Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Belajar dari Pengalaman Terburuk, Kita Bersama Melangkah Lebih Baik



Akumulasi kesedihan dan kemarahan memuncak di dalam jiwa, saat aku mengetahui mobil ayahku terpaksa dijual demi melunasi kredit di bank. Padahal mobil itu adalah sumber mata pencaharian ayahku satu-satunya. Terjualnya mobil itu berarti hilanglah pekerjaan ayahku. Ia akhirnya pensiun dini setelah berpuluh-puluh tahun berprofesi sebagai sopir angkutan umum. 

Resah menggelantung dalam benakku. Sebab, ada kredit di bank lain yang juga sudah menunggak pembayarannya. Sedangkan kami terjepit dalam situasi yang sangat sulit, di mana saat itu usaha orang tuaku kolaps dan kami terus didesak untuk membayar utang tersebut. Bagaimana mungkin orang tuaku bisa membayarnya dalam situasi yang penuh tekanan seperti itu? 

Untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja susah, apalagi untuk membayar utang. Terlebih usia yang tak muda lagi membuat ayahku kesulitan mencari pekerjaan. Sedangkan ibu, berusaha semampu mungkin membuka jasa jahitan dan berjualan pisang goreng di depan rumah demi tetap mengepulnya asap dapur. 

Akhirnya terpaksa tanggung jawab itu kuletakkan dipundakku. Padahal saat itu, aku belum mempunyai pekerjaan tetap yang bisa menggajiku. Hanya dengan menulislah kadang aku mendapatkan pemasukan, entah itu hadiah menang lomba menulis, honor tulisan di media, atau pun reward yang kudapat dari menulis di steemit. Namun, aku berani lebih baik dengan menjadi penjamin dari semua utang orang tuaku. 

Ilustrasi; utang menumpuk

Hal pertama yang aku lakukan ialah mendata berapa jumlah utang orang tuaku di bank. Kemudian memprioritaskan kredit mana yang harus dilunasi terlebih dahulu. Setelah mengetahui jumlahnya, aku meminta tenggat waktu untuk bisa melunasi semuanya. Memang terlihat mustahil aku melunasinya degan kondisiku saat itu. Namun, aku yakin Allah swt pasti tunjukkan jalan bagi orang yang mau berusaha. 

Beruntung aku mempunyai teman-teman yang begitu loyal padaku. Ketika mereka mengetahui kondisi orang tuaku saat itu, mereka membantu semampunya dengan meminjamkan uang tanpa harus ada jaminan apapun dan tenggat waktu. Kapan ada kemudahan bagiku mengembalikannya, maka aku bayar. Utang orang tuaku di bank pun akhirnya terbayar. Alhamdullilah, dua tahun setelah kejadian yang memilukan itu, aku bisa mengembalikan utang kepada teman-temanku. Kecuali pada satu teman yang kini telah berganti status menjadi suami. 

Cinta Harus Ikut Terlibat 


Itulah saat kondisi terburuk di dalam hidupku dan juga orang tuaku. Saat di mana orang tuaku harusnya menikmati hasil jerih payahnya bertahun-tahun, tapi terkuras untuk melunasi kredit di bank. Kondisi keuangan orang tuaku berada pada titik minus, padahal sebelumnya kami selalu berkecukupan. 

Dengan situasi seperti itu, aku mengira teman dekatku (kekasih) akan meninggalkanku. Siapa pula yang mau ikut berlumpur di tengah kubangan kemelaratan keluarga. Aku sengaja menceritakan semua masalah keluargaku supaya ia berpikir ulang untuk melangkah bersamaku. Berharap ia akan mundur teratur sebelum lebih jauh masuk ke dalam masalahku. 

Rupanya, ia memilih untuk terus maju dan menerima semua kondisiku. Atas nama cinta ia ikut terlibat membersihkan kubangan lumpur kemelaratan itu. 

“Bukankah cinta harusnya memberikan rasa nyaman dan saling pengertian? Aku cukup mengerti dengan masalah keluargamu, maka izinkan aku ikut terlibat dalamnya,” lelaki itu menghapus air mataku yang sudah puluhan kali tumpah karena menahan luka. 

Bersamanyalah aku mencari solusi untuk membayar utang orang tuaku. Termasuk memberikan semua uang tabungannya untuk menutupi utang tersebut. Padahal, tabungan itu ialah bekalnya untuk melamarku, tapi ia relakan dipakai demi melunasi kredit orang tuaku. 

Laki-laki itu akhirnya menjadi suamiku

Kondisi ini tidak seharusnya terjadi bila orang tuaku mempunyai asuransi kredit dan penjaminan. Seperti halnya asuransi kredit dan penjaminan dari Tugu Insurance yang akan melindungi tertanggung apabila terjadi hal-hal buruk sehingga tidak mampu membayar pinjaman yang dimiliki. Dengan adanya asuransi ini akan memberikan jaminan perlindungan agar tertanggung tidak semakin dirugikan atas biaya-biaya yang ditimbulkan dari kemungkinan buruk tersebut. Namun, hal itu sudah terjadi. Aku jadikan sebagai pengalaman ke depan agar tidak terulang lagi kesalahan yang sama pada diriku dan keluarga baruku. 

Bersama Menjaga Masa Depan 


Belajar dari pengalaman buruk orang tuaku, aku dan suami mulai menata keuangan untuk menjaga masa depan. Kami tidak ingin kesalahan yang sama terjadi pada kami sehingga kami berkomimen untuk berani lebih baik. Hal pertama kami lakukan ialah membuat anggaran perencanaan belanja rumah tangga. 

Setiap kali menerima gaji bulanan, maka kami menganggarkan untuk sedekah 2,5%, untuk orang tua 7,5%, investasi 10%, membayar utang 30%, dan kebutuhan sehari-hari 60%. Persentase itu kami ambil dari total pemasukan setiap bulannya. 


Selain itu, kami juga memprioritaskan kebutuhan yang benar-benar diperlukan, bukan karena keinginan belaka. Sebisa mungkin kami hidup dengan gaya minimalis dan tidak menurutkan budaya konsumtif. Pasalnya dulu di keluarga orang tuaku, budaya konsumtif sangat kentara. 

Ibu sering melakukan kredit barang demi memuaskan kebutuhan konsumtifnya, seperti beli baju atau pun barang-barang yang dianggap sedang ngetrend. Hal itu karena budaya konsumtif di lingkungan tempat tinggalku sudah membudaya. Akibatnya banyak yang terlibat utang kredit baik itu di bank atau pun di tukang kredit. 

Aku tak ingin hal itu terjadi pada keluarga baruku yang baru jelang dua tahun berjalan. Sehingga untuk urusan keungan kami dinilai sedikit pelit karena tidak seperti yang dilakukan orang-orang di sekelilingku. Beruntung, pascamelahirkan kami pindah menyewa rumah sendiri dan mulai mengatur keuangan sendiri tanpa intervensi. 

Untuk ke depan kami mulai memikirkan perkara asuransi, sebab kita tidak tahu apa yang terjadi di masa depan. Selagi aku dan suami masih diberikan kesehatan dan kemampuan untuk bekerja, kami ingin menjaga masa depan dengan berinvestasi, salah satunya dengan membuat asuransi. 

Beberapa informasi terkait asuransi sudah kami ketahui dan pelajari. Namun, ada salah satu produk asuransi yang menurut kami cocok untuk keluarga kecil kami, yaitu asuransi korporasi dari Tugu Insurance yang memberikan jaminan perlindungan yang ditujukan untuk korporasi. 


Produk yang ditawarkan pun beragam, seperti asuransi energi, kebakaran dan properti, kelautan, penerbangan dan satelit, rekayasa, kredit dan penjaminan, aneka, dan kesehatan. 


Begitu pula dengan produk asuransi retail yang ditawarkan Insurance Tugu yang dapat melindungi berbagai aset berharga, seperti rumah, kendaraan bermotor, serta keselamatan diri. Tentu ini membuat sedikit lega bagi kita bila sewaktu-waktu terjadi hal yang tidak diinginkan. Dengan adanya asuransi, kita berupaya bersama menjaga masa depan. 


Kesadaran Kesehatan Jiwa Terganjal Stigma

Ilustrasi, Kesadaran Kesehatan Jiwa Terganjal Stigma

Saya bersyukur bisa melewati masa-masa sulit yang pernah membuat saya hampir mengalami depresi. Tepatnya tahun 2017, tahun saat saya selesai menamatkan kuliah profesi ners di Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala. Bukannya senang, justru saya dihadapkan dengan masalah keluarga yang cukup pelik. 

Orang tua saya mempunyai utang di beberapa bank dengan jumlah besar. Mobil yang biasanya digunakan ayah untuk menarik sewa, terpaksa harus dijual karena harus melunasi sebagian utang tersebut. 

Akibatnya ayah kehilangan pekerjaannya yang membuatnya semakin kalut. Rumah dan isinya juga terancam ditarik pihak bank, karena sudah beberapa kali mereka mendatangi rumah kami dan rumah adik ayah yang sertifikat tanahnya dijadikan sebagai angunan. 

Inilah yang menjadi puncak masalahnya ketika adik ayah meminta secara paksa kepada kami, untuk mengembalikan lagi surat tanahnya yang dijadikan sebagai angunan tersebut. Walau sudah dijelaskan bagaimana terpuruknya kondisi ekonomi keluarga kami, tapi dia tetap memaksanya. Terjadilah pertengkaran hebat antara ayah dan keluarga adiknya yang membuat suasana semakin kacau. 

Pertengkaran tidak bisa terelakan ketika adik ayah beserta keluarganya datang ke rumah dan memaki-maki ibu beserta seluruh keluarga kami, hingga kabar itu sampai juga ke telinga saya yang sedang berada di ibu kota. Akhirnya saya memutuskan untuk segera pulang ke kampung dan menyelesaikan persoalan ini. 

Saya melihat kondisi ayah dan ibu yang begitu tertekan, sehingga sering kali saya mendapati mereka sedang menangis dalam tidur atau duduk sendirian dengan tatapan kosong. Saya berusaha untuk menghibur dan membangkitkan semangat mereka walau saya juga dalam keadaan tertekan. 

Akhirnya saya memberanikan diri menemui keluarga adik ayah untuk menyelesaikan perkara ini dengan cara baik-baik. Berbagai upatan saya dapati akibat emosi yang memuncak dari keluarga adik ayah. Mereka terus menyalahkan ayah dan ibu serta menjelek-jelekan mereka. Anak mana yang tidak sakit hatinya ketika orang tuanya dijelek-jelekan, tapi saya berusaha untuk diam karena senjata terbaik untuk melawan perang mulut adalah diam. 

Dalam hidup saya, inilah kali pertamanya saya dipaksa untuk bersikap dewasa dan belajar menahan emosi meskipun saya ikut disalahkan dalam perkara ini. Namun, saya teringat kalimat motivasi dalam buku yang pernah saya baca, “pelajaran terpenting tentang negosiasi dengan sekelompok orang yang berada di puncak emosi ialah menghindar dari sikap konfrontatif.” 

Mengaku salah jelas langkah terpenting, walau tetap menekankan diri bukan pelaku. Memastikan akan bertanggung jawab juga sangat esensial. Namun, tidak memberikan janji palsu dan jujur apa adanya. Akhirnya saya diberikan waktu selama empat bulan untuk mengembalikan sertifikat tanah tersebut dengan saya sebagai jaminannya. Tindakan ini nekat saya lakukan untuk menyelamatkan orang tua saya dari ancaman depresi. 

Selama empat bulan tersebut saya berusaha untuk mengumpulkan uang dari hasil menulis karena saya belum mendapatkan pekerjaan tetap. Jalan satu-satunya ialah dengan menulis di akun steemit yang saat itu penghasilannya lumayan. Namun, hingga sampai tenggat waktu yang ditetapkan, jumlah uang untuk mengambil sertifikat tanah tersebut belum juga terkumpul. 

Saya mencoba menjelaskan bagaimana kondisi saya kepada adik ayah dan keluarganya, tapi malah saya dituduh penipu. Bahkan saya terus-terusan ditelepon dan di SMS dengan kata-kata yang mengancam hingga mengganggu psikis saya. 

Pikiran saya sudah mulai kacau bahkan saya sering menangis dalam tidur dan mimpi buruk setiap malam. Hal itu sungguh menyakitkan yang membuat hidup saya dipenuhi rasa cemas dan ketakutan. 

Puncaknya ketika saya mengalami gatal-gatal seluruh tubuh di malam hari hingga membuat badan saya memerah yang menimbulkan bentol-bentol, tapi ketika pagi gejala tersebut menghilang. Saya merasa butuh pertolongan untuk memulihkan psikis saya dan akhirnya saya menemui psikolog untuk konsultasi mengenai masalah saya. 

**** 

Saya yakin, banyak orang di luar sana mengalami masalah seperti cerita saya di atas. Hal tersebut terbukti dari banyaknya orang yang menghubungi saya via Whatsapp setelah membaca kisah pilu tersebut dari blog pribadi saya yang berjudul Gatal-gatal Karena Beban Psikologis dan Kosultasi Gratis ke Psikolog RSUD ZA. 

Mereka mengaku mempunyai masalah yang kurang lebih sama seperti saya, tapi enggan untuk memeriksakan keadaan psikisnya dan meminta pertolongan kepada ahli kesehatan mental. Alasannya tidak lain karena takut dicap sebagai orang yang mengalami gangguan jiwa ketika memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan mental. 

Itulah yang terjadi di lingkunganku, kesadaran akan kesehatan mental masih terganjal dengan stigma negatif yang ada di masyarakat. Maka banyak yang enggan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan mental ketika mengalami masalah psikis. Seperti salah seorang pembaca blogku yang mengaku dirinya sering mengalami emosi berlebih, bahkan tidak sanggup untuk mengontrolnya. 

Namun, dia takut memeriksakan kesehatan mentalnya karena stigma negatif yang datang dari keluarga. Dia khawatir bila mendatangi pelayanan kesehatan mental akan dicap sebagai orang yang mengalami gangguan jiwa. 

Masyarakat kita masih terstigma dengan isu kesehatan mental sehingga terganggu dalam mendapatkan pelayanan kesehatan mental. Walaupun kesadaran akan kesehatan mental sudah ada, tapi mereka enggan untuk mencari pertolongan. 

Hal tersebut dapat dilihat dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 tentang cakupan pengobatan penderita depresi yang mana hanya 9% yang melakukan pengobatan. Mereka beranggapan masalah kesehatan mental seperti stress, depresi, dan gangguan kecemasan adalah masalah sepele yang nantinya akan sembuh dengan sendirinya. Padahal bila masalah tersebut dipendam dan dibiarkan akan berisiko mengalami gangguan kejiwaaan. 

Akibatnya Indonesia menjadi Negara dengan jumlah pengidap gangguan jiwa tertinggi di Asia Tenggara. Bahkan, apabila dilihat dari data Riskesdas 2013 hingga 2018 angka prevalensi gangguan mental meningkat hingga mencapai angka 9,8 dan menjadi angka tertinggi dalam sejarah modern kesehatan Indonesia. 

Masalah Kesehatan Jiwa di Indonesia Kebanyakan Berakahir di Rumah Sakit Jiwa

Dari beberapa orang yang menghubungiku menanyakan tentang pengalamanku mencari bantuan ke psikolog, tidak ada satu pun yang benar-benar mendatangi pelayanan kesehatan mental. Padahal mereka mempunyai masalah yang kurang lebih sama seperti yang kualami, tapi mereka memilih diam karena takut terstigma dengan orang-orang di sekitarnya. 

Wajar kalau psikolog yang dulu pernah menangani masalahku terkejut dan salut kepadaku karena berani mencari bantuan kesehatan mental atas kesadaran sendiri. Ini kali pertamanya pasien yang datang atas kemauan sendiri karena menurutnya, kebanyakan pasien yang ditangani merupakan pasien rujukan bahkan ada yang dipaksa datang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan mental. Itu pun pihak keluarga merasa canggung karena malu ada anggota keluarganya yang mengalami masalalah kesehatan mental. 

Sulit memang menghapus stigma negatif tentang gangguan mental di masyarakat, tapi bila pelayanan kesehatan mental dipermudah dan terus disosialisasikan, maka kesehatan mental tidak dianggap sesuatu yang tabu dan harus ditutupi lagi. Orang-orang pun tidak merasa takut dan malu lagi mendatangi pelayanan kesehatan mental.

Kenali Jenis Alergi pada Bayi

 


Alergi? Tentu kata ini bukan sesuatu yang asing lagi terdengar bagi kita. Namun, bagaimana alergi ini terjadi pada bayi mungilmu yang baru beberapa hari atau beberapa bulan melihat dunia ini? 

Ibu mana yang tidak khawatir bila melihat bayinya ditumbuhi bintik-bintik merah di wajah dan di seluruh tubuh, atau menangis terus menerus karena sakit perut akibat kolik. Reaksi yang ditunjukkan bayi pun bermacam-macam dan ia hanya bisa mengomunikasikannya lewat tangisan. 

Mengenai alergi ini, aku mempunyai pengalaman ketika anaku, Cahya muncul bintik-bintik merah di wajahnya. Bintik-bintik ini bukan karena gigitan nyamuk, tapi karena alergi makanan. 



Aku mengingat-ingat kembali apa terakhir dimakan oleh Cahya, sebab sebelumnya tidak pernah kejadian seperti ini. Pikiranku langsung terpaku pada MPASI pabrikan rasa ayam bawang yang dikonsumsi Cahya. Memang saat itu kondisinya aku tidak sempat membuat MPASI rumahan karena sedang berada di rumah mertua yang kebetulan sedang ada kenduri pesta pernikahan adik Abah Cahya. Jadinya saat itu aku memberikan MPASI pabrikan dari merk yang biasa dikonsumsi Cahya. 

Namun, sebelumnya tidak ada reaksi apa-apa karena yang dikonsumsinya rasa beras merah dan kacang hijau. Entah kenapa saat itu aku ingin menggantinya dengan rasa ayam bawang, berharap Cahya lahap memakannya. Rupanya malah muncul bintik-bintik merah di wajah Cahya setelah dua kali memakan bubur MPASI tersebut. 

Usut demi usut, ternyata Abah Cahya juga mempunyai alergi ketika memakan yang banyak kandungan protein hewaninya, seperti ayam, udang, dan kerang. Kaki dan tubuhnya bisa muncul bintik-bintik merah ketika mengkonsumi makanan tersebut. Nah, alergi ini rupanya bisa diturunkan dari orang tua ke anakanya. 


Aku pun segera menghentikan memberi bubur MPASI dari pabrikan tersebut. Namun, bintik-bintik merah tidak juga menghilang, justru bertambah banyak. Kadang Cahya menggaruk-garuk mukanya karena gatal. 

Walaupun suhu tubuhnya stabil, tapi melihat kondisinya seperti itu membuat rasa khawatir kami bertambah. Terlebih abahnya Cahya karena dia bisa merasakan bagaimana ketika alergi tersebut menyerang tubuhnya. Kami pun segera membawa Cahya ke klinik bidan untuk memeriksakan kondisinya. 

Bidan yang bernama Yulisnaini itu terlihat kesal ketika aku menjelaskan bahwa Cahya diberi MPASI pabrikan. Ia menyarankan aku agar memasak MPASI sendiri dari bahan-bahan alami karena lebih sehat dan aman dari pengawet dan pewarna. 

Saat konsultasi dengan Bu bidan

Bidan yang juga menangani proses kelahiran Cahya ini tidak memberikan obat apa-apa, hanya menyarankan untuk menyetop pemberian MPASI pabrikan dan diganti dengan MPASI rumahan. Katanya alergi itu akan hilang sendirinya bila tidak ada lagi zat atau allergen yang menyebabkan alergi tersebut muncul. 

Sebab, kasus alergi yang terjadi pada bayi kebanyakan karena faktor makanan yang tidak tepat dan sehat. Oleh karena itu, setiap makanan yang diberikan kepada bayi harus dikontrol karena tubuh bayi belum membentuk antibodi secara sempurna. Seiring waktu hipersensitivitas pada bayi akan berkurang saat bertambah usia. 

Upaya Pencegahan Alergi 

Setelah kejadian alergi pada Cahya, aku pun sangat berhati-hati dalam memilih makanan yang diberikan kepada Cahya. Aku juga banyak membaca tentang informasi alergi agar bisa melakukan upaya pencegahan. 

Perlu diketahui ya para ibu, bahwa kebanyakan kasus alergi makanan dikarenakan sistem imun mengalami gangguan dan salah mengidentifikasi beberapa komponen makanan tertentu sebagai sesuatu yang berbahaya. 

Sistem imun tersebut akan memicu sel produsen untuk memproduksi antibodi dari jenis immunoglobin E untuk berhadapan dengan komponen-komponen makanan (alergen), berupa protein yang tidak rusak pada saat proses memasak dan tidak rusak ketika bereaksi dengan asam lambung. 

Akibatnya, alergen tersebut dapat melenggang mulus dalam tubuh, lalu masuk ke peredaran darah mencapai organ yang menjadi targetnya sehingga menimbulkan reaksi alergi. Reaksi yang muncul bisa cepat ataupun lambat. 



Oleh karena itu, perlu diketahui beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah atau menghambat alergi tersebut. 

1. Usahakan menunda memberikan MPASI sampai usia bayi 6 bulan ke atas. Sebab, bayi muda sangat rentan terhadap alergen karena sistem oragannya yang belum berfungsi secara sempurna. 

2. Bila ingin memberikan jus pada bayi, sebaiknya hindari proses pemberian minuman jus dalam kemasan atau yang dijual di pasaran. 

3. Perlambat pemberian telur pada bayi. Sebaiknya jangan berikan telur utuh (putih dan kuningnya) sebelum bayi berusia 10 bulan. 

4. Mengatur pola makan bayi secara baik. Usahakan untuk makan pagi karena dari hasil penelitian menyebutkan bahwa anak yang makan pagi secara teratur lebih sedikit menderita alergi daripada yang tidak makan pagi. 

5. Berikan makanan dengan gizi seimbang, di antaranya berupa sayur, daging, telur, dan bahan-bahan lain. 

6. Pada anak orang tua alergi, maka akan mudah terkena alergi juga. Jadi, lebih baik sedini mungkin dilakukan pencegahan, bahkan sejak bayi di dalam kendungan sedapat mungkin ibu menghindari makanan yang bisa menyebabkan elergi. Perhatikan juga saat pembrian ASI dan pada masa awal pemberian MPASI. 

7. Hindarkan bayi dari binatang peliharaan, seperti kuncing, anjing, atau sejenisnya karena pada binatang tersebut sering kali terdapat bibit penyakit yang bisa menimbulkan alergi berbahaya bagi bayi. 

Nah, itulah sekelumit curhatanku tentang alergi pada bayi. Alangkah lebih baiknya para ibu dan calon ibu mengetahui tentang alergi pada bayi, apakah alergi makanan atau mungkin alergi lainnya. Lebih cepat tahu, maka kita bisa mengantisipasinya dengan sigap. 

Btw, bagimana denganmu? Pernah mengalami hal yang sama nggak sepertiku, mungkin ada pengalaman lainnya tentang alergi pada bayinya. Silakan berbagi pengalaman dengan menuliskannya di kolom komentar.

4 Tantangan Saat Memulai MPASI Cahya

Baby Cahya Usia 6 Bulan

Senang, bahagia, khawatir, dan deg-degan bercampur aduk perasaanku saat Cahya mulai memasuki tahap makanan pendamping ASI (MPASI). Mungkin perasaan ini juga dirasakan oleh ibu-ibu muda lainnya saat memulai MPASI pertama bagi bayinya. 

Informasi seputar bahan MPASI, peralatan untuk membuat MPASI, bahkan hal apa saja mengenai MPASI menjadi topik yang menarik untuk dibaca dan dipelajari. Begitu juga dengan pengalaman orang lain, baik itu orang tua, saudara, dan teman-teman merupakan hal wajib untuk didengar. 

Aku mulai mengepoin beberapa akun Instagram yang membahas tentang MPASI, baik itu akun komunitas seperti @acehpeduliasi, @mpasi, dan beberapa influencer yang sering sharing seputar MPASI. 

Namun tahukah kamu kenyataannya di lapangan kadang jauh dari apa yang kita pikirkan dan apa yang kita lihat dari beragai media informasi tersebut. Memang sih, ketika melihat video, membaca artikel, atau pun mendengar apa yang disampaikan oleh beberapa ahli mudah banget sepertinya memberikan MPASI tersebut. 

Nyatanya penuh berbagai tantangan dan drama. Berikut beberapa tantangan yang aku hadapi saat memulai MPASI Cahya. 

1. MPASI Sebelum 6 Bulan 

Cahya sebelum usia 6 bulan

Saat Cahya memasuki usia 4 bulan, ia sudah bisa menggenggam benda dan memasukkanya ke mulut. Setiap benda yang berhasil digapainya langsung di bawa ke dalam mulut, begitu juga dengan jari-jari tangannya sering kali diemut sambil digigit-gigitnya. 

Melihat Cahya melakukan hal itu, keluarga di sekelilingku terutama ibu menyarankan agar Cahya segera diberikan pisang atau roti. Mereka berpikir perilaku yang ditunjukkan Cahya menandakan ia lapar, padahal itu merupakan perilaku bayi saat usia tersebut. 

Untungnya aku tetap tegas untuk tidak memberikan Cahya makan sebelum usia 6 bulan dan tetap memberikan ASI saja. Walaupun kadang di luar kendaliku ibu memberikan Cahya roti yang digunakan sebagai finger food. Padahal di usianya itu tidak seharusnya Cahya diberikan finger food. 

Kadang aku dan ibu sempat bersitegang mengenai hal ini. “Dulu tu, dari lahir sudah dikasih pisang. Sekarang harus ditunggu pula sampai 6 bulan,” ujar ibu. Tidak hanya ibu, beberapa kerabat ibu yang mempunyai pengalaman yang sama membenarkan hal itu. Bahkan ada yang menyarankan diberi air putih, madu, inilah, itu, dan lainnya. 


Alhamdulillah, aku sanggup juga menghadapi semua saran-saran tersebut. Tak apalah aku dikatakan pembangkang, asalkan bayiku bisa menyelesaikan ASI Ekslusifnya. 

2. MPASI Rumahan VS MPASI Pabrikan 

Saat pertama sekali memberikan MPASI, aku sempat dilema antara MPASI rumahan atau pabrikan? Ibu-ibu yang pro MPASI rumahan, menyarankan aku untuk memberikan MPASI rumahan karena lebih sehat, higenis, dan tentunya tidak mengandung pengawet, perasa, dan pemanis buatan seperti MPASI pabrikan. 

Namun, ibu-ibu yang pro akan MPASI pabrikan menyarankan aku untuk memilih memberikan Cahya MPASI pabrikan karena selain praktis, takaran gizinya sudah diatur sedemikian rupa sehingga nutrisi yang dibutuhkan bayi perharinya tercukupi. 

Aku pun jadi bingung memilih antara MPASI rumahan atau pabrikan. Setelah menimbang dan memutuskan akhirnya aku memilih MPASI rumahan. Nyatanya saat aku mulai memasak MPASI rumahan, tidak seperti yang dibayangkan. Apalagi saat memasaknya harus menggunakan api yang kecil supaya makanannya tidak gosong. 

Namun, bagi aku yang tidak begitu mahir dalam urusan masak memasak ini sangat merepotkan. Tambahnya lagi ketika Cahya tidak suka dengan masakan yang aku buat karena rasanya yang tidak menentu, akhirnya dia memilih menutup mulut dan tidak mau makan. 

Berbagai menu 4* MPASI Cahya
Empat hari pertama aku memberikannya MPASI rumahan, tapi kelihatannya tidak ada reaksi yang menyenangkan bagi Cahya saat ia makan. Ingin mencoba MPASI pabrikan, aku khawatir dengan adanya bahan pengawet, pemanis, pewarna buatan yang ada di dalam MPASI tersebut seperti yang disampaikan ibu-ibu pro MPASI rumahan. 

Aku pun mencari informasi tentang penggunaan MPASI pabrikan ini hingga sebuah video yang menjelaskan tentang MPASI rumahan VS MPASI pabrikan kutemukan. Akhirnya aku tercerahkan dengan video tersebut dan mencoba memberikan Cahya MPASI pabrikan. Ternyata dia suka dengan MPASI pabrikan. 


Simak Video Ini Bagi Ibu-ibu yang Khawatir dengan 
MPASI Pabrikan/MPASI Terforifikasi.
Sumber akun youtube; elmolen.

Sebenarnya MPASI pabrikan atau MPASI rumahan mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Keduanya boleh diberikan secara bergantian supaya bayi tidak merasa bosan dengan makanan yang itu-itu saja. Aku pun melakukan hal demikian tanpa harus merasa kebingungan lagi antara MPASI rumahan atau MPASI pabrikan. 

3. MPASI Tunggal VS MPASI Menu 4* 

Perkara beikutnya ialah antara MPASI tunggal dan MPASI Menu 4*. Memang benar WHO menyarankan agar bayi diberikan MPASI menu 4* yang terdiri atas karbohidrat, protein hewani, protein nabati, dan sayur untuk mencukupi kebutuhan gizi perharinya. 

Namun, sayangnya tidak semua bayi suka dengan MPASI menu 4*, seperti Cahya misalnya. Saat hari pertama MPASI Cahya, aku memberikan menu 4* berupa kentang sebagai karbohidrat, kacang hijau sebagai protein nabatai, hati dan dada ayam sebagai protein hewani, dan bayam sebagai sayurnya. 

MPASI hari pertama Cahya

Saat pertama kali aku menyuapinya, Cahya mengernyitkan dahi sebagai respons tidak suka yang ditunjukkannya. Namun, ia masih penasaran dengan makanan tersebut dan membuka mulutnya, tapi setelah beberapa suap, Cahya merasa mual hingga aku menghentikan untuk memberikannya makan. 

Ketika tiba waktu makan berikutnya, ia pun tidak mau membuka mulut dan setiap MPASI menu 4* yang aku buat tersisa banyak tidak dimakannya. Bahkan sampai aku stress bagaimana caranya agar Cahya mau memakan MPASI rumahan. 

Sampai akhirnya salah satu temanku menyarankan Cahya diberikan MPASI tunggal. Aku pun memberikan Cahya nasi wortel ditambah sedikit buncis, kemudian nasi jagung kepadanya. Alhamdulillah, Cahya mau memakannya. 



4. Teori Tidak Selalu Sesuai dengan Kenyataan 

Pada akhirnya teori tidak selalu sesuai dengan kenyataan karena pengalaman setiap orang berbeda-beda. Memang bila kita lihat panduan teori bahwa MPASI terbaik ialah yang takaran gizinya cukup memenuhi kriteria MPASI 4*. Namun, tidak semua bayi berselera dengan menu 4*. 

Begitu pula dengan porsi makanan per harinya berdasarkan teori harus menghabiskan 250 ml atau 2-3 makan. Namun, tidak semua bayi bisa menghabiskan porsi sebanyak itu. Cahyaku hanya bisa menghabiskan makananya 1 sendok makan saja di awal MPASI nya. 

Awalnya aku sempat khawatir, kenapa Cahya tidak mau seperti yang disarankan teori. Kenapa ia lebih memilih MPASI tunggal bukan menu 4*, kenapa ia lebih suka MPASI pabrikan dari pada MPASI rumahan, dan mengapa makannya sedikit saja? Kalau begini bagaimana bisa naik berat badannya? 

Setelah aku renungkan, akhirnya aku sadar bahwa tidak semua teori bisa sesuai dengan kenyataan. Kita boleh saja memberikan apa yang disarankan pakar, tertulis di buku, diuji secara klinis tentang menu MPASI setiap bayi, tapi bayilah yang menentukan makanan mana yang disukai dan diminatinya. 

Nah, itulah beberapa pengalamanku ketika memulai MPASI yang menurutku tantangan dan harus diselesaikan dengan semangat dan berpikiran postif. Bagaimana dengan kamu, adakah juga menemukan tantangan saat memulai memberikan MPASI pada bayinya? Silakan berbagi pengalaman di kolom komentar.

Ini Pengalamanku Saat Pertama Kali Berbelanja dan Menyiapkan MPASI Cahaya.



The Perfect Husband

Setelah menikah
Tahun 2014, awal mula pertemuanku dengannya. Bukan hanya khusus menemuinya, melainkan karena pertemuan 25 orang pemuda Aceh dalam kegiatan Aceh Global Health Youth Forum (AGHYF). 

Pertemuan itu hanya terjadi dua kali, sehari secara in door dan satunya lagi secara out door. Paviliun Seulawah yang sekarang menjadi Hotel Grand Arabia Aceh dan lapangan bola Gampong Jawa adalah dua tempat yang menjadi pengingat dari pertemuan itu. Sedangkan tentangnya, aku tidak ingat sama sekali. 


Setahun berlalu, di bulan yang sama, yaitu Oktober 2015. Aku mendapat pesan via Twitter dari seorang peserta AGHYF. Namanya Sudarliadi, tapi aku tidak ingat bagaimana wajahnya karena memang aku tidak menyimpan memori apa-apa tentangnya. Dia ingin bertemu denganku karena ketertarikannya dengan komunitas yang sedang kubentuk. Tentu saja aku menyambutnya karena aku butuh teman-teman untuk membangun komunitas. 

Seiring waktu, aku semakin dekat dengannya karena hanya dia yang selalu ada ketika aku membutuhkan bantuan. Namun, perlakuanku padanya tetap sama dengan teman-teman yang juga ikut dalam komunitas yang sama. Bagiku, dia hanya sekadar teman komunitas. Walau beberapa teman mengatakan bahwa dia suka padaku, kuanggap angin lalu saja karena sesama teman komunitas harus menjunjung tinggi profesionalitas. 

Hingga suatu hari, pertemuan anggota komunitas yang kami rencakan tak ada satu orang pun yang datang. Satu per satu membatalkan janji karena saat itu memang hujan lebat. Hanya aku dan dia yang kebetulan datang cepat dan terjebak di Zakir Kupi tempat yang semula kami sepakati. 


Hujan membuat kami terjebak dalam berbagai topik pembicaraan, dari persoalan komunitas, teman, kuliah, keluarga, hingga perjalanan cinta. Aku merasa nyaman saja bercerita kepadanya, padahal sebelumnya aku sangat tertutup bila menceritakan urusan pribadi kepada orang lain. 

Sejak saat itu, kami pun menjadi teman dekat tepatnya di tahun 2016. Kita berjalan mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Kota Radja, seperti Gunongan, Rumoh Cut Meutia, Rumoh Aceh dan tempat-tempat menarik lainnya yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Jujur, enam tahun tinggal di Banda Aceh, aku belum pernah ke tempat itu sekali pun karena memang tidak ada teman yang cocok diajak ke sana. 



Entah kenapa berjalan bersamanya, terasa menyenangkan. Namun, itu hanya sebatas teman karena hatiku sudah diisi oleh laki-laki lain. Dia pun mengetahui hal itu, tapi tetap saja dia selalu ada untukku. 

Di depannya, aku benar-benar menjadi diriku sendiri. Tidak ada jaga image (jaim) segala ketika makan di depannya, harus berdandan cantik ketika jumpa, dan yang paling penting aku bisa tertawa lepas saat bersamanya. 

Status teman berganti sahabat di tahun 2017, tapi dia berharap sahabat dunia akhirat. Aku mengiyakan saja, asal dia mengizinkan aku memiliki sahabat yang lain atau teman dekat lelaki yang lain, bahkan pujaan hati yang lain. Baginya memberi kesempatan dekat denganku, itu sudah cukup. 

Kesempatan itu dia gunakan untuk memikat hatiku, berbagai cara dia lakukan untuk menyenangkan diriku. Bukan saja aku, tapi juga keluargaku. Dia mulai menjalin komunikasi dan hubungan baik dengan orang tuaku. 



Di saat aku wisuda ners, dia berhasil mengambil hati ibuku sehingga ibuku sangat senang kepadanya. Betapa tidak karena semua keperluan wisudaku mulai dari mengantarku ke salon, siapin papan bunga, jadi fotografer, sampai mentraktir teman-temanku dihendel olehnya. 

Uniknya hadiah darinya bukan dikasih langsung kepadaku, tapi di antar oleh kurir JNE. Kukira siapa pula yang memberiku hadiah boneka dan slempang, sampai teman-temanku bertanya-tanya hadiah dari siapa? Rupanya hadiah darinya, sehingga teman-temanku mulai curiga antara kami pasti ada apa-apanya. 

Teman-temanku banyak yang menyetujui pertemanan kami berlanjut ke tahap hubungan yang lebih serius. Terlebih ketika teman dekatnya memberi tahuku tentang perjuangannya dalam menaklukkan hatiku. Bebarapa kejadian yang kuanggap sebuah kebetulan, rupanya sudah dipersiapkan untukku. Pantas saja aku merasa ketika membutuhkan sesuatu, pasti ada dia yang datang membantuku. Ibarat superhero, dia datang di waktu yang tepat. 

Aku mengetahui bahwa dia menaruh perasaan kepadaku. Namun, aku harus jujur terhadap perasaanku karena aku berharap kepada laki-laki lain yang aku sukai sejak lama. Anehnya dia nggak mudur begitu saja setelah mendengar perkataanku. Dia tetap ingin menjadi sahabatku. 

Hingga akhirnya laki-laki yang aku suka menikah dengan orang lain. Itu sebuah kemenangan baginya karena saingan terberatnya sudah tidak ada. Mungkin Tuhan tidak memberikan apa yang kuinginkan, tapi apa yang aku butuhkan. 

Saat itu, aku masih menganggapnya sebatas sahabat yang belum melibatkan perasaan cinta. Ia menerimanya karena aku berani berkata jujur padanya. “Beri aku waktu dan kesempatan karena akan aku bangun cintamu atas dasar kepercayaan dan keterbukaan,” ujarnya padaku. 

Benar saja, tahun 2018 cinta itu mulai tumbuh. Terlebih ketika dia selalu ada untukku dan mendukung setiap aktivitasku. Aku ingat betul ketika dia merelakan rambutnya dibotakkan pada saat peringatan Hari Kanker Sedunia di bulan Februari 2018. 



Saat itu, aku sangat dekat dengan anak-anak penderita kanker dan aku pernah mengajaknya menemui mereka. Melihat kedekatanku dengan mereka dia pun ikut berpartisipasi dalam aksi solidaritas penderita kanker, yaitu turut serta membotakkan rambut demi aksi solidaritas tersebut. Tentu saja muncul perasaan haru dan senang melihat aksinya itu. 

Kemudian, di tahun yang sama tepatnya di akhir tahun 2018, dia juga rela mengorbankan rambutnya dipangkas oleh orang pascarehabilitasi kesehatan mental yang menjadi narasumber tulisanku. Waktu itu, orang tersebut sedang magang di salah satu tempat pangkas, jadi aku menyuruh sahabatku ini untuk potong rambut di tempatya. 

Aku tahu ada raut wajah khawatir ketika rambutnya ditangani oleh orang yang bukan ahlinya, terlebih orang tersebut beru selesai rehab. Namun, demi aku yang ingin mendapatkan informasi dari orang tersebut, dia pun rela melakukannya. 

Semenjak itu, aku mulai ada rasa padanya. Hmmm, rasa suka yang lebih dari sekadar sahabat, seperti rasa ingin menjadi pasangan hidupnya. Aku mengatakan perasaan itu kepadanya dan dia menyambutnya dengan sangat kegembira. “Ternyata perjuanganku selama ini sudah menemukan titik terang, tinggal menunggu cahayanya saja supaya bersinar terang,” katanya kepadaku. 

Tidak hanya itu, aku juga jujur tentang kondisi dan masalah keluargaku yang sedang dililit utang. Aku mengira dia akan mundur secara teratur karena mendengar itu semua. Ternyata dia malah ikut serta menyelesaikan masalahku itu. Aku tidak menyangka dengan penghasilannya pas-pasan dia mau mengambil tanggung jawab besar tersebut. 

Hatiku mulai sudah yakin dengannya, hingga pada 21 Februari 2019 kami pun resmi menikah. Pernikahan yang sederhana itu membuatku bahagia karena dibangun atas dasar cinta, bukan karena aku jatuh cinta padanya. Sesuai dengan baju yang pernah dia berikan kepadaku yang bertuliskan, yaitu Asyiknya, Bangun Cinta. Rupanya dia benar-benar membangunya bersamaku. 



Setelah menikah, kami hidup di sebuah rumah kontrakan kecil di Kota Radja. Memang jauh dari kata mewah dan bergelimangan harta benda, tapi bagiku hidupku mendekati sempurna mempunyai The Perfect Husband sepertinya. 

Dua bulan kami menikah, aku hamil. Sebuah karunia yang luar biasa bagi kami berdua. Namun, kondisiku yang lemah karena hamil mengharuskanku tetap tinggal bersama orang tua. Jadinya kami Long Distance Married (LDR) selama 6 bulan. 

Setelah keadaanku membaik, aku kembali hidup bersamanya di rumah kontrakan. Sejak saat itu, semua urusan domestik seperti mencuci baju dan mengurus keperluan rumah menjadi tugasnya. Walau aku tahu dia capek karena harus bekerja di kantor, tapi alhamdulillah dia tetap bertanggung jawab merawatku. 

Ketika aku melahirkan di kediaman ibu, dia mengambil cuti agar bisa mendampingiku. Inilah impiannya bisa membersamaiku di saat kelahiran putri pertama kami. Aku sangat bersyukur bisa mendapatkan suami sepertinya. 




Setelah kuingat-ingat kembali proses pertemuanku dengannya hingga sekarang dia menjadi suamiku, ternyata begitu banyak perjuangan yang dilakukannya. Aku baru sadar bahwa cinta itu hadir bukan karena kita jatuh cinta. Jatuh itu sakit karena sewaktu-waktu kita bisa saja kecewa karena cinta. 

Untuk mendapatkan cinta sejati, maka cinta itu harus dibangun atas dasar kepercayaan dan keterbukaan. Itulah yang menjadi moto kami berdua saat ini. Kepercayaan dan Keterbukaan adalah dua hal yang kami pegang teguh untuk keutuhan rumah tangga dan kebahagiaan bersama. 

Semua orang tahu, tidak ada keluarga yang sempurna. Suamiku juga tidak sempurna. Adakalanya kami berdebat, bertengkar, bahkan pernah berhenti berbicara di suatu waktu. Akan tetapi, pada akhirnya keluarga adalah keluarga dan cinta selalu ada di sana. Saling menguatkan, saling membimbing, saling mengasihi satu sama lain. 

Inilah kami. Adun, Adoe dan Cahya dalam keluarga kecil kami. Tulisan ini kupersembahkan untuk suami Perfctku yang nanti ulang tahun di tanggal 30 Juli. Semoga sehat selalu sayangku.

Untukmu Agamamu Untukku Agamaku, Tapi Aku Belajar Banyak Darimu

Perjalanan menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur dari Jakarta.

Oktober 2018 adalah pertemuan pertamaku dengan Melin, gadis dari suku Dayak Kalimantan beragama kristen. Dia seorang kristiani yang taat beragama, begitulah yang kulihat dari kepribadiannya sehari-hari. Kami dipertemukan dalam sebuah perjalanan menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur. 

Aku dan Melin adalah pemenang dari lomba video dan vlog yang dibuat oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI. Selain kami, ada dua orang lagi yang juga sebagai pemenang yaitu Mas Catur dan Saliyo yang berasal dari Jakarta dan Yogyakarta, sedangkan aku berasal dari Aceh. Kami semua berangkat dari Jakarta menuju bandara Abdul Rachman Saleh, Malang, Jawa Timur. 

Sebelum ke Malang, Aku, Melin, dan Mas Saliyo menginap satu malam di Blue Sky Hotel, Jakarta. Saat itulah aku berada satu kamar dengan Melin, gadis bermata sipit yang baru kukenal. Mulanya aku tidak menyangka Melin seorang kristiani, memang sih dia tidak menggunakan hijab (penutup kepala), tapi banyak juga muslim yang tidak menggunakan hijab. Barulah aku sadar ketika waktu masuk salat, dia tidak ikut salat denganku. 

Saat berada di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta.

“Aku beribadah di hari minggu,” katanya dengan senyum, ketika aku mengajaknya salat. 

Aku baru ingat saat bersalaman tadi dengannya, dia tidak menjawab salamku dengan mengucapkan waalaikumusalam, tapi salam sejahtera. Betapa lugunya aku menyamakan semua orang dan mengucapkan Assalamualaikum pada setiap orang. 

“Inikan Jakarta, bukan Aceh,” cercaku dalam hati. 

Belajar Toleransi 

Sebagai seorang muslim, aku selalu menjaga waktu salat. Namun, ada yang menggugah hatiku ketika Melin mengingatkanku salat dan langsung mematikan televisi yang sedang menyala. Hal yang jarang kutemukan meskipun sesama kawan muslim, biasanya mereka hanya mengecilkan suara televisi yang menyala saat aku sedang salat, tapi Melin langsung mematikannya. 

Aku sadar betapa indahnya toleransi itu bila kita saling memahami. Setiap kali aku salat di kamar, Melin tidak pernah menghidupkan televisi atau berbicara melalui telpon. Bahkan ketika kami menginap di Bukit Lawang, Melin mengizinkanku salat di tempat tidur karena kondisi kamar kami yang sempit dan penuh dengan tumpukan barang. 

Pada malam itu, aku dan Melin memutuskan untuk makan di sebrang hotel karena ingin melihat suasana Jakarta di malam hari. Lalu lalang kendaraan bermotor cukup padat sehingga kami kesulitan untuk menyebrang. Tiba-tiba ada mobil yang berhenti dan memberikan jalan untuk kami menyebrang. Sesampainya di sebrang Melin menundukkan kepala sambil menyatukan dua tangannya kepada pengemudi mobil tersebut sebagai ucapan terima kasih. 

Aku sedikit kaget dengan perilaku yang ditunjukkan Melin, jarang-jarang ada orang yang melakukan hal ini layaknya orang Jepang. Kemudian kami pun masuk ke salah satu restauran untuk makan malam. Ketika makanan dihidangkan kepada kami berdua, aku membaca bismillah dan langsung menyantap makanan dengan lahap. Sedangkan Melin berdoa dengan caranya sambil menutup mata dan menggenggam kedua tangannya. 

Melihat dirinya yang begitu khusyuk berdoa sebelum makan, aku pun teringat pelajaran saat duduk di bangku kanak-kanak dulu. Sebelum makan kami diwajibkan membaca doa makan sambil mengadahkan kedua tangan, tapi ketika dewasa jarang aku lakukan. Biasanya hanya dengan membaca bismillah, aku langsung makan bahkan ketika sangat lapar aku lupa membaca bismilllah. Betapa malunya aku dengan sikapku yang sangat terburu-buru saat makan. Sedangkan Melin membaca doa sesuai agamanya lalu mengucapkan selamat makan kepadaku sebelum menyantap makananku. 

Ketika berada di Bukit Cinta TNBTS, Jawa Timur.
Betapa indahnya toleransi itu.

Selama perjalanan kami hingga sampai ke Bromo setiap waktu makan, Melin melakukan hal yang sama. Berdoa dengan waktu yang lama dan mengucapkan selamat makan ketika hendak makan. Aku pun termotivasi untuk membaca doa makan sebagaimana yang kupelajari dulu saat kecil. Kebiasaan Melin, berimbas kepadaku sehingga setiap kali hendak makan, aku berdoa dulu dengan membaca doa makan sambil mengadahkan kedua telapak tangan seperti ajaran agamaku. 

Pelajaran lainnya yang kudapat dari Melin ialah membaca kitab. Biasanya seusai salat subuh aku membiasakan diri membaca satu halaman Al-quran, tapi saat melakukan perjalanan tersebut aku lupa membawa Al-Quran. Sedangkan Melin membaca Al-kitab setiap subuh sebelum ia beraktivitas. Dari situ aku muncul perasaan malu, kenapa benda yang seharusnya ada menyertai perjalananku justru aku melupakannya. 

Selama empat hari perjalananku keliling Kota Malang dan TNBTS, Melin teman yang sangat menyenangkan bahkan dia mau menungguku salat ketika hendak bepergian. Dia orang yang pertama kali mengucapkan Puji Tuhan ketika melihat indahnya sunrise di Bukit Cinta dan alam TNBTS. Perjalananku saat itu adalah perjalanan terjauhku dan terkenang selama masa hidupku.

Sama-sama baru pertama kali datang ke ibukota Jakarta, begitu excitednya kami mengunjungi Monas
Walau hanya bisa foto doang yang cuma beberapa menit.