Tampilkan postingan dengan label Eco Blogger Squad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eco Blogger Squad. Tampilkan semua postingan

Bagaimana Indonesia Maju Kalau Karhutla Terus Melaju

Petugas Pemadam Kebakaran hormat kepada bendera merah putih 
sebelum memadamkan api. Sumber Foto Antaranews.com 

Sudah 78 tahun Indonesia merdeka, tapi rasa-rasanya hutannya semakin berkurang. Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), tak henti-hentinya terjadi bahkan setiap tahun sudah menjadi lingkaran setan. Ada kemungkinan unsur kesengajaan dengan alasan ingin membuka lahan untuk perindustrian. Kebanyakan sasarannya ialah lahan gambut yang kemudian dibakar, dikeringkan dengan maksud alih fungsi lahan.

Hanya saja cara pemanfaatan seperti ini berisiko terjadinya Karhutla. Akibat dari kebakaran itu, bisa melepaskan emisi karbon ke udara yang meningkatkan pemanasan global, kemarau kering dan panjang sehingga membuat cuaca tidak menentu. Kamu bisa rasakan dampaknya sekarang betapa amburadulnya cuaca yang kian tidak menentu. Hari-hari semakin panas saja ibarat tinggal di gurun sahara. Sungguh berbanding terbalik dengan keadaan Indonesia yang dulunya subur dipenuhi hutan raya, kini di kemerdekaannya yang ke-78 dipenuhi Karhutla. Bagaimana bisa maju kalau keadaan lingkungan kita tidak baik-baik saja?

Peran Penting Lahan Gambut

Mungkin belum banyak yang tahu betapa besar pengaruh lahan gambut untuk menyokong kehidupan kita, sehingga ketika adanya kebakaran lahan gambut dianggap persoalan biasa. Padahal, bila kamu mengetahui betapa pentingnya lahan gambut ini, kamu jadi orang yang terdepan mencegah terjadinya kebakaran lahan gambut. Berikut saya paparkan alasannya berdasarkan penjelasan Kak Ola Abas saat online #ecobloggersquad, pada 11 Agustus 2023.

1. Bisa mengurangi dampak bencana banjir dan kemarau

Daya serapnya yang tinggi membuat gambut berfungsi sebagai tendon air. Ia bisa menampung air sebesar 450-850% dari bobot keringnya. Selain itu, gambut yang terdekomposisi juga mampu menahan air 2-6 kali lipat berat keringnya. Nah, sekarang kenapa dampak bencana banjir dan kemarau begitu terasa karena banyak lahan gambut yang hilang akibat dibakar dan dikeringkan.

2. Menunjang perekonomian masyarakat lokal

Berbagai tanaman dan hewan yang habitatnya di lahan gambut, seperti beraneka jenis pohon sebagai tempat bersarang lebah yang menghasilkan madu dapat menjadi sumber pangan dan pendapatan masyarakat yang tinggal di sekitar lahan gambut.

3. Habitat untuk perlindungan keanekaragaman hayati

Berbagai macam flora dan fauna dapat tumbuh dan tinggal di lahan gambut. Beberapa jenis flora sangat berguna bagi masyarakat sehingga perlu dibudidayakan. Sementara itu, fauna yang tinggal di lahan gambut berperan penting dalam menjaga keberlangsungan hidup ekosistem gambut lainnya.

4. Lahan gambut menjaga perubahan iklim

Gambut menyimpan cadangan karbon yang besar dan dua kali lebih banyak dari hutan yang ada di seluruh dunia. Ketika terganggu, dikeringkan, atau mengalami alih fungsi, simpanan karbon di dalam gambut terlepas ke udara dan menjadi sumber utama emisi gas rumah kaca. Bayangkan kalau dalam setahun berkali-kali terjadi kebakaran lahan gambut, betapa banyak gas karbon yang dilepaskan ke udara. Wajarlah hari-hari yang kita lalui saat ini penuh dengan kepanasan berasa bumi tak layak lagi hunyi.
Lahan gambut di Indonesia 

Bagaimana Lahan Gambut Terbakar?

Ketika lahan gambut kering, api kecil atau bahkan puting rokok bisa memicu kebakaran. Api bisa menyebar hingga lapisan gambut di kedalaman 4 meter. Walaupun di permukaan sudah padam, bukan berarti api di lapisan dalam juga padam. Api bertahan sampai berbulan-bulan bahkan menjalar ke tempat lain.
Perlu diketahui bahwa bila satu hektar lahan gambut dikeringkan di wilayah tropis, akan mengeluarkan rata-rata 55 metrik ton CO2 setiap tahun, setara dengan membakar lebih dari 6.000 galon bensin. Coba bayangkan bagaimana dampak buruknya terhadap lingkungan bila hal ini terus- menerus terjadi?

Peristiwa Karhutla Besar di Indonesia

1. Kebakaran hutan dan lahan Juli 1997 – Februari 1998 di 24 Provinsi di Indonesia

a. Luas hutan terbakar 11,7 juta hektar, kerugian akibat kebakaran tersebut mencapai USD 1.62-2.7 M.

b. Kerugian akibat kabut asap: USD 674-799 juta, kerugian terkait emisi karbon: USD 1.8 M.

c. Pesawat Garuda GA 152 jatuh di Sibolangit karena kabut asap dan sebanyak 234 penumpang menjadi korban jiwa.

d. Sebanyak 20 juta orang terkena polusi udara dan pencemaran air, secara langsung dan tidak langsung.

e. Di Papua, ratusan warga meninggal karena transportasi untuk mengantarkan makanan dan keperluan suplai lainnya di pedalaman terhenti akibat asap.

f. Jumlah emisi 0.81 – 2.7 gigaton setara CO2.

g. Asap sampai ke negara-negara sebelah, seperti Singapura, Malaysia, Brunai Darussalam, Thailand, Filipina, dan Australia.

2. Kebakaran Hutan dan Lahan 2015 di 32 Propinsi di Indonesia

a. Kebakaran hutan dan lahan gambut seluas lebih dari 2,6 juta ha (33% di lahan gambut) yang terbesar di Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Papua.

b. Hilangnya kayu atau produk non-kayu, serta habitat satwa.

c. Kerugian lingkungan terkait keanekaragaman hayati diperkirakan sekitar $295 juta.

d. Ribuan hektar habitat orangutan dan hewan yang hampir punah lainnya pun ikut hancur.

e. Kabut asap terjadi terjadi di hampir 80% wilayah Indonesia. Asap yang dihasilkan dari Karhutla turut dirasakan hingga Malaysia, Singapura, dan Brunai Darussalam .

f. Sebanyak 120 ribu titik api dipadamkan lewat waterbombing, hujan buatan, dan pemadaman darat. Untungnya ada hujan besar di Oktober 2015 yang berhasil menurunkan jumlah titik api secara drastis.

g. Sejumlah 28 juta jiwa terdampak, 19 orang meninggal, dan hampir 500 ribu orang mengalami gangguan pernapasan atau ISPA. Racun yang dibawa oleh asap menyebabkan gangguan pernapasan, mata dan kulit, dan berbahaya bagi balita dan kaum lanjut usia. Udara yang beracun tersebut mengandung karbondioksida, sianida dan ammonium.

h. Sekitar 5 juta siswa kehilangan waktu belajar akibat penutupan sekolah pada tahun 2015.

i. Jumlah emisi 1.1 gogaton setara CO2.

Begitulah sekilas gambaran keadaan Indonesia di ulang tahun yang ke-78. Di sini hanya dijelaskan dua Karhutla terbesar, tapi sebenarnya setiap tahun selalu terjadi Karhutla. Walaupun jumlahnya tidak terlalu banyak, tapi tetap menjadi risiko bagi kehidupan kita. Semoga ke depan tidak ada lagi Karhutla di Indonesia, sehingga kita fokus untuk melakukan hal-hal positif yang membuat Indonesia bisa lebih maju dan berjaya. Merdeka!


Pohon Umur Cahya Aksi Kecil untuk Semesta



Dulu di tahun 2017, saat aku mengikuti pelatihan Perempuan Peduli Leuser (PPL), kami yang terdiri atas para perempuan membuat sebuah pertunjukkan drama yang berjudul “Pohon Umur untuk hadiah Ulang Tahun.”

Pertunjukan itu kurang lebih seperti bermain peran yang menceritakan kehidupan masyarakat di sekitar hutan Leuser, Aceh. Dalam drama tersebut menceritakan ada salah seorang pejabat negara mengadakan perayaan ulang tahun dengan mengundang para rekanannya. Semua berlomba-lomba membawakan barang-barang mewah dan branded.

Namun, ada salah satu tamu undangan dari komunitas pencinta lingkungan membawa sebatang pohon yang disebutnya Pohon Umur. Semua mata para undangan tertuju pada si pembawa pohon karena di antara tumpukan hadiah, pohon itulah yang mencuri banyak perhatian. Ada yang kagum, tapi banyak juga yang meremehkan sambil jadi bahan guyonan.

Kemudian si pembawa pohon mengatakan “Selamat ulang tahun, Ini pohon umur untukmu Bu pejabat, meskipun umurmu terus berkurang hingga sampai batas waktunya, pohon ini terus tumbuh dan berkembang membawa manfaat bagi banyak orang. Selama pohon ini terus mengeluarkan oksigennya, maka pahalanya terus mengalir untukmu walaupun dirimu tidak ada lagi di dunia ini.”

Ide Pohon Umur Cahya

Tiga tahun sudah drama itu berlalu, tapi ingatan itu terus terngiang. Hingga akhirnya pada bulan Februari 2020, aku melahirkan putri pertamaku yang kuberi nama Cahya Putroe Semesta. Dengan nama itu, aku berharap sosok kecil ini nantinya akan menjadi perempuan yang mendatangkan banyak manfaat dan penerang bagi semesta.

Jadi, terpikirkan olehku untuk membuat Pohon Umur Cahya. Satu bulan setelah kelahirannya, aku menanam satu pohon inai/pacar kuku (Lawsonia Inermis) untuknya di dalam sebuah pot. Alasanku memilih pohon ini karena mudah hidupnya dan banyak manfaatnya, terutama bisa digunakan untuk obat-obatan.



Dan bila pohon ini bisa bertahan sampai Cahya dewasa, bisa digunakan untuk inai kukunya saat ia menikah nanti sebagaimana prosesi adat pernikahan di Aceh.

Aku bertekad, setiap ulang tahun Cahya akan ada satu pohon yang ditanam untuknya. Di ulang tahunnya yang kedua, dia yang menanam sendiri pohon alpukat. Dan di ulang tahunnya yang ketiga, temanku memberinya satu pohon murbei untuk ditanam.



Aksi Kecil untuk Semesta

Kita semua mengetahuinya dan ikut merasakan bahwa panas bumi terus meningkat, terlebih cuaca panas ekstrim yang kian hari semakin menggila. Rasa-rasanya bumi tak layak lagi hunyi. Bila keadaan ini terus terjadi tanpa ada orang-orang yang mau memperbaiki, jangan heran 100 tahun silam, bumi menjadi tempat tinggal yang menyeramkan.

Oleh karena itu, kita perlu bahu membahu melakukan aksi agar bumi ini menjadi tempat tinggal yang nyaman. Tidak hanya untuk sekarang, tapi juga untuk masa depan. Jangan sampai kita mewariskan bumi yang rusak untuk anak cucu kita. Jadi, dari sekarang kita harus menjaganya.

Walaupun aksinya kecil asalkan konsisten, itu akan berdampak besar nantinya. Terlebih kalau kita bisa mengajak followers untuk melakukan aksi yang serupa. Seperti yang aku lakukan saat ini yaitu komitmen menanam Pohon Umur Cahya.

Jika yang membacanya terinspirasi dan ikut berpartisipasi, maka akan banyak pohon-pohon yang akan ditanam. Kenapa harus pohon? Karena dengan sebatang pohon bisa memberikan banyak oksigen untuk makhluk hidup, membersihkan udara dari karbondioksida, melindungi dari cuaca panas, dan membantu penyerapan air untuk mencegah banjir.

Terus bagaimana dong kalau kamu ingin tanam pohon, tapi gak ada lahan, atau waktunya gak sempat, dan lain sebagainya?



Kamu bisa menanamnya melalui gerakan TeamUpForImpact. Di sini terdapat 6 pilihan challenge, dengan katagori yang berbeda. Setiap challenge yang bisa kamu selesaikan, maka akan mendapatkan poin. Saat terkumpul 1.400 poin, akan ada 1 pohon yang ditanam atas namamu di hutan. Mudah kan?

Seperti yang aku lakukan saat ini, di hari Rabu aku meng-share aksi kecilku untuk bumi melalui cerita Pohon Umur Cahya. Memang aksi ini kecil sih, tapi kalau kamu terinspirasi dan ikut juga melakukannya itu sangat berarti untuk memperbaiki lingkungan di bumi.

Apalagi kita baru saja memperingati Hari Lingkungan Hidup pada 5 juni lalu. Jadi, yuk #BersamaBergerakBerdaya melakukan aksi kecil untuk dampak yang lebih besar.












Desa Nusantara dari Daerah Termiris Jadi Ekologis


Jumat, 14 April 2023 aku kembali mengikuti kegiatan gathering online #EcoBloggerSquad. Ini materi pertama di tahun ini, setelah kami off beberapa waktu seusai pertemuan terakhir di bulan Desember tahun lalu. Materi kali ini sedikit berbeda dari sebelumnya karena narasumber yang dihadirkan berada di ruangan yang sama, jadi berasa kayak dalam satu ruangan.

Kita diajak mengenal lebih dekat komunitas lokal di Desa Nusantara yang berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Warga yang tinggal di desa ini merupakan imigran dari Pulau Jawa yang pindah pada tahun 1981 mengikuti program transmigrasi yang dilakukan pemerintah. Mulanya daerah ini sangat miris karena kondisinya yang tidak layak dijadikan tempat tinggal, apalagi perkampungan.

“Tempatnya lebih tepat disebut ‘tempat jin buang anak’. Binatang saja enggan tinggal di sini, apalagi manusia.” Ujar Usman, salah satu transmigran yang ikut datang ke Desa Nusantara.

Pada saat pertama kali Usman ke daerah ini, tidak ada akses jalan sama sekali. Memang pemerintah menyediakan rumah untuk mereka berupa rumah panggung, tapi saat keluar rumah dan turun ke lantai rumah, mereka langsung menginjak genangan air. Sebab rawa gambut yang menjadi tempat tinggalnya sangat mustahil untuk dijadikan lahan pertanian atau persawahan.

Di awal-awal tahun tinggal di Desa Nusantara, Usman dan warga lainnya hanya bisa merenung memikirkan bagaimana nasib mereka ke depannya. Mereka hanya bergantung pada pasokan ransum yang diberikan pemerintah. Namun, itu sifatnya sementara. Sebab pemerintah tidak mungkin terus-terusan menyokong kehidupan mereka, jadi meraka harus memutar otak agar bisa bertahan hidup di tempat itu.

Penderitaan warga di Desa Nusantara tidak hanya sampai di situ, dikarenakan sumber air bersih tidak ada, akhirnya warga menggunakan air gambut yang warnanya seperti air teh. Akibatnya muncullah wabah kolera yang banyak merenggut nyawa masyarakat di daerah tersebut.

Tidak hanya itu, apa pun yang ditanam daerah ini selalu gagal. Sebab hama tikus dan babi terus menyerang lahan pertanian, sehingga tak ada yang bisa dipanen. Desa mereka juga kerap berkonflik dengan satwa liar seperti gajah dan monyet yang membuat kehidupan di desa ini begitu sulit.

Usman adalah salah satu warga yang bisa melewati masa-masa sulit tinggal di Desa Nusantara, hingga akhirnya secara perlahan desa ini merangkak maju menjadi desa ekologis yang membuat masyarakatnya sejahtera.

Perlahan Bergerak Menuju Desa Ekologis


Sebelumnya Warga di Desa Nusantara mencoba menanam padi bermodal bibit yang di bawa dari Pulau Jawa. Dengan kegigihan warga, luas tanam yang awalnya hanya 10-20 meter per segi berangsur-angsur bertambah hingga sekarang totalnya mencapai 1.200 hektare (ha). Areal persawahan ini dikelola 600 kepala keluarga. Padi yang dihasilkan mencapai 3,7 ton per ha.

Jika diuangkan, penghasilan investasi dari pertanian pangan di Desa Nusantara mencapai Rp30,8 miliar, jika dibagi per KK, maka penghasilan setiap KK di Desa Nusantara mencapai Rp41,4 juta untuk sekali panen. Bila produksi beras di Desa Nusantara stabil, mereka bisa memenuhi kebutuhan beras 41.509 jiwa per tahun.Desa Nusantara saat ini memiliki 28 gudang beras dan penggilingan padi.

Selain itu, Desa Nusantara juga memiliki hasil bumi lainnya, seperti kopi liberica, nanas, nangka, buah naga, jeruk kunci, dan cabai rawit, Sebagian masyarakat juga berkebun karet dan mulai berternak sapi dan kambing. Beberapa jenis ikan juga ditemukan di sana, seperti lele, betook, gabus, dan belut. Ikan-ikan ini tidak diternak warga, melainkan datang sendiri saat banjir.


Namun, pada tahun 2005, areal persawahan masyarakat diklaim sebagai hak guna usaha (HGI) milik sebuah perusahaan sawit berinisial SAML yang mendapat izin prinsip dari Bupati OKI No. 460/1998/BPN/26-27/2005. Luasnya mencapai 42 ribu ha yang terletak di desa di Kecamatan Air Sugihan, termasuk Desa Nusantara.

Pada 2007, warga membentuk Forum Petani Nusantara Bersatu (FPNB) untuk mempertahankan apa yang jadi hak mereka. Beruntung Desa Nusantara mendapat bantuan Dana Nusantara yang merupakan program pendanaan yang dikembangkan oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi). Sejak tahun 2022 telah diimplementasikan di 12 lokasi wilayah kelola rakyat. Tujuannya mendukung inisiatif komunitas dalam pengelolaan sumber daya berkelanjutan.



Kini Walhi terus mendampingi Desa Nusantara untuk memiliki kepastian wilayah kelola dengan mengusung kegiatan Sustainable Land Use Planning (SLUP). Metode ini mengusungkan agar masyarakat adat atau masyarakat lokal sebagai perencana utama. Kelak, Desa Nusantara akan memiliki batas-batas wilayah yang telah dipatenkan dengan rinci dan warganya bisa mengelola sumber daya alamnya secara ekologis.

6 Hal yang Bisa Dilakukan Ibu Rumah Tangga untuk Menjaga Bumi


Cucian menumpuk, pekerjaan rumah yang gak kian beres, cuaca yang bikin gerah, apalagi di bulan puasa begini tentu kadang menyulut emosi tim dasteran alias ibu-ibu rumah tangga ini. Gimana gak emosi, di saat semangat-semangatnya mau nyuci malah hujan. Atau saat jemuran sudah tertata rapi tiba-tiba hujan, kain bersih jadinya kotor lagi deh.

Kita tahu bahwa akhir-akhir ini cuaca di bumi makin memprihatinkan dan sulit diprediksi. Hal itu disebabkan oleh polusi yang dihasilkan pabrik-pabrik besar, kendaraan bermotor, pembakaran batu bara untuk membangkitkan tenaga listrik, sehingga polusi yang terkumpul di udara menjadi gulungan selimut yang membuat bumi terlalu panas. Akibatnya cuaca pun semakin ekstrim yang memunculkan keresahan para warga bumi.

Melihat kondisi tersebut, memang ibu rumah tangga bisa apa? Haruskah kita terus mengeluh dan menangisi keadaan seperti ini? Tentu tidak karena ibu rumah tangga juga bisa melakukan upaya kecil untuk menjaga bumi agar kondisinya tidak semakin parah. Berikut hal sederhana yang Buibu bisa lakukan dan praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Belanja di Pasar Basah


Lah, apa hubungannya ya? Sabar, kita akan jelaskan alasannya. Kegiatan belanja ini tentu rutinitas yang biasa Buibu lakukan, baik itu belanja harian, mingguan atau bulanan untuk keperluan rumah tangga.

Tahukah Buibu, bahwa jumlah orang yang belanja di pasar basah menurun 2% per tahunnya. Mereka lebih memilih belanja di minimarket atau supermarket karena dianggap lebih nyaman. Padahal secara psikologis belanja di supermarket membuat kita belanja lebih dari yang kita perlukan karena tergiur oleh tampilan yang menarik. Apalagi ada promo dan diskon, jadi kalap deh belanjanya. Sampai di rumah baru kita sadar, bahwa ini tidak perlu kali, barang yang itu masih ada, ini kurang diminati keluarga, dan sebagainnya. Akibatnya tidak saja boros uang, tapi juga banyak barang yang jadinya mubazir. Terlebih makanan, bila tidak segera dihabiskan akan menjadi sampah dan menambah banyak sampah rumah tangga.

Nah, sampah rumah tangga ini juga menjadi ancaman besar bagi bumi kita tercinta ini. Andaikan Buibu terus melakukan hal ini, mau dibawa ke mana sampah-sampah di bumi ini. Jadi belanja di pasar basah bisa membantu Buibu menahan diri hanya belanja yang diperlukan saja. Selain itu, juga membantu menghidupkan perekonomian pedagang-pedagang kecil.

2. Tidak Membeli Makanan dan Minuman dalam Kemasan

Indonesia penyumbang sampah plastik terbesar ke-dua dunia, sebesar 5,4 juta ton per tahunnya. Kategori sampah plastik yang terbesar berasal dari kemasan dan wadah seperti, botol minuman, tutup botol, botol sampo, dan lainnya. Sangking banyaknya, sampah-sampah itu tidak tahu lagi di bawa kemana, bahkan tak jarang pemandangan sampah di pantai, sungai, tepi kali, jalanan, bertaburan. Bahkan sampah plastik pun sampai ke dasar laut mengakibatkan terganggunya biota laut.

Miris banget kan kalau kita juga ikut penyumbang sampah plastik tersebut. Untuk mengurangi jumlah sampah plastik, Buibu harus komitmen untuk tidak membeli makanan dan minuman dalam kemasan. Buibu bisa membawa botol minum bila sedang di luar dan membekali anak-anak makanan rumahan untuk di bawa ke sekolah, sehingga mengantisipasi mereka untuk jajan di luar.

3. Belanja Makanan yang Tidak Bersampah

Selain sampah plastik, setiap keluarga di Indonesia juga menghasilkan sampah makanan sekitar setengah kilogram perhari. Bayangkan saja bila tiap hari kita menghasilkan sampah makanan tersebut, sampah plastik saja masih kebingungan mengolahnya, ditambah sampah makanan.

Pembuangan sampah makanan dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca, terutama metana yang memiliki dampak lebih besar pada perubahan iklim dibanding dengan karbondioksida. Jadi, saat belanja makanan Buibu bisa memilih makanan yang bisa dimakan utuh atau makanan yang meninggalkan sedikit sampah, seperti telur. Selain bisa dimasak dengan berbagai menu, kulitnya bisa dimanfaatkan untuk makanan ternak atau dibuat pupuk. Makanan lainnya yang tidak bersampah, seperti buah dan sayuran.

4. Buat Menu Mingguan

Ini penting banget supaya Buibu bisa berhemat karena hanya membeli bahan baku sesuai dengan menu yang akan dikonsumsi. Hal ini juga bisa menghemat waktu dan tenaga untuk memikirkan menu makanan yang akan Buibu sajikan setiap harinya.

Saat Buibu menyusun menu mingguan, hendaknya setiap harinya mencakup menu seimbang, yaitu empat sehat lima sempurna, artinya harus ada karbohidrat, protein hewani, lemak, serta protein nabati, dan vitamin.

Dengan adanya daftar menu ini, Buibu bisa menggunakan satu bahan baku untuk beberapa jenis makanan yang berbeda. Misalnya bahan daginga ayam 1 kg, dapat diolah mejadi ayam goreng, sup ayam, gulai ayam, di hari yang berbeda. Begitu pula dengan satu jenis sayuran, bisa diolah menjadi beberapa menu lainnya. Sehingga bahan-bahan belanja yang Buibu beli terpakai semua tanpa ada yang bersisa. Usahakan selama 1 minggu tidak ada menu yang serupa.

5. Belajar Cara Menyimpan Makanan

Agar makanan tidak cepat terbuang dan tahan lama, Buibu perlu tahu cara penyimpanan makanan. Misalnya kalau Buibu membeli sayur, simpanlah sayur dengan merendam batangnya di dalam air. Cara seperti ini akan membuat sayur tahan lebih lama dibandingkan bila sayur disimpan di dalam kulkas.

Kalau Buibu ingin menyimpan bahan makanan di kulkas, perlu disesuaikan dengan tempatnya karena setiap bagian kulkas memiliki fungsi yang berbeda-beda. Untuk sayuran Buibu tempatkan di bagian bawah. Alasannya, rak kulkas di bagian ini lebih mampu mengontrol kelembapan sayuran, sehingga sayuran tidak mudah busuk. Bila disimpan dengan tepat, sayuran dapat tahan 3-5 hari.

Begitu pula cara penyimpanannya, seperti cabai misalnya. Sebaiknya bersihkan setiap batangnya dengan kain lap, lalu lepaskan tangkainya. Simpan ke dalam kotak kedap udara yang dialasi dengan kertas koran. Tambahkan juga degan beberapa suing bawang putih yang sudah dikupas ke dalamnya supaya cabai tidak mudah busuk.

Bila ingin menyimpan buah, jangan satu tumpuk dengan tempat penyimpanan sayuran. Sebab, buah dapat menghasilkan etilen atau zat yang dapat mempercepat kematangan sayuran. Oleh karena itu, jika buah disimpan bersamaan dengan sayuran, bisa membuat sayurannya lebih cepat mengalami proses pembusukan.

6. Share konten manajemen food waste ke teman-teman Buibu

Bila ada konten-konten mengenai food waste, Buibu bisa berbagi tips dan link dengan teman-teman lainnya. Buibu juga bisa mencari influencer yang memuat konten-konten tentang food waste atau zero waste seperti @gardapangan untuk menginpirasi Buibu lain agar ikut bersama-sama melakukan aksi berhemat makanan.

Kenapa hal itu perlu dilakukan? Sebab sampah makanan penyumbang emisi karbon sebesar 7,3%, andai Buibu bisa berhemat dan tidak membuang-buang makanan tentunya ini bisa jadi upaya bersama bagi kita Ibu Rumah Tangga dalam mengurangi selimut polusi dan menjaga bumi.

Buibu juga bisa mengikuti team up for impact melalui https://teamupforimpact.org/ ikuti tantangan setiap harinya dalam upaya menanam pohon untuk mengurangi selimut polusi di udara. Tanam pohonnya tidak perlu ke hutan, tapi cukup dengan mengikuti challenge pilihan yang sudah disediakan setiap hari dan kumpulkan poinnya. Saat terkumpul 1.400 poin, akan ada 1 pohon yang ditanam atas nama Buibu di hutan.

Kok bisa? Coba aja bermain dan lakukan aksinya, tapi jangan asal pilih dan main ya! Lakukan dalam kehidupan nyata sesuai dengan apa yang dipilih, seperti yang aku lakukan 6 hal di atas selama seminggu. Itu adalah pilihanku dalam upaya menjaga bumi, dan aku sudah menanam 1 pohon atas namaku sendiri. Untuk minggu depan mau ikut tantangan apa lagi ya?