Tampilkan postingan dengan label Aceh Selatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aceh Selatan. Tampilkan semua postingan

Begini Proses Membuat Kartu Keluarga Baru


Bagi keluarga baru, kartu keluarga (KK) merupakan hal mutlak yang harus dimiliki setelah buku nikah. Tentunya ini sebagai tanda pengenal bahwa telah terbentuk keluarga baru yang perlu dimasukkan dan dicatat sebagai penduduk warga Indonesia. 

Selain tanda pengenal, banyak fungsi dari adanya KK ini. Terutama untuk hal administratif yang berhubungan dengan kesehatan dan pendidikan. Ketika seorang istri hendak melahirkan, pasti diminta KK, hendak membuat akte kelahiran anak juga diminta KK, dan ada sebagian sekolah meminta KK ketika anaknya masuk sekolah. 

Keluarga baru butuh kartu keluarga baru

Namun, terkadang pengurusan KK membuat pusing kepala karena persyaratan yang tidak lengkap sehingga menghabiskan waktu lama. Inilah yang dialami suamiku ketika hendak membuat KK kami. Dikarenakan tidak mengetahui proses dan persyaratannya, waktu cuti yang diberikan dua hari oleh pihak kantor menjadi satu minggu akibat tersangkut dengan sistem administrasi. 

Belajar dari pengalaman suamiku ini, maka aku ingin berbagi pengalaman agar yang membaca tulisan ini bisa mempersiapkan berkas yang diperlukan sebelum mendatangi kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil). 

Oia, bagi kamu yang hendak membuat KK baru, pengurusannya di kantor Disdukcapil ya. Namun, sebelum ke sana ada beberapa berkas yang harus kamu persiapkan terlebih dahulu dari kantor desa dan kecamatan. Begini tahapan prosesnya. 

1. Mendatangi kantor desa untuk mendapatkan surat pengantar 

Adapun berkas yag harus dipersiapkan, yaitu foto kopi kartu tanda keluarga (KTP) istri dan suami, KK dari kedua orang tua dari pihak istri dan suami. 

Dikarenakan suamiku berbeda kecamatan denganku, maka dia diminta untuk mengisi formulir F-1.33 untuk mendapatkan surat pengantar pindah antar kecamatan, kabupaten/kota atau propinsi. Selanjutnya mengisi formulir F-1.34 yang berisi surat permohonan pindah. Namun, bila kamu dan suami berasal dari kampung yang sama, maka tidak perlu mengisi formulir tersebut. 

Contoh F-1.33

Contoh F-1.34

Selanjutnya kamu akan diberi surat pengantar pindah dari desa untuk kecamatan. Tentunya surat ini sudah ditandatangani oleh kepala desa asal suami. 

2. Mendatangi kantor kecamatan 

Berikan surat pengantar dari desa ke bagian administrasi yang ada di kecamatan. Kemudian dari kecamatan dikeluarkan surat pengantar dengan tujuan ke kantor Disdukcapil. 

Namun, dalam kasus kami yang berbeda kecamatan, suamiku terlebih dahulu harus mendapatkan surat pengantar pindah dari kecamatan asalnya yang kemudian dibawa menuju ke kantor desaku. Tujannya untuk mendapatkan surat pengantar dari desaku untuk dibawa menuju ke kecamatan asalku. Di kecamatan akan dikeluarkan surat pengantar dengan tujuan ke kantor Disdukcapil. 

Surat pengantar pindah dari daerah asal suami ke daerahku


3. Mendatangi kantor Disdukcapil 

Nah, di sini kamu harus melengkapi persyaratannya, yaitu; 

a. KK asli orang tua dari suami dan istri 

b. Foto kopi buku nikah orang tua dari suami dan istri 

c. Surat Keputusan (SK) dari tempat kerja suami dan istri 

d. Akte kelahiran suami dan istri 

e. Ijazah pendidikan terakhir suami dan istri 

f. Surat pengantar dari kecamatan 

Di kantor ini kamu harus mengantri dengan sabar di loket pelayanan karena akan banyak warga lainnya yang juga menggunakan jasa pelayanan ini. Bila persyaratannya sudah lengkap, maka akan diproses berkas pengajuan KK yang kamu berikan. 

Mereka akan memberikan draft KK untuk bisa kamu lihat dan koreksi kesalahan data yang dibuat sebelum KK asli di print atau dikeluarkan. Setelah kamu yakin semuanya benar, maka akan keluar KK barumu dan KK orang tua istri dan suami yang mana kamu tidak ada lagi di dalamnya karena sudah berada di KK yang baru. 

Kenyataan yang dihadapi selama di lapangan 

Bila membaca tulisanku ini, mungkin terlihat gampang dalam pengurusan KK baru. Namun, kenyataan yang dihadapi di lapangan tidak secepat kamu membaca artikel ini, terutama saat berhadapan dengan aparatur yang tidak siap siaga dalam melayani masyarakat. 

Suamiku yang mengira pengurusan ini bisa selesai dalam waktu dua hari, nyatanya sampai juga seminggu. Berikut kenyataan yang bisa kamu hadapi selama di lapangan. 

1. Jarak tempuh yang jauh menghabiskan waktu 

Aku dan suami tinggal di kecamatan yang berbeda yang membutuhkan jarak tempuh sekitar 30 menit menggunakan sepeda motor. 

Untuk mengurus keperluan administrasi dari desa suami, pastinya dia harus pulang ke desanya kemudian menuju kantor desa dan kecamatan yang ada di sana. Setelah itu, balik lagi ke desaku untuk mengurusi administrasi di kantor desa dan kecamatan daerah asalku. 

2. Menunggu proses administrasi 

Untuk menunggu proses administrasi juga memerlukan waktu, apalagi ketika apratur desa, dan kecamatan tidak sigap dalam melayani, bisa-bisa prosesnya jadi lama karena urusan surat menyurat tersebut. 

Entah karena kepala desa atau camatnya yang tidak ada di tempat, kantor desa yang tutup, banyaknya masyarakat yang melakukan pelayanan sehingga harus antri atau bagian pelayanan yang bekerja lamban. Semua itu bisa saja terjadi entah itu di kantor desa, kecamaatan atau di Disdukcapil yang tentunya menghabiskan banyak waktu. 

3. Persyaratan yang tidak lengkap atau tidak sesuai 

Saat melakukan pengurusan KK baru kami, terdapat kesalahan nama dan tahun lahir di akte kelahiranku yang tidak sesuai dengan yang tertera di KTP dan ijazah. Sehingga suamiku harus memperbaiki terlebih dahulu akte kelahiranku. 

Ini pula yang membuat lama proses pembuatan KK baru kami dan menjadi pembelajaran bagi siapa saja yang membuat KK. Bila persyaratan tidak lengkap atau tidak sesuai maka pengurusan KK baru pun menjadi terkendala. Oleh karena itu, kamu harus mempersiapkan semuanya. 

Nah, itulah pengalaman yang bisa kubagikan dalam proses membuat KK baru. Ini hanya berlaku untuk wialayahku, yaitu Kabupaten Aceh Selatan. Mungkin ada perbedaan untuk wilayah lain atau pengalaman yang berbeda dari teman-teman. Silakan berbagi pengalaman di kolom komentar ya.

Cara Membuat Umbut Rotan Khas Aceh Selatan untuk Menu Berbuka

Lezatnya gulai umbut rotan khas Aceh Selatan

Kok bisa ya, umbut rotan jadi makanan? Itulah uniknya Indonesia. Tidak hanya banyak suku, ras, agama, dan kebudayaan saja. Namun, tentunya juga makanannya. Apa yang tidak terpikirkan bisa jadi bahan makanan, seperti halnya umbud rotan muda ini.

Setahu kita sih, rotan dibuat sebagai bahan dasar kerajinan seperti keranjang, tudung saji, kursi, meja, dan beragam bentuk lainnya.
Umbut rotan muda
Namun, menikmati hidangan rotan yang telah digulai dan beraroma lezat, barangkali hanya bisa ditemukan di daerah-daerah tertentu saja. Salah satunya di wilayah Kabupaten Aceh Selatan. Tentunya rotan yang dimasak bukanlah rotan yang sudah tua, melainkan batang rotan muda atau lazim disebut umbut rotan.

Masyarakat Aceh Selatan menyebutnya batang simuling. Biasanya dijual pada hari-hari pekan di daerah Kluet karena di sinilah banyak terdapat batang simuling. Tumbuhan ini hanya bisa dijumpai di sekitar tepi sungai dan di dalam hutan hujan tropis yang merupakan ciri khas daerah Kluet, Aceh Selatan. Derah ini juga merupakan bagian penyangga Kawasan Ekosistem Leuser yang ada di Aceh.

Bagian yang diambil untuk dimasak ialah pangkal rotan atau umbutnya. Kemudian durinya dibersihkan sehingga membentuk batangan sebesar ibu jari kaki dengan panjang satu meter. 

Batang simuling tersebut juga harus dikupas dan dibuang kulitnya. Hanya bagian dalam yang berwarna putih sajalah yang diambil untuk dijadikan gulai. Itupun hanya bagian tengahnya yang masih lembut, sedangkan bagian ujungnya dibuang karena keras.
Umbut rotan yang akan dimasak
Gulai simuling biasanya dimasak dengan ikan lele atau tongkol yang dicampur dengan bumbu khusus dan menjadi makanan khas di daerah Kluet, Aceh Selatan. Namun, masakan ini jarang ada pada masyarakat suku Aneuk Jamee dan Aceh yang mendiami Aceh Selatan. 

Hanya di daerah Kluet saja makanan ini yang cukup populer dan diminati. Rasanya sedikit pahit, tapi nikmat bagi orang yang sudah terbiasa memakannya.

Pada bulan Ramadan seperti ini, banyak dijual batang simuling di hari pekan yang merupakan pasar mingguan di daerah Kluet. Mereka menjualnya dengan harga tiga batang seharga Rp5 ribu. Namun, untuk membuat satu porsi gulai simuling dibutuhkan enam sampai sepuluh batang simuling.

Bagi Anda yang penasaran ingin mencobanya, berikut kami sajikan resepnya:

Bahan utama:

· Batang simuling

· Ikan lele atau tongkol


Bumbu halus :

Cabai merah;cabai rawit; kunyit; jahe; bawang merah; bawang putih; asam sunti; ketumbar; dan kelapa parut.

Rempah tambahan:
Serai
Daun limau

Bahan lain:
Santan;
jeruk nipis;
garam;
air untuk merebus batang simuling

Cara Memasak:

1. Potong kecil-kecil batang simuling dan masukkan ke dalam rendaman air supaya getahnya hilang. Cuci dengan air sampai bersih. Kemudian masukkan ke dalam kuali.

2. Potong ikan dengan ukuran sesuai selera dan bersihkan, lalu letakkan di dalam kuali.

3. Tuangkan bumbu halus di dalam kuali, lalu lumuri simuling dan ikan hingga bumbunya menyatu.

4. Rebus dengan air sampai airnya mengering.

5. Tambahkan santan kelapa sebagai kuah.

6. Masak gulai simuling hingga mendidih.
Gulai Simuling

Catatan
:


Boleh ditambahkan rempah untuk menambah kesan semarak. Tapi rempahnya dimasukkan ketika proses penambahan santan setelah melewati proses rebusan pertama.


Untuk lebih jelasnya, yuk lihat videonya di sini. 

Tahapan dan Proses Pendaftran Nikah di KUA

Proses ijab kabul pernikahaku

“Yel, bagaimana sih, tahapan dan proses pedaftaran nikah di Kantor Urusan Agama (KUA),” tanya beberapa temanku.

“Apa-apa saja yang harus dilampirkan saat mengajukan nikah di KUA?” tanya teman lain kepadaku. Dan ada banyak teman lainnya yang akan melangsungkan pernikahan menanyakan hal demikian kepadaku. 


Dari pada aku menjelaskannya satu persatu pertanyaan itu, mending aku buat tulisan ini. Jadi, bila ada yang bertanya, langsung kuberikan link tulisan ini kepadanya. Gampang kan?

Pertanyaan seperti di atas merupakan hal lumrah bagi yang akan melangsungkan pernikahan. Termasuk aku dulu saat mendaftar nikah di KUA bertanya kepada tema-teman yang sudah duluan menikah. Biar lebih terarah dan persiapannya mantap, berikut tahapan dan proses pendaftaran pernikahan di KUA.



1. Melapor ke kepala desa (Keuchik)

Sebelum mendaftarkan diri sebagai calon pengantin (catin) di KUA, hendaknya melaporkan terlebih dahulu ke kepala desa (keuchik). Sesuai adat di kampungku (suku aneuk jamee) Aceh Selatan, melapor ke keuchik hendaknya sebelum acara khitbah (lamaran).

Jadi, para niniak mamak (saudara laki-laki sekandung dari pihak ibu) menyepakati hari yang ditentukan sebagai hari lamaran. Bila harinya sudah disepakati oleh kedua belah pihak catin, maka niniak mamak yang akan melaporkan ke keuchik dan memintanya hadir beserta perangkat gampong di hari lamaran tersebut.





2. Menyiapkan berkas untuk di antar ke KUA

Setelah proses lamaran selesai, keuchik akan meminta calon pengantin untuk menyiapkan berkas yang terdiri atas;

a. Foto kopi akte kelahiran dua lembar

b. Foto kopi ijazah terakhir dua lembar

c. Foto kopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) dua lembar

d. Foto kopi KTP kedua orang tua dua lembar

e. Pas foto 2x3 lima lembar

f. Pas foto 3x4 tiga lembar

g. Pas foto 4x6 tiga lembar

Ukuran pas foto yang diminta.

Sedangkan biaya administrasinya Rp250.000 yang diberikan kepada keuchik. Uang ini akan dipergunakan untuk keperluan dalam pengurusan calon pengantin termasuk uang untuk diberikan kepada saksi nikah.

Namun, bila calon pengantinnya berbeda kecamatan, maka pihak laki-laki akan membayar dua kali. Seperti suamiku yang berasal dari Kecamatan Mukek, dia membayar biaya administrasi kepada keuchiknya Gampong Ie Dingen sebesar Rp300.000 dan keuchikku di gampong Air Sialang Hilir Rp300.000. Jadi, total biaya yang dikeluarkan dari pihak laki-laki sebesar Rp600.000.

Surat menyurat dan pelaporan ke KUA semuanya diurus oleh keuchik karena kita sudah membayar sejumlah uang kepadanya, termasuk surat rekomendasi dari KUA Meukek ke KUA Samadua yang merupakan daerah tempat tinggalku.


3. Mengisi formulir pendaftaran nikah

Setelah persyaratan tersebut di antar oleh keuchik ke kantor KUA, dua hari berikutnya keuchik memberikan sejumlah formulir pendaftaran nikah. Di formulir harus disisi data kedua calon pengantin dan data orang tuanya. Begitu juga dengan jadwal pernikahan harus dibuat hari, waktu, dan tempat pelaksanaan nikah.

Bila nikahnya di KUA, tidak ada biaya yang dikeluarkan. Namun, bila nikahnya di luar KUA baik itu di rumah catin atau di masjid, maka catin harus membayar biaya Rp600.000 ke KUA. Biaya tersebut dikirim melalui bank dengan kode biling yang diberikan KUA, jumlah ini sama di semua KUA seluruh Aceh.


Slip pembayaran KUA bila nikahnya di luar KUA


4. Menghadiri panggilan dari pihak KUA untuk pembinaan pranikah

Pihak KUA akan menyurati catin dan wali pihak perempuan untuk menghadiri pembinaan pranikah. Di sini mereka akan di tes dengan beberapa pertanyaan seperti tes membaca al-quran, salawat nabi, istighfar, syahadat, doa berhubungan badan, dan doa mandi junub. Kemudian catin laki-laki dan wali perempuan yang menikahkan diajarkan kalimat ijab qabul yang nantinya akan diucapkan waktu nikah.

Petugas KUA juga menanyakan kepada catin tujuan mereka nikah, syarat dan rukun nikah, serta hal-hal yang berhubungan dengan pernikahan. Termasuk beberapa nasihat untuk para catin ini.

Di sini juga akan divalidasi lagi data dari formulir yang kita isi. Bila ada yang keliru, kamu bisa menyampaikan kepada petugas KUA karena data inilah yang nantinya diisikan dalam buku nikah. Saat aku dan suami melakukan pembinaan pranikah dulu, terdapat kesalahan nama orang tua suamiku. Untungnya suamiku jeli melihatnya sehingga pihak KUA segera memperbaikinya. Hal ini karena datanya diisi oleh keuchiknya sehingga terdapat kekeliruan.

Saran; hendaknya para catin mengisi sendiri formulir pernikahan untuk menghindari kesalahan data. Namun, validasi data di KUA tetap perlu dilakukan. Setiap daerah berbeda lama hari bimbingannya. Di daerahku bimbingan pranikah cukup satu kali pertemuan saja, tapi di wilayah Aceh Jaya harus ada minimal tiga kali bimbingan pranikah.

5. Bimbingan wali nikah

Petugas KUA juga membimbing wali perempuan yang akan menikahkan nanti. Dikarenakan yang menikahkanku ialah abang kandungku, maka ada proses peralihan wali dari ayahku ke abangku. Semua itu disepakati melalui surat pernyataan yang ditandatangani oleh ayah dan abangku.

6. Suntik tetanus bagi catin perempuan di puskesmas

Surat dari KUA ke puskesmas untuk suntik catin

Setelah bimbingan selesai, pihak KUA akan mengeluarkan surat rekomendasi kepada puskesmas terdekat untuk memeriksa kesehatan dan vaksinasi catin perempuan. 

Tujuannya untuk memperkuat sistem imun pada tubuh catin perempuan, terutama untuk menghidari infeksi pada saat melakukan hubungan suami istri pertama dan saat melahirkan.

Suntik tetanus dilakukan di lengan bagian atas. Untuk penjelasan lebih lanjut tentang pentingnya vaksinasi tetanus ini, tunggu tulisanku di blog www.perawattraveler.com.
Selain itu, pihak puskesmas juga memeriksa urin untuk memastikan kondisi catin apakah sedang hamil atau tidak. Kemudian barulah pihak puskesmas mengeluarkan surat hasil pemeriksaan kesehatan sebagai laporan kepada pihak KUA.

Nah, itu dia proses dan tahapan yang kamu lalui ketika akan melangsungkan pernikahan. Tidak ribet kan, tapi semua perlu dipersiapkan agar berjalan mulus tanpa hambatan hingga tiba hari akad nikah. 


Seperti pernikahanku yang berlangsung pada Kamis, 21 Februari 2019. Alhamdulillah berjalan sesuai dengan rencana tanpa ada kendala. Semoga tulisan ini bermanfaat buat kamu yang akan melangsungkan pernikahannya.


Alhamdulillah, sah.


Geliat Literasi di Hulu Sungai Kluet Aceh Selatan

Kelas membaca dasar yang dibuat di pondok tepi sawah warga. (Foto Ikhsan)

Sudah sangat lama Dusun Sarah Baru, Gampong Alur Kejruen, Kluet Tengah (Menggamat) di pedalaman Aceh Selatan tidak memiliki perpustakaan desa atau taman baca masyarakat (TBM). Maklum, letak gampong  ini terisolasi. Lalu kekosongan forum literasi di daerah penghasil pala ini diisi oleh para relawan guru impian dari Rumah Relawan Remaja (3R).

Tidak tanggung-tanggung, mereka menyasar daerah pelosok dan terkucil ini, Gampong Alur Kejruen. Kedatangan relawan 3R ke daerah bekas konflik ini bagai kilauan cahaya emas yang membuka cakrawala anak-anak di gampong tersebut, yaitu melalui sekolah alternatif yang bernama Pustaka Kampung Impian. 

Program yang berlangsung selama satu bulan ini dilakukan oleh para guru impian. Mereka mengajarkan anak-anak membaca dan menulis. Kehadiran buku bacaan bagaikan emas bagi anak-anak di Sarah Baru. Mereka sangat antusias dan bersemangat menggali informasi dari buku-buku yang dibawa oleh para relawan ini, sama halnya dengan semangat orang-orang yang menggali emas di hutan Menggamat, daerah yang dulunya merupakan basis GAM.

Tak adanya gerakan literasi di Aceh Selatan membuat daerah ini sangat jauh dengan yang namanya buku. Jangankan di pelosok, di kota saja tidak ada satu forum pun yang fokus untuk mengembangkan literasi. Saya sempat menanyakan ke beberapa grup whats app kumpulan orang Aceh Selatan, tapi tidak satu pun yang mengetahui adanya forum atau komunitas yang bergerak di bidang literasi di kabupaten ini. Jadi, wajarlah ketika para guru impian dari 3R ini datang membawa sejumlah buku dan mengajar di Sarah Baru, mereka diterima dengan tangan terbuka oleh masyarakat hulu Sungai Kluet. 


****
Transportasi yang digunakan menuju Gampong Alur Kejruen, Sarah Baru, Kluet Utara, Aceh Selatan

Kedatangan saya ke Sarah Baru tidak lain untuk melihat geliat literasi di Aceh Selatan. Walau hanya satu-satunya, paling tidak daerah ini mulai terjamah tangan literasi. Saya harus bersabar duduk di sampan motor yang mereka sebut 'stempel' selama tiga jam. 



Inilah satu-satunya alat transportasi air yang digunakan untuk menuju Gampong Alur Kejruen, Dusun Sarah Baru, Kluet Tengah, Aceh Selatan. Sebelumnya, saya dari Tapaktuan harus menempuh jarak sekitar satu jam setengah untuk tiba di tepi sungai Lawe Melang, Kluet Tengah. Melalui sungai inilah saya dan dua rekan saya serta pengemudi sampan bermesin robin harus mengarunginya tanpa menggunakan pelampung.

Dermaga Sarah Baru
Setiba di Dermaga Sarah Baru, saya disambut oleh pemandangan hijaunya hutan yang menakjubkan. Dermaga itu tidak terlalu besar, cukuplah untuk menyandarkan beberapa 'stempel' yang ukurannya pas-pasan badan. Di belakang dermaga terdapat rumah adat Kluet yang baru dibangun menggunakan kayu. Bahan bangunan tersebut sama halnya dengan kebanyakan rumah warga, termasuk rumah tempat tinggal guru impian yang dijadikan sebagai Pustaka Kampung Impian.

Saya sangat beruntung datang saat itu, 5 Januari 2019, karena para guru impian dan anak-anak didikannya sedang mempersiapkan acara untuk Pentas Seni Sarah Baru. Mereka begitu asyiknya melukis spanduk yang akan ditempelkan pada malam pentas seni. Tidak butuh waktu lama untuk bisa akrab dengan mereka, justru kedatangan saya menambah kebahagiaan baru bagi mereka. 


Suasana di Pustaka Kampung Impian Sarah Baru, Aceh Selatan. (Foto Ikhsan)

Saya dikerumuni anak-anak dari berbagai umur, bahkan ada yang badannya lebih besar dari saya. Mereka menanyakan beberapa hal mengenai diri saya, begitu pula sebaliknya dan kami merasa seperti satu keluarga yang sudah lama tidak berjumpa. Rupanya tempat ini dijadikan sekretariat untuk anak-anak berkumpul, membaca, belajar, berkarya, dan bermain sehingga tempat tersebut selalu ramai dikunjungi anak-anak.

“Sepulang sekolah, anak-anak ini datang kemari untuk belajar bahkan anak tingkat SMP pun juga kemari dan bergabung bersama kami. Satu hal yang membuat saya senang dan tidak saya temukan di tempat lain yaitu anak-anak SMP nya juga ikut terlibat dalam program yang kami buat. Di tempat lain, biasanya mereka sudah merasa malu ikut kegiatan yang kami buat, tapi justru di sini anak SMP yang paling ramai ikut belajar,” ujar Fitri salah satu relawan guru impian.

Pentas Seni Hiburan di Sarah Baru

Malam pentas seni di Sarah Baru

Berbeda halnya dengan daerah perkotaan yang banyak menyediakan berbagai hiburan berupa pentas seni, Sarah Baru masih awam dengan pertunjukkan seni sehingga saat acara pentas seni dihadirkan di kampung hulu Sungai Kluet, antusias warga sangat tinggi untuk menyaksikan pentas seni. Hampir seluruh masyarakat Alur Kejruen hadir untuk melihat penampilan seni yang ditampilkan oleh anak-anak mereka.

Dengan panggung seadanya yang didekorasi dengan kasab sulam benang emas, anak-anak ini tampil membawakan beberapa tarian khas Aceh. Para penonton yang terdiri atas kaum ibu, perangkat desa, dan para pemuda, duduk bersama beralaskan tikar menyaksikan pertunjukkan pentas seni. Saya merasa kembali ke puluhan tahun silam saat pentas seni menjadi hiburan yang sangat disukai masyarakat sebelum arus teknologi berupa televisi dan internet datang secara global.

Adanya acara pentas seni, cukup menghibur warga Sarah Baru karena daerah ini belum ada jaringan telkomunikasi. Tidak ada yang sibuk dan lalai dengan gadgetnya masing-masing, jangankan untuk mencari hiburan melalui internet, sekadar untuk menelpon saja tidak ada signal. Maka, wajarlah kehadiran pentas seni di Sarah Baru sangat disukai semua kalangan, apalagi yang tampil adalah anak-anak mereka.

Pertunjukan seni oleh anak-anak Sarah Baru tidak lain bagian dari program Pustaka Impian. Terdapat kelas seni yang mengajarkan anak-anak untuk terampil menarikan tarian khas tradisional Aceh. Mereka berlatih di sela-sela waktu dari kelas lainnya untuk bisa ditampilkan di malam acara pentas seni.

“Kami memberikan kesempatan kepada anak-anak yang ada di desa untuk menampilkan bakat seninya melalui pentas seni. Anak-anak yang ada di desa tidak jauh berbeda dengan anak-anak yang tinggal di perkotaan, hanya saja di kota banyak fasilitas yang mendukung kreativitas mereka. Oleh karena itu, dengan adanya pentas seni ini kami ingin memberitahukan kepada bapak/ibu bahwa anak-anaknya mampu,” ujar Nanda koordinator guru impian saat menyampaikan sambutannya di malam pentas seni tersebut.

Pustaka Kampung Impian

Suasana belajar di Pustaka Kampung Impian.
(Foto : Ikhsan)

Selain kegiatan seni, ada kegiatan utama dari Pustaka Kampung Impian yang sangat erat kaitannya dengan dunia literasi. Di sini terdapat tiga kelas yaitu kelas membaca dasar, membaca lanjut, dan menulis. Mereka dikelompokkan ke kelas masing-masing sesuai kemampuannya saat di tes.

Kelas membaca dasar diperuntukkan kepada anak-anak yang tidak mengetahui huruf sama sekali. Mereka yang belajar di kelas ini akan diperkenalkan huruf abjad sampai akhir. Targetnya minimal anak mengetahui huruf dan dapat mengeja kata. Kelas membaca lanjut untuk anak-anak yang sudah mengenal huruf, tapi belum lancar membaca. Targetnya mereka bisa lancar membaca minimal satu kalimat walaupun masih terbata-bata.

Sedangkan kelas menulis adalah untuk mereka yang sudah lancar membaca dan diarahkan untuk membuat karangan berupa cerita, puisi, dan dongeng. Anak-anak yang belajar di kelas tersebut tidak dibatasi umur, tapi sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki dan hasil pada saat tes.

“Bahkan ada yang sudah duduk di kelas lima SD tapi tidak mengenal huruf sama sekali. Jadi, kami menempatkannya di kelas membaca dasar. Padahal seusia dia harusnya sudah masuk ke kelas menulis seperti kebanyakan daerah lain yang kami temui, tapi di sini kami temukan anak yang sudah duduk di kelas lima SD, tapi tidak tahu huruf. Sempat heran juga kenapa dia bisa naik kelas dan duduk di kelas lima SD? Hal ini mungkin karena guru yang mengajar di SD tersebut hanya dua orang,” ujar Nanda.

Namun, semangat belajar anak-anak di Sarah Baru sungguh luar biasa. Ada sekitar 50 orang anak yang terdaftar belajar di Kampung Pustaka Impian, semua itu dibagi ke dalam tiga kelas membaca dasar, lanjut, dan menulis. 


Kebahagian anak-anak belajar di Pustaka Kampung Impian. (Foto : Ikhsan)

Sepulang sekolah, mereka datang ke rumah Kampung Pustaka Impian untuk belajar sesuai kelas yang mereka ikuti. Tiga puluh menit sebelum kelas dimulai, mereka diwajibkan untuk membaca buku-buku yang disediakan oleh Pustaka Kampung Impian. Barulah pada pukul 14.00 WIB, mereka belajar dengan guru impian yang telah ditunjuk pada masing-masing kelas.

Uniknya di kelas Pustaka Kampung Impian ini mereka belajar di ruang terbuka seperti di bawah pohon, di pinggir sawah atau sungai, dan di mana pun tempat yang memungkinkan anak-anak bisa belajar. Sistem belajarnya pun juga tidak terlalu kaku seperti kelas di sekolah formal. Mereka dibebaskan untuk berekspresi dan berkreasi di alam bebas tanpa mengesampingkan tujuan belajarnya. Terbukti dengan cara seperti ini anak-anak lebih aktif dan mudah menerima pelajaran yang disampaikan.

Selain itu, juga terdapat kelas prakarya dan seni yang boleh diikuti oleh setiap anak. Tujuannya agar hasil karya anak-anak bisa dipamerkan pada acara pameran Pustaka Kampung Impian. Begitu juga saat acara pentas seni, anak-anak bisa tampil menunjukkan bakat seninya. Mereka juga diajak untuk menjelajah kampung mereka yang kemudian di setiap pos akan ada guru impian menjelaskan tentang keindahan kampung mereka. Termasuk tentang sumber daya alam yang dimiliki oleh Sarah Baru supaya anak-anak mencintai dan menjaga kampung mereka.

Para guru impian juga menampilkan video dan drama yang dilakoni mereka kepada anak-anak tersebut. Kemudian anak-anak tersebut mengambil kesimpulan dari apa yang dilihatnya dan dituangkan dalam bentuk tulisan atau gambar sesuai dengan kategori kelas mereka. 


“Kita mengajarkan anak-anak di sini untuk bisa memahami dari apa yang mereka lihat. Paling tidak mereka tahu tentang apa yang mereka lihat sehingga mereka bisa belajar menyaring informasi,” lanjut Nanda yang sudah tiga tahun menjadi relawan guru impian.

Di desa yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan dan arus teknologi ini, rupaya terdapat gerakan literasi yang tengah bergeliat membangun semangat anak-anak di Sarah Baru. Saya begitu terharu dan bangga dengan mereka yang mau belajar bersama guru impian. Kehadiran para guru ini bagaikan mimpi bagi mereka karena selama ini mereka masih jauh dari merasakan nikmatnya sebuah pendidikan.


Lagi-lagi tidak menggunakan pelampung

Kepulangan saya di antar sampai ke dermaga oleh anak-anak dan beberapa masyarakat, termasuk tuha peutnya. Padahal saya hanya satu malam datang kemari untuk melihat geliat literasi di hulu Sungai Kluet, Aceh Selatan ini. Namun, mereka seperti melepaskan keluarganya yang hendak pergi jauh dan entah kapan kembali. Mereka melambaikan tangan saat 'stempel' membawa saya, dan teman-teman kembali menyusuri Sungai Kluet lagi-lagi tanpa pelampung.


Artikel ini pernah diterbitkan di Tabloid Iqra oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Nomor 1 edisi 1, Februari 2019.