Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan

5 Destinasi Wisata di Malang yang Menarik Dikunjungi Setelah Pandemi Covid-19 Berakhir



Siapa sih yang nggak bosan terlalu lama berada di rumah? Apalagi hanya melakukan aktivitas yang menoton dan berinteraksi dengan orang itu-itu saja. Stres pun tidak jauh-jauh datang menghampiri, masalah kecil dibesar-besarkan hingga memicu pertengkaran. 

Ingin rasanya terbang bebas ke luar sana seperti para burung, hilir mudik tanpa rasa bersalah. Namun, situasi saat ini tidak memungkinkan kita berpergian jauh karena terhambat dengan pandemi Covid-19 yang mengharuskan semua orang tetap berada di rumah. Jadwal liburan pun harus ditunda dan banyak acara yang batal akibat pandemi Corona

Semua orang berharap pandemi ini cepat berakhir agar aktivitas berjalan seperti semula. Para tenaga medis tidak perlu lagi mengenakan pakaian power rangers nya saat melayani pasien. Anak-anak bisa kembali bersekolah, dan travelers bisa traveling lagi mengunjugi destinasi wisata menarik yang sempat tertunda. 

Seperti aku yang sangat merindukan traveling. Terakhir aku melakukan traveling ke Medan bersama pasangan halalku dua bulan setelah kami menikah. Tepatnya di bulan April 2019, kami mengunjungi beberapa objek wisata di Medan dan menginap di ReDdorz Setia Budi Kota Medan. 

Menginap di RedDoorz bersama pasangan halalku saat liburan di Medan

Sepulang dari liburan tersebut, aku pun hamil yang mengharuskanku tetap berada di rumah karena kondis tubuhku yang lemah. Hampir setahun lamannya aku di rumah saja sehingga membuatku rindu untuk melakukan perjalanan dan berwisata ke tempat-tempat yang menarik.

Setelah melahirkan pada 5 Februari 2020 lalu, aku ingin traveling untuk menghilangkan rasa jenuhku. Namun, sayangnya harus ditunda karena pandemi Covid-19 sedang merajalela. Aku pun harus memperpanjang masa karantinaku sampai waktu pandemi ini berakhir. 

Merindukan Wisata di Malang 


Pada bulan Oktober 2018, aku pernah mengunjungi kota dingin Malang. Saat itu, aku pergi dengan dua orang karyawan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan para pemenang lomba vlog. Aku salah satu pemenang lomba vlog yang dibuat oleh KLHK dan kami pun dibawa mengunjungi Balai Taman Nasional Bromo Tangger Semeru (BTNBTS). 

Selain itu, kami juga dibawa ke beberapa tempat wisata menarik di Malang. Ah, rasanya ingin kembali lagi mengunjungi tempat-tempat itu bersama pasangan halalku yang kusebut Adun dan putri kecil kami, Cahya. 

Dari sekian banyak destinasi wisata yang ada di Malang, ada lima destinasi yang begitu berkesan bagiku sampai aku merindukannya untuk datang lagi ke sini. Berikut lima destinasi wisata di Malang yang menarik dikunjungi setelah Pandemi Covid-19 berakhir.

1. Melihat sunrise di Bukit Cinta Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru 

Menikmati destinasi wisata di Bukit Cinta BTNBTS

Setibanya di Kota Malang, kami menuju hotel di Malang tepatnya di Jl. Raya Tulusayu 171 Tulus Besar Tumpang, Kota Malang. Kami tiba di situ pada sore harinya dan bermalam semalam karena subuhnya harus pergi menuju Bukit Cinta di BTNBTS. 

Untuk melihat sunrise di Bukit Cinta, kita harus pergi sesebuh mungkin agar tidak ketinggalan momen saat matahari terbit. Kami berangkat tepat pukul 02.00 WIB dan melakukan perjalanan sekitar satu jam melewati jalan berbukit dan berbatu menuju tempat tersebut. 

Sesampainya di Bukit Cinta, aku melihat kerumunan orang lengkap dengan pakaian tebal dan kupluk di kepala. Mereka semua merupakan wisatawan yang sedang menunggu kedatangan sunrise. Kami pun berbaur dengan para wisatawan yang datang dari berbagai daerah, bahkan ada yang dari luar negeri. 

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya yang ditunggu pun datang. Seberkas cahaya terang muncul dibalik gunung api yang disebut Bromo. Sedikit demi sedikit cahaya itu merangkak meninggi hingga memperlihatkan seluruh bagiannya. Momen ini begitu menakjubkan bagiku karena ini kali pertama aku melihat matahari sangat indah yang dinantikan banyak orang kehadirannya. 

Setelah matahari tampak dengan sempurna, aku bisa berfoto dengan latar Gunung Bromo lengkap dengan kupluk di kepala dan mengenakan baju tebal seperti di luar negeri pada musim salju

Padahal matahari yang kulihat saat aku berada di kampungku sama dengan matahari yang kulihat di Bukit Cinta BTNBTS. Hanya saja ini terlihat lebih mengagumkan sehingga banyak orang yang jauh-jauh datang kemari sekadar melihat sunrise

Aku pun sangat merindukan momen ini lagi, berharap suatu saat bisa datang kemari dengan keluarga kecilku menyaksikan langsung sunrise di Bukit Cinta BTNBTS. 

Baca juga tentang Menunggu Sunrise di Bukit Cinta Bromo Tengger Semeru 


2. Menanam bunga edelweiss di Taman Edelweiss Hulun Hyang 


Destinasi wisata berikutnya yang bisa kamu lakukan ialah menanam bunga edelweiss di Taman Edelweiss Hulun Hyang. Tepatnya berada di Desa Wonokitri, Tosari, Pasuruan, Jawa Timur. 

Di tempat ini terdapat taman bunga edelweiss yang dikelola oleh kelompok tani Hulun Hyang. Bunga yang dekenal sebagai bunga abadi ini ternyata tidak bisa sembarangan diambil dan dibawa pulang karena bunga ini termasuk salah satu bunga langka yang dilindungi. 

Selain itu, bunga ini mempunyai nilai religius dalam melakukan upacara adat bagi masyarakat setempat. Jadi, bagi yang menginginkan bunga ini harus menanamnya terlebih dahulu. 

Bunga edelweiss yang kami tanam saat berkunjung ke Taman Edelweiss Hulun Hyang

Aku dan beberapa temanku, sempat menanam bunga edelweiss di Taman Hulun Hyang saat berkunjung kemari. Setahun setelahnya, aku mendapat kabar dari salah seorang petani yang bernama Mas Suherman bahwa bunga edelweiss yang kutanam sudah berbunga. 

Dia pun mengirimkan paket bunga edelweiss bersama sertifikat kepemilikan bunga tersebut tepat sehari sebelum resepsi pernikahanku. Ini merupakan kado terindah bagiku.

Bunga edelweiss dari hasil tanamanku
Aku pun sangat ingin melihatnya langsung bunga edelweiss yang kutanam itu bersama keluarga kecilku. Semoga Allah memberi kesempatan bagiku untuk mengunjunginya lagi. Amin.

Baca juga tentang Menanam Edelweiss untuk Mengabadikan Cinta 


3. Menaiki Kuda menuju Cekungan Gunung Bromo 


Sesampainya di BTNBTS tentunya kita ingin melihat bentuk Cekungan Gunung Bromo dari dekat. Jadi, kita harus melewati padang pasir sekitar sekitar 2 kilometer dari tempat parkiran menuju Cekungan Gunung Bromo. 

Di sini disediakan beberapa kuda sebagai alat transportasi yang membawa kita ke Cekungan Gunung Bromo. Tentunya harus mengeluarkan biaya untuk menyewa kuda tersebut. Namun, bagiku yang belum pernah menaiki kuda, ini merupakan pengalaman yang cukup berkesan karena bisa menunggangi kuda layaknya seorang panglima perang. 

Untuk melihat cekungan Gunung Bromo, kita harus menaiki ratusan anak tangga hingga tiba di cekungan besar yang mengeluarkan suara dengungan seperti angin kencang. Aku merasa ngeri saat berjalan di pinggir cekungan tersebut walau ada pembatas. Namun, rasa ngeri itu segera berlalu saat meilhat betapa indahnya sunset dilihat dari atas Gunung Bromo. 

Susana sunset di atas Gunung Bromo

Lagi dan lagi aku sangat merindukan momen ini dan ingin datang kemari bersama keluarga kecilku. Pasti rasanya jauh lebih indah dari kunjungan sebelumnya. 

4. Manikmati keindahan alam Coban Trisula 


Setelah puas menikmati keindahan alam Gunung Bromo, aku dan teman-temanku diajak ke kawasan Coban Trisula, Kabupaten Malang. Kawasan ini masih berada di BTNBTS, tapi kali ini kami mengujungi air terjun bernama Coban Trisula. 

Tempatnya berada di tengah hutan yang sangat asri dikelilingi oleh pohon menjulang tinggi. Untuk menuju Coban Trisula, kita harus menuruni ratusan anak tangga karena air terjunnya berada di lembah. 

Di sini kita bisa menghirup udara segar dan menyaksikan berbagai macam jenis burung yang berlalu lalang hingap dari satu pohon ke pohon lainnya. Walau terasa penat kaki ini berjalan menuruni satu persatu anak tangga, tapi semua itu akan segera hilang ketika melihat air terjun Coban Trisula. 

Kita pun bisa merendam kaki atau mandi di bawah pancuran air terjun setinggi kurang lebih 30 meter. Jangan tanya bagaimana sejuk airnya, pastinya bisa menghilangkan dahaga dan rasa penat di kaki. Sungguh keindahan alam yang begitu menawan. 

Air Terjun Coban Trisula

5. Bermain di Taman Coban Rais, Batu Flower Garden 


Selain destinasi wisata alam yang berada di sekitar BTNBTS, kamu juga bisa menikmati destinasi wisata buatan yang berada di Taman Coban Rais atau yang dikenal dengan Batu Flower Garden. 

Di sini terdapat berbagai macam wahana permainan dan spot foto yang instagramable banget. Beruntung kami kemari dibiayai oleh KLHK, jadi bisa menikmati bermacam wahana permainan sesuka hati. 

Aku mencoba menaiki sepeda gantung, hammock flying, ayunan ekstrim, dan beberapa wahana lainnya. Asyikya setiap wahana ada tukang fotonya yang sedia mengambil momen indah saat kita menggunakan wahana permainan tersebut. Jadi, bisa sebagai dokumentasi untuk diposting di akun media sosial, tentunya foto-foto ini instagramable banget. 




Tempat ini tentu sangat asyik bila aku kunjungi bersama keluarga kecilku. Aku bisa mendokumentasikan momen bahagiaku saat berada di Batu Flower Garden, apalagi dengan adanya Cahya putri kecil semata wayangku pasti lebih seru lagi. Ya Allah, semoga aku bisa kemari lagi suatu saat. 

Rencana liburan ke Malang 

Setelah berakhirnya masa pandemi Covid-19 ini, aku berencana mengunjungi Kota Malang dengan keluarga kecilku. Tentunya untuk menikmati destinasi wisata yang pernah kukunjungi dulu bersama teman-temanku. 

Kali ini, aku akan berlibur bersama suami dan anakku di kota dingin ini. Untuk menghemat biaya, aku mencari hotel murah di Malang. Pilihanku jatuh kepada RedDoorz, walupun murah tapi tidak murahan karena fasilitas yang tersedia lengkap dan nyaman. Cocoklah buat keluarga kecilku. 


Dulu aku juga pernah menginap di RedDoorz saat berlibur di Medan. Aku tekesan dengan kemudahan fasilitas yang diberikan RedDoorz. Lokasi penginapan ini pun tersedia di berbagai tempat sehingga kami bisa menyesuaikan dengan jarak terdekat dengan destinasi wisata yang kami kunjungi, jadi bisa lebih hemat karena jarak dari penginapan dan objek yang kami kunjungi bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki. 

Selain itu, tarif permalamnya cukup murah, yaitu mulai dari Rp99 ribu lumayanlah bisa terjangkau dengan fasilitas yang memadai. Bagiku yang paling penting hotel ini dilengkapi dengan WiFi, kamar tidur dan kamar mandi yang bersih sehingga aku bisa nyaman beristirahat melepaskan lelah setelah puas jalan-jalan. 

Recanaku nanti sesampainya di Malang, aku juga menginap di RedDoorz yang ada di sana. Aku mencari RedDoorz terdekat dengan destinasi wisata yang akan kukunjungi. Pilihanku jatuh ke RedDoorz Bromo Tosari karena lokasinya dekat dengan TNBTS dan destinasi wisata yang akan aku kunjungi.



Asyiknya lagi, aku bisa pesan kamar secara online sebelum aku tiba ke Kota Malang. Jadi, setibanya di Malang aku bisa langsung chekin di penginapan tanpa sibuk-sibuk lagi mencari penginapan murah. Tentunya untuk menghemat waktu dan uang juga, apalagi nanti aku membawa balita di liburan kali ini. Semua harus terencana dan dipersiapkan secara matang. 

Semoga rencanaku berlibur ke Malang setelah masa pandemi ini bisa kesampaian ya. Mohon doanya semua agar pandemi Covid-19 segera berlalu dan kita bisa beraktivitas seperti semula. 

Nah, bagi kamu yang juga tertarik mengunjungi Kota Malang setelah masa karantina ini berkahir, silakan coba menikmati lima destinasi menarik di atas ya. Aku jamin, kamu pasti akan merindukannya lagi untuk bisa kembali ke tempat tersebut. 

Selamat datang di Malang



Untukmu Agamamu Untukku Agamaku, Tapi Aku Belajar Banyak Darimu

Perjalanan menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur dari Jakarta.

Oktober 2018 adalah pertemuan pertamaku dengan Melin, gadis dari suku Dayak Kalimantan beragama kristen. Dia seorang kristiani yang taat beragama, begitulah yang kulihat dari kepribadiannya sehari-hari. Kami dipertemukan dalam sebuah perjalanan menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur. 

Aku dan Melin adalah pemenang dari lomba video dan vlog yang dibuat oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI. Selain kami, ada dua orang lagi yang juga sebagai pemenang yaitu Mas Catur dan Saliyo yang berasal dari Jakarta dan Yogyakarta, sedangkan aku berasal dari Aceh. Kami semua berangkat dari Jakarta menuju bandara Abdul Rachman Saleh, Malang, Jawa Timur. 

Sebelum ke Malang, Aku, Melin, dan Mas Saliyo menginap satu malam di Blue Sky Hotel, Jakarta. Saat itulah aku berada satu kamar dengan Melin, gadis bermata sipit yang baru kukenal. Mulanya aku tidak menyangka Melin seorang kristiani, memang sih dia tidak menggunakan hijab (penutup kepala), tapi banyak juga muslim yang tidak menggunakan hijab. Barulah aku sadar ketika waktu masuk salat, dia tidak ikut salat denganku. 

Saat berada di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta.

“Aku beribadah di hari minggu,” katanya dengan senyum, ketika aku mengajaknya salat. 

Aku baru ingat saat bersalaman tadi dengannya, dia tidak menjawab salamku dengan mengucapkan waalaikumusalam, tapi salam sejahtera. Betapa lugunya aku menyamakan semua orang dan mengucapkan Assalamualaikum pada setiap orang. 

“Inikan Jakarta, bukan Aceh,” cercaku dalam hati. 

Belajar Toleransi 

Sebagai seorang muslim, aku selalu menjaga waktu salat. Namun, ada yang menggugah hatiku ketika Melin mengingatkanku salat dan langsung mematikan televisi yang sedang menyala. Hal yang jarang kutemukan meskipun sesama kawan muslim, biasanya mereka hanya mengecilkan suara televisi yang menyala saat aku sedang salat, tapi Melin langsung mematikannya. 

Aku sadar betapa indahnya toleransi itu bila kita saling memahami. Setiap kali aku salat di kamar, Melin tidak pernah menghidupkan televisi atau berbicara melalui telpon. Bahkan ketika kami menginap di Bukit Lawang, Melin mengizinkanku salat di tempat tidur karena kondisi kamar kami yang sempit dan penuh dengan tumpukan barang. 

Pada malam itu, aku dan Melin memutuskan untuk makan di sebrang hotel karena ingin melihat suasana Jakarta di malam hari. Lalu lalang kendaraan bermotor cukup padat sehingga kami kesulitan untuk menyebrang. Tiba-tiba ada mobil yang berhenti dan memberikan jalan untuk kami menyebrang. Sesampainya di sebrang Melin menundukkan kepala sambil menyatukan dua tangannya kepada pengemudi mobil tersebut sebagai ucapan terima kasih. 

Aku sedikit kaget dengan perilaku yang ditunjukkan Melin, jarang-jarang ada orang yang melakukan hal ini layaknya orang Jepang. Kemudian kami pun masuk ke salah satu restauran untuk makan malam. Ketika makanan dihidangkan kepada kami berdua, aku membaca bismillah dan langsung menyantap makanan dengan lahap. Sedangkan Melin berdoa dengan caranya sambil menutup mata dan menggenggam kedua tangannya. 

Melihat dirinya yang begitu khusyuk berdoa sebelum makan, aku pun teringat pelajaran saat duduk di bangku kanak-kanak dulu. Sebelum makan kami diwajibkan membaca doa makan sambil mengadahkan kedua tangan, tapi ketika dewasa jarang aku lakukan. Biasanya hanya dengan membaca bismillah, aku langsung makan bahkan ketika sangat lapar aku lupa membaca bismilllah. Betapa malunya aku dengan sikapku yang sangat terburu-buru saat makan. Sedangkan Melin membaca doa sesuai agamanya lalu mengucapkan selamat makan kepadaku sebelum menyantap makananku. 

Ketika berada di Bukit Cinta TNBTS, Jawa Timur.
Betapa indahnya toleransi itu.

Selama perjalanan kami hingga sampai ke Bromo setiap waktu makan, Melin melakukan hal yang sama. Berdoa dengan waktu yang lama dan mengucapkan selamat makan ketika hendak makan. Aku pun termotivasi untuk membaca doa makan sebagaimana yang kupelajari dulu saat kecil. Kebiasaan Melin, berimbas kepadaku sehingga setiap kali hendak makan, aku berdoa dulu dengan membaca doa makan sambil mengadahkan kedua telapak tangan seperti ajaran agamaku. 

Pelajaran lainnya yang kudapat dari Melin ialah membaca kitab. Biasanya seusai salat subuh aku membiasakan diri membaca satu halaman Al-quran, tapi saat melakukan perjalanan tersebut aku lupa membawa Al-Quran. Sedangkan Melin membaca Al-kitab setiap subuh sebelum ia beraktivitas. Dari situ aku muncul perasaan malu, kenapa benda yang seharusnya ada menyertai perjalananku justru aku melupakannya. 

Selama empat hari perjalananku keliling Kota Malang dan TNBTS, Melin teman yang sangat menyenangkan bahkan dia mau menungguku salat ketika hendak bepergian. Dia orang yang pertama kali mengucapkan Puji Tuhan ketika melihat indahnya sunrise di Bukit Cinta dan alam TNBTS. Perjalananku saat itu adalah perjalanan terjauhku dan terkenang selama masa hidupku.

Sama-sama baru pertama kali datang ke ibukota Jakarta, begitu excitednya kami mengunjungi Monas
Walau hanya bisa foto doang yang cuma beberapa menit.


Lima Kamera Mirrorles dengan Hasil Foto yang Menakjubkan

Kamera Mirrorles pilihan traveler
Sumber foto dari dokumen pripadi

Bagi kamu yang suka traveling, tentu ingin mengabadikan objek yang kamu kunjungi dengan bidikan kamera. Entah itu menggunakan kamera handphone atau dengan kamera canggih seperti mirrorles dan digital single lens reflex (DSLR). Bahkan tak jarang demi mendapatkan hasil foto yang bagus, ada orang yang rela berinvestasi dengan membeli kamera tersebut. 

Hasil foto yang menakjubkan dapat digunakan untuk keperluan lain, entah itu sebagai penunjang tulisan tentang objek yang ada di dalam foto atau bisa dijadikan sebagai karya seni yang bisa diperjual belikan. Kamera merupakan benda yang paling berperan dalam menghasilkan foto menakjubkan tersebut. 

Seorang fotografer lebih suka menggunakan kamera DSLR
Sumber foto dari dukumen suami

Hasil foto dari kamera DSLR tidak diragukan lagi kualitasanya karena bekerja menggunakan sistem digital penuh dan dibantu dengan pencahayaan yang memanfaatkan lensa dan viewfinder. Namun, kali ini aku tidak membahas kamera yang satu ini karena biasanya traveler malas membawa kamera berukuran besar seperti kamera DSLR. 

Oleh karena itu, butuh kamera yang lebih simple, ringan, kecil, dan mudah dibawa ke mana-mana seperti kamera mirrorles. Nah, berikut pilihan kamera mirrorles yang bisa menjadi rekomendasi buat kamu. 

1. Canon EOS M100 

Sumber : pocket-lint.com

Kamera Canon EOS M100 merupakan salah satu kamera yang cocok digunakan untuk kegiatan travelling. Kamera mirrorles ini didesain dengan ukuran yang simple dan ringan serta dibekali teknologi modern. 

Lebih detailnya kamera ini dibekali dengan sensor CMOS beresolusi 24.2 MP, shutter speed 1/4000 to 30 sec, built-in, hingga rentang ISO yang dimilikinya mencapai 25600. Wow, keren ya. Hasilnya pasti menakjubkan tentunya. 

Untuk harganya kamera mirrorles canon EOS M100 ini dibanderol dengan harga 7,5 juta rupiah. Bagi kamu yang ingin punya kamera ini, dari sekarang sudah bisa menabung lo. 

2. Sony Alpha A6000 

Sumber : pocket-lint.com

Kamera mirrorles yang satu ini banyak dicari oleh para fotografer karena memiliki desain yang klasik dan unik. Cocok ni buat kamu yang menyukai gaya tempo dulu. 

Selain itu, mirrorles ini juga dilengkapi dengan sensor CMOS yang resolusinya mencapai 24 MP, shutter speed 1/4000 to 30 sec, built-in flash, hingga memiliki rentang ISO yang mencapai 25600. Harga yang ditawarkan untuk kamera Sony Alpha A6000 ini berkisar sekitar delapan jutaan. 

3. Fujifilm X-A5 

Sumber : pcmag.com

Fujifilm X-A5 memiliki desain pada bodi yang berbahan logam dikombinasikan dengan kulit sintetis, sedangkan untuk tampilannya sendiri kamera mirrorles Fujifilm X-A5 ini bertemakan klasik sehingga membuatnya unik. 

Tentunya spesifikasi dari Fujifilm X-A5 tidak kalah berbeda dengan kamera lainnya yakni dilengkapi dengan sensor CMOS beresolusi 24.2 MP, shutter speed 1/4000 hingga mencapai 4 second, built-in flash, dan rentang ISO yang dimilikinya bisa mencapai 12800(Extendable 100, 25600, 51200). Harga yang ditawarkan untuk bisa memiliki mirrorless ini kamu hanya perlu mempersiapkan uang sekitar sembilan juta rupiah. 

4. Canon EOS M50 

Sumber : pcmag.com

Buat kamu yang menggeluti bidang konten kreator produksi video, mirrorless Canon EOS M50 ini sangat cocok untuk menjadi pilihan. Karena dengan menggunakan kamera mirrorles ini kamu akan mendapatkan hasil rekaman video beresolusi 4K. 

Tidak hanya itu, kamera ini juga dilengkapi dengan sensor CMOS beresolusi 24.1 MP, shutter speed 1/4000 sampai 30 second, built-in flash dan rentang ISO yang dimilikinya berkisar 100 hingga mencapai 25600. Kamu bisa mendapatkan kamera Canon EOS M50 dengan kisaran harga sebelas juta rupiah. 

5. Sony Alpha A6300 

Sumber : techradar.com

Nah, buat kamu yang sudah profesional dalam bidang fotografer kamera ini sangat cocok menjadi pilihan. Karena kamera mirrorless Sony Alpha A6300 ini memiliki fitur-fitur modern sehingga hasil fotografi kamu akan lebih maksimal. 

Kamera ini dilengkapi dengan sensor CMOS beresolusi 24.2 MP, shutter speed 1/4000 hingga 30 second, built-in flash dan rentang ISO yang dimilikinya mulai dari 100 hingga mencapai 51200. Kamu bisa mendapatkan kamera mirrorles Sony Alpha A6300 ini dengan kisaran harga 13 juta rupiah, sebanding lah ya dengan spesifikasi yang dibawanya. 

Itulah lima kamera mirrorles performa terbaik dengan harga bermacam-macam sesuai spesifikasinya. Tertarik untuk memiliki salah satu diantaranya? Yuk, mulai menabung dari sekarang. 

Traveling ke Jogja di Bulan Juli

Candi Prambanan di Yogyakarta
Sumber foto: Reddoorz.com

Sudah menjadi kebiasaan setiap tahunnya, aku membuat resolusi traveling ke daerah-daerah yang menjadi tujuan wisataku. Pada tahun 2015 lalu, aku membuat resolusi traveling ke Yogyakarta (Jogja), tepatnya pada bulan Oktober. Rupanya Allah berkehendak lain, aku justru diterbangkan ke Semarang dalam sebuah kegiatan kepemudaan, kemudian ke Palembang, dan ke Malang di tahun berikutnya.


Namun, tujuan ke Jogja belum juga terealisasi hingga sekarang. Padahal aku sangat berharap bisa berkunjung ke daerah yang diistimewakan ini, sama halnya seperti daerahku yaitu Aceh. Banyak tempat yang ingin aku kunjungi di sana, terutama Keraton Jogja yang merupakan tempat kesultanan dan mempunyai banyak sejarah. Sayangnya aku hanya bisa mendengar ceritanya dari si dia yang kini telah menjadi suamiku.



Pada tahun 2016 lalu, dia diundang ke sebuah pelatihan Fasilitator Kesetaraan Gender untuk Keluarga, mewakili Aceh di Yogyakarta. Aku yang saat itu masih menjadi teman dekatnya mengantarkannya ke Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Aceh. Di subuh buta itu, aku melepaskan kepergiannya menggunakan Pesawat Garuda menuju kota yang menjadi terget destinasi wisataku.

Di Bandara Sultan Iskandar Muda Aceh

Sebelum dia pergi, aku sempat menitipkan pesan agar nantinya menyebut namaku dan berdoa agar aku juga bisa pergi ke Jogja. Dia pun berjanji suatu saat akan membawaku ke tempat yang penuh kisah dan cerita ini, bila aku telah menikah dengannya. Di sinilah tujuan bulan madu kami nantinya, tempat yang menjadi target travelingku selama ini.

Jogja Kota Romantis 

Aku memang belum pernah ke Jogja, tapi beberapa tulisan yang mengulas tentang Jogja pernah kubaca. Seperti artikel-artikel yang ada di blog.Reddorz.com membuatku semakin semangat untuk berkunjung ke Jogja. Di tempat ini banyak destinasi yang bisa dikunjungi dan sangat romantis bila didatangi bersama pasangan.

Tempat romantis di hotel tempat menginapnya

Dulu, saat si dia datang kemari, dia banyak menceritakan tempat tempat yang dikunjunginya kepadaku. Dia menginap di hotel dekat Keraton Jogja yang tidak terlalu jauh dari Bandara Adisujipto. Hotel tersebut mempunyai ciri khas kerato Jawa, di mana banyak patung-patung gajah dan manusia di sekelilingnya. Pepohonan yang rimbun nan hijau menambah keasrian tempat ini. Apalagi disambut dengan pelayan hotel yang menggunakan baju khas Jawa, membuat takjub setiap tamu yang datang menginap di tempat itu. 

“Berasa seperti berada pada zaman dahulu. Aku langsung teringat sama kamu karena pasti akan lebih romantis lagi bila kita bisa menginap di tempat ini bersama,” katanya kepadaku via telpon.
"Bila kau ada di sini akan kusematkan bunga ini di telingamu"
Dia pun mengambil beberapa spot foto yang kemudian dikirimkannya kepadaku melalui pesan Whats App. Aku hanya bisa berharap suatu saat bisa datang ke tempat itu dan menikmati indahnya Kota Jogja bersamanya.

Dikarenakan waktunya hanya empat hari di sana, dia cuma bisa mengunjungi beberapa tempat terdekat di sela-sela waktu kosong jadwal pelatihan. Salah satunya ialah Candi Prambanan. Dia juga menceritakan bagaimana indahnya candi ini dan cerita dibalik kemegahan candi yang dipersembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu yaitu Brahmana, Wishnu, dan Siwa.

Dia mengatahui aku sangat menyukai tempat yang mempunyai banyak sejarah dan cerita seperti Candi Prambanan. Makanya, dia menyasar tempat ini agar bisa menjadi cerita yang dibawa pulang untukku. Kemudian dia menuliskan pesan di kertas agar suatu saat aku dan dia bisa jalan-jalan kemari.

Semoga harapan itu terwujud di tahun 2019


Traveling dan Bulan Madu di Jogja

Dua tahun setelah itu, akhirnya aku menikah dengannya, tepatnya pada 21 Februari 2019. Kami pun mulai menyusun resolusi bersama di tahun 2019. Targetnya masih sama, yaitu Yogyakarta, tempat yang menjadi incaranku selama ini.

Alasanku kemari tidak lain untuk menikmati keindahan dan sejarah kota yang menjadi tempat kesultanan Jogja dan menebus janji yang pernah diucapkannya kepadaku. Kami rencana akan kemari pada bulan Juli, satu bulan setelah acara resepsi pernikahan kami nanti di bulan Juni 2019.

Bulan yang bertepatan dengan kelahirannya, yaitu pada tanggal 30 Juli. Kami akan ke sana pada minggu ke tiga pada bulan Juli dan bulan madu selama satu minggu sambil merayakan hari ulang tahunnya. Kami akan pergi ke beberapa tempat yang telah menjadi daftar tujuan kami saat berada di Jogja.
Keraton Jogja target utama destinasi wisataku
Sumber foto: Reddoorz.com

Tempat yang menjadi target utama kami ialah Keraton Jogja, Candi Prambanan, Benteng Vredenbug, dan Taman Sari. Jadi, dari sekarang kami mulai mempersiapkannya agar rencana kami bisa terwujud dan resolusi traveling tahun 2019 ke Yogyakarta tercapai.

Oleh karena itu, aku dan suami banyak mencari tahu informasi seputaran Jogja dan apa saja yang perlu dipersiapkan saat traveling bersama pasangan di sana. Untungnya informasi itu bisa ditemukan di Reddoorz. Berbagai tip menarik dan tujuan destinasi wisata seputaran Jogja bisa ditemukan di sini sehingga menambah referensi kami.

Begitu juga dengan penginapan yang ada di sana. Nantinya kami akan menginap di hotel dekat Keraton Jogja biar aku mudah datang berkunjung ke sana. Setelah dicari-cari menggunakan Reddoorz, rupanya di sini menyediakan informasi dengan harga penginapan mulai dari Rp99.000. Kami pun bisa menyesuaikannya dengan keuangan kami dan suasana hotel yang kami inginkan. Apalagi tujuannya kami kemari kan bulan madu. Hehehe.

Mudah banget mencari penginapan di sini
Lagi, lagi sangat terbantu dengan layanan yang diberikan Reddoorz karena ada garansi disediakannya seperti televisi, air mineral, WiFi gratis, linen bersih, kamar mandi bersih, dan tersedia perlengkapan mandi. Jadi, tidak perlu khawatir lagi sesampainya di penginapan karena tempatnya sudah dijamin nyaman.

Semoga tujuan traveling kami ke Jogja sambil bulan madu tercapai, mohon doanya ya teman-teman. Insyaallah bila resolusi ini tercapai, akan banyak lagi tulisan yang bisa kuceritakan tentang perjalanan kami selama di Jogja.