Tampilkan postingan dengan label Menulis kreatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menulis kreatif. Tampilkan semua postingan

Cara Mengirimkan Tulisan ke Media Massa Via Email

Salah satu tulisanku yang dimuat Harian Serambi Indonesia

Sebelumnya aku sudah menuliskan cara mudah menulis opini. Nah, di postingan kali ini aku akan menjelaskan cara mengirimkan tulisan tersebut ke media massa via email.

Aku pikir setelah membuat tulisan opini tersebut, mereka yang pemula akan langsung mengirimkannya via email. Namun ternyata banyak yang kebingungan tentang format pengiriman email ke media massa tersebut.

Dari pada aku menjawab satu persetu pertanyaan mereka, lebih baik aku tuliskan di postingan ini. Jadi, bila ada yang bertanya lagi tulisan ini menjadi panduannya. Baiklah, akan aku jelaskan step by setepnya.

Sebelum mengirimkan tulisan tersebut, kamu harus mengetahui dulu alamat email media yang kamu tuju. Misalnya kamu ingin mengrimkan tulisan ke Seramabi Indonesia (SI), jadi kamu harus menuliskan email SI di tujuan email, yaitu redaksi@serambinews.com.



Tahap berikutnya di subjek email, tuliskan jenis tulisan yang kamu kirimkan. Entah itu berupa artikel opini, jurnalisme warga, cerpen, atau puisi diikuti dengan judul tulisan tersebut. Contohnya; Opini (Damai Itu Indah).

Kemudian lampirkan tulisanmu dalam format MS Word melalui attachment (sisipan). Perlu diingat jangan menuliskan artikel di badan email. Kamu juga harus memastikan bahwa format MS Word itu ditulis dengan font Time New Roman, spasi 1,5, dan jumlah kata antara 750-1000 untuk sebuah tulisan opini. Sedangkan untuk tulisan lain berbeda lagi ketentuannya.

Di dalam tulisan tersebut, kamu juga menyebutkan nama lengkap, kegiatanmu saat ini, email, dan nomor kontak yang bisa dihubungi, seperti berikut ini.

 

Sebagai pengantar, kamu bisa menuliskan di badan email deskripsi singkat tentang tulisanmu dan tujuan kamu mengirimkannya. Namun, jangan terlalu panjang menuliskan tentang hal ini. Untuk lebih jelasnya lihat cntoh berikut ini.



Begitulah cara mudah mengirimkan tulisan ke media massa melalui email, gampangkan! Bila kamu sudah sering mengirimkannya, aku yakin ini sudah di luar kepala karena pekerjaan yang dilakukan berulang akan menjadi sebuah kebiasaan yang mudah dilakukan. Selamat mencoba, semoga tulisannya tembus media.

Berikut aku lampirkan beberapa alamat email media massa dan online yang bisa kamu kirimkan tulisan.

Untuk media lokal Aceh

1. Serambi Indonesia (online dan cetak) : redaksi@serambinews.com

2. Aceh Trend (Online) : acehtrendmedia@gmail.com

3. Harian Aceh (online dan cetak) : redaksi@harian-aceh.com

4. Rakyat Aceh (online dan cetak) : redaksi@rakyataceh.com

5. Aceh Journal National Nnetwork (Online) : ajnn.net@gmail.com

6. Antara Aceh (Online) : redaksi@antaraaceh.com

7. Kantor Berita Aceh (Online) : redaksi.kba@gmail.com


Untuk Media Nasional


1. Koran Kompas Indonesia (online dan cetak) : kompas@kompas.com. opini@kompas.com, opini@kompas.co.id

2. Koran Tempo (online dan cetak) : koran@tempo.co.id

3. Harian Republika (online dan cetak) : sekretariat@republika.co.id

4. Koran Sindo Seeputar Indonesia (online dan cetak) : redaksi@seputar-indonesia.com


4 Cara Dasar Menulis Cerpen yang Harus Diketahui Pemula


Menulis cerpen bukan hal yang mudah, itu menurutku yang biasa menulis dalam bentuk berita, opini, artikel, dan pengalaman kehidupan. Bahasa yang biasa kugunakan dalam tulisan bersifat lugas, jelas, terarah, dan rinci yang sangat jauh dengan gaya kepenulisan cerpen. 

Di dalam cerpen terdapat permainan kata yang mengungkapkan suatu kejadian dalam bentuk sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa, dan pengetahuan yang mendalam tapi diungkapkan dalam kiasan. Orang yang membacanya seakan larut di dalam cerita walaupun belum tahu jelas pokok permasalahannya. Namun, si pembaca tetap melanjutkan bacaannya karena menikmati sastra yang tersaji di dalam cerpen, apalagi yang melibatkan emosi pembaca. 

Mungkin kamu pernah merasakan ketika membaca cerpen yang menarik, matamu terus melek mengikuti alur cerita. Semakin membacanya, semakin besar rasa ingin tahumu apalagi yang mengaduk-ngaduk emosi sehingga tanpa sadar kamu membacanya sampai tuntas. Di akhir tulisan, kamulah yang menyimpulkan sendiri apa maksud dari ceritanya. 

Keasyikan membaca cerpen membuat kita lupa waktu
Tulisan seperti itu membutuhkan cara dasar yang kuat untuk membuat cerpen yang menarik. Aku masih awam dalam menulis cerpen, bahkan bisa dikatakan pemula. Meskipun sering memenangkan lomba tulisan di blog, tapi bukanlah berbentuk cerpen. 

Oleh karena itu, aku mengikuti Kelas Menulis Cerpen Online (KMCO) yang dimentori oleh Joni Lis Efendi, MM. Dia merupakan alumni dari Writerpreneur Revolution (WR) Academy yang telah banyak menghasilkan buku dan membantu penulis pemula menerbitkan buku-buku setelah belajar menulis di kelasnya. Jadi, KMCO ini menjadi langkah awal bagiku dalam belajar menulis cerpen. 

Kelas online ini dibuat di grup WhatsApp (WA) dengan waktu 15 hari pembelajaran. Di sini mentor Joni memberikan materi dalam bentuk modul, maupun materi yang diulasnya per bagian. Supaya tidak lupa dan niat untuk berbagi juga, aku menuliskan materinya di catatan blog ini. 

Berikut 4 teknik dasar menulis cerpen yang aku rangkum dari materi di KMCO. 

1. Menentukan tujuan menulis cerpen 

Setiap hal yang dilakukan pasti punya tujuan karena pekerjaan yang tidak punya tujuan adalah kesia-siaan. 
Dalam membuat cerpen, kamu harus menentukan tujuannya. Apakah sekadar untuk menghibur hati yang galau, mengikuti lomba, atau ingin dikirimkan ke media lokal dan nasional. Untuk menetukan tujuan menulis ini, kamu harus mengetahui 4 hal dasar berikut ini. 

a. Target; misalnya ikut lomba (tuliskan lomba apa yang diikuti), kirim ke koran apa, ikut dalam menulis buku antologi, atau sekadar posting di sosial media. 

b. Ada batasan waktunya; misalnya kirim cerpen ke Kompas pada tanggal 27 Januari 2020. 

c. Realistis; memungkinkan untuk diwujudkan. Jangan membuat tujuan yang ngaur atau nyaris mustahil untuk dicapai. Misalnya membuat cerpen setiap hari. Ingat lo, kita masih pemula. Untuk menghasilkan satu buah cerpen saja membutuhkan waktu lama, apalagi harus setiap hari, maka tuntaskan dulu satu per satu. 

d. Bisa dievaluasi jika gagal atau tidak tercapai tujuannya. 

Berikut lima tujuanku dalam menulis cerpen, tapi yang keempat menurut mentor Joni bukanlah tujuan yang benar sehingga aku menggantinya. 

Tugas 1 : Tujuan menulis cerpen Yell Saints; 

1) Menghasilkan dua buah buku antologi cerpen yang akan diterbitkan pada tahun 2020. 

2) Mengikuti lomba cerita perjuanganku tentang kisah motivasi 2020 dengan tema Katika Aku Terpuruk. Aku mengirimkannya pada tanggal 14/2/2020 karena deadline-nya tanggal 20/2/2020. 

3) Mengikuti lomba cerpen nasional (LCN) 2020 dengan tema Cerita Lokalitas. Aku mengirimkannya pada tanggal 4/4/2020 karena deadline-nya tanggal 20/4/2020. 

4) Belajar dan memperdalam ilmu tentang cerpen di kelas KMCO. 

5) Menulis cerpen untuk dikirimkan ke Media Serambi Indonesia pada tanggal 21/4/2020. 

Tujuan keempat karena bukan tujuan yang realistis maka aku ganti dengan menulis cerpen untuk seleksi Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2020 pada tanggal 2/3/2020 karena deadline-nya tanggal 6/3/2020. 


2. Membuat tema, topik, dan judul 

Setelah mempunyai tujuan membuat cerpen, sekarang saatnya menentukan tema, topik, dan judul. Perlu diketahui perbedaan antara tema, topik, dan judul karena banyak pemula yang terjebak dalam lingkup ini. Untuk lebih jelasnya, aku rincikan seperti berikut. 

Tema; pokok bahasan utama 

Topik; bagian-bagian dari tema yang akan menceritakan masalah utama di dalam cerpen 

Judul; bagian spesifik dari topik yang menjadi simbolik dari seluruh cerpen 

Bila kita anologikan dalam sebuah rumah maka dapat kita rincikan mana yang dikatakan tema, topik, dan judul. Rumah banyak modelnya, ada rumah kayu, beton, modern, klasik, satu lantai, dua lantai, dan sebagainya. Setiap model rumah itu kita sebut sebagai tema

Misalnya kita ambil satu tema, yaitu rumah klasik. Nah, sekarang apa yang terbayang di pikiranmu tentang rumah klasik? Pasti yang tergambar dalam imajinasimu rumah klasik itu mempunyai bagian-bagian seperti halaman, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, kamar tidur, kamar mandi, dan sebagainya. Bagian-bagian dari rumah klasik itu disebut topik

Dari banyak topik itu, maka kita pilih satu topik misalnya kamar tidur. Nah, sekarang fokus terhadap topik tersebut dan bayangkan apa saja yang terdapat di dalam kamar tidur rumah klasik itu. Di situ kamu bisa melihat ada tempat tidur berkelambu, meja rias, cermin yang berukir indah, lantai takel motif jadul, cat dinding kamar, jendela lebar dan sebagainya. 

Bagian-bagian yang spesifik dari kamar tidur itulah yang bisa dijadikan judul tulisan. Carilah yang paling kamu sukai, kuasai, unik, dan khas. Ini akan menjadi cerita yang paling greget yang pernah kamu tulis. 


Berikut cotoh pemilihan tema, topik, dan judul yang sesuai dengan penjelasan di atas. 

Tema: Hari terindah bersama ibu 

Topik: kenangan waktu kecil selalu disayang ibu, kenangan waktu SD dimarahi ibu, kenangan patah hati waktu SMA dihibur oleh ibu, kenangan waktu ibu sakit, dan sebagainya. Pilih salah satu topik untuk diangkat menjadi judul. 

Judul: Seribu Nyawa untuk Ibu (diambil dari topik kenangan waktu ibu sakit, cerita perjuangan aku aku pontang panting berjuang sampai ibu sembuh, seperti ingin memberi seribu nyawa untuk ibu). 

Tugas 2 : Berikut tugas yang kubuat dalam latihan menentukan tema, topik, dan judul di kelas KMCO. 

Tema: Ketika Aku Remaja 

Topik: ikut organisasi Palang Merah Remaja (PMR) di sekolah, perjalanan tugas dadakan dari PMI Cabang Aceh Selatan, ditunjuk sebagai koordinator PMR kabupaten, mendadak terkenal di kalangan remaja antar sekolah. 

Judul: Perjalanan Tugas Pertama ke Kota Radja (diambil dari topik perjalanan tugas dadakan dari PMI Cabang Aceh Selatan, cerita saat aku ditunjuk untuk mengikuti kegiatan Forum Palang Merah Remaja (Forpis) di Kota Radja dengan melakukan perjalanan selama 12 jam perjalanan menaiki mobil L300 (mini bus), melewati rakit, dan ini pengalaman pertama melakukan perjalanan terjauh tanpa ditemani orang tua.) 

Kemudian tugasku itu dievaluasi oleh mentor Joni dan diberi masukan; topik yang kutulis harus disederhanakan lagi dan fokus pada satu masalah. Sedangkan judulnya terlalu panjang karena judul cerpen yang bagus terdiri atas 2-5 kata. 

3. Menentukan kata kunci untuk judul 

Adapun ciri khas kata kunci ialah; 

a. Mempunyai makna konotatif (multi makna) sehingga pembaca punya definisi sendiri untuk kata tersebut sesuai pemahaman mereka. 

b. Bisa dikaitkan dengan kata-kata lain. 

c. Mudah diingat dan kata-katanya populer. 

d. Bertenaga/powerful, baik berdiri sendiri maupun digabung dengan kata lain. 

e. Mematik keingintahuan pembaca. Hal ini karena kata-kata tersebut mempunyai daya tarik dan terkenang dalam ingatan pembaca. 

f. Secara pribadi ada pengalaman imajiner dengan kata-kata kunci tersebut sehingga selalu ada sisi istimewa dari kata kunci tersebut. 

g. Bermakna positif. 

h. Memancing imajinasi penulis untuk merangkai jalinan cerita. 

Dari beberapa ciri tersebut, poin pentingnya ialah kata kunci tersebut populer, positif, dan mudah diingat. Misalnya; ibu, ayah, cinta, rindu, asmara, dendam, kematian, Tuhan, malaikat, pejuang, pemberani, nama-nama kota seperti Jakarta, Surabaya, Yogjakarta, Bandung, Surabaya, rumah, kota, desa, keterangan waktu seperti malam, siang, pagi, musim, keterangan usia; muda, tua, remaja, dewasa, bayi, dan sebagainya. 

Untuk menemukan judul yang tepat dari kata kunci tersebut, ada tiga trik yang bisa dicoba. 

a. Temukan dan tulis 1-3 kata yang sesuai dengan tema cerita. 

b. Rangkai kata kunci tersebut dengan kata-kata lain. Jika kamu ingin menulis judul lebih dari satu, buat coretan di kertas setidaknya 5 alternatif judul. 

c. Dari beberapa judul tersebut, pilih yang paling sesuai untuk judul cerpennya. Judul yang baik terdiri atas minimal 2 kata dan maksimal 5 kata. 

Tugas 3 : Berikut lima judul yang kubuat sebagai tugas dari KMCO. Kata kunci: Rumah 

Judul 1 : Cinta di Rumah Susun 

Judul 2 : Rumah Kenangan 

Judul 3 : Perjuangan Membeli Rumah 

Judul 4 : Antara Rumah Ayah dan Ibu 

Judul 5 : Tak Sebesar Rumah Dini 

Pilihan judul lainnya dari teman-teman menulis yang kuanggap menarik dijadikan judul; 

a. Gundukan Itu Disebut Rumah 

b. Tangisan di Rumah Tuhan 

c. Rumah Putih Sang Mantan 

d. Rumah Tangga untuk Aila 

e. Karena Kamu adalah Rumah 

f. Aku, Kamu, dan Rumah 

g. Rumah Kedua Suami 

h. Ratapan Pendosa di Rumah Tuhan 

i. Rumahku di Ujung Pena 

j. Nostalgia di Rumah Boneka 

k. Mahligai di Rumah Kontrakan 

l. Kukira Istana, Nyatanya Rumah Laknat. 

4. Memulai cerita 


Dalam menulis cerpen, jangan memberikan informasi secara detail. Cukup ceritakan saja mulai dari paragraf pertama sampai terakhir. Pembaca diberi kelonggaran untuk menikmati dan menyimpulkan cerita tersebut. 

Tentunya sesuai dengan presepsi, nalar, dan pengalamannya sendiri. Usahakan ceritanya tidak ada, tapi gunakan riak emosi yang naik turun, kata-kata yang memikat, penulisan yang benar, dan cerita yang masuk akal (tidak terkesan mengarang bebas). 

Contoh : 

Rio marah besar setelah aku ceritakan kelakuan Dini, pacarnya yang dia bela mati-matian dalam dua tahun ini yang ternyata tega selingkuh dengan mantannya dulu. Aku melihat sendiri Dini jalan sama Dedi malam Minggu kemarin. Sebagai bukti, aku melihatkan foto hasil jepretan HP ku, momen kemesraan mereka itu kepada Rio. Jujur, aku kasihan kepada Rio sahabat baik baikku sejak SMP dulu. Aku juga tidak habis pikir kenapa Dini begitu tega mengkhianati Rio. 

Dalam kalimat yang ditebalkan ada informasi yang dijelaskan dengan gamblang oleh penulis. Kita seperti sedang membaca berita gossip infotaiment. Bandingkan dengan gaya bahasa cerpen berikut. 

Seketika aku melihat bola mata Rio menyemburkan kobaran api. Dengus nafasnya bergemuruh menghantam kesadaranku. Wajah tenang itu berubah menjadi badai yang siap menerjang. Aku tak mengira ketehuhan Rio selama ini yang sekuat karang punah ranah dalam hitungan detik. Aku mengurut dada, memasukkan kembali ponselku ke saku celana. Tak semestinya aku sejauh ini masuk ke hubungannya dengan Dini. Tapi, aku tetap berada di belakangnya. Dia sahabatku. 

Tugas 4 : menulis  dari KMCO 

Minggu pagi ini Pak Darto seperti biasa pergi ke pasar. Bahkan,sehabis subuh dia sudah menggenjot ontel tuanya yang disesaki dagangannya. Tapi, naas, sebelum dia sampai ke pasar di tengah perjalanan sepedanya di serempet mobil. Kepalanya bocor, tak sadarkan diri, kondisi kritis. Si penabrak langsung kabur. Pagi itu istrinya, Lasmi punya firasat buruk. Habis salat subuh dia mengatakan kepada suaminya itu. Tapi Pak Darto cuek tak menggubris sambil berlalu. 

Paragraf di atas aku ganti menjadi dengan teknik bercerita yang memukau. 

Darah berceceran di jalan, Pak Darto tergeleta tak berdaya di sebelah sepeda ontel yang dikendarainya. Nafasnya tersengal seakan malaikat maut sudah siap menyambut kedatangannya. Mobil yang menjungkalkan sepeda ontel Ppak Darto terus melaju meninggalkan pemilik sepeda itu. Lasmi tak kuasa menahan tangis ketika seorang tetangga menyampaikan kabar duka yang menimpa suaminya. Padahal sebelum Pak Darto pergi membawa dagangannya, Lasmi sempat mengungkapkan keresahan hatinya pada Pak Darto, tapi suaminya menganggap itu hanya angina lalu. 


Metode Menulis Cepat dengan Berpikir Kreatif Ala Fahd Pahdepie


Terkadang untuk menghasilkan sebuah tulisan, kita membutuhkan waktu berpikir supaya tulisan yang dibuat menjadi menarik dan banyak yang baca. Namun, bila kelamaan berpikir tulisan yang dibuat pun tak kunjung jadi dan hanya tinggal di dalam draft laptop. 

Apalagi bila mood menulis tiba-tiba jadi buruk dan ide pun tidak kian muncul membuat tulisan kita semakin berlarut-larut yang akhirnya tidak selesai. 

“Tulisan yang baik itu adalah tulisan yang selesai.” Begitulah kalimat yang disampaikan Fahd Pahdepie saat memberikan materi Menulis dan Berpikir Kreatif kepada 40 peserta Juru Bicara Pancasila wilayah Aceh. 

Peserta Juru Bicara Pancasila belajar cara menulis cepat bersama Fahd Pahdepie (6/10/2018) foto @CutIntan

Ia seorang penulis yang memulai karirnya sejak duduk di kelas tiga Sekolah Dasar (SD) dengan mengirimkan puisi yang berjudul Si Jago Ayah di koran lokal daerahnya. Dari puisi itu dia menerima royalti sebesar Rp20.000 yang merupakan tergolong besar baginya yang saat itu di tahun 1994. 

Sejak saat itulah ia mulai menekuni dunia tulis-menulis hingga menerbitkan belasan buku saat ini. Beruntung kami dapat ilmu langsung darinya yang sudah paham betul dengan materi kepenulisan. 

Menurutnya menulis bukan hanya sekadar memindahkan isi pikiran ke dalam bentuk tulisan, tapi bagaimana mengemasnya menjadi lebih kreatif sehingga bisa dipasarkan. Itulah yang dilakukannya saat menerima tantangan menulis buku selama satu bulan saat duduk di bangku kelas satu Sekolah Menengah Atas (SMA). 

Saat ia mengikuti pelatihan menulis, pematerinya menantang peserta yang termasuk dirinya untuk membuat buku. Kesempatan itu tidak disia-siakannya hingga ia berhasil membuat satu buku dari kumpulan tulisan-tulisan sebelumnya dan terjual 5000 eksemplar. Uniknya buku tersebut hanya dicetak menggunakan mesin fotocopy, tapi royalti yang didapat dari buku pertamanya itu sangat besar bagi anak usia SMA. 

Kumpulan buku Fahd Pahdepie

Selain itu, tentunya dia semakin dikenal banyak orang dan diundang untuk mengisi seminar kepenulisan hingga sampai ke Aceh. Inilah pertama kalinya ia menginjakkan kaki ke Aceh karena diundang oleh Komunitas Bela Indonesia untuk mengisi materi kepenulisan untuk peserta Juru Bicara Pancasila. Nah, bagaimana seorang Fahd Pahdepie bisa berhasil di dunia kepenulisan? Yuk kita lihat tipsnya. 

Creative Writhink 

Sebelum menulis, kamu perlu mengetahui hal-hal berikut ini. 

1. Kenali jenis pembaca ; jangan berpikir bahwa pembaca tidak mengerti apa yang kamu tulis. Baiknya riset dulu dengan membaca beberapa topik atau berita yang akan kamu tulis, supaya mendapatkan gambaran tentang apa yang akan kamu tulis. 

2. Pembaca mempunyai cara pandang sendiri saat membaca tulisanmu. Biasanya tulisan yang relevan akan membuat pembaca menyukai tulisanmu, tergantung dengan pengalaman pembaca yang sesuai dengan tulisan yang diceritakan. 

3. Bila penulis masuk ke dalam pengalaman pembaca, maka pembaca akan menemukan AHA moment saat membaca tulisanmu. Saat inilah terjadi komunikasi antara penulis dengan si pembaca. 

4. Biasanya tulisan yang mentok karena tidak mengenali siapa pembacanya. 

Itulah empat poin yang perlu diingat sebelum memulai menulis. Berpikirlah dulu tentang apa yang mau kamu tulis bukan menulis dulu baru berpikir. 

Fahd Pahdepie sedang menjelaskan cara berpikir Edward De Bono. Foto: @murni

Untuk membuat tulisan yang bagus mempunyai empat syarat yaitu; Content, Context, Coherence, dan Colour. 

Content; isi tulisan harus mencerminkan judul tulisan karena bila tidak sesuai, pembaca akan berhenti membaca tulisan yang kamu tulis. 

Context; dalam hal ini kesesuaian kata juga harus dipertimbangkan supaya tidak membuat mood pembaca hilang bila ada kalimat atau kata yang tidak sesuai. Biasanya tulisan yang banyak typing error (typo) membuat orang malas membacanya. 

Coherence; keterpaduan antara satu kalimat dengan kalimat lainnya dan antara satu paragraf dan paragraf lainnya. Pembaca akan terus membaca tulisan kita bila paduan kata, kalimat, dan paragrafnya tersusun rapi. Oleh karena itu, perlu banyak membaca untuk melatih keterampilan ini. 

Colour; kamu bisa menulis dengan gayamu sendiri supaya tulisanmu lebih berwarna. Seperti aku misalnya yang suka dengan gaya kepenulisan Tere Liye, maka warna dalam tulisanku mengarah pada gaya tulisan Tere Liye. Namun, hal ini akan berubah seiring berjalannya waktu dan kamu mempunyai gaya dan warna tulisan sendiri, saat kamu sudah banyak membuat tulisan. 

Bagaimana Menulis Cepatnya? 

Setelah kamu bepikir tentang apa yang akan kamu tulis, maka cara cepat merangkai kata dan kalimat untuk membuat sebuah tulisan yang selesai ialah sebagai berikut. 

1. Brainstorming ; keluarkan semua kakata yang akan menyusun kalimat dalam tulisanmu. Apa yang terpikirkan olehmu tuliskan saja untuk memperbanyak perbendaharaan kata. 

Foto: @cutintan

Di pelatihan ini, Fahd Pahdepie membagi kami menjadi dua kelompok dan setiap orang mempunyai pasangan. Kelompok pertama disuruh memikirkan satu kata kerja, sedangkan kelompok kedua mimikirkan kata benda dan kemudian dipasangkan katanya. Beginilah paduannya. 

Membaca – Lipstik 

Menangis – Kertas 

Menghakimi – In Focus 

Merangkul – Tinta 

Membayar – Kacamata 

Menulis – Permen 

Mengejak – Air 

Menghayal – Pulpen 

Mendengar – Payung 

Menciptakan – Sepatu 

Memikirkan – Cincin 

Memetik – Topi 

Merobek – Handphone 

Melambai – Kemeja 

Melihat – Buku 

Mencintai – Kacang 

Memeluk – Udang 

Mencium- Gigi 

Dari dua pasangan kata tersebut, kita bisa membuat sebuah kalimat yang kemudian dilanjutkan dengan kalimat berikutnya. Supaya kalimat-kalimatnya menjadi nyambung, bisa menggunakan kata penghubung. 

Sekarang, kami diminta untuk membuat kalimat yang dimulai dengan kata Jika dan Maka. Kelompok pertama memulainya dengan kata Jika dan kelompok kedua dimulai dengan kata Maka. Jadi, saat dipasangkan, beginilah jadinya. 

Jika saya menyendiri maka aku akan pergi jauh 

Jika aku merindukanmu maka aku akan menikahimu 

Jika aku adalah putri kerajaan maka aku akan kurus 

Jika itu yang terbaik maka aku akan mnyukainya 

Jika aku berpikir maka berjuanglah 

Jika aku pergi maka aku minum kopi 

Jika aku lulus SMA maka aku akan marah 

Jika waktu habis maka biarlah berlalu 

Jika aku cantik maka kita akan liburan 

Jika saya menikah maka aku terkenal 

Kalimat-kalimat di atas dipikirkan oleh beda-beda kepala dan hasilnya bisa menjadi rangkaian kata untuk memulai kalimat. Nah, bagaimana bila itu dipikirkan oleh satu kepala, tentu bisa lebih nyambung lagi kalimatnya. Intinya  kita mau mencoba untuk menuliskan apa yang dipikirkan. Ternyata dengan teknik seperti ini, menjadi pelajaran baru bagiku dan bisa diterapkan saat merengkai kalimat dalam tulisan. 

2. Clustering; mengambil kata-kata yang penting untuk menunjang tulisan kita. Jadi, semua kalimat yang dituliskan tadi, tidak semuanya diambil karena cuma bagian yang ada hubungannya saja yang digunakan dalam tulisan. Selebihnya disingkarkan dahulu. 

Jadi, saat itu Fahd Pahdepie menyuruh kami untuk mengucapkan satu kata untuk kata Bapak. Akhirnya ada puluhan kata untuk penunjang kata Bapak, tapi aku memilih 11 kata saja. 

Kata yang aku pilih yaitu; bapak, keriput, sabar, keluarga, ganteng, keringat, sayang, berkorban, rokok, waktu, tua. 

3. Joting ; di bagian joting ini kita menuliskan kalimat dari kata-kata yang sudah diclustering atau dipilih. 

Fahd Pahdepie menyuruh kami menulis seperti babi mengamuk yang tidak boleh menoleh ke belakang. Artinya saat kami menulis, tulis saja apa yang terpikirkan dan tidak boleh membaca apa yang telah kami tulis sampai tulisan itu berakhir. 

Ia menyuruh kami menulis satu paragraf. Inilah tulisanku. 

Keriput di mata Bapak sudah mulai terlihat seiring berjalannya waktu ia mulai menua. Tidak seperti dulu saat aku masih kecil, Bapak terlihat ganteng dengan seragam lorengnya sambil menyandang senjata. Sayangnya itu sudah berlalu 20 tahun yang lalu, saat ia masih berpengaruh dan menunjukkan kewibawaannya kepada banyak orang. Namun, kini tidak seperti itu, Bapak bukan lagi seorang panglima perang yang berjuang membela bangsa ini. Pengorbanannya dulu hanya tinggal kenangan, keringatnya hanya menjadi bayang-bayang di kala negeri ini sudah aman. Walau ia tak lagi dianggap sebagai pimpinan perang, tapi Bapak tetap sabar menerima perlakukan orang terhadapnya karena yang terpenting buat Bapak bukan lagi siapa yang harus menang, tapi bagaimana keluarga yang ditinggalkannya dulu saat perang bisa berkumpul bersama-sama di atap yang sama. 

4. Reviewing; setelah tulisan selesai baru kita review kembali tulisan yang ditulis. Bila ada kalimat yang kurang cocok, bisa diganti dengan kalimat yang lain. 

5. Editing; di sini saatnya mengedit tulisan yang salah penulisannya entah itu typo, atau salah tempat. 

Kurang dari lima menit aku bisa menyelesaikan satu paragraf yang seperti aku buat di atas. Aku tidak menyangka bisa menulis secepat itu dan sekreatif itu. Ide itu muncul saja seperti peluru yang lepas dari senapan sehingga tulisanku selesai.

Aku saat persentasi kelompok. Foto @fitrianizar
Bagaimana teman-teman, adakah alasan untuk tidak menulis lagi? Saatnya berpikir kreatif dan segera menuliskannya dengan metode yang disampaikan Fahd Pahdepie. Selamat mencoba, semoga tulisannya selesai.

Metode Menulis Kreatif yang Membuat Tulisanmu Menarik


Selasa, 11 September 2018 aku diundang oleh Koordinator Rumah Relawan Remaja (3R) untuk mengisi materi tentang metode menulis kreatif. Mulanya aku kurang percaya diri menyampaikan materi tersebut lantaran ilmuku yang masih terbatas. 

Apalagi yang menjadi pesertanya ialah para Guru Impian yang sudah lulus seleksi dari 3R untuk ditempatkan ke daerah terpencil. Mereka nantinya akan menulis kegiatan yang dilakukan saat di daerah masing-masing, maka dari itulah mereka dibekali ilmu menulis kreatif. 

Saat mengisi materi tentang metode menulis kreatif di 3R

Namun, apa salahnya mencoba untuk berbagi ilmu yang sudah kudapat selama ini dari guru-guru menulisku. Lagian aku juga sudah banyak menulis di blog dan memenangkan perlombaan. Jadi, aku rangkumlah sebuah materi tentang metode menulis kreatif ala Yell Saints. 

Menulis kreatif terdiri dari dua suku kata yaitu menulis dan kreatif. Kita sudah belajar menulis sejak dari sekolah dasar dan kegiatan menulis sering kita lakukan. Namun, tulisan yang baik haruslah memuat lima unsur 5W 1H (What, where, who, when, why, dan how). Jadi, dalam menulis sebuah artikel, cerita, berita, cerpen, dan essai tidak terlepas dari unsu-unsur tersebut, kecuali menulis puisi, pantun, dam sajak. 

Untuk membuat tulisanmu menarik, kamu harus menyisipkan unsur kreatif di dalamnya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kreatif ialah: 


Menulis kreatif berarti hendaknya mempunyai daya cipta yang menghendaki kecerdasan berpikir untuk dituangkan ke dalam sebuah tulisan. Oleh karena pula harus ada unsur menarik dan penting di dalamnya. 

Misalnya seperti tulisanku berikut ini. 
Mengkudu yang baunya menyengat menjadi makanan khas di kampungku.
Ini adalah berita yang menarik bagi orang yang tinggal di daerah lain
dan membuat penasaran banyak orang.

Perlu juga diingat menulis kreatif berbeda dengan penulisan kreatif. Kalau menulis kreatif mengarah pada aktivitas yang dilakukan secara rutin dan membutuhkan proses yang lama untuk membentuk sebuah keterampilan. Sedangkan penulisan kreatif berorientasi pada karya yang sudah jadi atau hasil karya yang sudah populer. Misalnya seperti novel Harry Potter yang banyak diminati orang. 

Akan tetapi menulis kreatif akan menjadi penulisan kreatif bila memiliki kemauan untuk menulis dan terus belajar. Seperti halnya JK Rowling pengarang Harry Potter yang mulanya karyanya ditolak karena tidak logis. Namun, berkat perjuangannya karyanya kini menjadi penulisan kreatif yang selalu dicari-cari. 



Oleh karena itu pula untuk menulis kreatif, kamu butuh proses dan teruslah menulis setiap harinya. Supaya kamu bisa menulis setiap hari, kamu perlu ide dan gagasan. Carnya ialah dengan mencatat ide tersebut di kertas, baik itu yang di dapat dari bacaan, pengalaman, dan peristiwa sehari-hari. 

Berikut cotoh tulisanku yang idenya kudapat dari bahan bacaan. Silakan klik di sini untuk tulisan lengkapnya. 

Tulisan dI steemit dengan judul Apakah Kamu Seorang OCD?

Pernyataan di atas kudapat dari bacaan di sebuah artikel yang membahas tentang Obsesif Kompulsif Disorder (OCD). Bila orang awam membacanya menimbulkan sebuah kebingungan. Jadi, aku menyederhanakannya dengan menghubungkan pengalamanku dan peristiwa yang kulamai sehari-hari. 

Jadilah seperti berikut ini. Orang pun juga mulai paham bila dibahasakan dengan sederhana dan dihubungkan dengan pengalaman dan peristiwa sehari-hari. 



Untuk memperkaya ide tersebut hendaklah mencari bahan bacaan dari buku, internet, foto, dan bertanya kepada orang lain. Kemudian saring bahan yang didapat sesuai dengan topik yang akan ditulis. 

Dan yang paling penting ialah terus berlatih dan tetap menulis karena semakin sering kamu menulis, unsur kreatif akan terbentuk sendirinya. 

Tips Menulis Kreatif 


“Kak, gimana sih memulai tulisan karena saya kebingungan saat menuliskan kalimat pertamanya.” Tanya salah seorang peserta kepadaku. 

Untungnya aku menyediakan tips menulis beserta contoh tulisan yang kubuat di slide power pointku. 

Pertama aku menyarankan untuk membuat dialog dalam tulisan karena saat ada dialog tulisan pun akan menjadi lebih hidup. Seperti tulisan yang kubuat berikut ini. 

Tulisan ini juara I lomba blog pegadaian. Silahkan klik di sini untuk bacaan lengkapnya.

Kedua hendaknya menggunakan indra untuk mendeskripsikan suatu peristiwa di dalam tulisan. Indra yang dimasud ialah mata, hidung, mulut, telinga, kaki, tangan, dan anggota tubuh lainnya. 

Seperti contoh tulisanku berikut ini. 

Untuk tulisan lengkapnya, kilik di sini

Ketiga dengan menggunakan deskripsi. 

Di tulisan ini aku menggunakan kalimat keriput di dahi dan kedua pelipis matanya
sudah mulai nampak untuk mendeskripsikan kata tua.

Keempat dengan menuliskan cerita yang dekat dengan kita dan biasa dilakukan. 

Kelima harus spesifik dan tidak kabur. Maksudnya jangan membuat tulisan yang terlalu umum sehingga menimbulkan tafsiran yang berbeda bagi pembacanya. 

Keenam jangan berlebihan dan tetap dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. 

Itulah metode menulis kreatif yang bisa dipraktikkan langsung dalam rutinitas menulismu. Nah, bagimana teman-teman? Ada saran atau metode lain yang lebih menarik lagi darimu? Silakan saja tinggalkan saran dan masukannya di kolom kementar yang disediakan di bawah.