Tampilkan postingan dengan label hutan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hutan. Tampilkan semua postingan

Peluang dan Tantangan Biofuel Pengganti Bahan Bakar Mineral


Sadar nggak bahan bakar yang selama ini kita gunakan ada batasannya? Kendaraan yang kita gunakan, masakan lezat yang kita nikmati, dan terangnya kehidupan di malam hari, semua itu berkat bahan bakar mineral yang mengandung hidrokarbon, seperti minyak bumi, gas alam, dan batubara.

Bahan bakar mineral ini terbentuk karena adanya proses alamiah berupa pembusukan dari organisme yang mati ratusan juta tahun yang lalu. Bila bahan bakar ini terus-menerus digunakan, enargi yang dihasilkan mineral tersebut juga habis.

Hasil sebuah penelitian yang dimuat dalam artikel pada kumparan yang menyuplik laman MAHB Stanford, bahwa minyak akan habis di tahun 2052, gas akan habis di tahun 2060, dan batubara habis pada tahun 2090.


Mungkin sekarang kita sudah mulai merasakan yang dulunya memasak menggunakan kompor minyak tanah, sekarang beralih ke kompor gas. Hal itu bukan karena adanya subsidi tabung gas dari pemerintah, melainkan karena minyak tanah yang semakin langka dan susah dicari. Jadi mau tidak mau masyarakat diajak beralih menggunakan kompor gas. Lantas bagaimana kalau gas juga habis? Kita mau memasak menggunakan bahan bakar apa?

Listrik?

Perlu diketahui bahwa pembangkit tenaga listrik juga menggunakan bahan bakar mineral, seperti batubara, gas alam, atau minyak bumi untuk memproduksi listrik. Bila semua energi yang dihasilkan dari bahan bakar mineral tersebut habis, maka kucar-kacirlah masyarakat bumi ini.

Oleh karena itu, perlu energi terbaharukan untuk menggantikan bahan bakar mineral yang kian hari semakin menipis. Salah satunya ialah Biofuel alternatif energi yang bisa diusahakan.

Apa Itu Biofuel?

Jumat 12 November 2021, Eco Blogger Squad kembali membuat acara online gathering. Kali ini temanya tentang Mengenal Lebih Jauh tentang Biofuel.



Gathering tersebut menghadirkan Kukuh Sembodho (Program Asisten Biofuel Yayasan Madani) dan Ricky Amukti selaku Engagetment Manager di Traction Energy Asia sebagai narasumber. Mereka menguak semua tentang energi terbarukan ini dan membahas peluang serta tantangannya ke depan.

Biofuel sendiri diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu bioethanol, biodiesel, dan biogas. Ketiga tersebut berasal dari bahan-bahan nabati yang terdapat di sekitar kita.

1. Bioetanol; merupakan alkohol yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, seperti gandum, tebu, buah-buahan, dan limbah sayuran. Proses pengolahannya melalui fermentasi yang bila bioethanol ini dicampur dengan bensin dalam takaran tertentu mampu berfungsi sebagai bahan bakar.

2. Biodiesel; merupakan sumber energi yang berasal dari minyak-minyak nabati, seperti minyak tanaman jarak, kedelai, sawit, hingga bunga matahari. Sebenarnya masih banyak tanaman yang bisa menghasilkan biodiesel, hanya saja belum diteliti lebih lanjut.

3. Biogas; energi yang berasal dari fermentasi kotoran hewan atau manusia. Dengan proses tertentu, biogas dapat menghasilkan energi yang dimanfaatkan untuk kegiatan rumah tangga dan industri skala kecil.

Peluang & Tantangan Biofuel Sebagai Energi Terbarukan


Adanya energi terbarukan berupa biofuel memberikan peluang besar bagi Indonesia. Terlebih daerah ini kaya akan tenaman-tanaman penghasil bioufuel. Namun, di sisi lain juga terdapat tantangan besar karena bila produksi biofuel dibuat dengan skala besar, berapa banyak lahan yang dibutuhkan untuk menanam tumbuhan penghasil biofuel?

Menurut Mas Kukuh dalam slide presentasinya, beginilah gambaran jumlah lahan yang dibutuhkan supaya produksi biofuel mampu direalisasikan.


Berdasarkan pemaparan di atas, artinya demi memenuhi kepentingan produksi bahan bakar B30-B50, dibutuhkan lahan baru untuk perkebunan sawit seluas 20,4-22,8 juta Ha.

Padahal bila kita ulik lebih dalam bahwa sawit masih menjadi masalah besar sebagai pemicu munculnya deforestasi. Selain itu, sawit juga tumbuhan primadona sebagai penghasil devisa tertinggi negeri ini.

Lebih lanjut Mas Kukuh dan Mas Ricky menjelaskan bahwa bukan tanaman sawitnya yang salah. Namun yang perlu diperkarakan ialah oknum-oknum yang menanam sawit dengan cara yang salah dan tidak mengindahkan aturan menganai pengelolaan lingkungan berkelanjutan.

Produksi Biofuel Sesuai dengan Sumber Daya yang Ada


Salah satu cara untuk menjawab tantangan ini ialah dengan memanfaatkan sumber daya yang ada saat ini. Indonesia sudah memiliki perkebunan sawit yang cukup luas untuk menunjang perekonomian dan produksi biofuel. Nah, agar dalam proses pembuatan biofuel tak ada lagi deforestasi, maka pemerintah hendaknya meng-stop izin pembukaan lahan baru untuk tanaman sawit.

Selain itu, kita bisa menghemat penggunaan lahan dengan cara memanfaatkan minyak jelantah yang sudah tidak terpakai. Ini perlu diketahui oleh ibu-ibu biar jangan asal buang minyak jelantah.

Minyak jelantah ialah limbah minyak yang tidak digunakan lagi setelah menggoreng seperti, minyak jagung, minyak sayur, minyak samin, dan sebagainya.

Minyak jelantah ini tidak baik digunakan lagi untuk memasak atau menggoreng karena mengadung senyawa karsinogenik. Bukan hanya itu, minyak jelantah juga tidak bisa dibuang sembarangan ke tanah, sungai, atau saluran air.

Sebab, minyak jelantah yang dibuang sembarangan ke saluran air bisa menyumbat pipa-pipa pembuangan. Akibatnya saluran pembuangan pun berisiko tersumbat. Layaknya membuang limbah berbahaya, perlu ada pengelolaan lebih lanjut agar minyak jelantah tidak mencemari lingkungan.

Sebagaimana yang dijelaskan Mas Ricky pada acara Online Gathering tersebut bahwa ternyata limbah minyak jelantah bisa diolah kembali menjadi biofuel.



Dari ingografis tersebut terlihat bahwa konsumsi minyak goreng orang Indonesia cukup tinggi, yaitu di angka 16,2 juta kilo liter per tahunnya. Sedangkan hasil dari minyak jelantahnya sebanyak 3 juta kilo meter. Apakah sinkron dengan jumlah sebanyak itu hanya mengahasilkan minyak jelantah tidak lebih dari seperempatnya saja.

Kemana selebihnya? Digunakan kembali sebagai minyak goreng atau dibuang? Tentu kondisi tersebut sangat disayangkan mengingat jelantah berpeluang besar untuk dijadikan biofuel.

Bumi Semakin Panas, Haruskah Kita Peduli?


“Ah, kan ada AC. Jadi tetap adem dong.” Jawaban nggak peduli.

“Iya sih, buat kita makin gerah.” Jawaban prihatin.

“Terus kalau bumi panas, emang kenapa?” Jawaban penasaran.

“Makanya itu, aku mau lakukan sesuatu supaya bisa menstabilkan panas bumi.” Jawaban solusi.

Nah, kalau kamu masuk golongan mana? Biar kita sefrekuensi agar sama-sama peduli tentang kondisi bumi, mari simak ulasan berikut.

Jumat, 15 Oktober 2021 aku kembali mengikuti Online Gathering keempat yang dibuat oleh ECO Blogger Squad bekerjasama dengan Blogger Perempuan Network. Tema yang diangkat yaitu, “Bumi Semakin Panas, Kode Merah untuk Kemanusiaan.”


Mba Anggi

Webinar ini menghadirkan narasumber, perempuan cantik bernama Anggalia Putri Permatasari (Knowledge Manajer Yayasan Madani Berkelanjutan). Mba Anggi begitu sapaannya, menyampaikan laporan keenam Intergovermental Panel on Climate Change (IPPC) yang berjudul Code Red for Humanity.

IPCC merupakan panel ilmiah yang terdiri atas para ilmuwan dari seluruh dunia dan didirikan oleh dua organisasi PBB, yaitu: World Meteorological Organization (WMO) dan United Nations Environment Programme (UNEP) pada 1988. Komunitas ilmuan ini setiap tahunnya mengeluarkan laporan tentang krisis iklim yang terjadi di dunia. 

Di tahun ini, laporan yang disampaikan IPPC sempat menjadi sorotan di berbagai media belahan dunia, termasuk Indonesia. Isi laporan tersebut tentang rangkuman keadaan iklim dunia saat ini, di antaranya yaitu.

1. Panas bumi meningkat lebih cepat daripada yang diperkirakan. Pada awal tahun 2030 nanti, suhu bumi akan naik 1,5°C dan ini merupakan batas aman suhu bumi.


2. Kenaikan suhu yang melampaui batas tersebut akan membuat es di kutub mencair, sehingga akan menenggelamkan beberapa kota yang ada di seluruh dunia.

3. Terjadinya krisis iklim yang semakin cepat dan kian meluas, mengakibatkan muncul beberapa fenomena alam yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Misalnya tidak menentuknya musim hujan dan kemarau, bisa jadi di suatu daerah merasakan hujan berkepanjangan yang mengakibatkan banjir. Namun, di daerah lain justru dilanda kekeringan sehingga banyak spesies hewan yang mati.


4. Bumi semakin panas tidak lain karena ulah perbuatan manusia. Hutan dan lahan gambut sengaja dibakar untuk dijadikan lahan produktif yang mengakibatkan pelepasan karbon di udara sehingga memperparah kondisi panas bumi.

Setelah mengetahui laporan tersebut, masihkah kita abai dengan kondisi bumi? Lanjut kita bahas yang lebih spesifik lagi, tempat tinggal kita yaitu Indonesia. Apa dampaknya untuk Indonesia?

Dampak yang paling memungkinkan ialah sekitar 115 pulau di Indonesia terancam tenggelam. Tahu kan bahwa Indonesia daerah kepulauan? Jangan-jangan pulau di tempat tinggalku yang tenggelam atau mungkin saja di tempat kamu. Semua itu mungkin saja terjadi, bila kita tidak peduli dengan keadaan bumi saat ini.



Lantas, apa yang bisa kita lakukan sebelum semua itu terjadi?

1. Stop penggunaan batu bara dan beralih ke energi terbarukan, seperti tenaga surya, angin, air, dan sebagainya. Intinya jangan terlalu banyak bakar-membakarlah, kasihan karbon yang dihasilkan bisa jadi pencemaran lingkungan dan juga efek rumah kaca.



2. Lindungi hutan alam yang tersisa dan lakukan deforestasi. Kalau yang ini aku bisa sarankan setiap di hari ulang tahunmu, tanam satu pohon kalau lebih tambah bagus. Pohon yang kamu tanam bisa menjadi tempat penyerap karbon, paling tidak untuk di sekitar tempat tinggalmu. Yang jelas kita bisa lebih adem bila banyak pohon tumbuh di sekeliling tempat tinggal.

3. Jangan usik lahan gambut dan cegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Untuk perihal ini, aku sudah bahas di postingan sebelumnya yang berjudul 6 Fakta tentang Lahan Gambut Indonesia yang Harus Kamu Tahu.

4. Restorasi dan rehabilitasi ekosistem alam, termasuk hutan, mangrove, dan gambut. Ini lebih memungkinkan kerjaan pemerintah atau lembaga yang fokus pada restorasi dan rehabilitas. Namun, biasanya mereka akan mengajak masyarakat untuk melakukan sumbangsih dengan cara donasi, seperti hutan wakaf, adopsi hutan, sumbang pohon, dan sebagainya.

5. Adaptasi, terutama untuk kelompok rentan.



Bagi kamu generasi muda bisa apa?

Hal utama yang bisa dilakukan ialah degan mengurangi emisi dan jejak karbon. Sebab dengan begitu dapat membantu memperbaiki lapisan bumi dan mengurangi pencairan gletser yang berdampak bagi bumi.

Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi jejak karbon yaitu;

1. Tidak menyisakan makanan.

2. Tidak tergiur untuk mengikuti tren (fast fasion). Sebab, industri fashion adalah salah satu yang paling mencemari lingkungan dan penyumbang polusi terbesar di dunia, seperti air, tanah, maupun pengahasil gas emisi karbon yang dapat menyebabkan perubahan iklim.

3. Tidak menggunakan kantong plastik.

4. Tidak meggunakan angkutan pribadi.

5. Gunakan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain agar ikut beraksi melakukan hal yang sama. Seperti aku misalnya seorang blogger dengan membuat postingan ini untuk membuat kamu yang semula tidak peduli mau berempati. Yang mulanya tidak mengerti bisa lebih mengetahui sehingga akan mengubah perilaku yang merusak akhirnya mengajak mengurangi emisi dan jajak karbon.

Semoga dengan postingan ini menambah kepedulianmu terhadap bumi yang semakin panas. Mungkin bumi akan baik-baik saja tanpa manusia, tapi kita selaku manusia tidak bisa tentram bila bumi dalam keadaan teranyam. Upaya penyelamatan bumi adalah cara untuk mempertahankan kelangsungan hidup manusia, cukup dinosaurus saja yang punah jangan aku, kamu, dan kita semua. So, makanya harus peduli dengan tempat yang kita tinggali ini.


6 Fakta Tentang Lahan Gambut Indonesia yang Harus Kamu Tahu

Tahu nggak sih kamu tentang Lahan Gambut? Atau memang nggak mau tahu karena nggak ada hubungannya sama sekali dengan kamu? Eits, siapa bilang nggak ada hubungannya dengan kamu, aku, orang tua, anak, teman, dan saudara-saudaramu serta semua makhluk hidup di bumi ini?

Kamu pasti merasa bersalah bila tidak mau tahu tentang lahan gambut, setelah mengetahui semua fakta terbaru tentangnya. Awalnya sih aku begitu. Ketika mengetahui kabar bahwa, tema online gathering Eco Blogger Squad tentang “Lindungi Gambut, Lindungi Fauna Indonesia”, aku merasa agak malas mengikutinya.

Sebab, temanya kali ini kurang menarik menurutku. “Lahan gambut itu kan tanah becek yang ada dirawa-rawa. Di dalamnya pasti banyak lintah, biawak, bahkan buaya. Tanahnya nggak subur, bahkan airnya cenderung kuning dan nggak bisa dikonsumsi. Terus apa pentingnya sih membahas lahan gambut ini?” Ujarku dalam hati sebelum mengikuti materi online gathering kali ini.

Lahan gambut Indonesia, foto © CIFOR

Walaupun suuzon pertamanya dan malas-malasan mengikuti online gathering, apalagi di jam siang buat mata jadi ngantuk, akhirnya aku bertahan di lima menit pertama, kedua, hingga dua jam lebih acara ini berlangsung. Sebab, apa yang kupikirkan selama ini tentang Lahan Gambut salah besar, setelah aku mengetahui faktanya dari orang yang berkompeten di bidangnya.

Dua narasumber yang dihadirkan dalam online gathering kali ini ialah, Dr. Herliana Agustin yang merupakan Peneliti Pusat Studi Komunikasi Lingkungan, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran dan Lola Abas, Koordinator Nasional Pantau Gambut. Mereka berdua mengungkap semua fakta tentang kondisi lahan gambut di Indonesia. Berikut 6 fakta tentang lahan gambut Indonesia yang harus kamu tahu.

1. Sebagai tempat penyimpanan 30% karbon dunia.


Lahan gambut Indonesia bernilai penting bagi dunia karena menyimpan setidaknya 53-60 miliar ton karbon atau 30% karbon dunia. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai kawasan utama penyimpanan karbon dunia. Surga karbon lahan gambut Indonesia, hanya mampu ditandingi oleh hutan hujan di Amazon yang menyimpan 86 miliar ton karbon.

Kemampuan lahan gambut menyimpan cadangan karbon yang besar akan menjadi petaka bila lahan gambut tersebut dikeringkan atau dialih fungsikan. Sebab, dalam keadaan kering, gambut menjadi mudah terbakar. Ketika gambut sudah terbakar, api dapat menyebar hingga kedalaman empat meter karena lahan gambut tidak berisi tanah padat, melainkan ranting, rumput, dan sisa-sisa pohon.

Walau api di permukaan sudah padam, bukan berarti api di lapisan dalam juga padam. Api yang mengendap di lapisan tanah bisa bertahan berbulan-bulan , bahkan menjalar ke tempat lain.

Oleh karenanya, kebakaran di lahan gambut dapat menjadi bencana besar dan menjadi sumber utama emisi gas rumah kaca. Jadi, jangan asal ya memperlakukan seenaknya lahan gambut ini karena ia bisa menjadi mala petaka besar bila keberaadaanya diganggu.

2. Lahan gambut dapat mencegah bencana banjir dan kemarau


Ternyata lahan gambut yang habitatnya terjaga dan tidak terjamah dapat berfungsi untuk mengurangi dampak buruk bencana banjir dan kemarau. Kok bisa ya?

Lahan gambut memiliki sifat hydrophysical, yaitu daya serap yang cukup tinggi. Ia bisa menampung air sebesar 450-850% dari bobot keringnya atau 90% dari volumenya. Selain itu, gambut yang terdekomposisi juga mampu menahan air 2 hingga 6 kali lipat dari berat keringnya.

Namun, meskipun daya serapnya tinggi, gambut hanya menyediakan sedikit air untuk pertumbuhan tanaman dibandingkan dengan tanah mineral. Hal ini disebabkan oleh kapasitasnya dalam menahan air sangat kuat dan dipengaruhi oleh tingkat dekomposisinya.

Gambut yang telah mengalami dekomposisi (penguraian) mampu menahan air dua sampai enam kali berat keringnya. Dengan demikian, eksositem gambut berperan penting sebagai penambat air tawar yang cukup besar untuk menahan banjir saat musim hujan dan melepaskan air pada musim kemarau.

3. Sebagai tempat menunjang perekonomian masyarakat

Gambut tempat penunjang perekonomian masyarakat, foto ©Danar Tri Atmojo

Lahan gambut merupakan ekosistem alami bagi beberapa tanaman yang mempunyai nilai ekonomi bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya. Beberapa jenis tanaman yang dapat tumbuh baik di lahan gambut antara lain, ialah rumbia, rotan, karet, nanas, padi, mahang, pisang, tebu, kelapa, sagu, singkong, jelutung. Punak, resak, dan kapur naga. Tanaman tersebut dapat dijadikan sebagai sumber pangan yang dapat menunjang perekonomian masyarakat.

Selain itu, ekosistem lahan gambut juga cocok untuk mengembangkan beberapa jenis ikan, seperti ikan patin siam, lele dumbo, dan nila. Hal ini tentunya dapat membuka lapangan kerja di sektor perikanan.

4. Lahan gambut tertua di dunia berada di pedalaman Kalimantan

Lahan Gambut Purba yang ada di Kalimantan Barat

Di Indonesia terdapat lahan gambut purba yang diperkirakan telah terbentuk sejak 47.800 tahun lalu. Ketebalan lapisannya pun mencapai 18 meter, yaitu setara dengan tinggi bangunan enam lantai. Lahan gambut purba ini terletak di pedalaman Kalimantan Indonesia.

5. Habitat bagi berbagai macam flora dan fauna Indonesia


Bila kita memandang dari luar, lahan gambut ini tidak ada apa-apanya. Namun, bila ditelusuri ke dalam, lahan gambut menjadi habitat yang baik bagi berbagai macam flora dan fauna. Hampir semua keluarga animalia ada, yaitu sekitar 35 spesies mamalia, 150 spesies burung, dan 34 spesies ikan di lahan gambut.

Beberapa jenis hewan langka yang bisa kita jumpai di lahan gambut antara lain adalah buaya, sinyulong, macam sumatera, beruang madu, tapir, dan sejenis angsa sayap putih.

1. Tapir, 2. Beruang Madu, 3. Harimau Sumatera, foto @Photopin

Sedangkan beberapa jenis tanaman yang bisa dijumpai di lahan gambut, antara lain pulai, jelutung, durian, getah sundi, jambuan, geronggang, kayu hitam Sulawesi, dan pala. Selain itu, tanaman yang paling banyak dijumpai di hutan gambut Kalimantan dan beberapa wilayah Sumatera adalah rahim, yaitu sejenis kayu mewah yang biasanya digunakan untuk bahan pembuat furniture.

1. Jelutung, 2. Jambuan, foto @Photopin

6. Lahan gambut Indonesia sedang terancam


Dikarenakan ketidaktahuan masyarakat tentang lahan gambut ini mengakibatkan keberadaannya terancam. Sebab, lahan gambut sering dianggap masyarakat sebagai lahan tidur atau terbuang sehingga dialihfungsikan untuk kepentingan pertanian dan perkebunan. Lahan gambut dikeringkan secara terus menerus untuk mencegah air kembali membanjiri gambut dan ada juga yang sengaja membakarnya.

Siklus surutnya dan pengeringan gambut yang terus berlangsung lama menjadi sumber emisi karbon yang tidak akan berhenti. Tercatat pada tahun 2019, luas lahan gambut Indonesia sebesar 13,43 juta ha, turun 1,5 juta ha dibandingkan tahun 2011 yakni 14,93 juta ha.

Selain itu, terbakarnya lahan gambut juga mengakibatkan flora dan fauna di dalamnya ikut terbakar. Sehingga akan berdampak pada penurunan spesies yang ada di lahan gembut tersebut. 


Nah, setelah kamu mengetahui semua fakta tersebut, masihkah tidak peduli dengan lahan gambut ini? Bayangkan bila gambut ini tiada, kita akan menjadi seperti apa. Bisa jadi keadaan iklim di bumi tidak menentu lagi dan susah untuk diprediksi. Kalau sudah begitu, tentu kita tidak nyaman lagi tinggal di sini, dan bersiaplah untuk mencari planet lain yang bisa ditempati. Mungkinkah itu?

Sebelum semua itu terjadi, mari kita lindungi lahan gambut demi keberlangsungan makhuluk hidup di bumi. Caranya yaitu;

1. Melindungi gambut yang masih tersisa dan memulihkan yang rusak dengan merestorasi lahan gambut.

Restorasi gambut bertujuan untuk mengembalikan fungsi ekologi lahan gambut dan mensejahterakan masyarakat. Upaya restorasi gambut dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu pembasahan, penananman ulang, dan merevitalisasi sumber mata pencaharian masyarakat setempat.

2. Untuk mencapai itu, maka kita mendorong pemerintah agar serius dalam komitmennya untuk perlindungan dan pengelolaan lahan gambut yang lestari.

3. Sebarluaskan kesadaran tentang pentingnya lahan gambut

Itulah upaya yang bisa kita lakukan. Bila semua orang mengetahui tentang fakta ini, aku yakin lahan gambut Indonesia tidak tersakiti lagi. Dan Indonesia tidak perlu lagi dihujat oleh Negara tetangga karena kabut asam yang ditimbulkan oleh kebakaran lahan gambut.


Hubungan Pandemi dengan Kebakaran Hutan dan Lahan


Dua tahun sudah kita dijerat oleh Pandemi Covid-19. Jadwal traveling yang biasanya dilakukan setiap akhir pekan, terpaksa harus dihilangkan. Acara seminar atau pelatihan yang biasanya di gedung mewah atau bertingkat, sekarang hanya bisa dinikmati di depan laptop sambil dasteran dan makan gorengan.

Jika pun harus ke luar rumah, wajib mematuhi protokol kesehatan seperti mengenakan masker, cuci tangan, menjaga jarak, dan sebagainya. Bila hendak ke luar kota, harus melakukan prosedur swab dulu untuk memastikan diri tidak terkonfirmasi positif Covid-19. Jujur, aku mulai lelah dan bosan dengan semua ini. Bagaimana dengan kamu?

Semua kita pasti ingin pandemi ini cepat berlalu. Kehidupan bisa berjalan normal dan kita kembali ke rutinitas seperti sebelum pandemi menyerang. Namun, tahukah kamu adanya pandemi saat ini merupakan sebuah siklus?

Siklus yang terus berulang ketika hutan ditebang, lahan dirusak, hingga menimbulkan kebakaran hutan dan lahan. Yang sebenarnya rumah bagi para binatang dan hewan, tapi terpaksa diusir pergi hingga akhirnya mendatangkan pandemi. Kenapa bisa? Simak penjelasan selanjutnya.

Online Blogger Gathering


Jumat, 4 Juni 2021 aku mengikuti Online Blogger Gathering dalam rangka menyambut peringatan Hari Lingkungan Hidup yang diperingati setiap tanggal 5 Juni. Seperti online gathering sebelumnya, para Eco Blogger Squad diberikan pengetahuan isu lingkungan oleh para pakarnya.

Dalam online gathering kali ini, tema yang diangkat ialah Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), Cegah Pandemi. Ada dua narasumber yang begitu kompeten mengulik kedua isu ini, yaitu Karhutla dan Pandemi.

Materi pertama disampaikan oleh Mas Dedi Sumara yang merupakan Direktur Informasi Auriga Nusantara. Ia membahas tentang Bencana Tahunan Kebakaran Hutan dan Lahan. Dalam penyampaiannya, Mas Dedi menyebutkan bahwa Karhutla di Indonesia dua tahun lalu adalah salah satu kebakaran yang begitu mengkhawatirkan selama dua dekade terakhir.

Berdasarkan data yang dihimpun pemerintah, ada sekitar 1,6 juta hektar lahan hangus dilalap si jago merah. Sehingga tahun 2019 merupakan tahun terparah sejak bencana asap tahun 2015.

 Slide Power Point Dedi Sumara

Dampak Karhutla


Akibatnya, pemerintah Indonesia rutin menjadi sorotan masyarakat dunia karena tidak mampu menangani kebakaran hutan dan lahan yang berkepanjangan. Asap yang ditimbulkan dari kebakaran tersebut, kerap memanaskan hubungan diplomatik dengan negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, dan lainnya. Sebab, Karhutla menjadikan Indonesia sebagai salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia.

Kemarau panjang (El Nino) selalu dituding sebagai pemicu kebakaran. Namun, faktanya kebakaran terus terjadi bahkan di tahun-tahun tanpa El Nino. Jadi, besar kemungkinan faktor lain lebih tepat dianggap sebagai penyebab dari Karhutla, salah satunya disebabkan oleh tangan jahil manusia.

Kebakaran berulang terus terjadi di beberapa daerah di Indonesia, seperti di Sumatera Selatan, Riau, Kalimantan Tengah, Papua, dan seterusnya. Kebakaran ini terlihat berpola seperti ada unsur ketersengajaan di dalamnya. Sehingga Indonesia tidak putus-putusnya dengan persoalan Karhutla. Dampak yang ditimbulkannya juga beragam.
Slide Power Point Dedi Sumara

Dampak yang paling signifikan ialah hilangnya habitat dan penurunan populasi tumbuhan dan satwa liar. Sebab rumah yang menjadi tempat tiggal mereka musnah dibakar oleh kejahilan tangan manusia. Mau tidak mau, satwa liar yang masih tersisa dan mikroorganisme di dalamnya harus berpindah mencari habitat baru. Inilah awal dari pemicu adanya wabah yang kemudian menjadi pandemi. Untuk penjelasan tentang hal ini akan disampaikan oleh pemateri yang kedua.

Selain itu, dampak Karhutla juga mempengaruhi kesehatan, pendidikan, dan transportasi. Masih ingat tentang kabut asap yang sering diberitakan televise? Di mana untuk mengantisipasi gangguan kesehatan, anak-anak usia sekolah terpaksa harus diliburkan. Penerbangan harus ditunda, dan tranportasi jenis apa pun terganggu akibat kabut asap dari Karhutla.

Pemanasan global dan perubahan iklim pun terjadi. Bahkan kerugian Indonesia akibat dampak Karhutla sepanjang tahun 2019 ini, mencapai US$5,2 miliar atau setara dengan Rp72,95. Nah, sebegitu besarnya dampak dari Karhutla ini.

Lantas apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah Karhutla berlanjut?

1. Memperluas moratorium hutan dan gambut

2. Meningkatkan Pengeakan Hukum

3. Restorasi Hutan dan gambut terdegradasi

4. Mendukung komunitas pemadam kebakaran dan kapabilitas pemantauan

5. Membangun infrastrukur hidrologis dan mendorong kapasitas respons dini

6. Memberi isentif ekonomi untuk tidak membakar hutan dan lahan

Kenapa Muncul Pandemi?

Mungkin banyak yang masih bertanya apa hubungan pandemi dengan kebakaran hutan dan lahan? Bukankah pandemi yang kita ketahui sekarang disebabkan oleh Corona Virus (Covid) 19? Lantas bagaimana Karhutla bisa memicu munculnya pandemi seperti sekarang ini?

Penjelasan bagian ini disampaikan oleh dr. Alfi Murdani selaku Direkrtur Yayasan Asri Indonesia. Lebih lanjut ia menjelaskan tentang Penyakit Zoonosis karena Deforestasi.
Slide Power Point dr. Alvi Murdani

Zoonesis muncul ketika area hutan berubah menjadi lahan tidak berhutan secara permanen yang diperuntukkan sebagai aktivitas manusia. Istilah ini disebut dengan deforestasi. Ketika terjadi deforestasi, beberapa spesies menurun, bahkan punah. Namun ada juga yang bertahan dan beradaptasi. Spesies yang beradaptasi inilah yang meningkatkan risiko penyakit zoonosis.

Hampir penyakit infeksi baru merupakan zoonosis yang awalnya berasal dari hewan, kemudian berpindah kepada manusia yang disebut sebagai wabah. Selanjutnya penyakit tersebut dari manusia berpindah ke manusia lainnya yang meningkatkan potensi pandemi.

Misalnya saja Human immunodeficiency virus (HIV) yang begitu meresahkan karena belum ditemukan obatnya, ternyata pemicunya berasal dari seokor kera. Virus ini pertama kali muncul di Afrika, di mana masyarakat di sini memburu kera yang kemudian dimakan dagingnya. Kemudian virus yang ada ditubuh kera tersebut berpindah ke manusia yang kemudian ditularkan ke manusia lainnya.

Begitu pula dengan virus nipah yang muncul di awal 1998, awalnya berasal dari air liur kelelawar buah yang hidup di kawasan Asia Tenggara. Akibat deforestasi yang disebabkan kebakaran hutan dan lahan memunculkan kabut asap yang begitu tebal. Hal ini rupanya mengganggu habitat kelelawar buah. sehingga menginfeksi buah-buahan,

Di tubuh kelelawar memiliki banyak patogen (agen penyebab infeksi virus), tapi ia dibekali dengan sistem imun yang kuat. Meskipun di tubuhnya tidak berefek apa-apa, tapi akan berbahaya bagi makhluk lainnya bila patogen di tubuh kelelawar berpindah. Tambahnya lagi, kelelawar merupakan mamalia yang bisa terbang, sehingga perpindahan kelelawar tersebut akan berdampak pada spesies yang diinfeksinya.

Dampak dari virus nipah mengakibatkan kematian mencapai angka 75% kasus. Di Malaysia infeksi virus nipah disebabkan oleh kontak langsung manusia dengan babi atau jaringan yang terkontaminasi. Sedangkan di Bangladesh, wabah ini timbul dari konsumsi liur dan kencing kelelawar.

Selanjutnya ada Yellow Fever yang terjadi pada tahun 1990 di Amerika Selatan. Virus ini bermula dari tubuh primata yang ditranmisikan oleh nyamuk sebagai vektornya. Pada saat itu, ada sekitar 200.000 orang yang terjangkit virus ini, 1/3nya meninggal dunia, terutama di bagian Afrika Barat.

Kemudian di tahun 2016 dan 2018, wabah ini pun berulang di Amerika Selatan. Ada sekitar 2000 kasus yng terinfeksi virus ini dan rutusan orang meninggal akibatnya. Berdasarkan penelitian, kedua kasus tersebut disebabkan karena habitat hewan liar terganggu karena lahan tempat tinggalnya menyempit. Akibatnya hewan-hewan liar akan mencari makanan ke permukiman warga. Jika manusia kontak degan hewan liar, maka akan semakin tinggi terjadi risiko penularan penyakit dari hewan ke manusia.

Kontak yang dimaksud bukan saja bersentuhan langsung dengan hewan liar, tapi bisa lewat gigitan nyamuk atau makanan yang diinfeksi oleh hewan yang membawa patogen tersebut.
Slide Power Point dr. Alvi Murdani

Terlalu banyak penyakit yang disebabkan oleh Zoonesis ini. Bahkan dua tahun ini yang paling gempar dan menjadi pandemi dunia ialah Virus Corona. Menurut dr. Alvi asal Covid-19 memang belum ditemukan secara pasti, tapi besar kemungkinan penyebabnya dari Pangolin, hewan yang mirip trenggiling.

Di Malaysia dan Vietnam hewan ini diimpor secara illegal untuk dimanfaatkan daging, kulit, dan sisiknya. Bila hewan ini bersinggungan erat dengan manusia bahkan dijadikan sebagai bahan makanan, maka akan berpotensi menyebabkan zoonosis.

Jadi, dapat diimpulkan bahwa deforestasi hutan yang menimbulkan kebakaran hutan dan lahan telah menjadi faktor utama pemicu penyakit zoonosis. Bila ini berlanjut maka akan menjadi wabah dan pandemi.

Cara untuk mencegah pandemi ada dua, pertama mencegah wabah dengan membiarkan bakteri atau virus berada di habitatnya. Kedua, mencegah pandemi itu sendiri agar penyakit yang mewabah tidak menular kepada orang lain yang berpotensi mengakibatkan pandemi.

Oleh karena itu, ayo kembali berpikir ribuan kali ketika hendak merusak hutan atau membakarnya. Sebab, hilangnya rumah pada binatang atau spesies tertentu dapat memicu pandemic seperti saat ini. Bila kita merusak hutan dan lahan, maka bersiaplah menerima konsekuensinya diserang penyakit zoonosis karena antara Kar

Bumi Tanpa Manusia

Tampilan di Koran Serambi Indonesia, edisi 23 April 2021

Di tulisan sebelumnya aku sudah memaparkan tentang Peran Eco Blogger dalam Memperingati Hari Bumi. Seperti yang kujelaskan dalam tulisan itu bahwa para blogger yang tergabung dalam Eco Blogger Squad ini berperan sebagai pemberi informasi melalui konten tulisan tentang isu lingkungan.

Bukan hanya di blog sendiri, tapi di media sosial dan platform lainnya seperti media massa berupa cetak. Nah, untuk penjelasan dari pemateri kedua yang disampaikan oleh Gita Syahrani dalam Blogger Gathering pada 14 April 2021 lalu, tulisannya aku kirimkan ke Koran lokal yang ada di Aceh.

Aku mengulasnya dengan bahasa awam supaya mudah bagi siapa saja yang membacanya. Tulisan itu pun diterbitkan di rubrik Jurnalisme Warga Serambi Indonesia, pada Jumat, 23 April 2021 sehari setelah peringatan Hari Bumi Sedunia. 

Tampilan di website Serambi Indonesia

Berikut isi tulisanku yang berjudul Bumi Tanpa Manusia.


Bumi Tanpa Manusia
Oleh Yelli Sustarina

Setiap 22 April diperingati sebagai Hari Bumi Sedunia. Dalam setiap peringatannya pasti yang dipersoalkan adalah bumi, seperti tahun ini peringatan Hari Bumi Sedunia mengangkat tema Restore Our Eart (Pulihkan Bumi Kita). Benarkah bumi yang harus dipulihkan atau justru pikiran manusianya yang mesti dipulihkan agar tidak merusak bumi?

“Memperingati Hari Bumi itu bukan perkara menyelamatkan bumi, tapi menyelamatkan manusia. Sebab, tanpa manusia bumi akan baik-baik saja. Justru bumi merasa senang bila tidak ada manusia. Buktinya, saat pandemi Covid-19 di mana manusia mengurangi beberapa aktivitasnya di luar rumah, pohon-pohon dapat tumbuh lagi, spesies hewan yang dulunya pada ngumpet kemudian muncul lagi,” ujar Gita Syahrani saat berlangsung Blogger Gathering Online pada 14 April 2021.

Mba Ocha (kiri) sebagai moderator dan Kak Gita Syahrani (kanan) sebagai narasumber

Ada sekitar 30 blogger dari seluruh Indonesia yang tergabung dalam Eco Blogger Squad mengikuti gathering online tersebut. Mereka merupakan kumpulan blogger yang berperan aktif mengampanyekan isu lingkungan, salah satunya dalam menyambut peringatan Hari Bumi Sedunia.

Selain itu, ada tiga narasumber yang dihadirkan untuk membahas tema “Hutan Indonesia sebagai Salah Satu Solusi Dalam Mitigasi Perubahan Iklim.” Di antaranya, Kepala Sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), Gita Syahrani yang membahas tentang Menyelamatkan Bumi, Menyelamatkan Manusia.

Sedangkan dua narasumber lainnya ialah Manajer Kampanye Keadilan Iklim Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Yuyun Harmono yang membahas tentang Krisis Iklim dan Transisi Berkeadilan, dan Manajer Program Hutan Itu Indonesia (HII), Christian Natali yang menyampaikan tentang Hutan Adalah Jawaban untuk Menghentikan Krisis Iklim.

Di antara ketiga topik tersebut saya tertarik untuk mengulas topik yang dibahas oleh Kak Gita tentang Menyelamatkan Bumi, Menyelamatkan Manusia. Di awal presentasinya ia memperlihatkan sebuah gambar pohon besar yang tumbuh di atas reruntuhan bangunan.

Screenshot dari power point Kak Gita, sebuah pohon di Kamboja yang kembali menempati reruntuhan bangunan yang ditinggalkan manusia.

Lebih lanjut ia jelaskan foto tersebut bahwa ketika tidak ada manusia lagi, alam dapat melakukan reclaim. Di mana pohon mengambil kembali teritorinya karena tak ada lagi manusia. Beberapa penelitian juga menyatakan tentang ramalan masa depan kalau tidak ada manusia, sebenarnya bumi akan baik-baik saja.

Bicara tentang penyelamatan atau pemulihan bumi bukan hanya menjadi fokus orang-orang yang berkecimpung dalam bidang lingkungan saja, tapi kita semua. Sebab, yang harus diselamatkan ialah manusia itu sendiri, karena bila bumi rusak, manusia juga yang akan meraskan dampaknya.

Di slide kedua powerpoint Kak Gita, ia tampilkan empat gelombang besar yang kemungkinan bisa mengancam kehidupan manusia. Gambar ilustrasi tersebut memperlihatkan sebuah kota kecil yang dihadapkan oleh gelombang pertama yang ukurannya tak begitu besar. Gelombang tersebut diibaratkan sebagai pandemi Covid-19 yang saat ini sedang mengancam kehidupan manusia.

Setingkat pandemi Covid-19 saja sudah membuat geger dunia dan ratusan ribu manusia meninggal karenanya. Itu hanya dampak kecil ketika bumi dalam kondisi yang tidak baik. Kemudian di gelombang kedua yang lebih besar lagi ukurannya diibaratkan sebagai gelombang resesi di mana ketika ekonomi masyarakat dunia terjadi penurunan yang berdampak pada peningkatan pengangguran dan penurunan pendapatan masyarakat.

Ilustrasi gelombang ketiga yang lebih besar lagi ukurannya diibaratkan sebagai gelombang perubahan iklim dan gelombang yang peling besar dari ilustrasi gambar tersebut diibaratkan sebagai gelombang kehancuran keanekaragaman hayati. Bila gelombang ini yang datang, maka tamatlah sudah riwayat manusia di muka bumi ini.

Screenshot dari power point Kak Gita

“Bila fungsi keanekaragaman hayati kolaps, tanah subur dan air bersih tak bisa kita temukan lagi. Mau kita punya visi ekonomi sebagus apa pun dengan kondisi air, tanah, dan udaranya yang kualitasnya tak bisa dimanfaatkan lagi, maka tidak akan berhasil,” papar Kak Gita.

Kita bisa apa?

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa menyelamatkan bumi berarti menyelamatkan manusia dari kepunahan. Jadi, bukan lagi tentang siapa dan apa profesi kita. Setiap orang di muka bumi ini bisa melakukan upaya penyelamatan bumi, salah satunya dengan mempertahankan keberadaan hutan. Terlibat langsung dengan masyarakat di sekitar hutan mungkin akan terasa sulit untuk dilakukan, khususnya bagi masyarakat kota. Lantas apa yang bisa dilakukan?

Kita bisa melakukan donasi dalam upaya penyelamatan hutan seperti Donasi Publik Walhi. Donasi yang Anda berikan digunakan untuk menyelesaikan persoalan di masyarakat tentang pemetaan atau persengketaan hutan adat, mendorong solusi konkret di masyarakat, memberikan pendidikan, penguatan kapasitas, serta pemberdayaan masyarakat dalam upaya memastikan daya dukung lingkungan hidup terhadap kehidupan dapat berkelanjutan bagi generasi yang akan datang.

Donasi Publik WALHI, halaman website WALHI

Selain itu, Anda juga bisa saling bantu dengan cara membeli produk lokal yang ramah lingkungan dan sosial. Misalnya, dengan membeli topi atau tas rotan yang diproduksi kelompok perempuan di sebuah komunitas dapat memajukan perekonomian masyarakat yang tinggal di sekitar hutan. Itu adalah bentuk kecil yang bisa kita lakukan dalam upaya menjaga hutan. Selamat Hari Bumi Sedunia.


Artikel ini telah tayang di SerambiNews.com dengan judul Bumi Tanpa Manusia, https://aceh.tribunnews.com/2021/04/23/bumi-tanpa-manusia.


Peran Eco Blogger Squad dalam Memperingati Hari Bumi

Eco Blogger Squad Gathering, 14 April 2021

Sudah tahu belum bahwa setiap tanggal 22 April diperingati sebagai Hari Bumi Nasional? Atau kamu malah tidak tahu tentang itu, tepatnya tidak mau tahu dan masa bodo dengan peringatan tersebut.

Apa pentingnya sih memperingati Hari Bumi? Toh bumi tidak meminta perayaan apa pun seperti layaknya acara ulang tahun. Lantas kalau mau memperingati hari bumi kita bisa apa? Dan apa dampaknya untuk bumi?

Dimaklumi kalau ada yang berpikiran begitu, toh aku sebelum bergabung dengan Eco Blogger Squad juga begitu. Wajarkan karena kita tidak mengenal, lebih persisnya tidak diperkenalkan tentang kondisi bumi saat ini.

Kalau pun ada yang tahu kondisi bumi sedang kritis karena polusi yang semakin tinggi, bencana kian sering terjadi, dan hutan tidak lebat lagi, kita mungkin hanya merasa ngeri sesaat dan berkata ‘Oooo’. Setelah itu kita kembali pada kesibukan duniawi dan lupa akan kondisi bumi.
Ilustrasi bumi dari akun Instagram @angryearth

Hal itu karena kita belum banyak terpapar dengan isu lingkungan, tahunya sih gosip artis nikahan yang disiarkan secara live itu. Atau sibuk menjadi penggunjing yang bahasa kerennya disebut netizen. Betul nggak sih?

Nah, untuk mengimbangi berita gossip itu, Eco Blogger Squad yang merupakan gabungan beberapa blogger dari seluruh Indonesia akan mengangkat isu lingkungan melalui tulisan. Nah, para blogger ini akan berperan aktif menulisakan ide-ide mereka dengan bahasa yang mudah dipahami dan dimengerti.

Pembahasan lingkungan yang topiknya begitu kaku dan berat itu, bisa dibuat enak untuk dibaca, seenak makan kacang goreng, hahaha. Kemudian mereka akan menyebarluaskan konten tulisan yang dibuat ke berbagai media sosial yang mereka miliki agar informasi ini bisa tersampaikan secara luas, dan isu lingkungan pun akan seksi dipebincangkan seperti berita gossip artis.

Blogger Gathering Menyambut Hari Bumi

Pada Rabu, 14 April 2021 lalu, Eco Blogger Squad melakukan Blogger Gathering via Zoom dalam rangka menyambut Hari Bumi. Ada pun tema yang diperbincangkan, yaitu tentang Hutan Indonesia Sebagai Salah Satu Solusi dalam Mitigasi Perubahan Iklim.


Gathering ini sengaja dibuat seminggu sebelum peringatan Hari Bumi agar para blogger berkesempatan membuat konten tulisan. Tentunya setelah mendapat materi dari para penggiat lingkungan yang menjadi narasumber dalam gathering tersebut.

Sebab, di Hari Bumi tanggal 22 April nanti Eco Blogger ini akan meramaikan media sosial dan membagikan informasi tentang pengetahuan yang didapat saat Blogger Gathering.

Dipandu oleh Mba Ocha dari Blogger Perempuan Network (BPN), diskusi ini begitu asyik untuk diikuti. Padahal saat itu berada di jam-jamnya ngantuk, apalagi banyak di antaranya yang berpuasa. Namun, alhamdullilah diskusi yang lebih dari dua jam itu diikuti oleh semua peserta Blogger Gathering.

Mereka inilah yang memberi penjelasan kepada Eco Blogger
supaya bisa ditulis dengan garing di blog masing-masing.

Berikut beberapa informasi yang perlu aku sampaikan ke teman-teman mengenai diskusi kami tersebut.

Krisis Iklim & Transisi Berkeadilan

Materi pertama disampaikan oleh Meneger Kampanye Keadaan Iklim Eksekutif WALHI, Yuyun Harmono. Penjelasannya benar-benar membuka mata kami untuk ikut mengkhawatirkan tentang krisis iklim yang terjadi saat ini.

Menurut laki-laki yang dipanggil Bang Yuyun itu, krisis iklim di bumi dipengaruhi oleh perilaku manusia, baik itu perilaku individu maupun perilaku ekonomi, sosial, produksi, dan konsumsi. Sebab, apa yang kita lakukan berpengaruh pada keadaan bumi. Salah satunya kenaikan suhu di bumi akibat dari pemanasan global.

Bayangkan setiap hari kita mencemari bumi dengan gas buangan kendaraan bermotor, lain lagi dengan pabrik-pabrik raksasa yang membuang limbah asapnya ke udara. Kebiasaan tersebut rupanya berpengaruh pada kenaikan suhu di bumi.

Untuk Indonesia berdasarkan data yang diperoleh dari berbagai penelitian, keadaan suhu di Indonesia berada pada pada gradasi warna merah. Itu artinya kita perlu was-was terhadap kondisi ini.

Capture dari PPT Bang Yuyun

Disebutkan pada tahun 2017, suhu bumi mengalami kenaikan 1,1°C dan terus meningkat sekitar 0,2°C setiap sepuluh tahun. Nah, bila kenaikan suhu tersebut melewati ambang batas suhu bumi, yaitu 1,5°C maka akan terjadi pemusnahan terhadap ekosistem penting di bumi. Apa saja sih yang bisa terjadi bila suhu bumi melewati ambang batas?

1. Tenggelamnya pulau-pulan kecil

Kenaikan suhu di bumi akan mengakibatkan mencairnya es di kutub utara dan saelatan. Hal ini tentunya berpengaruh pada kenaikan permukaan air laut yang dapat menenggelamkan pulau-pulau kecil pada negara tropis dan subtropis di belahan bumi selatan.

2. Musnahnya Terumbu Karang

Kenaikan suhu 1,5°C akan mengakibatkan ekositem laut mencapai titik kritisnya yang berdampak pada musnahnya 70-90 persen terumbu karang. Hal ini dikarenakan naiknya suhu dan keasaaman laut yang berdampak langsung pada keselamatan, perkembangan, dan pertumbuhan berbagai macam kehidupan di laut.

3. Kelangkaan air

Naiknya suhu di bumi tentunya akan mengurangi lebih separuh proporsi penduduk bumi yang diperkirakan karena kelangkaan air. Krisis air bersih pun juga terjadi di beberapa negara kepulauan kecil seperti di Mediterania dan Afrika.

4. Gagal Panen dan kekurangan pangan

Suhu yang ekstrim akan berdampak pada berkurangnya kandungan nutrisi yang terkandung dalam tumbuhan sehingga akan berisiko terjadinya gagal panen. Bila kondisi ini terus terjadi maka akan berakibat pada kekurangan pangan untuk masyarakat dunia.

5. Kesehatan semakin memburuk

Setiap peningkatan pemanasan global akan berdampak pada kesehatan manusia, khusunya meningkatnya risiko beberapa penyakit yang ditularkan melalui vektor penyakit seperti malaria dan demam berdarah.

Tren Bencana yang Terjadi di Indonesia

Ilustrasi oleh SINDONews/Wawan Bastian

Teman-teman bisa lihat dan rasakan sendiri, akhir-akhir ini becana seperti kebakaran hutan, banjir bandang, tanah longsor, dan angina badai sering banget menyambangi Indonesia. Contoh dekatnya saja beberapa waktu lalul banjir bandang yang terjadi di Kalimantan Selatan, bahkan siklon angin yang terjadi di NTT dan NTB.

Letak geografis Indonesia juga sangat rentan terhadap perubahan iklim karena merupakan Negara kepulauan sehingga kemungkinan banyak terjadinya bencana. Seperti apa yang disampaikan Bang Yuyun bahwa 6 dari 10 bencana yang terjadi di Indonesia adalah bencana hidrometereolagi yang terkait langsung dengan perubahan iklim.

Seperti yang ditunjukkan grafik berikut, di mana bencana hidrometereologi mengalami pengingkatan selama 10 tahun terakhir.
Capture dari PPT Bang Yuyun

Bencana tersebut hadir karena perubahan iklim yang terjadi secara signifikan beberapa dekade terakhir. Emisi yang dihasilkan dari pembakaran energi, limbah, kembakaran gambut, dan lainnya sebagai penyumbang terbesar dari perubahan iklim yang terjadi saat ini.

Untuk menghentikan perubahan iklim dibutuhkan transformasi pangan artgo-industri (produksi, distribusi, dan konsumsi). Sebab, produsen dan konsumen pangan skala kecil, termasuk petani, masyarakat adat, petani keluarga, pekerja desa, nelayan, dan masyarakat perkotaaan semakin dihadapkan oleh perebutan sumber daya alam. Oleh karena itu, diperlukan prinsip energi berkeadilan yang bisa menjaga alam ini tetap lestari.

Capture dari PPT Bang Yuyun

Maksud dari transisi berkeadilan ialah melakukan transisi dengan tidak menghilangkan pekerjaan, tapi justru membuka lapangan kerja baru. Sebab transisi berkeadilan harus menjamin beberapa hal di antaranya yaitu;

1. Dialog dan konsultasi dengan serikat pekerja di semua tingkatan.

2. Asessment yang baik tentang dampak sosial transisi.

3. Kehilangan pekerjaan sebagai akibat dari transisi diminimalkan dan peluang penciptaan pekerjaan dimaksimalkan.

4. Pekerja yang terkena dampak didukung dengan pendidikan, pelatihan, dan re-skilling untuk memaksimalkan potensi mereka dan komunitas mereka untuk mendapatkan manfaat dari transisi.

5. Perpindahan pekerjaan ke industri baru tidak terjadi dengan mengorbankan pekerjaan yang layak.

6. Masyarakat yang terkena dampak didukung dengan perencanaan dan kebijakan yang baik untuk mendorong diverifikasi ekonomi.

7. Pekerja dan komunitas yang terkena dampak menerima kopensasi yang layak dan tepat untuk setiap kehilangan pekerjaan yang terjadi.

Mas Yuyun memberikan contoh yang dilakukan oleh Dusun Silit Desa Nanga Pari, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Di mana mereka sudah mendeklarasikan diri sebagai desa yang mandiri energi. Wilayah yang ditempati kuran lebih 80 KK itu telah mempraktikkan cara menjaga hutan agar tetap lestari, mulai dari memanfaatkan hutan non kayu, menjamin ketersediaan sumber air, hingga secara mandiri membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) untuk menerangi rumah-rumah penduduk.

Mikrohidro skala kecil Dusun Sintang (Capture dari PPT Bang Yuyun)

Mereka melakukannya secara bergotong royong memberi sumbangan untuk membangun mikrohdro skala kecil. Disupport oleh Credit Union (CU), masyarakat Dusun Sintang bisa secara mandiri mengelola sumber air mereka sendiri yang dijadikan sumber energi.

Selain itu, masyarakat di Dusun Silit juga sedang dalam proses pengajuan pengakuan hutan adat bernama ‘Siberuang’ ke pemerintahan pusat. Sedangkan di pemerintah daerah mereka sudah diakui sebagai kampung mandiri energi dengan hutan adatnya yang lestari.

Apa yang dilakukan oleh masyarakat di Dusun Silit membuktikan bahwa untuk menjamin ketersediaan air dan energi terutama listrik dengan skala kecil, tetap bisa dilakukan. Hutan pun tetap lestari sebagaimana fungsinya.

Capture dari PPT Bang Yuyun

Nah, ini baru penjelasan dari pemateri pertama ya. Masih ada lagi dua pemateri yang membuat kita semakin paham akan keadaan bumi saat ini. Namun, aku akan membahasnya dipostingan berikutnya karena terlalu panjang kalau pembahasannya ditulis di sini sekaligus.

Sebagai salah satu anggota Eco Blogger, sudah seharusnya aku berperan terus-menerus memberikan informasi tentang keadaan bumi. Kayak infotaimen yang mengulas gossip artis gitu yang kupasannya dari berbagai sisi. Jadi, aku juga ingin mengupas tentang kedaan bumi dari berbagai sisi juga. Tunggu postingan berikutnya ya.

Selamat Hari Bumi