiayai kehidupan keluarga kami.

Ayah tidak bisa bekerja dikarenakan konflik yang terlalu bahaya bagi seorang laki-laki untuk mencari nafkah di luar rumah. Pernah dulu saat Ayah hendak pergi ke tempat kerjanya, terjebak di tengah kontak senjata antara GAM, dan RI. 

Beruntung ayah  bisa selamat dari hujan senjata, dari kedua belah pihak itu. Ternyata Allah masih memberi umur, dan keselamatan untuk Ayah. 

Pasca konflik yang berakhir dengan perdamaian MoU Helsinki, keadaan ekonomi kami mulai membaik, namun Ibu juga tidak bisa melepaskan profesinya itu. Hal ini dikarenakan sudah banyak pelanggan tetap ibu, yang puas dengan hasil jahitan kasab buatannya. 

Ibu tidak hanya pandai menyulam kasab, tapi beliau juga bisa membilai dan merangkainnya menjadi sebuah pelaminan yang utuh.

Bagian Kasab yang sudah dibilai/dirangkai

Di kampungku tepatnya di Gampong AirSialang Hilir, Kec. Samadua, Kab. Aceh Selatan memang terkenal penghasil jahitan kasab dari pengrajin lokal
Kebanyakan mereka hanya bisa menyulam kasab, kalau untuk membilai dan merangkai menjadi pelaminan yang utuh jarang yang bisa. 

Ibu mempunyai ketiga keahlian tersebut, yaitu menyulam benang emas, membilai dan memasang pelaminan, sehingga pekerjaan ibu sering menumpuk yang membuatku kasihan melihat ibu.

Tak jarang Ibu bergadang untuk menyelesaikan jahitan kasab pesanan orang itu. Dengan menggunakan mesin jahit tua yang sangat dicintai itu, ibu sanggup duduk berjam-jam membilai kasab.

Mesin yang digunakan masih manual, hanya menggunakan tenaga kaki untuk menggoyangkan mesin, supaya bisa berjalan. Beberapa kali aku menyarankan Ibu untuk membeli mesin jahit listrik, tapi Ibu tetap tidak mau dengan alasan menjahit ini sebagai sarana olahraga baginya.

Ibu begitu gigih menekuni setiap pekerjaannya, biasanya pada siang hari ibu menjahit kasab dengan menggunakan tangan. Dan pada malam hari, Ibu membilai kasab yang sudah dijahit menggunakan tangan dengan mesin.

Walaupun demikian, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga juga dilakoni dengan baik. Bahkan makanan yang paling enak menurutku ialah makanan masakan Ibu, apa pun jenisnya itu. Begitu juga dengan Ayah dan saudara-saudaraku, Ibu adalah pahlawan bagi keluarga kami.

Penghasilan yang didapat ibu dalam menjahit kasab, tidaklah seberapa dibandingkan dengan usaha dan kerja kerasnya. Padahal penggunaan jahitan kasab di masyarakat Aneuk Jamee merupakan hal yang paling utama saat melaksanakan upacara adat.

Bayangkan jika tidak ada para pengrajin, penggunaan kasab sebagai adat bisa saja hilang yang tentunya akan menghilangkan sejarah keberadaan suatu daerah tersebut.

Menjahit kasab sudah menjadi mata pencaharian sebagian masyarakat di kampungku, khususnya para perempuan. Mereka menjahit kasab untuk memenuhi kebutuhan konsumen, dan melestarikan kebudayaan kerajinan Aneuk Jamee.


Budaya menjahit kasab sudah menjadi kerajinan turun temurun

Sayangnya sekarang, banyak kendala yang dihadapi oleh pengrajin kasab ini. Terutama dalam penyediaan bahan baku kasab, seperti benang emas. Kesulitan dalam mendapatkan bahan baku, karena harus diimpor dari daerah lain, membuat para pengrajin berhenti untuk menjahit kasab,

Dan ini juga tentunya berpengaruh bagi perekonomian mereka. Selain itu, mahalnya harga bahan baku, ditambah kurangnya perhatian pemerintah setempat dalam memberdayakan para pengrajin ini, berdampak pada tersendatnya usaha kerajinan kasab sulam benang emas.

Padahal kasab sulam benang emas merupakan salah satu warisan budaya Aneuk Jamee yang harus dilestarikan. Tanpa mereka, hilanglah seni membuat kasab, sehingga akan menghilangkan kebudayaan dari sebuah peradaban.

Motif Kasab Aneuk Jamee yang digunakan di Kamar Pengantin

Balik Arah Karena Banjir


Perjalananku menuju Banda Aceh yang menempuh waktu sekitar kurang lebih 9 jam, tidak semulus biasanya. Perjalanan kami harus terhenti lantaran banjir yang tidak kunjung surut.

Banjir yang terjadi di Kuta Trieng, Kec. Darul Makmur Nagan Raya

Aku tiba di Nagan Raya pukul 00.00 wib. Pada saat itu di Jalan Nasional Tapaktuan - Meulaboh, tepatnya di Kuta Trieng, Alu Bili sudah digenangi air setinggi pinggang orang dewasa. Arus airnya pun cukup kuat, sehingga tidak ada satupun kenderaan yang berani melintasi jalan tersebut.

Kamipun memutuskan untuk berhenti di salah satu warung nasi untuk menunggu banjir surut. Bukan hanya kami penumpang yang dari Aceh Selatan saja menunggu disitu, ternyata banyak penumpang lainnya baik itu dari Subulussalam, Singkil, Medan dan dari daerah pantai barat selatan lainnya ada disitu.

Dengan sekejab, antrian mobil sudah berderet di pinggir jalan. Tak ada yang berani melewati banjir tersebut, baik dari Arah Meulaboh, maupun dari arah Tapaktuan. Rupanya diujung sana, juga terdapat antrian panjang kenderaan bermotor. Tidak ada tanda-tanda air akan surut, bahkan air pun bertambah naik hingga mencapai dada orang dewasa karena Sungai Lamie yang semakin meluap.

Sekitar pukul 11.00 wib jalan tersebut masih digenangi banjir, tapi sudah bisa dilewati oleh mobil tranton besar. Sedangkan mobil-mobil kecil seperti mobil KIA yang saya tumpangi, sopirnya tidak mau mengambil resiko untuk menempuh banjir, takut mesin mobilnya tiba-tiba mati di tengah bajir tersebut.


Antrian mobil yang menuju Arah Meuloboh, Calang, Banda Aceh

Ibuku menghubungiku via telpon untuk menyuruh balik arah, karena banjir di Kuta Trieng akibat luapan sungai Lamie, tidak akan surut dengan sekejab. Meskipun keaadaan cuacanya panas, tapi air sungai terus meluap. Ibuku pernah mengalami kondisi itu pada banjir tahun lalu, yang mengakibatkan dia harus menunggu selama 2 hari untuk bisa melewati jalan tersebut.

Hampir setiap tahun kondisi yang sama terjadi akibat banjir. Entah kemanalah para petinggi daerah itu, sehingga tidak dilakukan peninggian jalan, atau pembuatan jembatan layang untuk menghindari banjir tahunan tersebut.

Kondisi di jalan raya

Aku yang bosan menunggu di dalam mobil akhirnya memberanikan diri untuk berjalan sekitar 200 m ke depan melihat kondis banjir. Awalnya air memang semata kaki, makin maju ke depan airnya semakin dalam, arusnya pun juga semikin deras.

Aku melihat rumah warga yang terendam banjir, menimbulkan rasa prihatin yang mendalam dengan kondisi mereka. Mungkin barang-barangnya tidak bisa diselamatkan lagi, karena kondisi air di dalam rumah setinggi dada orang dewasa.

Kondisi rumah dengan air setinggi dada orang dewasa

Aku terus berjalan ke depan, tidak peduli air sudah setinggi paha dengan arus yang cukup deras. Aku ingin memastikan apakah ada kemungkinan air akan surut, sehingga mobil bisa lewat karena aku harus tiba di Banda Aceh pada tanggal 9 Januari 2017.

Hanya mobil-mobil ukuran besar yang berani melewati arus tersebut. Sedangkan untuk sepeda motor diangkut menggunakan sampan.

Trasportasi darurat yang dibuat oleh warga

Aku berfikir untuk menumpang mobil besar tersebut untuk bisa sampai ke Banda Aceh, karena terakhir pengumpulan berkas yudisium tanggal 9 Januari, kalau tidak aku tidak bisa yudisium apalagi wisuda bulan 2. Ya Allah giimana iniAkupun cukup galau saat itu.

Aku meminta pendapat ke sopir mobil terhadap rencanaku itu. Rupanya ketika dihubungi temannya yang terjebak di ujung sana, Banjir tidak hanya di tempat itu saja, melainkan ada 3 titik lagi yang harus ditempuh.

Di Gunung Kulumbu tepatnya di kaki Gunung Tran, Air setinggi dada orang dewasa. Kemudian banjir di Simpang Empat Jram, dan banjir di Tunom. Jadi aku harus melewati 3 titik banjir lagi ke depan, tanpa ada kepastian apakah selepas dari banjir tersebut aku mendapatkan tumpangan untuk sampai ke banda Aceh, atau terjebak di dalam banjir.

Sopir tersebut tidak mau mengambil resiko bagi para penumpangnya. Apalagi aku seorang perempuan, dan pada saat itu kondisi batre HP ku mati total. Kemana hendak dihubungi jika aku kenapa-kenapa di perjalanan nantinya.

Ibuku pun tidak mengizinkanku untuk melanjutkan perjalanan menuju banda Aceh. Akhirnya kami sepakat untuk pulang kembali ke Aceh Selatan. Begitu juga dengan mobil-mobil lainya balik arah karena banjir tidak kunjung surut.

Semoga hari ini Senin, 9 Januari 2017, banjirnya sudah surut, dan aku bisa menuju Banda Aceh untuk menyelesaikan keperluanku.

Kisah Korban Tsunami Dibalik Jeruji Besi Putih

Gambar Ilustrasi Jeruji Besi Putih

Bunga, begitu panggilannya. Bukan nama asli, karena tidak ada satupun yang tau latar belakangnya. Usianya sekitar 27 tahun, tapi tingkahnya sepeti anak usia 7 tahun. Aku sangat terkejut saat dia menyapaku dengan sebutan ibu, dengan ramah dia menyalamiku sambil mencium tanganku. Sontak aku terkejut, orang yang usianya lebih dewasa dariku mencium tanganku saat bersalaman.

Ibu,ibu, nama saya bunga, nama ibu siapa?
Ambil Bunga saja ya jadi pasien ibu, bunga orangnya baik”.

Aku pun heran mendengar perkataannya, ternyata dia sudah duluan tau bahwa setiap mahasiswa praktik akan mengambil salah satu dari mereka untuk dijadikan pasien kelolaan. Aku pun membalas sapaannya dengan sikap penuh bersahabat.

Perkenalkan saya Arin, senang berkenalan dengan Bunga”.

Kesempatan inipun tidak aku sia-siakan, aku langsung melakukan pengkajian untuk memperoleh data darinya.

Bunga sudah tinggal di Rumah Sakit Jiwa Sejak 10 tahun lalu, tepatnya setelah tsunami Aceh. Tidak ada satupun yang tahu siapa keluarganya dan darimana asalnya. Setiap kali ditanya jawaban berbeda-beda. Dia sering memanggil-manggil pamannya, dan berharap pamanya akan datang menjemputnya.

Penasaran dengan sosok bunga, akupun melihat datannya di status pasien. Dia adalah salah satu korban tsunami Aceh 2004, yang masuk karena gangguang mental yang disebut sebagai skizofrenia.

Bunga sering terlihat berbicara sendiri, tersenyum, dan bahkan tertawa dengan halusinasinya. Namun terkadang dia mengalami ketakutan sehingga membuatnya menangis sejadi-jadinya. Dia juga sering mencium bau darah, bahkan darah itu mengikutinya kemana-kemana.

Keluarganya meninggal dunia dalam musibah besar Tsunami Aceh, selebihnya tidak ada status jelasnya, siapakah bunga, dan bagaimana kehidupannya sebelum bencana besar itu datang.

Aku melihat sosok anak kecil dalam tubuh orang dewasa seperti bunga. Dia sangat rindu kasih sayang, rindu akan keluarganya. Sempat suatu hari dia bercerita kepadaku tentang keluarganya. Katanya dia berasal dari Simeulue, ayah dan ibunya sudah meninggal dunia, dan dia tinggal dengan pamannya.

Dia sangat yakin pamannya akan menjemput dirinya, setiap hari dia bertanya kepada perawat, apakah pamannya sudah datang? Dan setiap hari terus dengan pertanyaan yang sama. Kadang dia menangis memanggil pamannya, tingkahnya tak ubah seperti anak kecil yang kehilangan ibunya. Tak ada satupun yang tahu siapa paman yang dinanti-nantikan bunga.

Setiap hari dia hanya duduk di balik jeruji besi putih yang berkarat, terkadang dia senyum sesekali dengan mahasiswa-mahasiwa praktik sepertiku. Setelah itu dia asyik berbicara dengan halusinasinya, dengan tingkah yang menurutku aneh.

Kadang dia terlihat asyik mengobrol sendiri, duduk dengan posisi seperti orang bertapa sambil memejamkan matanya, dan kemudian tersenyum sambil melirik ke kiri ke kanan, lalu dia teriak-teriak dengan mengatakan “”Ada darah, ada darah”.

Aku mencoba berkomunikasi dengannya, palng tidak 15 menit setiap hari. Meskipun apa yang diomonginya tak tentu arah, dan berputar-putar (sirkumtansial).

Diapun sudah mulai dekat denganku. Pertanyaan yang tak bosan-bosanya ditanyakan kepadaku ialah kapan pamannya datang. Aku tak tahu mau jawab apalagi, setiap hari dia mempertanyakan hal yan sama. Kapan pamanku menjemputku.

Pernah suatu ketika Bunga disangka memukul temannya. Akibatnya dia harus dipindahkan ke ruang isolasi. Paginya ketika aku sampai ke tempat dinas, dia langsung memangilku sambil menangis dan berteriak.

Bu Arin.., Bunga nggak salah!
  Bunga nggak bermaksud memukul teman Bunga, Bunga nggak mencuri!
  Tolong lepasin Bunga Bu Arin!
  Bunga janji nggak akan mengulanginya lagi,
  Bu Arin, tolong lepasin Bunga”.

Aku melihat Bunga di ruang isolasi dengan matanya yang sembab, ujung bibirnya bengkak dan biru. Suara tangisanya bertambah kencang saat darah segar keluar dari hidungnya.

Bunga terlibat perkelahian dengan temannya, karena dituduh mencuri uang. Benar atau tidaknya kejadian itu, aku tidak tahu pasti karena kejadiannya semalam, dan aku baru masuk paginya.

Aku mendekati Bunga sambil membersihkan darah dari hidungnya. Matanya masih basah karena air matanya yang tak sanggup ditahan. Dengan terisak dia menceritakan kepadaku dia tidak mecuri uang itu, hanya mengambilnya sabagian dan akan mengembalikannya nanti.

Bunga.., mengambil sesuatu tampa sepengetahuan pemiliknya, itu disebut dengan mecuri. Meskipun kita berniat untuk mengembalikannya”.

Aku mencoba menasehati Bunga. Mengerti atau tidak tentang penjelasanku, Bunga hanya terdiam. Dia berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatannya itu. Lagi dan lagi dia bertanya kapan pamannya akan menjemput dirinya?

Sungguh, bunga yang malang, jauh dari kasih sayang!