Tampilkan postingan dengan label Kepenulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kepenulisan. Tampilkan semua postingan

Pertanyaan yang Sering Muncul Ketika Ingin Menulis Opini



Ketika seorang pemula ingin menulis opini, banyak pertanyaan muncul saat memulainya. Tak jarang tulisan tersebut tidak jadi ditulis dan ide yang sudah dapat diabaikan begitu saja. Padahal bila langsung ditulis, maka akan menjadi sebuah tulisan yang utuh. 

Berikut beberapa pertanyaan yang sering muncul ketika ingin menulis opini yang aku rangkum dari kelas menulis online untuk para pembaca buku Bukan Catatan Kartini (BCK). Diskusi tersebut telah berlangsung pada tanggal 9 Mei 2020 lalu. 

Sebelum kelas tersebut dimulai, aku memberikan materi tentang menulis opini melalui video di channel Youtube milikku, yaitu; Cara Mudah Menulis Opini Part I dan Cara Mudah Menulis Opin Part II.

Tulisan opiniku yang pertama terbit di koran Serambi Indonesia

1. Pertanyaan dari Cut Meurah; 

ketika ingin menulis opini seringkali dibebani perasaan takut salah dalam memberikan analisis. Hal ini dikarenakan ada kemungkinan masih kurangnya wawasan atau ilmu kita tentang topik yang ingin dibahas yang nantinya berdampak pada terbentuknya opini publik. Adakah tips untuk mengatasi ini? atau apa yang mengindikasikan bahwa kita cukup amunisi untuk menulis opini? 

Jawaban dari saya; saya juga merasakan hal demikian sebelum membuat opini karena ada kalanya pendapat kita tidak semuanya bisa diterima orang karena keterbatasan ilmu yang dimiliki. 

Oleh karena itu, dalam menulis opini hendaknya disesuaikan dengan ranah keilmuan kita. Jangan sampai berbeda jalur, kita yang latar belakangnya ilmu pertanian coba menganalisis penyakit yang diderita seseorang. Kalau penyakit tanaman masih nyambung ya, tapi kalau analisis tentang Covid-19, bisa berabe persoalannya tu hehehe. 

Biasanya redaktur opini pun juga akan melihat background seseorang sebelum menerbitkan tulisannya. Apakah nyambung atau tidak. Seperti Yelli misalnya yang berasal dari ilmu keperawatan biasanya tidak jauh-jauh menulisnya tentang kesehatan. 

Pernah beberapa kali dulu saya masuk ke ranah politik dan waktu itu pihak Serambi Indonesia tetap menerbitkan tulisan saya yang berjudul Pengukuhan Wali VS Jeritan Rakyat. Saya menulis opini ini sebagai curhatan tentang ketidaksetujuan rakyat kecil atas pengunaan anggaran yang begitu fantastis. Tulisannya memang mewakili suara rakyat, tapi tahukah apa yang saya terima setelah tulisan itu diterbitkan? 

Tulisan lengkapnya baca di https://aceh.tribunnews.com/amp/2013/10/05/pesta-pengukuhan-wali-vs-jeritan-rakyat

Saya mendapat komentar yang saya duga dari elit politik marah terhadap tulisan saya tersebut. Tidak hanya komentar di akun SI, saya juga mendapatkan SMS dan email dengan nada mengancam. Salah satunya mereka bilang saya cuma anak kemarin sore yang tidak tahu apa-apa, "jangan sok-sok kritik pemerintah, nanti kamu tahu sendiri akibatnya". Cerita tentang ini ada saya tulis di buku BCK. 

Jadi, intinya semua tergantung kita, apakah siap dengan hal-hal seperti itu? Kalau saya kembali ke ranah latar belakang keilmuan saya yang menulis tentang kesehatan. 

2. Pertanyaan dari Dini D.H. Putri

Bagaimana sih caranya mengembangkan sebuah ide menjadi sebuah topik? Memangnya ide dengan topik itu apa bedanya? 

Jawaban dari saya; sebelumnya kita harus mengetahui dahulu perbedaan antara ide, tema, topik, dan judul. Ide merupakan gagasan atau rancangan yang tersusun dalam pikiran. Ide muncul dari apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan. 

Tema merupakan pokok bahasan utama, sedangkan topik merupakan bagian-bagian dari tema yang menjadi masalah utama isi dari tulisan. Judul ialah bagian spesifik dari topik sebagai simbolik yang mewakili seluruh tulisan. 

Untuk lebih mudahnya saya contohkan cara mengembangkan ide menjadi topik. Misalkan kita sedang berjalan-jalan ke kompleks Taman Sulthanah Safiatuddin, (Tasulsa) Banda Aceh. Di sana kita melihat 23 rumah anjungan adat yang mewakili setiap kabupaten/kota di Aceh. 

Kompleks Taman Sulthanah Safiatuddin

Kemudian terpikir oleh kita mau menuliskan tentang salah satu dari anjungan tersebut. Nah, ini disebut sebagai ide. Anjungan tersebut ada berbagai macam, ada Anjungan Aceh Selatan, Anjungan Banda Aceh, Anjungan Pidie, Anjungan Sabang dan sebagainya. Setiap anjungan itu kita sebut sebagai tema. 

Dari beberapa tema di atas, kita ambil satu tema yaitu Anjungan Banda Aceh. Nah, sekarang apa yang terbayang di pikiranmu tentang anjungan Banda Aceh? Pastinya kamu di sana akan melihat halaman depan bangunan, isi dalamnya, dapur, ruangan di dalam tersebut, dan sebagainya. Bagian-bagian inilah disebut sebagai topik. 

Dari berbagai topik itu, maka pilihlah salah satu topik yang akan dibahas, misalnya isi dalam Anjungan Banda Aceh. Sekarang fokus terhadap topik tersebut dan cari informasi apa saja yang berhubungan dengan topik yang dibahas. 

Di sini kamu akan melihat pintu anjungan dalam keadan tidak terkunci dan tidak ada penjaganya, kamu dapat melihat foto-foto wali kota Banda Aceh dari masa ke masa yang penuh debu, barang-barang khas Aceh yang tidak terawat, bentuk ukiran dari dinding-dindingnya yang sudah mengelupas, dan lantai bangunan yang sudah mulai pecah-pecah ubinnya. 

Hal itu, berbeda jauh saat kamu mendatangi anjungan ini waktu Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) dua tahun lalu. Di dalam tulisan, kamu bisa menjelaskan bagaimana perbandingan yang kamu lihat sekarang dengan yang dulu saat PKA. Kamu juga bisa menanyakan hal ini kepada pengurus Kompleks Tasulsa. Dari bagian-bagian spesifik isi dalam anjungan tersebutlah bisa dijadikan judul tulisan. Misalnya Anjungan Banda Aceh tanpa PKA. 

Nah, begitulah caraku dalam mengembangkan ide menjadi sebuah topik. Hal ini pernah saya lakukan dalam membuat tulisan opini yang berjudul Tasulsa Sebelum dan Sesudah PKA. Untuk membacanya, bisa cek di sini

Pembahasan tentang ide, topik, dan tema ini bisa juga dibaca ditulisanku yang berjudul 4 Cara Dasar Menulis Cerpen yang Harus Diketahui Pemula. 

3. Pertanyaan dari Aida 

Bagaiman cara bisa percaya diri dengan opini kita? Sebab, saya untuk mengirim ke media saja masih kurang percaya diri terhadap opini yang saya tulis. 

Jawaban dari saya; pada awalnya saya juga tidak percaya diri saat menulis, jadi saya menulis di blog pribadi. Dari situ saya berpikir, bila ingin tulisan-tulisannya berkembang, berarti harus ada masukan dari orang lain. 

Jadi, saya harus memberitahukan tulisan saya kepada orang lain supaya ada masukan. Tentunya saya harus menerima masukan sepedas apapun mengenai tulisan saya. Lalu saya menanyakan kepada teman-teman tentang bagaimana menurut mereka tulisan yang saya tulis. Setelah merasa percaya diri, barulah saya mengirimkan tulisan ke khalayak ramai. 

Namun, untuk tulisan opini saya dulu emang orangnya terlampau percaya diri, berkali-kali ditolak, tatap mengirimkan tulisan. Bahkan, waktu pertama mengirimkan tulisan opini cuma satu halaman dangan pembahasan yang sangat kacau. Tulisan saya tidak pernah diterbitkan sampai satu tahun lamanya penantian. 

Pernah saya ikut seminar menulis yang saat itu pematerinya Ihan Nurdin, seorang wartawati senior. Saya bertanya kepadanya kenapa tulisan saya tidak pernah dimuat di media masa. Kemudian dia mengatakan "Jangan menyerah, kirimkan terus tulisanmu sampai editornya muak dengan tulisanmu hingga dia akhirnya menerbitkannya." Petuah itu saya pegang teguh, hingga akhirnya tulisan saya terbit di SI. Tentunya selama itu saya belajar bagaimana menulis opini yg benar. Belajar dari kesalahan yang ada. 

5. Pertanyaan dari Rahmiana Rahman

Bagaimana mengelaborasi ide untuk menciptakan opini yang enak dibaca. Misalnya, kalau ke desa-desa, banyak ide yang kita dapat, banyak ngobrol juga dengan masyarakat, tapi bingung membuat ide-ide itu menjadi sebuah opini, bahkan dalam 1-2 halaman. 

Jawaban dari saya: Pertanyaanya hampir sama dengan pertanyaan nomor dua. Mungkin bisa diikuti alurnya seperti yang saya jelaskan di poin tersebut.

Untuk teknik penulisannya, itu tergantung keseringan kita dalam membaca. Bila kita banyak membaca akan banyak perbendaharaan kata yang bisa kita gunakan dalam menulis. Mungkin, akan muncul pertanyaan, saya sering membaca, tapi kok juga susah menulisnya? 

Nah, ini tergantung keseringan kita dalam menulis. Untuk terbiasa menulis, usahakan menulis yang simple-simple saja terlebih dahulu. Dari bangun tidur sampai tidur lagi. Kebiasan itu nanti akan memudahkan kita dalam menulis opini. Catat hal-hal apa pun yang kita temui dalam keseharian untuk memperkaya ide. 

6. Pertanyaan dari Fitriani

Kenapa ide bisa muncul di tempat yang tak terduga-duga? Kalau aku seringnya muncul saat sedang menyuci baju dalam skala banyak. Begitu pula ide paling banyak muncul kayak kemarin itu saat sedang musim menanam padi, terlebih lagi di sawah saat tubuh penuh lumpur.  Nggak kalah banyak juga sering muncul ide kalau lagi bawa motor. 

Pernah sih, tiba-tiba langsung berhenti ambil pulpen mau nulis, ehh abis itu malah buyar, pas ditulis nggak sesuai sama yang terlintas tadinya. Jadi bagaimana solusinya?

Jawaban saya: Nah, wajar kalau ide muncul saat-saat seperti yang disebutkan karena kita hanya fokus ke pekerjaan fisik sedangkan otak kita melayang2-layang terpikir yang macam-macam. Makanya, ide muncul saat ini. 

Kalau saya sendiri biasanya memang menyediakan kertas di kamar mandi dan pulpen. Kadang, waktu ide itu muncul berhenti dulu dan cepat-cepat cuci tangan dan lap tangan, bila sedang mencuci lansung tulis ide tersebut. Walau kadang nggak semua kita pikirkan dapat dituliskan. Kadang kita juga bingung memulainya dari mana. Namun, cobalah untuk menulis saja dulu. 

Kalau susah untuk menulis, cobalah merekam apa yg kita pikirkan menggunakan HP. Ntar di waktu santai, putar lagi rekaman kita. Biasanya kalau ide pertama itu sudah ada, nanti akan muncul ide-ide pendukung lainnya.

Nah, itulah beberapa pertanyaan yang sering muncul ketika ingin menulis opini. Apakah kamu merasakannya demikian, atau ada pertanyaan lain? Silakan tulis pertanyaannya di kolom komentar.

Cara Mudah Menulis Opini


Tulisan ini merupakan bahan materi kelas menulis online, sebagai bonus bagi yang melakukan pre-order periode pertama buku Bukan Catatan Kartini (BCK). 

Buku BCK merupakan kumpulan opini Yelli Sustarina yang pernah diterbitkan di media cetak Serambi Indonesia (SI). Di buku ini aku menjelaskan proses dalam membuat sebuah opini dan latar belakang dari setiap opini yang aku tulis. 

Aku belajar opini secara otodidak dengan melihat pola-pola penulisan opini yang diterbitkan di halaman SI. Dengan seringnya membaca opini yang diterbitkan SI, aku pun semakin mudah menulis opini sehingga puluhan opiniku diterbitkan di halaman SI. 

Di buku BCK, aku hanya menuliskan 27 opini saja dari tahun 2012-2016. Alasanya bisa dibaca di tulisan Proses Lahirnya Buku Catatan Kartini. 

Bagaimana cara menulis opini dengan mudah? 


Aku belajar menulis opini dengan sering membaca opini orang lain yang dimuat di harian SI. Di sini aku menggunakan rumus amati, tiru, dan modifikasi (ATM). 

Bukankah awalnya kita belajar berjalan juga dengan melakukan rumus ATM? Setelah bisa berjalan, tentunya kita mempunyai gaya dan cara sendiri dalam berjalan. Nah, begitu juga dalam menulis opini, kamu harus sering membaca opini orang lain. 

Di buku BCK, ada 27 buah tulisan opiniku yang bisa kamu pelajari polanya. Di situ aku juga membuat catatan mengenai kata atau kalimat yang kurang tepat sehingga diganti oleh editor SI. 

Nah, untuk membuat sebuah tulisan opini yang perlu kamu miliki yaitu; 

1. Ide 


Carilah ide yang akan kamu tulis. Ide bisa didapat dari berbagai hal yang ada di sekeliling kita. Entah itu saat bawa motor, di kamar mandi, jalan-jalan, di waktu salat, sedang santai, sedang membaca buku, dan sebagainya. 

Kemudian ide itu dicatat supaya kamu tidak lupa. Sediakan pulpen dan buku kecil yang bisa dibawa-bawa untuk mencatat ide yang kamu temukan. Sebab, ide bisa muncul di mana saja dan kapan pun. 


Catat ide yang kamu dapat

Itu yang biasa aku lakukan dalam membuat opini. Bahkan aku menyediakan lembaran kertas dan pulpen di kamar mandi karena kebanyakan ideku muncul saat di kamar mandi. Tentunya juga harus diperhatikan bila kamar mandinya digunakan secara umum. Beruntung aku mempunyai kamar mandi sendiri, jadi lebih leluasa menggunakannya. 

Kemudian ide yang kamu dapatkan itu dipilah untuk dijadikan sebuah topik yang akan diulas lebih lanjut. 

2. Lihat fenomena di sekeliling 


Kaitkan ide yang didapat dengan fenomena atau kejadian yang sedang hits saat itu. Kamu harus bisa menarasikan fenomena di sekelilingmu dengan topik yang akan kamu bahas. 

Cotohnya dalam salah satu artikelku yang judulnya Demam Batu Giok. Waktu itu tahun 2015 sedang hitsnya penggunaan batu giok untuk dijadikan cincin, bahkan menjadi tren yang harus diikuti semua orang. 




Ide tulisan ini muncul ketika seorang pasien yang aku rawat meminta selang dan botol infus untuk dibawa pulang setelah dia sembuh. Ketika aku membuka infusnya, dia memohon kepadaku agar selang dan infus itu diberikan kepadanya sebagai peralatan untuk mengasah batu giok. Sontak aku terkejut, sebab dalam keadaan sakit begitu masih sempatnya ia memikirkan giok-gioknya. 

Makanya muncullah tulisan Demam Batu Giok. Untuk mengetahui penjelasan lebih lanjutnya mengenai tulisan ini, silakan dibaca di buku BCK. 

3. Cari informasi tambahan 

Baca buku untuk mendapatkan informasi tambahan

Untuk memperluas topik yang akan dibahas hendaknya kamu mencari informasi tambahan yang didapat dari internet, buku bacaan, bertanya kepada seseorang, dan merunutkan beberapa kejadian yang kita alami. 

4. Tulis apa yang dipikirkan 


Tulislah seperti orang yang sedang curhat terkait ide, topik, dan fenomena yang ditemukan. Jangan hiraukan dulu tentang tata bahasa atau penempatan kalimat yang tepat karena setelah itu ada proses editing. 


Jadi, intinya tuangkan dulu apa yang menjadi pemikiran kita terkait ide yang didapat, kemudian dijadikan topik, hubungkan dengan fenomena atau kejadian yang sedang terjadi dan tambahkan informasi yang berhubungan dengan topik tersebut. Terakhir tambahkan solusi untuk opini yang kamu tulis. 
Itulah empat hal yang aku lakukan saat menulis opini. Seperti tulisan pertamaku yang berjudul Kesaksian Derita Pelestina. Tulisan ini dibuat dalam waktu semalam, sepulangnya dari konser amal untuk takyat Palestina yang dibuat oleh Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) yang menghadirkan Wali Kota Banda Aceh dan musisi Aceh Rafly Kande. 



Begitu juga dengan opiniku yang lain seperti Pengukuhan Wali VS Jeritan Rakyat, Kartini Masa Kini, Air dan Kampanye Pemilu, idenya didapat dari melihat fenomena yang ada di sekelilingku. 

Nah, di buku BCK ini, aku menjelaskan atau persatu bagaimana proses ide itu muncul sehingga menjadi sebuah tulisan opini yang siap dikirimkan ke media massa. 


Cara Mudah menulis Opini Part I

Bagaimana opini bisa terbit di media massa? 


Untuk materi ini, aku sudah pernah menuliskan sebelumnya di tulisanku yang berjudul Tips Menulis Opini Tembus Media Massa. 

Tips ini aku dapatkan langsung dari Redaktur Harian SI, yaitu Yarmen Dinamika. Berikut penjelasnnya bisa dibaca di sini. 

Yarmen Dinamika sedang menyampaikan materi tentang tips opini tembus media massa

Bagaimana? Bisa dipahami cara mudahku dalam menulis opini? Jika kamu ada pertanyaan, bisa menghubungiku melalui akun media sosial atau email dan nomor WhatsAppku. 



Bagi yang mengikuti kelas menulis online periode pertama, bisa langsung tanyakan ke moderator yang akan kita disksuikan nanti di grup WhatsApp. Sampai jumpa di kelas menulis online ya. 

Cara Mudah Menulis Opini Part II

Perlu diingat, tidak dimuatnya tulisanmu bukan karena tulisanmu jelek. Namun, karena kamu kurang usaha dan belajar. Jangan menyerah ketika tulisanmu ditolak karena penolakan bukanlah suatu kegagalan, tapi sebuah pengalaman yang membuat kita lebih baik dari sebelumnya. 

Tidak perlu malu dan bersedih hati ketika tulisanmu ditolak. Sebab penolakan itu tidak akan melukai dirimu, ia justru akan memperkuatmu sehingga kamu pantas untuk diterima dan mendapatkannya. 


Eksis Produktif dengan Menulis

Saat mengisi materi di mini class Poma Preneur

Menjadi pemateri untuk emak-emak yang ingin belajar menulis sebuah tantangan baru bagiku. Bukan karena kurangnya persiapan dan pengetahuan, tapi audiensku kali ini adalah para orang tua yang rata-rata sudah mempunyai anak dan usianya jauh di atasku. 

Aku sempat deg-degan dan mengira apa yang aku sampaikan kepada mereka tidak nyambung. Pasalnya aku biasa berhadapan dengan anak muda dan anak-anak yang saat memulai acara, harus ada yel-yel penyemangat agar diskusinya lebih hidup. 

Menurut guru Public Speakingku Saifuddin Bantasyam, saat membuka presentasi hendaknya melakukan engagement (pendekatan) kepada audiensnya. Tujuannya ialah untuk mengfokuskan audiens agar apa yang kita sampaikan nantinya mudah dimengerti. 

Ketika aku menjadi pemateri untuk anak-anak, mudah saja bagiku melakukan engagement itu. Cukup mengatakan kalimat “apa kabar semua” anak-anak langsung meresponsnya “alhamdulillah, luar biasa, tetap semangat, Allahu Akbar, yes.” Atau untuk anak-anak muda aku bisa menyuruhnya berdiri sambil melakukan gerakan tertentu sehingga memecah kekakuan saat memulai presentasi. 

Saat mengisi materi bersama anak muda

Nah, yang kuhadapi sekarang adalah emak-emak yang tidak mungkin kuperlakukan seperti anak-anak atau anak muda yang kusuruh melakukan gerakan ini dan itu. Untungnya ada hidayah di menit-menit terakhir sehingga aku membuat yel-yel penyemangat yang dapat mencairkan suasana di kelas yang kuisi. 

Aku diminta oleh komunitas Poma Preneur untuk mengisi miniclass dengan tema ‘Eksis Produktif Melalui Media Online.’ Jadi, di awal pembukaan sebagai sapaan setelah ucapan puji syukur dan terima kasih, aku meminta mereka bergaya sambil menyebutkan kalimat eksis dengan tangan di dagu dan produktif dengan jempol dan telunjuk membentuk love seperti gaya artis Korea yang sedang trend saat ini. Untuk lebih jelasnya lihat video ini saja deh. 


Rupanya emak-emak ini senang dan suka ketika aku membuat yel-yel tersebut. Bahkan kami mencobanya berkali-kali sampai di akhir pertemuan pun yel-yel tersebut masih melekat di ingatan mereka. Tentunya engagement itu selalu kugunakan saat fokus audiens mulai buyar sehingga mereka akan fokus kembali kepada mendengar penjelasanku. 

Penyampaian Materi 

Seperti yang kupelajari sebelumnya bersama Pak Saifuddin Bantasayam, ketika akan menyampaikan materi hendaknya memberikan sedikit pengantar berupa poin apa saja yang hendak disampaikan. Jadi, dalam presentasi ini, aku membahas empat poin yaitu; sharing pengalaman, succsess story, cara menulis kreatif, dan tempat memublikasikan tulisan. 

Untuk lebih jelasnya bisa baca di Tips Menjadi Pembicara Andal di Depan Umum 

Pada sesi sharing pengalaman, aku meminta para peserta untuk menjawab pertanyaan yang aku ajukan. Berikut beberapa pertanyaannya. 


Tujuannya tidak lain untuk mengukur pengetahuan dan pengalaman audiensku dalam menulis sehingga aku bisa mendapatkan gambaran tentang audiens yang sedang kuhadapi. Ini salah satu caraku untuk menghilangkan rasa gugup dan memberikan engagement kepada audiensku sehingga ia merasa diperhatikan. 

Kemudian aku menjelaskan tentang kata eksis yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diambil dari kata eksistensi, artinya keberadaan. 


Di zaman milenial ini banyak orang yang ingin menunjukkan keberadaannya melalui media sosial sehingga mereka bangga bila disebut eksis. Cukup banyak akun yang bisa digunakan untuk menunjukkan keberadaan kita seperti facebook, instagram, twitter, blog, path, youtube, dan lain-lain. 

Hanya saja kebanyakan orang sekadar eksis saja tanpa tahu arah dan tujuannya. Berbeda dengan mereka yang blogger, youtuber, instagramer. Mereka tidak hanya sekadar eksis, tapi juga produktif sehingga menghasilkan uang dan menjadi sumber pemasukan. 

Menurut KBBI

Hal inilah yang ingin aku sampaikan kepada Poma Preneur sehingga eksisnya mereka di dunia maya, tidak sekadar pelepas penat dan mengobati rasa bosan saja. Namun bisa produktif mendatangkan manfaat bagi banyak orang dan bisa dijadikan sumber pemasukan. 

Success Storyku Sebagai Penulis 

Penyampaianku di miniclass ini lebih kepada eksis dan produktif melalui menulis. Hal ini sesuai dengan profesiku saat ini sebagai seorang blogger dan wartawan, jadi aku menjelaskan kepada mereka tentang karierku dalam dunia tulis menulis. 

Aku memulainya dari menulis opini di koran Serambi Indonesia yang kemudian berlanjut ke blog, steemit, buku, dan menjadi wartawan. Cerita ini kusampaikan untuk memotivasi para emak milenial untuk bisa eksis dan produktif melalui menulis. 

Selain itu aku juga menekankan pentingnya mempunyai alasan dan motivasi dalam menulis sehingga ketika mood menulis hilang, alasan dan motivasi tersebutlah yang bisa mendorong kita agar tetap menulis. 

Aku juga menjelaskan tentang cara menulis kreatif sehingga para audiens mempunyai banyak ide yang dapat ditulisnya. Seperti pengalaman keseharian yang bisa dijadikan bahan tulisan apalagi para emak ini mempunyai anak yang tentunya bisa berbagi melalui tulisan tentang parenting

Ketika aku menjelaskan hal tersebut, benar saja para Poma Preneur ini kegatalan tangannya untuk segera memulai menulis. Aku pun sangat senang melihat antusias mereka sehingga kelasku terkesan tidak membosankan. 

Tidak lupa pula aku memberikan alamat dan link untuk memublikasikan tulisan. Selain bisa dikirimkan ke media masa berupa koran atau media online, tulisan tersebut juga bisa dipublikasikan sendiri melalui blog pribadi. Aku memberikan tahapan cara membuat blog kepada emak-emak milenial ini. 

Format pengiriman artikel ke Serambi Indonesia


Ternyata setelah acara ini, ada yang menghubungiku dan bertanya terkait blog yang sedang dibuatnya. Tentunya aku sangat senang karena penyampaianku saat miniclass ditindaklanjuti oleh mereka. 

Saat dibuka sesi tanya jawab, ternyata banyak yang bertanya sehingga aku hanya membatasi beberapa orang saja karena waktu yang disediakan tidak mencukupi. Alhamdulillah, pertanyaan mereka bisa aku jawab dan mereka puas dengan jawaban yang kuberikan. 

Pada bagian akhir aku meminta mereka menulis satu paragraf dengan tema ibu. Sebelumnya aku memberikan teknik menulis cepat yang pernah diajarkan Fahd Pahdepie kepadaku. 


Aku meminta mereka memikirkan satu kata sifat dan kata kerja yang kemudian dipadu padankan untuk memperbanyak perbendaharaan kata. Selain itu aku juga menyuruh mereka memikirkan kata hubungan sebab akibat ‘jika’ dan ‘maka’. Hasilnya seperti ini. 



Ternyata setelah melakukan teknik tersebut dalam waktu lima menit mereka mampu membuat satu paragraf dengan tema ‘Ibu.’ Namun, karena keterbatasan waktu aku hanya meminta tiga orang saja yang membacakan hasil tulisannya dan satu orang yang terbaik aku hadiahkan buku pertamaku. 


Sungguh ini pengalaman yang luar biasa bagiku, dengan keterbatasan ilmu yang kumiliki mampu berbagi dengan orang lain yang usia dan pengalaman hidupnya lebih jauh dariku. Semua ini tentunya karena para guru yang mengajariku sebelumnya sehingga aku bisa tampil untuk menjadi seorang pemateri. 

Dan yang paling utama ialah doa dari ibuku. Meskipun profesiku saat ini bukanlah seperti yang diinginkannya, tapi aku yakin dia bahagia dengan pekerjaanku saat ini menjadi seorang penulis. 



Metode Menulis Cepat dengan Berpikir Kreatif Ala Fahd Pahdepie


Terkadang untuk menghasilkan sebuah tulisan, kita membutuhkan waktu berpikir supaya tulisan yang dibuat menjadi menarik dan banyak yang baca. Namun, bila kelamaan berpikir tulisan yang dibuat pun tak kunjung jadi dan hanya tinggal di dalam draft laptop. 

Apalagi bila mood menulis tiba-tiba jadi buruk dan ide pun tidak kian muncul membuat tulisan kita semakin berlarut-larut yang akhirnya tidak selesai. 

“Tulisan yang baik itu adalah tulisan yang selesai.” Begitulah kalimat yang disampaikan Fahd Pahdepie saat memberikan materi Menulis dan Berpikir Kreatif kepada 40 peserta Juru Bicara Pancasila wilayah Aceh. 

Peserta Juru Bicara Pancasila belajar cara menulis cepat bersama Fahd Pahdepie (6/10/2018) foto @CutIntan

Ia seorang penulis yang memulai karirnya sejak duduk di kelas tiga Sekolah Dasar (SD) dengan mengirimkan puisi yang berjudul Si Jago Ayah di koran lokal daerahnya. Dari puisi itu dia menerima royalti sebesar Rp20.000 yang merupakan tergolong besar baginya yang saat itu di tahun 1994. 

Sejak saat itulah ia mulai menekuni dunia tulis-menulis hingga menerbitkan belasan buku saat ini. Beruntung kami dapat ilmu langsung darinya yang sudah paham betul dengan materi kepenulisan. 

Menurutnya menulis bukan hanya sekadar memindahkan isi pikiran ke dalam bentuk tulisan, tapi bagaimana mengemasnya menjadi lebih kreatif sehingga bisa dipasarkan. Itulah yang dilakukannya saat menerima tantangan menulis buku selama satu bulan saat duduk di bangku kelas satu Sekolah Menengah Atas (SMA). 

Saat ia mengikuti pelatihan menulis, pematerinya menantang peserta yang termasuk dirinya untuk membuat buku. Kesempatan itu tidak disia-siakannya hingga ia berhasil membuat satu buku dari kumpulan tulisan-tulisan sebelumnya dan terjual 5000 eksemplar. Uniknya buku tersebut hanya dicetak menggunakan mesin fotocopy, tapi royalti yang didapat dari buku pertamanya itu sangat besar bagi anak usia SMA. 

Kumpulan buku Fahd Pahdepie

Selain itu, tentunya dia semakin dikenal banyak orang dan diundang untuk mengisi seminar kepenulisan hingga sampai ke Aceh. Inilah pertama kalinya ia menginjakkan kaki ke Aceh karena diundang oleh Komunitas Bela Indonesia untuk mengisi materi kepenulisan untuk peserta Juru Bicara Pancasila. Nah, bagaimana seorang Fahd Pahdepie bisa berhasil di dunia kepenulisan? Yuk kita lihat tipsnya. 

Creative Writhink 

Sebelum menulis, kamu perlu mengetahui hal-hal berikut ini. 

1. Kenali jenis pembaca ; jangan berpikir bahwa pembaca tidak mengerti apa yang kamu tulis. Baiknya riset dulu dengan membaca beberapa topik atau berita yang akan kamu tulis, supaya mendapatkan gambaran tentang apa yang akan kamu tulis. 

2. Pembaca mempunyai cara pandang sendiri saat membaca tulisanmu. Biasanya tulisan yang relevan akan membuat pembaca menyukai tulisanmu, tergantung dengan pengalaman pembaca yang sesuai dengan tulisan yang diceritakan. 

3. Bila penulis masuk ke dalam pengalaman pembaca, maka pembaca akan menemukan AHA moment saat membaca tulisanmu. Saat inilah terjadi komunikasi antara penulis dengan si pembaca. 

4. Biasanya tulisan yang mentok karena tidak mengenali siapa pembacanya. 

Itulah empat poin yang perlu diingat sebelum memulai menulis. Berpikirlah dulu tentang apa yang mau kamu tulis bukan menulis dulu baru berpikir. 

Fahd Pahdepie sedang menjelaskan cara berpikir Edward De Bono. Foto: @murni

Untuk membuat tulisan yang bagus mempunyai empat syarat yaitu; Content, Context, Coherence, dan Colour. 

Content; isi tulisan harus mencerminkan judul tulisan karena bila tidak sesuai, pembaca akan berhenti membaca tulisan yang kamu tulis. 

Context; dalam hal ini kesesuaian kata juga harus dipertimbangkan supaya tidak membuat mood pembaca hilang bila ada kalimat atau kata yang tidak sesuai. Biasanya tulisan yang banyak typing error (typo) membuat orang malas membacanya. 

Coherence; keterpaduan antara satu kalimat dengan kalimat lainnya dan antara satu paragraf dan paragraf lainnya. Pembaca akan terus membaca tulisan kita bila paduan kata, kalimat, dan paragrafnya tersusun rapi. Oleh karena itu, perlu banyak membaca untuk melatih keterampilan ini. 

Colour; kamu bisa menulis dengan gayamu sendiri supaya tulisanmu lebih berwarna. Seperti aku misalnya yang suka dengan gaya kepenulisan Tere Liye, maka warna dalam tulisanku mengarah pada gaya tulisan Tere Liye. Namun, hal ini akan berubah seiring berjalannya waktu dan kamu mempunyai gaya dan warna tulisan sendiri, saat kamu sudah banyak membuat tulisan. 

Bagaimana Menulis Cepatnya? 

Setelah kamu bepikir tentang apa yang akan kamu tulis, maka cara cepat merangkai kata dan kalimat untuk membuat sebuah tulisan yang selesai ialah sebagai berikut. 

1. Brainstorming ; keluarkan semua kakata yang akan menyusun kalimat dalam tulisanmu. Apa yang terpikirkan olehmu tuliskan saja untuk memperbanyak perbendaharaan kata. 

Foto: @cutintan

Di pelatihan ini, Fahd Pahdepie membagi kami menjadi dua kelompok dan setiap orang mempunyai pasangan. Kelompok pertama disuruh memikirkan satu kata kerja, sedangkan kelompok kedua mimikirkan kata benda dan kemudian dipasangkan katanya. Beginilah paduannya. 

Membaca – Lipstik 

Menangis – Kertas 

Menghakimi – In Focus 

Merangkul – Tinta 

Membayar – Kacamata 

Menulis – Permen 

Mengejak – Air 

Menghayal – Pulpen 

Mendengar – Payung 

Menciptakan – Sepatu 

Memikirkan – Cincin 

Memetik – Topi 

Merobek – Handphone 

Melambai – Kemeja 

Melihat – Buku 

Mencintai – Kacang 

Memeluk – Udang 

Mencium- Gigi 

Dari dua pasangan kata tersebut, kita bisa membuat sebuah kalimat yang kemudian dilanjutkan dengan kalimat berikutnya. Supaya kalimat-kalimatnya menjadi nyambung, bisa menggunakan kata penghubung. 

Sekarang, kami diminta untuk membuat kalimat yang dimulai dengan kata Jika dan Maka. Kelompok pertama memulainya dengan kata Jika dan kelompok kedua dimulai dengan kata Maka. Jadi, saat dipasangkan, beginilah jadinya. 

Jika saya menyendiri maka aku akan pergi jauh 

Jika aku merindukanmu maka aku akan menikahimu 

Jika aku adalah putri kerajaan maka aku akan kurus 

Jika itu yang terbaik maka aku akan mnyukainya 

Jika aku berpikir maka berjuanglah 

Jika aku pergi maka aku minum kopi 

Jika aku lulus SMA maka aku akan marah 

Jika waktu habis maka biarlah berlalu 

Jika aku cantik maka kita akan liburan 

Jika saya menikah maka aku terkenal 

Kalimat-kalimat di atas dipikirkan oleh beda-beda kepala dan hasilnya bisa menjadi rangkaian kata untuk memulai kalimat. Nah, bagaimana bila itu dipikirkan oleh satu kepala, tentu bisa lebih nyambung lagi kalimatnya. Intinya  kita mau mencoba untuk menuliskan apa yang dipikirkan. Ternyata dengan teknik seperti ini, menjadi pelajaran baru bagiku dan bisa diterapkan saat merengkai kalimat dalam tulisan. 

2. Clustering; mengambil kata-kata yang penting untuk menunjang tulisan kita. Jadi, semua kalimat yang dituliskan tadi, tidak semuanya diambil karena cuma bagian yang ada hubungannya saja yang digunakan dalam tulisan. Selebihnya disingkarkan dahulu. 

Jadi, saat itu Fahd Pahdepie menyuruh kami untuk mengucapkan satu kata untuk kata Bapak. Akhirnya ada puluhan kata untuk penunjang kata Bapak, tapi aku memilih 11 kata saja. 

Kata yang aku pilih yaitu; bapak, keriput, sabar, keluarga, ganteng, keringat, sayang, berkorban, rokok, waktu, tua. 

3. Joting ; di bagian joting ini kita menuliskan kalimat dari kata-kata yang sudah diclustering atau dipilih. 

Fahd Pahdepie menyuruh kami menulis seperti babi mengamuk yang tidak boleh menoleh ke belakang. Artinya saat kami menulis, tulis saja apa yang terpikirkan dan tidak boleh membaca apa yang telah kami tulis sampai tulisan itu berakhir. 

Ia menyuruh kami menulis satu paragraf. Inilah tulisanku. 

Keriput di mata Bapak sudah mulai terlihat seiring berjalannya waktu ia mulai menua. Tidak seperti dulu saat aku masih kecil, Bapak terlihat ganteng dengan seragam lorengnya sambil menyandang senjata. Sayangnya itu sudah berlalu 20 tahun yang lalu, saat ia masih berpengaruh dan menunjukkan kewibawaannya kepada banyak orang. Namun, kini tidak seperti itu, Bapak bukan lagi seorang panglima perang yang berjuang membela bangsa ini. Pengorbanannya dulu hanya tinggal kenangan, keringatnya hanya menjadi bayang-bayang di kala negeri ini sudah aman. Walau ia tak lagi dianggap sebagai pimpinan perang, tapi Bapak tetap sabar menerima perlakukan orang terhadapnya karena yang terpenting buat Bapak bukan lagi siapa yang harus menang, tapi bagaimana keluarga yang ditinggalkannya dulu saat perang bisa berkumpul bersama-sama di atap yang sama. 

4. Reviewing; setelah tulisan selesai baru kita review kembali tulisan yang ditulis. Bila ada kalimat yang kurang cocok, bisa diganti dengan kalimat yang lain. 

5. Editing; di sini saatnya mengedit tulisan yang salah penulisannya entah itu typo, atau salah tempat. 

Kurang dari lima menit aku bisa menyelesaikan satu paragraf yang seperti aku buat di atas. Aku tidak menyangka bisa menulis secepat itu dan sekreatif itu. Ide itu muncul saja seperti peluru yang lepas dari senapan sehingga tulisanku selesai.

Aku saat persentasi kelompok. Foto @fitrianizar
Bagaimana teman-teman, adakah alasan untuk tidak menulis lagi? Saatnya berpikir kreatif dan segera menuliskannya dengan metode yang disampaikan Fahd Pahdepie. Selamat mencoba, semoga tulisannya selesai.

Metode Menulis Kreatif yang Membuat Tulisanmu Menarik


Selasa, 11 September 2018 aku diundang oleh Koordinator Rumah Relawan Remaja (3R) untuk mengisi materi tentang metode menulis kreatif. Mulanya aku kurang percaya diri menyampaikan materi tersebut lantaran ilmuku yang masih terbatas. 

Apalagi yang menjadi pesertanya ialah para Guru Impian yang sudah lulus seleksi dari 3R untuk ditempatkan ke daerah terpencil. Mereka nantinya akan menulis kegiatan yang dilakukan saat di daerah masing-masing, maka dari itulah mereka dibekali ilmu menulis kreatif. 

Saat mengisi materi tentang metode menulis kreatif di 3R

Namun, apa salahnya mencoba untuk berbagi ilmu yang sudah kudapat selama ini dari guru-guru menulisku. Lagian aku juga sudah banyak menulis di blog dan memenangkan perlombaan. Jadi, aku rangkumlah sebuah materi tentang metode menulis kreatif ala Yell Saints. 

Menulis kreatif terdiri dari dua suku kata yaitu menulis dan kreatif. Kita sudah belajar menulis sejak dari sekolah dasar dan kegiatan menulis sering kita lakukan. Namun, tulisan yang baik haruslah memuat lima unsur 5W 1H (What, where, who, when, why, dan how). Jadi, dalam menulis sebuah artikel, cerita, berita, cerpen, dan essai tidak terlepas dari unsu-unsur tersebut, kecuali menulis puisi, pantun, dam sajak. 

Untuk membuat tulisanmu menarik, kamu harus menyisipkan unsur kreatif di dalamnya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kreatif ialah: 


Menulis kreatif berarti hendaknya mempunyai daya cipta yang menghendaki kecerdasan berpikir untuk dituangkan ke dalam sebuah tulisan. Oleh karena pula harus ada unsur menarik dan penting di dalamnya. 

Misalnya seperti tulisanku berikut ini. 
Mengkudu yang baunya menyengat menjadi makanan khas di kampungku.
Ini adalah berita yang menarik bagi orang yang tinggal di daerah lain
dan membuat penasaran banyak orang.

Perlu juga diingat menulis kreatif berbeda dengan penulisan kreatif. Kalau menulis kreatif mengarah pada aktivitas yang dilakukan secara rutin dan membutuhkan proses yang lama untuk membentuk sebuah keterampilan. Sedangkan penulisan kreatif berorientasi pada karya yang sudah jadi atau hasil karya yang sudah populer. Misalnya seperti novel Harry Potter yang banyak diminati orang. 

Akan tetapi menulis kreatif akan menjadi penulisan kreatif bila memiliki kemauan untuk menulis dan terus belajar. Seperti halnya JK Rowling pengarang Harry Potter yang mulanya karyanya ditolak karena tidak logis. Namun, berkat perjuangannya karyanya kini menjadi penulisan kreatif yang selalu dicari-cari. 



Oleh karena itu pula untuk menulis kreatif, kamu butuh proses dan teruslah menulis setiap harinya. Supaya kamu bisa menulis setiap hari, kamu perlu ide dan gagasan. Carnya ialah dengan mencatat ide tersebut di kertas, baik itu yang di dapat dari bacaan, pengalaman, dan peristiwa sehari-hari. 

Berikut cotoh tulisanku yang idenya kudapat dari bahan bacaan. Silakan klik di sini untuk tulisan lengkapnya. 

Tulisan dI steemit dengan judul Apakah Kamu Seorang OCD?

Pernyataan di atas kudapat dari bacaan di sebuah artikel yang membahas tentang Obsesif Kompulsif Disorder (OCD). Bila orang awam membacanya menimbulkan sebuah kebingungan. Jadi, aku menyederhanakannya dengan menghubungkan pengalamanku dan peristiwa yang kulamai sehari-hari. 

Jadilah seperti berikut ini. Orang pun juga mulai paham bila dibahasakan dengan sederhana dan dihubungkan dengan pengalaman dan peristiwa sehari-hari. 



Untuk memperkaya ide tersebut hendaklah mencari bahan bacaan dari buku, internet, foto, dan bertanya kepada orang lain. Kemudian saring bahan yang didapat sesuai dengan topik yang akan ditulis. 

Dan yang paling penting ialah terus berlatih dan tetap menulis karena semakin sering kamu menulis, unsur kreatif akan terbentuk sendirinya. 

Tips Menulis Kreatif 


“Kak, gimana sih memulai tulisan karena saya kebingungan saat menuliskan kalimat pertamanya.” Tanya salah seorang peserta kepadaku. 

Untungnya aku menyediakan tips menulis beserta contoh tulisan yang kubuat di slide power pointku. 

Pertama aku menyarankan untuk membuat dialog dalam tulisan karena saat ada dialog tulisan pun akan menjadi lebih hidup. Seperti tulisan yang kubuat berikut ini. 

Tulisan ini juara I lomba blog pegadaian. Silahkan klik di sini untuk bacaan lengkapnya.

Kedua hendaknya menggunakan indra untuk mendeskripsikan suatu peristiwa di dalam tulisan. Indra yang dimasud ialah mata, hidung, mulut, telinga, kaki, tangan, dan anggota tubuh lainnya. 

Seperti contoh tulisanku berikut ini. 

Untuk tulisan lengkapnya, kilik di sini

Ketiga dengan menggunakan deskripsi. 

Di tulisan ini aku menggunakan kalimat keriput di dahi dan kedua pelipis matanya
sudah mulai nampak untuk mendeskripsikan kata tua.

Keempat dengan menuliskan cerita yang dekat dengan kita dan biasa dilakukan. 

Kelima harus spesifik dan tidak kabur. Maksudnya jangan membuat tulisan yang terlalu umum sehingga menimbulkan tafsiran yang berbeda bagi pembacanya. 

Keenam jangan berlebihan dan tetap dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. 

Itulah metode menulis kreatif yang bisa dipraktikkan langsung dalam rutinitas menulismu. Nah, bagimana teman-teman? Ada saran atau metode lain yang lebih menarik lagi darimu? Silakan saja tinggalkan saran dan masukannya di kolom kementar yang disediakan di bawah.