Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan

Mi Aceh, Makanan Favorit yang Melegenda di Kotaku

Tampilan Mi Aceh basah.
Sumber foto dokumen pribadi.


Siapa yang tidak kenal dengan mi Aceh? Makanan yang melegenda dari Tanah Rencong ini menjadi incaran favorit bagi setiap pelancong yang datang ke Aceh. Rasa pedasnya yang gurih dan nikmat, dipadukan dengan bumbu yang khas memperkuat rasa bagi siapa saja yang menikmatinya.

Namun, jika di Aceh tidak disebut lagi dengan mi Aceh, karena bila memesan mi di lapak penjual mi di Aceh, sudah tentu barangnya mi Aceh. Penyebutan mi Aceh hanya untuk mereka yang membuka usaha jual mi Aceh di luar Aceh, seperti Mi Aceh Titi Bobrok di Kota Medan atau Mi Aceh Seulawah di Malaysia.

Bila ada yang memesan mi Aceh saat hendak makan mi di lapak penjual mi di Aceh, bisa dipastikan itu adalah tamu. Sebab, hanya tamu yang menggunakan penyebutan tersebut. Kalau orang Aceh memesan mi tanpa harus menyebutkan lagi mi Aceh karena hampir setiap kota hingga pelosok desa di Aceh terdapat warung penjual mi Aceh. Hanya saja tidak lagi diberi nama Mi Aceh, tapi dengan nama penjualnya seperti Mi Ayah, Mi Midi, Mi Razali, Mi Abi, dan sebagainya.

Bentuk lapak penjual Mi Aceh sangat khas seperti Mie Abi yang berada di Gampong Peulanggahan, Kutaraja, Kota Banda Aceh ini. Sumber foto dokumen pribadi.


Lantas, apa yang menjadi ciri khas dari mi Aceh? Salah satu ciri khas dari mi Aceh ialah terletak pada penggunaan bumbunya yang kental karena dirancik menggunakan bumbu rempah. Adapun bumbu rempah yang digunakan seperti, cabai, bawang putih, kemiri, ketumbar, merica, jahe, dan rempah-rempah lainnya. Semua bumbu tersebut dihaluskan hingga bewarna merah menyala.

Sebagian orang ada yang menyebut kelezatan bumbu mi Aceh, karena ditambahkan biji ganja di dalamnya sehingga rasanya begitu khas dan nikmat. Namun, ini cuma orang tertentu saja menggunakan resep seperti itu. Memang dulu masyarakat Aceh sering menggunakan biji ganja yang disebut sebagai lada Aceh untuk pemberi rasa nikmat dalam makanan berkuah. Akan tetapi sekarang sudah jarang yang menggunakan biji ganja karena satu dan lain hal. 

Jadi. bila kamu ingin makan mi Aceh di Aceh tetap aman tanpa ada penggunaan biji ganja. Namun, bila kamu tetap penasaran bagaimana rasa mi Aceh yang menggunakan biji ganja, juga ada kok di warung tertentu dengan kode tertentu pula.

Sebenarnya bumbu dengan berbagai macam rempah inilah yang membawa citra rasa unik dalam mi Aceh, sehingga oleh pelaku UMKM di Aceh dibuatlah bumbu mi Aceh dalam bentuk kemasan.Tentunya ini tidak menggunakan biji ganja seperti yang dipikirkan orang-orang. Hanya bumbu rempah dihaluskan menjadi bumbu warna merah menyala sebagaimana ciri khas bumbu mi Aceh. Jadi, bagi siapa saja yang ingin memasak sendiri mi Aceh, bisa menggunakan bumbu kemasan tersebut.

Bumbu mi Aceh dalam kemasan.
Sumber foto dari Bumbu Mie Aceh



Selain itu, penggunaan mi yang digunakan untuk mi Aceh juga berbeda dengan mi pada umumnya. Mi yang digunakan untuk membuat mi Aceh hanyalah jenis mi kuning dengan tekstur lembut dan ukurannya lebih besar dibandingkan mi telur. Sebab, mi jenis seperti ini tidak mudah lembek meskipun dimasak dengan penambahan air atau kuah.

Asal Mula Mi Aceh


Tidak ada lietarur yang menjelaskan tentang asal mula dari mi Aceh. Namun, masyarakat Aceh meyakini bahwa mi Aceh sudah ada sejak lama, bahkan sejak zaman kejayaan kesultanan Aceh. Kebiasaan masyarakat Aceh menggunakan masakan berbumbu rempah juga berpengaruh pada jenis mi yang disajikan. Apalagi dulunya Aceh dikenal sebagai daerah penghasil sumber rempah-rempah sehingga Aceh banyak didatangi oleh bangsa asing melalui jalur rempah.

Berbagai bangsa asing seperti Arab, cina, India, dan Eropa pernah datang ke Aceh dalam misi dagang. Kehadiran pedagang antarbangsa ini memiliki peranan penting terhadap perkembangan budaya pada masyarakat Aceh, termasuk dari segi makanannya. Sebab, adanya komoditi rempah yang berasal dari Aceh menjadikannya dulu sebagai rute perdagangan masa lampau sehingga munculah asimilasi budaya yang mempengaruhi masakan Aceh.

Mi Aceh yang dipadukan dengan kepiting.
Sumber foto dokumen pribadi.

Kuah mi Aceh yang kental seperti kari tidak terlepas dari pengaruh masakan India. Konon dulu katanya pernah orang India bekerja sebagai juru masak di kesultanan Aceh. Ciri khas masakan India yang menggunakan paduan rempah dan bumbu yang banyak seperti kuah kari mempengaruhi masakan Aceh kala itu. Sebab, baik dari pihak Kesultanan Aceh maupun masyarakat biasa menyukai masakan seperti itu, hingga akhirnya keterusan sampai sekarang.

Sedangkan untuk penggunaan mi sendiri berasal dari masakan Cina atau Tiongkok yang dipopulerkan oleh pedagang Cina yang datang ke Aceh. Hanya saja bentuk dari mi di Aceh sudah berasimilasi dengan budaya lokal sehingga bentuknya seperti yang terlihat di mi Aceh sekarang.

Mi kuning yang digunakan untuk membuat mi Aceh.
Sumber foto dari cibuka.com

Dalam penyajiannya, mi Aceh biasanya ditambahkan dengan irisan daging sapi atau kambing yang menjadi ciri khas masakan Aceh. Sebab dua jenis daging ini, selalu ada di hidangan masyarakat Aceh dalam menyambut hari-hari besar Islam, seperti hari raya Idul Fitri atau Idul Adha, acara maulid Nabi Muhammad saw, dan dalam beberapa kenduri besar di Aceh.

Selain daging, mi Aceh juga disajikan dengan berbagai jenis seafood seperti udang, kepiting, cumi, dan berbagai jenis ikan seperti ikan tongkol (ungkot sure sebutan orang Aceh). Hal ini karena Aceh daerah bahari yang mempunyai kekayaan hewan laut, sehingga mudah ditemukan jenis makanan seafood.

Jenis Mi Aceh


Ada dua jenis model penyajian mi Aceh, yaitu dalam bentuk kering dan basah. Penyajian mi Aceh kering disebut juga sebagai mi Aceh tumis karena memasaknya dengan cara menumis. Saat memasak mi, air yang dimasukkan hanya sedikit sehingga terlihat kering. Rupanya memasak dengan cara seperti ini justru membuat citra rasa mi Aceh semakin kuat karena bumbunya meresap ke dalam mi kuning tersebut.

Sedangkan jenis penyajian mi Aceh basah menggunakan air sedikit lebih banyak saat proses menumis bumbunya. Jadi lebih menyerupai mi tumis yang ada kuahnya. Kalau orang Aceh menyebutnya kuah becek karena kuahnya terlihat sedikit yang menyatu dalam balutan mi.

Untuk toping pelengkap dari mi Aceh ini ditambahkan kerupuk emping atau muling sebutan orang Aceh. Kerupuk ini merupakan kerupuk khas yang wajib ada di setiap hidangan masakan Aceh. Namun, bagi yang tidak menyukai kerupuk muling bisa juga menggunakan jenis kerupuk lain.

Ciri khas lainnya lagi dari penyajian mi Aceh ialah adanya taburan bawang merah cincang. Biasanya penjual mi memang sudah menyediakan irisan bawang merah yang dicincang halus dalam sebuah toples yang dicampur dengan air dan cabe rawit utuh. Jadi, saat akan menyajikan mi Aceh baik dalam piring atau bungkusan, penjual hanya menambahkan sedikit di atas mi Aceh irisan bawang tersebut, mirip seperti menambahkan sambal hijau pada masakan nasi padang.

Begini tampilan mi Aceh bila dibungkus untuk dimakan di rumah yang selalu menggunkan alas daun pisang. Sumber foto dokumen pribadi.


Toping pelengkap lainnya yaitu, irisan mentimun dan jeruk nipis yang dilitekkan di piring kecil terpisah dari mie Aceh. Namun, bila mi Aceh yang kita pesan untuk dibawa pulang atau dibungkus, semua toping pelengkap itu dimasukan dalam bungkusan mi yang dialas menggunakan daun pisang. Inilah yang menjadi ciri khas lainnya dari mi Aceh karena setiap penyajiannya diberikan alas daun pisang untuk penguat aroma.

Untuk satu porsi mi Aceh dijual mulai dari harga lima ribuan dan ada yang sampai lima puluh ribuan. Tergantung apa yang menjadi isi dalam mi Aceh tersebut. Aku pernah membeli mi Aceh yang harganya lima ribu satu bungkus, isinya hanya mi saja dan toping pelengkapnya. Namun, aku juga pernah memesan mi Aceh isi kepiting, dengan harga Rp56.000 satu porsinya. Sebab, dalam mi Aceh tersebut ada 1 kg kepiting seharga Rp50.000 per kg-nya.

Makan mi Aceh kepiting bareng teman-teman lebih seru. 
Sumber foto dokumen pribadi.

Dan bila kamu datang ke kotaku, Aceh, maka tidak perlu khawatir untuk mencari mi Aceh karena hampir semua warung di Aceh menyediakan mi Aceh. Hanya saja tinggal pilih mau yang kering atau yang basah, mau isinya kepiting, udang, daging, atau minya saja. Sebab semua tergantung selera dan isi kantong.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition yang diselenggarakan oleh Universitas EsaUnggul. Bagi yang ingin ikut berpartisipasi dalam lomba blog EsaUnggul, yuk langsung aja tulis aja ceritamu dengan tema Ini Kebanggaan Kota Ku

Kalau aku, Mi Aceh yang menjadi makanan favorit di Kotaku, kalau kamu?

#inikotaku #esaunggul

Cara Memasak Tape Beras Ketan


Tape beras ketan merupakan makanan wajib pada hari lebaran. Biasanya makanan ini disantap dengan lemang atau ketupat beras ketan. Teksturnya yang kenyal dengan sedikit berair terasa begitu menyatu dengan lidah. Terlebih bila hasil fregmentasi dari ragi yang digunakan, berhasil mengubah rasa tawar beras ketan menjadi rasa manis yang begitu khas layaknya meminum minuman bersoda.

Konon katanya menurut orang tua dulu saat memasak tape tidak boleh dalam keadaan berisik dan harus berada di ruang tertutup. Bahkan dulu saat aku masih kecil, ibu dan nenekku tidak mengizinkanku melihat proses pebungkusan tape tersebut. Alasan mereka agar rasa tapenya manis dan tidak asam.

Proses pembungkusan tape

Alasan itu tidak masuk diakal menurutku, tapi mungkin itu hanya akal-akalan ibu dan nenekku agar aku tidak mengganggu proses pembuatan tape itu karena dapat memecahkan konsentrasi mereka bila ada aku di situ. Maklumlah waktu kecil aku orangnya banyak nanya karena rasa penasaranku yang begitu tinggi.

Namun, sekarang alasan kalasik itu tidak berlaku lagi. Justru saat memasak tape ibu memanggilku agar aku juga bisa memperhatikannya membuat tape. Hal ini supaya aku juga bisa memasaknya sehingga resep memasak tape ini bisa terus lestari sampai nanti-nantinya.

Oleh karena itulah, aku menuliskan resepnya di blog ini, supaya aku bisa melihatnya kembali ketika lupa. Maklumlah memasak tape ini tidak setiap waktu dilakukan, hanya pada peringatan hari besar, seperti lebaran dan menjelang lebaran saja dibuat.

Baiklah, berikut cara memasak tepe beras ketan versi keluargaku. Ini resep turun temurun.

Bahan-bahan yang diperlukan

1. Beras ketan hitam 1 bambu

2. Ragi bulat 1 biji

3. Gula 2 sendok makan

Cara memasak


1. Cuci beras ketan dengan air.

2. Masukkan beras tersebut ke dalam rice cooker.

3. Tambahkan air dengan takaran sedikit kurang dari air menanak nasi pada umumnya.

4. Setelah masak, tuangkan ke dalam talam lalu dibiarkan sampai dingin

5. Haluskan ragi, kemudian taburkan di atasnya.

6. Aduk sampai merata

7. Bungkus adonan tape menggunkan daun pisang atau daun aru.

8. Diamkan selama dua hari dua malam dan letakkan di ruangan tertutup.

9. Tutup rapat di dalam panci supaya hasil fregmentasi raginya merata.

10. Tape siap disantap bersamaan dengan lemang atau ketupat.

Proses pencampuran ragi ke dalam adonan beras ketan

Tape yang sudah ditungkus dan disimpan ke dalam panci

Nah, begitulah cara memasak tape beras ketan yang biasa kami lakukan saat menjelang Ramadan dan di hari lebaran. Jadi, kalau mau lebaran dua hari sebelumnya kami sudah memasak tape sehingga di waktu hari lebaran tapenya bisa masak dengan sempurna.

Perlu diketahui, tape ini bisa bertahan 2-4 hari setelah masak bila disimpan dalam suhu ruangan. Namun, bila dimasukkan ke dalam kulkas bisa tahan sampai 1 minggu lamanya. Semakin lama, tape tersebut mengeluarkan air lebih banyak sehingga tak jarang banyak yang menjadikannya sebagai minuman.

Rasanya mirip seperti minuman bersoda dan bila dikonsumsi dalam jumlah yang banyak bisa memabukkan. Sebab, hasil fregmentasi dari ragi itu semakin lama makin kuat yang menimbulkan efek seperti minuman berakhol. Nah, begitulah resep memasak tape beras ketan menurut versi keluargaku. Kalau mau lebih jelasnnya bisa tonton video di bawah ini. Bagaimana, tertarik untuk membuatnya jelang lebaran tahun ini?



Resep Ketupat Beras Ketan yang Gurih

Saat ketupat dimasak dalam kualitas dalam rendaman santan

Siapa yang tidak tahu dengan jenis makanan yang satu ini? Makanan khas yang biasanya disajikan saat hari lebaran dan bahkan menjadi menu wajib bagi sebagian orang. 


Berbentuk ketupat, makanan ini banyak macamnya. Ada ketupat sayur, ketupat lontong, dan ketupat beras ketan. Namun, kali ini aku akan membagikan resep memasak ketupat beras ketan yang biasanya menjadi menu wajib saat lebaran.

Bahan utama:

1. Beras ketan (pulut).
2. Daun kelapa yang sudah dianyam berbentuk ketupat. (Bisa lihat tulisan sebelumnya tentang cara menganyam daun ketupat)
3. Santan Kelapa dan patinya.

Bahan pelengkap :


1. Garam secukupnya.
2. Gula pasir dan kacang hijau secukupnya bila mau ditambahkan.

Cara membuatnya :

1. Cuci beras ketan dengan air bersih dan kemudian tiriskan.

2. Masukkan pati santan dan taburi garam.

3. Masukkan beras ke dalam daun kelapa yang sudah dianyam berbentuk ketupat. Tambahkan sedikit kacang hijau dan garam bila mau ditambahkan ke dalam isi ketupat tersebut. Namun, ini tergantung selera.

4. Rebus ketupat dengan santan yang sudah ditaburi garam hingga mengering dan mengeluarkan minyak.

5. Ketupat siap dihidangkan.


Catatan: Biasanya ketupat dimakan dengan tapai atau kuah daging saat di hari Lebaran tiba.


Tulisan ini sudah pernah terbit di aceHTrend.com (https://www.acehtrend.com/2019/08/11/resep-ketupat-beras-ketan-yang-gurih/)

Cara Menganyam Ketupat dari Daun Kelapa


Kamu pasti tahukan makanan yang biasanya disajikan di saat lebaran atau hari raya ini? Yaitu ketupat yang juga dijadikan icon saat menyambut suasana Ramadan dan lebaran. Ada banyak jenis ketupat seperti ketupat sayur, ketupat lontong, ketupat beras ketan, dan sebagainya. 

Namun, tahukah kamu bagaimana cara menganyam ketupat yang terbuat dari daun kelapa ini sehingga bisa berbentuk cantik dan mudah untuk dimakan? Berikut akan aku jelaskan step by step cara menganyamnya. 

Daun kelapa yang digunakan untuk ketupat ini ada dua jenis, kalau untuk membuat ketupat lontong biasanya menggunakan daun kelapa yang berwarna hijau, Namun, bila untuk ketupat beras ketan menggunakan pucuk daun kelapa yang masih berwarna putih kehijauan, tapi keduanya mempunyai teknik yang sama saat menganyamnya. 

1. Pisahkan lidi daun kelapa dengan daunnya sehingga membentuk seperti ini. 



2. Ambil bagian yang satunya letakkan di tangan sebelah kanan dengan posisi kepala daun menghadap ke bawah. Sedangkan di tangan sebelah kiri posisi kepala daun menghadap ke atas. 



3. Gulung daun melingkar ke jari-jari tangan kanan dan kiri sebanyak tiga gulungan. 



4. Ambil daun gulungan pertama di sebelah kanan, lalu tindihkan pada gulungan sebelah kiri secara menyilang. 



5. Begitu juga dengan gulung kedua dan ketiga hingga membentuk seperti gambar berikut ini. 


6. Lakukan hal yang sama pada gulungan sebelah kiri dengan menindih gulungan sebelah kanan sehingga terbentuk anyaman silang-sali seperti berikut. 


7. Balik posisi ketupat dengan pegangan di sebalah kiri lalu anyam pada bagian yang kosong. 



8. Gerakan menganyam turun naik sampai kepala daun dan ekornya sama-sama bertemu. 


9. Tarik daun untuk mengencangkan anyaman hingga berbentuk rapi. 



10. Ketupat siap digunakan untuk dimasak jadi ketupat sayur, lontong, atau pun beras ketan tergantung bahan yang diisi dalam ketupat ini. 



Berikut video tutorialnya. 

SUBSCRIBE Yell Saints

Tunggu postingan berikutnya ya, tentang cara memasak ketupat! 


Cara Membuat Umbut Rotan Khas Aceh Selatan untuk Menu Berbuka

Lezatnya gulai umbut rotan khas Aceh Selatan

Kok bisa ya, umbut rotan jadi makanan? Itulah uniknya Indonesia. Tidak hanya banyak suku, ras, agama, dan kebudayaan saja. Namun, tentunya juga makanannya. Apa yang tidak terpikirkan bisa jadi bahan makanan, seperti halnya umbud rotan muda ini.

Setahu kita sih, rotan dibuat sebagai bahan dasar kerajinan seperti keranjang, tudung saji, kursi, meja, dan beragam bentuk lainnya.
Umbut rotan muda
Namun, menikmati hidangan rotan yang telah digulai dan beraroma lezat, barangkali hanya bisa ditemukan di daerah-daerah tertentu saja. Salah satunya di wilayah Kabupaten Aceh Selatan. Tentunya rotan yang dimasak bukanlah rotan yang sudah tua, melainkan batang rotan muda atau lazim disebut umbut rotan.

Masyarakat Aceh Selatan menyebutnya batang simuling. Biasanya dijual pada hari-hari pekan di daerah Kluet karena di sinilah banyak terdapat batang simuling. Tumbuhan ini hanya bisa dijumpai di sekitar tepi sungai dan di dalam hutan hujan tropis yang merupakan ciri khas daerah Kluet, Aceh Selatan. Derah ini juga merupakan bagian penyangga Kawasan Ekosistem Leuser yang ada di Aceh.

Bagian yang diambil untuk dimasak ialah pangkal rotan atau umbutnya. Kemudian durinya dibersihkan sehingga membentuk batangan sebesar ibu jari kaki dengan panjang satu meter. 

Batang simuling tersebut juga harus dikupas dan dibuang kulitnya. Hanya bagian dalam yang berwarna putih sajalah yang diambil untuk dijadikan gulai. Itupun hanya bagian tengahnya yang masih lembut, sedangkan bagian ujungnya dibuang karena keras.
Umbut rotan yang akan dimasak
Gulai simuling biasanya dimasak dengan ikan lele atau tongkol yang dicampur dengan bumbu khusus dan menjadi makanan khas di daerah Kluet, Aceh Selatan. Namun, masakan ini jarang ada pada masyarakat suku Aneuk Jamee dan Aceh yang mendiami Aceh Selatan. 

Hanya di daerah Kluet saja makanan ini yang cukup populer dan diminati. Rasanya sedikit pahit, tapi nikmat bagi orang yang sudah terbiasa memakannya.

Pada bulan Ramadan seperti ini, banyak dijual batang simuling di hari pekan yang merupakan pasar mingguan di daerah Kluet. Mereka menjualnya dengan harga tiga batang seharga Rp5 ribu. Namun, untuk membuat satu porsi gulai simuling dibutuhkan enam sampai sepuluh batang simuling.

Bagi Anda yang penasaran ingin mencobanya, berikut kami sajikan resepnya:

Bahan utama:

· Batang simuling

· Ikan lele atau tongkol


Bumbu halus :

Cabai merah;cabai rawit; kunyit; jahe; bawang merah; bawang putih; asam sunti; ketumbar; dan kelapa parut.

Rempah tambahan:
Serai
Daun limau

Bahan lain:
Santan;
jeruk nipis;
garam;
air untuk merebus batang simuling

Cara Memasak:

1. Potong kecil-kecil batang simuling dan masukkan ke dalam rendaman air supaya getahnya hilang. Cuci dengan air sampai bersih. Kemudian masukkan ke dalam kuali.

2. Potong ikan dengan ukuran sesuai selera dan bersihkan, lalu letakkan di dalam kuali.

3. Tuangkan bumbu halus di dalam kuali, lalu lumuri simuling dan ikan hingga bumbunya menyatu.

4. Rebus dengan air sampai airnya mengering.

5. Tambahkan santan kelapa sebagai kuah.

6. Masak gulai simuling hingga mendidih.
Gulai Simuling

Catatan
:


Boleh ditambahkan rempah untuk menambah kesan semarak. Tapi rempahnya dimasukkan ketika proses penambahan santan setelah melewati proses rebusan pertama.


Untuk lebih jelasnya, yuk lihat videonya di sini. 

Cicah Mengkudu Makanan Pemersatu di Kampungku

Mengkudu makanan favorit pemuda di kampungku

Mengkudu buah yang dikenal dengan kaya manfaat ini, ternyata menjadi makanan pemersatu di kampungku. Walaupun rasanya kurang enak karena baunya yang menyengat dan rasa pahit yang melekat pada dagingnya, tapi banyak orang yang memakan buah mengkudu karena untuk mendapatkan khasiatnya, yaitu sebagai antioksidan yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan mengobati tumor. 

Namun, buah mengkudu di kampungku Air Sialang, Samadua, Aceh Selatan tidaklah dikonsumsi sebagai obat, tapi sebagai makanan favorit bagi muda/mudi. Buah mengkudu yang kami olah menjadi cicah (anyang) mengkudu, dapat menjadi daya tarik untuk mengumpulkan muda-mudi di kampungku dan menjadi kuliner juara mengalahkan makanan lainnya. 

Mengkudu yang sudah diolah menjadi cicah

Biasanya kami membuat cicah mengkudu ketika ada kenduri, di hari libur, atau saat kami ingin berkumpul dengan teman-teman yang biasanya sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Jika di Jepang ada budaya ngeteh sebagai cara untuk mempersatu, atau di Indonesia umumnya menggunakan cara ngopi untuk mempersatu, di kampungku menggunakan cara mencicah mengkudu sebagai ajang pemersatu. 

Cicah mengkudu kami olah secara bersama-sama dan memakannya pun juga sama-sama. Inilah cara mempersatukan kami para pemuda-pemudi di kampung Air Sialang. Dari proses mengambil buah mengkudu, mengupasnya, membuat bumbunya, dan membagikannya satu persatu ke piring masing-masing setiap orang sudah menyatukan ikatan sosial di anatara kami. 

Mengupas buah mengkudu haruslah dilakukan secara bersama-sama

Tradisi mencicah mengkudu ini sudah ada sejak lama, khususnya bagi para muda-mudi di Kampung Air Sialang. Biasanya setiap orang mempunyai bagian pekerjaannya masing-masing. Bagi laki-laki bertugas mencari buah mengkudu dan mengambilnya di atas pohon. 

Buah mengkudu yang sudah terkumpul kemudian diserahkan kepada perempuan untuk dikupas kulitnya. Saat mengupas buah mengkudu haruslah dilakukan secara beramai-ramai karena buah mengkudu yang terlalu lama dikupas akan mengubah rasa citranya menjadi semakin pahit. 

Mengkudu yang dicincang direndam menggunakan air bersih supaya
getahnya hilang dan tidak gatal lagi saat dimakan

Buah mengkudu yang telah dikupas kulitnya lalu dicincang kecil-kecil seperti dadu. Setelah semuanya tercincang, buah mengkudu tersebut dicuci dengan air bersih sampai berkali-kali. Setelah itu ditiriskan airnya sampai kering. 

Kemudian ada bagian yang khusus untuk mengolah bumbu, biasanya orang yang sudah berpengalaman dan biasa membuat bumbu tersebut. Karena menurut kepercayaan masyarakat di kampungku, emang ada tangan orang yang khusus untuk mengolah bumbu sehingga cicah mengkudu tersebut semakin enak. 

Bumbu untuk cicah mengkudu

Bumbu yang diolah berupa terasi yang dipanggang, lalu cabe merah dan cabe rawit secukupnya digiling secara manual menggunakan tangan pakai batu giling. Terasi yang suda dipanggang tersebut kemudian digiling bersaamaan dengan cabe. 

Selanjutnya buah mengkudu yang sudah dicincang dan ditiriskan airnya, ditaburkan garam dan irisan jeruk nipis supaya menambah rasa. Setelah itu barulah masukkan campuran bumbu yang sudah diolah ke dalam mengkudu tersebut. 

Kalau aku melihat foto ini, air liurku pun mulai banyak
pertanda aku sangat selera memakannya

Inilah makanan yang kami sebut sebagai cicah mengkudu. Kenapa dibilang sebagai pemersatu? Karena dari cara pengolahannya dilakukan secara bersama-sama, hingga makannya pun juga sama-sama. 

Terkadang kami makannya sambil rebutan atau makannya secara bersama-sama dalam satu wadah besar. Dengan cara seperti ini kedetakan emosional kami antar sesama pemuda kampung pun terjalin sehinga kami saling menganal antara satu dengan yang lainnya. 

Penasaran bagaimana rasanya? :D

Perkara rasa, jangan ditanya. Inilah makan terlezat yang ada di kampungku dan sangat dirindukan bila aku pergi merantau jauh. Maka setiap kali aku pulang kampung, cicah mengkudulah yang dapat mempersatukanku dengan teman-teman di kampungku. 

Bagi yang penasaran untuk mencoba cicah mengkudu makanan pemersatu dari kampungku ini, cobalah ajak teman-temannya untuk mempraktekkan resepnya. 

Bahan utama:
– Mengkudu muda 

Bumbu halus:
– Cabe 
– Terasi yang sudah dipanggang atau katapang

Bumbu tabur:
– Garam 
– Jeruk nipis 

Cara membuat cicah. 
1. Kupas buah mengkudu potong kecil-kecil. 

2. Cuci mengkudu yang sudah dipotong dengan bersih dan tiriskan airnya. 

3. Bumbu halus yang sudah digiling masukkan ke dalam potongan mengkudu secara keseluruhannya. 

4. Kupas kulit jeruk nipis dan masukkan ke dalam potongan mengkudu. 

5. Taburi garam secukupnya. 

6. Aduk rata sampai semua bumbu tercampur dengan semua potongan mengkudu. 

7. Cicah mengkudu pun siap disajikan. 

Catatan:
1. Bumbu halus disesuaikan dengan porsi buah mengkudu
2. Saat mengupas mengkudu hendaknya jangan terlalu lama supaya tidak mengubah citra rasa mengkudunya.