Tampilkan postingan dengan label #acehselatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #acehselatan. Tampilkan semua postingan

Meracik Buah Kuini Menjadi Sambal Udang


Sambal kuini pakai udang

Setiap musim buah kuini di kampungku Aceh Selatan, ibuku selalu mengolahnya menjadi sambal udang. Saat musim buah kuini, biasanya kami pulang ke Kluet Selatan yang merupakan kampung ayahku. 

Di sana batang kuini masih banyak tumbuh dengan subur dan pada saat musim kuini harganya cukup murah. Satu kilonya hanya sekitar Rp2.000, bahkan kalau kita mau menolong pemilik batang kuini mengumpulkan buah kuini yang jatuh, kita tidak perlu lagi harus membayar harga buah kuini tersebut. Tinggal makan sepuasnya yang kita mau. 

Sangking banyaknya buah kuini, orang-orang di kampungku sering mengolahnya menjadi sambal buah kuini yang kemudian diracik dengan udang. Berikut cara meraciknya menjadi sambal udang. 

Bahan utama: 

1. Daging buah kuini 




2. Udang 

3. Kelapa parut ambil santannya 

Bumbu halus: 

1. Bawang merah 

2. Kunyit 

3. Jahe secukupnya 

4. Asam sunti (belimbing yang sudah di pregmentasi) secukupnya 

5. Cabe merah 

6. Kelapa parut 

Bahan sayuran 

1. Daun tapak leman 

2. Serai 

3. Daun jeruk nipis 

4. Cabe hijau 

5. Terung rimbang 



Cara meraciknya : 

1. Kupas buah kuini, cuci bersih menggunakan air mineral lalu potong kecil-kecil. 

2. Remas buah kuini dengan tangan hingga halus. 


3. Pesing udang dan cuci hingga bersih 

4. Masukkan udang ke dalam kuali 

5. Masukkan bumbu halus ke dalam kuali 

6. Masukkan bahan sayuran ke dalam kuali 



7. Aduk semua bahan hingga rata. 



8. Remas kelapa parut dan masukkan santannya ke dalam kuali sampai semua bahan terendam santan. 



9. Masak hingga matang sampai air santan berkurang. Kira-kira sekitar 40 menit. 



10. Makanan siap untuk dihidangkan. 


Nah, itulah racikan buah kuini sambal udang versi warga barat selatan Aceh. Makanan ini hanya ada saat musim buah kuini karena buah kuini di Aceh Selatan sedang berlimpah ruah. Jadi, masyarakatnya pun berinisiatif untuk mengolahnya menjadi sambal untuk menu makanan sehari-hari. 



Bila ingin lebih nikmat, sambal ini biasanya dilalap menggunakan daun pepaya muda dan sangat lezat dimakan bersama nasi putih panas. 

Tertarik untuk meraciknya? Silakan coba dan rasakan kelezatannya.



Gunung Raban Pembatas Wilayah Tapaktuan Bagian Barat dan Timur


Gunung Raban berada di bibir pantai Tapaktuan dan terletak di kompleks perumahan Asrama Kodim 0107, Aceh Selatan. Gunungnya tidaklah terlalu tinggi, hanya bukit kecil tempat pendaratan helikopter untuk mengirimkan bantuan logistik. Dulunya tempat ini bernama Helipad Koptulegi. Namun, sekarang gunung ini dijadikan tempat untuk menikmati keindahan kota Tapaktuan dari atas.

Tentunya Gunung Raban tidak begitu terkenal seperti Puncak Gemilang, tapi gunung ini mempunyai cerita legendaris yang perlu kamu ketahui asal usulnya.

Sebelum membaca tulisan ini, baiknya kamu membaca tulisanku sebelumnya tentang Asal Mula Krueng Sarullah di Tapaktuan. Jadi, kamu bisa lebih nyambung tentang cerita berikutnya. Inilah kisah Gunung Raban sebagai pembatas wilayah Tapaktuan bagian Barat dan Timur.

Kematian Raja Sarullah yang dibunuh oleh anak Kuantan, menimbulkan rasa marah yang luar biasa dari rakyat Tapaktuan. Berbagai macam cacian dan celaan, keluar dari mulut mereka. Lalu muncullah niat untuk memerangi Kampung Kuantan. Berita tersebut akhirnya terdengar oleh Raja Bingkalang dan Raja Jali.

Namun, perang tidak bisa dihentikan lagi. Emosi masyarakat Tapaktuan telah memuncak atas perlakuan anak Kuantan yang tidak pandai balas budi.


Selama sebulan penuh perperangan tidak bisa dihentikan. Ternyata serangan dari kampung Kuantan cukup kuat, hingga memojokkan pihak raja Bingkalang. Terlebihnya lagi, mereka mengajak orang-orang dari kampung Kempar Kiri dan Kempar Kanan untuk menyerang Raja Bingkalang.

Perperangan ini sungguh mengecewakan Raja Bingkalang, karena orang yang beliau tolong malah berkhianat. Air susu dibalas dengan air tuba, begitulah kata-kata yang tepat untuk orang-orang yang ada di Kampung Kuantan.

Kemudian datanglah Tuanku Magek yang berasal dari Kampung Tengah. Beliau tidak terlibat perang dengan kedua kampung tersebut. Sebagai orang yang pernah ditolong oleh Raja Bingkalang, beliau pun ingin membalas budi dengan menawarkan bantuan kepada Raja Bingkalang.

Kemudian beliau menyarankan untuk mengadukan masalah ini kepada Panglima Cek Puteh, karena dia merupakan orang yang ahli mengatur strategi perang dan mempunyai banyak pengalaman perang. Raja Bingkalang pun setuju atas rencana tersebut. Maka pergilah Tuanku Magek menemui Panglima Cek Puteh.

Begitu terkejutnya Panglima Cek Puteh ketika mendengar berita tersebut, raut wajahnya berubah menjadi merah, bahkan beliau menggertakkan geraham dan mengepalkan tangannya sebagai ungkapan rasa kesal dan marahnya kepada orang-orang Kuantan. Beliau berjanji akan segera membantu Raja Bingkalang. Maka dikumpulkanlah semua orang Pasaman yang berada di Sawang Sikulat dan Lhok Bengkuang untuk pergi ke Tapaktuan. Mereka membuat pertahanan dan persiapan perang.


Panglima Cek Puteh membawa banyak orang dari Sawang Sikulat untuk datang ke Tapaktuan, turut juga bersama beliau Tan Nagari. Begitu juga dengan istri Panglima Cek Puteh yaitu Saribanun dan Andan Dewi ikut dalam mengatur strategi perang ini. Tak tinggal pula istri Panglima Tan Nagari yaitu Campago Bulan dan istri Tan Mamangku yaitu Gandum Sarah, ikut juga dalam rombongan mereka.

Pada malam sebelum perperangan dimulai, Raja Bingkalang membakar kemenyan yang disaksikan oleh orang banyak. Disitulah Raja Bingkalang mengucapkan sumpah saktinya di depan Panglima Cek Puteh. Dalam sumpah tersebut diucapkanlah kata-kata yaitu;
“Kalaulah untung pemberian Allah, tertuntut malu dengan sopan, negri Tapaktuan akan dibagi dua, sebagian akan dipulangkan dan sebagiannya lagi tetap berada pada Raja Bingkalang”. Jika Raja Bingkalang mengingkari janjinya, maka bila ke atas tidak berpucuk, bila ke bawah tidak berurat dan di tengah-tengah kelak akan dilarik (dimakan) kumbang. Begitulah janji yang diucapkan oleh Raja Bingkalang di depan semua orang banyak.
Berdasarkan sumpah yang dibuat oleh Raja Bingkalang tersebut, maka negeri Tapaktuan itu dibagi menjadi dua.

Wilayah yang Dipulangkan kepada Panglima Cek Puteh (Foto Ini Diambil Dari Puncak Gunung Raban)
Wilayah yang Tinggal kepada Raja Bingkalang (Foto Ini Diambil Dari Puncak Gunung Raban)
Setelah dibacakan sumpah sakti ini, dibacakan pula doa oleh Taunku Magek. Selesai dibacakan doa, maka bersiaplah mereka semua memerangi Kampung Kuantan, berikutnya Kampung Kempar Kiri dan Kempar Kanan. Serangan yang dilakukan secara tiba-tiba itu tidak banyak mendapat perlawanan dari ketiga kampung tersebut. Pihak Raja Bingkalang memenangkan perperangan.

Orang Kampung Kempar Kiri dan Kempar Kanan yang tersisa melarikan diri ke Samadua, yaitu ke kampung Datok Jala. Sedangkan orang kampung Kuantan pergi ke daerah lain dan tidak pernah kembali lagi ke Tapaktuan. Mereka adalah orang-orang berdosa yang tidak tahu balas guna. Mereka pergi meninggalkan Tapaktuan dan menyebar ke berbagai daerah.

Pantai Kasik Putih di Samadua

Mereka yang lari dari perperangan tersebut kemungkinan besar pergi ke daerah-daerah sepanjang pantai barat selatan Aceh. Makanya sekarang bisa ditemukan daerah-daerah tertentu yang menggunakan bahasa Aneuk Jame selain yang berada di Tapaktuan.

Pembagian Wilayah Tapaktuan

Setelah dua bulan kejadian tersebut, keadaan kembali tenang. Perang saudara pun sudah berakhir, kesepakatan damai sudah disepakati oleh pihak Kuantan. Mereka meminta maaf atas kesalahan yang pernah di perbuat oleh anak Kuantan tersebut. Untuk merayakannya, diadakanlah kenduri oleh Raja Bingkalang yang bertempat di Ujung Raban.

Raja Bingkalang makan sepiring berdua dengan Panglima Cek Puteh. Setelah itu piring tempat makan mereka dibelah menjadi dua, kemudian ditanamkan di tempat diadakannya kenduri tersebut. Inilah dijadikan sebagai pembatas antara ujung Gunung Raban dengan Ujung Seberang Kali.

Berdasarkan sumpah sakti dari Raja Bingkalang saat sebelum perang, mereka menyepakati pembagian daerah sesuai dengan kesepakatan yang mereka buat. Dari Sepadan (batas) Ujung Raban sampai ke Gunung Kerambil termasuk semua harta benda, sawah, ladang dan kampung halaman Datok Kalilah dan Datok Jamalah diberikan kepada Panglima Cek Puteh. Beliau tetap tinggal di Tapaktuan, tepatnya di Kampung Hulu sekarang. Foto rumah ini menjadi sejarah dari asal mula Aneuk Jame, namun sekarang tidak berpenghunyi lagi.

Rumah Datuk Radja Amat Djintan, keturunan IX dari Panglima Cek Puteh di Kampung Hulu

Foto tahun 1879 di depan rumah Raja Tapaktuan – Kelurahan Tepi Air – Tapaktuan Sekarang (Foto Dok. T. Laksamana bin Tukoe Fitahroeddin

Sedangkan dari Sepadan (batas) ujung raban sampai ke Tangga Besi, tinggal kepada Raja Bingkalang, beliau menetap tinggal di Lhok Bengkuang. Mereka mendirikan rumah di Lhok Bengkuang, namun sekarang rumah ini tidak dihunyi lagi.
Rumah T. Raja Pakeh, Keturunan Raja Bingkalang Di Lhok Bengkuang
Kemudian karena kebaikan hati dari Panglima Cek Puteh, beliau memberikan kepada Tan Nagari dan Tan Mamangku daerah perkampungan dari Sawang Lhok Bengkuang sampai ke Kuala Sarullah. Mereka mulailah membentuk adat dan kebudayaan yang berlaku di daerah setempat. Sedangkan bahasa yang digunakan tetap bahasa Minang yang merupakan bahasa dari kampung asal mereka.

Begitulah asal usul Gunung Raban yang menjadi pembatas wilayah Tapaktuan tersebut. Aku mendapatkan cerita ini dari Teuku Laksamana Bin Teukoe Fitaruddin, anak keturunan raja Tapak To’en yang ke-11.

Berikut video saat aku mengunjungi Gunung Raban.


Ilustrasi gambar : Sabilir Rasyad
Narasumber cerita : Teuku Laksamana

Semrawut Wajah Aceh Selatan Ketika Pala Tak Lagi Berbunga


Kematian pala sudah lama terdengar, jauh sebelum aku sadar betapa berdampaknya masalah ini bagi kehidupan masyarakat di Aceh Selatan. Sekitar awal tahun 2000 geliat perekonomian masyarakat benar-benar menurun secara teratur. Tambahnya lagi puncak konflik yang menjadikan Aceh sebagai daerah darurat militer membuat masyarakat kehilangan kesempatan untuk merawat tanaman palanya. 

Kebun pala tak terurus lagi, hutan yang ditanami pala tak bisa dikunjungi. Ketika itu pula serangan jamur akar putih dan hewan penggerek batang mulai datang menyerang. Ribuan hektar tanaman pala milik petani mati membuat duka yang amat dalam bagi petani pala.

Batang pala yang mati di Panton Luas, Tapaktuan Aceh Selatan 
Terbayang akan kenangan ketika pala mulai berbunga, masyarakat beramai ramai memetik buahnya. Seperti yang tertulis dalam buku mantan Bupati Aceh Selatan Sayed Mudhahar Ahmad Ketika Pala Mulai Berbunga. Oh., betapa indahnya negeri pala ini dulunya.

Lengang 

Kematian pala itu sudah berlangsung lama, ternyata begini dampaknya. Kotaku menjadi lengang bagai kota sakit yang tidak mempunyai denyut kehidupan. 

Pada bulan November 2017 lalu program Perempuan Peduli Leuser diadakan di Kota Tapaktuan. Aku sangat senang karena menjadi tuan rumah. Pastinya aku akan bisa mengajak teman-temanku untuk menikmati keindahan kota pala ini.
Tugu Pala di Tengah Kota Tapaktuan
Aku baru tersadar ketika teman-temanku bertanya, di mana tempat ngopi atau minum sirup pala yang asyik, wisata kuliner yang bisa dinikmati, dan pusat oleh-oleh khas Aceh Selatan. Entah aku yang kurang tahu di mana lokasinya, tapi ketika malam tiba aku bingung mau membawa mereka kemana.

Setahu aku dulunya di pelabuhan ada tempat kuliner yang menjajakan makanan, tapi sayangnya tidak ada lagi sekarang. Suasana kota pun juga tidak seramai dulu menurutku yang dulunya ketika malam dipenuhi banyak orang. Tapi sekarang aku merasa ngeri pulang dari Tapaktuan ke Samadua pada pukul 21.00 malam.

Tidak hanya itu, kampungku yang dulunya merupakan pusat perbelanjaan terbesar di Samadua yaitu Air Sialang kini hanya meninggalkan rukonya saja. Aku ingat betul bagaimana ibu menceritakan betapa ramainya kampungku ini didatangi oleh banyak orang untuk berbelanja. 

Apalagi setelah panen pala saat mendekati lebaran. Semua orang berbagi rezeki dari hasil panen pala itu. Para pedagang pun samakin ramai, sehingga nama jalan di Air Sialang dibuat menjadi Jalan Perdagangan Air Sialang.

Bukan saja di Air Sialang, pusat perbelanjaan seperti di Tapaktuan, Manggeng, dan Kota Fajar juga penuh dengan aktifitas perdagangan. Sayangnya setelah kematian pala semua menjadi lengang. Entah kamana para pembeli itu, hingga kativitas pasar pun tidak semeriah dulu.

Jalan Perdagangan Air Sialang Samadua, Aceh Selatan yang kini tinggal rukonya saja
Para pedagang di Air Sialang pun hijrah ke tempat lain seperti Nagan Raya, Sinabang, dan Subulussalam untuk bisa melajutkan kegiatan daganganya. Toko yang berjajar di sepanjang Pasar Air Sialang tutup, meninggalkan kenangan indah ketika pala masih berjaya.

Sekarang aku baru tersadar bahwa karena kematian palalah yang mengakibatkan ini semua. Masyarakat Aceh Selatan yang mayoritasnya petani pala telah kehilangan sumber matapencahariannya. 

Ketika sumber rezeki telah berkurang, tentunya geliat perekonomian masyarakat melemah sehingga pasar-pasar pun menghilang. Orang-orang harus memilih barang-barang yang menjadi prioritas untuk dibeli demi kelangsungan hidup mereka. Makanya aktivitas di Aceh Selatan terkesan lengang.

Nasib Petani Pala

Aku dan teman-teman Perempuan Peduli Leuser bermaksud untuk mengangkat isu ini menjadi sebuah media kampanye lingkungan. Lalu kami berkujunjung untuk melihat para petani pala dan mendengarkan kisah mereka semenjak kematian pala ini.

Seorang petani pala dari Panton Luas Tapaktuan menceritakan bagaimana sedih hidupnya setelah kematian pala ini. Dearah yang merupakan buffer zone Leuser ini merupakan daerah terakhir merasakan dampak kematian pala. 
Petani Pala yang Sedang Memetik Buah Pala di Batu Itam, Tapaktuan Aceh Selatan
Tepatanya tahun 2015, di mana semua tanaman palanya mengering menggurkan daun, dan meninggalkan kerangka. Seperti tersambar petir, tanaman pala itu mengering dan mati seketika menyisakan tangis dari petani-petani yang merawatnya.

Petani telah mencoba berkali-kali menanam kembali pala di tempat yang sama, tapi hasilnya pala juga tidak kian berbunga. Tanaman ini jadi makanan empuk bagi jamur akar putih dan hewan penggerek batang. Masyarakat pun spesimis untuk menanami kembali pala, karena setiap ditanam akan mati lagi karena penyakitnya yang tidak bisa teratasi.

Kini banyak masyarakat kehilangan matapencaharian dan anak-anaknya kehilangan masa depan. Karena dulunya hasil pala inilah yang bisa mensejahterakan masyarakat Aceh Selatan dan juga untuk menyekolahkan anak-anaknya untuk mendapatkan gelar sarjana.

Kini semua hanya tinggal kenangan. Wajah Aceh Selatan yang tertulis dalam buku Seraut Wajah Aceh Selatan Ketika Pala Mulai Berbunga berubah menjadi semrawut wajah Aceh Selatan ketika pala tak lagi berbunga.

Berikut aku tampilkan jejak rekaman wajah Aceh Selatan yang kini merindukan kembali kajayaan pala.



Surat di Tahun 2059 "Air Sialang Tanpa Air"

Saat aku mengikuti kegiatan perempuan peduli leuser di Gayo Lues, kami ditampilkan sebuah video dengan judul Surat dari teman di tahun 2070

Di video itu menceritakan tentang kehidupan manusia di tahun 2070 yang sangat susah mendapatkan air. Benda ini telah menjadi langka dan merupakan benda yang paling berharga dibandingkan apa pun, mengalah harga emas atau pun bitcoin.

Dari video itu aku terinspirasi untuk menuliskan surat di tahun 2059, di mana umurku saat itu 67 tahun. Aku menggambarkan kampungku sendiri yang merupakan Dearah Aliran Sungai (DAS) tidak lagi memiliki air, karena masalah lingkungan yang membuat sumber mata air di kampungku  mengering.

Inilah suratku yang aku tulis pada 15 Oktober 2017.

Surat di Tahun 2059

Air Sialang tanpa air

Saat ini orang bukan lagi menyebut kampung ini sebagai Air Sialang, tapi air basalang (Air dipinjam). Air lebih berharga dari segenggam emas dan sebongkah berlian. Jika ingin mendapatkan air, masyarakat harus menunggu hujan yang hanya turun 2 kali dalam setahun. 

Air hanya ada di tempat perusahaan air yang mengolah air limbah menjadi air untuk kebutuhan sehari-hari, jika pun ingin mendapatkan air tersebut, mereka harus meminjamnya terlebih dahulu ke perusahaan air, dan harus menggantinya kembali dengan air.

Jika dia tidak mampu membayarnya, maka dia akan dipenjarakan dan dibiarkan mati karena kehausan.

Salah satu sumber mata air yang ada di Air Sialang pada tahun 2017

Orang-orang berperang karena memperebutkan air. Orang yang paling kaya adalah orang yang mempunyai sumur, walaupun airnya sebentar-sebentar mengering. Banyak perpecahan yg terjadi karena memperebutkan sumber mata air, bahkan pertumpahan darah terjadi karena air.

Cucu-cucuku tidak percaya kampung ini mempunyai banyak kolam dengan sumber mata air yang begitu jernih. Bahkan dia tidak percaya bahwa dulu aku bisa mandi lebih dari 3 kali sehari dan berenang sepuasnya di kolam pemandian.

Anak-anak di tahun 2017 masih bisa mandi berenang, melompat-lompat menikmati kolam renang

Mereka juga tidak percaya bahwa aku mencuci baju dengan air karena baju-baju mereka hanya digunakan sekali pakai langsung dibuang.

Usiaku saat ini 67 tahun, tapi wajahku seperti orang usia 100 tahun. Aku terkena penyakit ginjal kronik yang membuatku menahan sakit bertahun-tahun, akibat kurang mengkonsumsi air.

Anak-anakku yang berusia 30 tahun seperti usia 50 tahun, 20 tahun lebih tua dibandingkan saat usiaku seperti itu.

Ini saat usiaku 26 tahun yang masih bisa menikmati jernihnya air dan
teman-temanku yang berasal dari Banda Aceh sangat senang melihat sumber mata air ini

Ketika mereka melahirkan, anak-anak mereka terlahir dengan daya imun tubuh yang lemah, bahkan mereka sudah terindikasi terkena kanker kulit sebelum dia tumbuh dewasa.

Ketika mereka mau mandi, mereka harus menggunakan tisu basah, dan membersihkan kotoran dengan tisu. Bahkan mereka tidak mandi sampai berbulan-bulan karena tidak ada air. Jangankan untuk mandi, kebutuhan air untuk minum pun juga dibatasi.

Dulunya aku diwajibkan minum 8 gelas sehari, tapi saat ini kami hanya boleh minum setengah gelas sehari yang membuat kulit kami keriput kerena dehidrasi. Rambut di kepala kami tidak bisa tumbuh, karena sel-sel rambut di kepala kami tidak berkembang dengan baik, tapi itu menguntungkan kami karena kami tidak perlu keramas dan membutuhkan air untuk perawatan rambut.

Meskipun penampilan kami kini terlihat aneh seperti alien, itulah kami manusia di tahun 2059.

Saat usiaku 26 tahun, aku pernah terlibat dalam kegiatan perempuan peduli leuser. Kami mengangkat isu air sebagai bahan advokasi ke seluruh lapisan masyarakat. Sayangnya mereka tidak mempercayai bahwa air itu bisa habis, termasuk di kampungku yang sekarang berganti nama dengan sebutan Air Basalang.

Aku berusaha mengangkat isu konservasi air di tahun 2017
Adakah yang mau ikut denganku?

Sekarang ketika sumber mata air itu benar hilang, baru mereka sadar bahwa betapa pentingnya air di kehidupan mereka. Batang Air Sialang yang mengairi 3 kampung tersebut, sekarang berganti dengan tumpukan sampah. Air hanya menjadi kenangan terindah di kampung ini.

Jika aku bisa kembali ke tahun 2017, aku benar-benar ingin menjadi perempuan peduli lingkungan dan mengajak kerjasama dengan semua lapisan masyarakat untuk menjaga lingkunganku, terutama hutan Leuser yang merupakan sumber terbesar penyimpan air.

Jika kamu bisa kembali ke tahun 2017, apa yang ingin kau lakukan supaya air benar-benar tidak hilang dan hanya menjadi sebuah kenangan?


"YS" Renungan di tahun 2059.

4 Keindahan Wisata Alam Aceh Selatan yang Belum Terekspos


Seraut wajah Aceh Selatan dalam buku Sayed Mudhahar Amad (Mantan Bupati Aceh Selatan) menggambarkan betapa indahnya negeri penghasil pala ini. Apalagi ketika pala mulai berbunga menyebarkan wangi yang memekarkan cita-cita.

Hutan yang hijau oleh pahon-pohon pala menyimpan berjuta oksigen untuk kehidupan. Keindahan yang tiada tara memadukan pesona laut dan hutan belantara. Disinilah terdapat banyak tempat pariwisata alam yang memanjakan mata dan juga pelepas dahaga.

Tanpa harus bersusah payah dibuat oleh manusia, alam telah menyediakan tempat wisata yang indah di Aceh Selatan. Letaknya yang berada di pesisir pantai dan juga berbatasan dengan bukit barisan yang menjadi bufer zone nya Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) menguntungkan wilayah ini, tak heran berbagai objek wisata baik itu pantai, sungai, bukit, hutan, batu, dan danau bisa dinikmati di sini.


Air terjun tujuh tingkat, air terujun air dingin yang bersebelahan dengan pantai pasir putih, pemandian putri naga, jejak tapak tuan tapa, puncak gemilang, dan taman pala sudah menjadi hal biasa dijadikan tempat wisata. 

Dari sekian banyak tempat wisata di Aceh Selatan, ada empat tempat yang belum terekspos dan masih sangat perawan.

1. Talago Batu

Tempat ini memang baru dikenal dan belum banyak orang yang mengetahuinya. Letaknya berada di Menggamat, Kecamatan Kluet Tengah Aceh Selatan.

Aku pernah kemari bersama para perempuan peduli leuser dalam ekspedisi jelajah Aceh Selatan. Baca di sini.


Cara mencapai ke lokasi ini dapat ditempuh melalui perjalanan dari kota Tapaktuan (Ibukota Aceh Selatan) ke Kota Fajar, Kecamatan Kluet Utara dengan waktu tempuh 45 menit menggunkan transportasi umum. Untuk biaya trasnportasinya hanya dikenakan Rp20.000 per orangnya.

Setelah sampai ke Kota Fajar, kita harus melanjutkan perjalanan lagi dengan menumpang mobil pick up selama 30 menit dengan biaya Rp20.000. Ada baiknya menyewa mobil pick up langsung dari Kota Fajar untuk keperluan jalan-jalan di Menggamat. Kami menyewanya 400 ribu untuk dua hari perjalanan keliling Menggamat.

Rute perjalanannya melewati Masjid Tuo yang berusia ratusan tahun dan juga bukit-bukit yang memanjakan mata dengan hamparan hijau pepohonan. Kita juga bisa menyaksikan sungai Lawe Melang yang begitu panjang berhulu dari Kabupaten Aceh Tenggara, Kutacane.


Sesampai ke Menggamat kita harus meyusuri jalan berbatu dan melewati sungai-sungai kecil untuk menuju ke Talago Batu dengan waktu 30 menit berjalan kaki. Dikarenakan tempatnya berada jauh dari pemukiman warga dan juga termasuk kawasan tambang, ada baiknya mengajak masyarakat setempat sebagai guide dalam perjalanan. 

Belum ada standar bayaran untuk guide di sini, jadi waktu kami kemari dengan 10 anggota perempuan peduli leuser, kami membayar 100 ribu untuk tiga orang guide.

Tempat ini memang masih astri dan jauh dari keramaian. Di sepanjang perjalan hanya ada pohon-pohon besar dan aliran sungai yang sangat jernih dengan pesona air terjun. Kita juga bisa menyaksikan para penambang batu yang menggunakan peralatan manual seadanya untuk menambang batu.

Ada tujuh tingkat air terjun yang harus kita lewati dan yang paling atas disebut dengan Talago Batu, karena memang pancuran air terjunnya berbentuk seperti telaga.


2. Sungai Lawe Melang

Setelah puas menikmati wisata alam yang terbentuk secara alami ini, kita bisa melanjutkan perjalanan menuju sungai Lawe Melang. Masih berada di kecamatan yang sama, jarak tempuh ke sungai ini menggunakan mobil pick up selama 10 menit. 

Di sini kita bisa menyewa stempel sejenis kapal motor yang terbuat dari kayu untuk menyusuri sungai Lawe Melang. Baca di sini.


Biayanya disesuaikan dengan jarak tempuh sungai yang kita lalui. Jika hanya sepuluh menit, maka biayanya 10 ribu pulang pergi (PP), tapi bila kita ingin mengunjungi Desa Sarah Baru yang jarak tempuhnya tiga jam, maka membutuhkan biaya 400 ribu PP, satu stempel yang bisa menampung 10 orang penumpang dewasa.


3. Batu Putri Batupang

Tempat ini juga belum terekspos oleh masyarakat luar, bahkan Aceh Selatan sendiri jarang mengetahui objek wisata Batu Putri Batupang. Jika di Padang terkenal dengan Malin Kundang yang dikutuk ibunya menjadi batu karena durhaka, di Aceh Selatan seorang gadis di kutuk ibunya menjadi batu karena menunggu sang kekasih. 


Aku pernah kemari pada tahun 2015 lalu dengan komunitas Colourful Kota Naga. Tempat wisata ini berada di Gampong Peulumat, Kecamatan Labuhan Haji Timur Aceh Selatan. 

Cara mencapai ke lokasi ini dari pusat kota Tapaktuan ke Labuhan Haji membutuhkan waktu 35 menit dengan kendaraan bermotor. Jika menggunakan transportasi umum dikenakan ongkos Rp15.000. Baiknya menyewa sepeda motor dengan biaya 100 ribu sehari pakai.

Dari jalan Nasional Tapaktuan – Meulaboh, kita harus menempuh jarak 1 km untuk sampai ke bibir pantai tempat Batu Putri Batupang. Di sinilah terdapat batu yang menyerupai tubuh wanita yang sedang bertumpang dagu duduk di atas kura-kura raksasa.

Legenda dari Putri Batupang ini sudah dijadikan buku legenda oleh penulis setempat yaitu Muhammad Umar Emtas dengan judul Legenda Putri Batupang (Putri Termenung) di Pelumat.


4. Pulau Dua

Tempat ini lebih familiar dibandingakan tiga tempat yang disebutkan di atas. Walau sudah banyak yang mengunjungi pulau ini, hanya sebatas wisatwan lokal karena belum ada fasilitas yang memadai untuk menyebrang ke pulau ini. Letaknya berada di Kecamatan Bakongan, Kabupaten Aceh Selatan.

Saat ini hanya menggunakan perahu nelayan untuk bisa menuju Pulau Dua yang harus kita sewa untuk mencapai ke sana. Aku kemari pada bulan Juli 2017 lalu dengan anggota Himpunan Mahasiswa dan Pelajar Air Sialang (Hipmas). Baca di sini.

Cara mencapai ke lokasi ini dari pusat kota Tapaktuan ke Bakongan membutuhkan waktu 1,5 jam dengan jarak tempuh 90 km. Transportasi yang bisa digunakan berupa mobil penumpang L300 dengan ongkos Rp30.000 per orangnya.

Sesampai di bakongan, kita harus menyewa perahu nelayan untuk bisa menyebarang ke Pulau Dua. Biaya perahu besar dengan muatan 40 orang penumpang dikenai biaya Rp500.000.

Jika kamu hendak ke Pulau Dua, ada baiknya dengan rombongan atau tim sehingga biaya yang digunakan juga relatif murah. 

Di Pulau Dua ini tersimpan keindahan alam yang luar biasa dan pesona terumbu karang yang membuat hati berdacak kagum melihatnya.



Itulah empat destinasi pariwisata di daerahku yang belum terekspos. Semoga ke depan pemerintah setempat bisa lebih fokus membangun dan menyediakan fasilitas penunjang pariwisata di tempat ini.

Ini Alasan Kenapa Aceh Selatan Tidak Terkena Tsunami 2004

Pelabuhan Aceh Selatan
Sumber foto doc. pribadi
Tsunami 2004 silam meninggalkan luka yang amat dalam bagi masyarakat Aceh. Lebih 200 ribu orang meninggal dunia akibat gempa yang mencapai 9,3 SR dan kemudian disusul oleh tsunami dengan tinggi gelombang hingga 30 meter.

Tentunya muncul kengerian di dalam hati saat mengingat kembali kejadian yang maha dahsyat itu. Aku memang tidak merasakan tsunami saat itu, karena aku tinggal di Aceh Selatan. Namun, ketika melihat berita di televisi akibat yang ditimbulkan tsunami, nafsu makanku tiba-tiba saja hilang.


Memang usiaku kala itu baru 12 tahun. Aku tidak mengerti penyebab tsunami yang mulanya diawali dengan gempa hebat tersebut. Terdengar kabar bahwa kabupaten tetanggaku yaitu Aceh Barat luluh lantak karena tsunami.

Jarak Aceh Barat dengan Aceh Selatan hanya 198,8 km yang waktu tempuhnya kurang lebih 4 jam perjalanan darat. Jika dipikir-pikir jaraknya cukup dekat, bila dibandingkan dengan kekuatan tsunami yang sampai ke daerah Sri Langka, India, dan Thailand. Tentunya Aceh Selatan juga tersapu habis oleh gelombang tsunami.

Apalagi Aceh Selatan itu memang daerah pesisir dan sangat dekat dengan laut, tapi alhamdulillah daerahku diselamatkan dari gelombang dahsyat itu.

Ilustrasi gelombong tsunami
Sumber foto : http://aksi.dutadamai.id

Tersiar kabar di masyarakat saat itu bahwa ada seorang saksi mata yang melihat sosok manusia berjubah putih, besar, dan tinggi, di lokasi tongkat Tuan Tapa. Beliau mengadahkan tangan untuk berdoa sesaat setelah gempa, sehingga Aceh Selatan pun diselamatkan dari gelombang tsunami.

Masyarakat di Aceh Selatan mempercayai bahwa sosok tersebut adalah Tuan Tapa seperti uang disebut dalam legenda Tapaktuan. Sebagian lainnya mempercayai bahwa itu adalah ulama karena Aceh Selatan dikenal sebagai daerah keramat dan banyak ulama besar yang tinggal di sini.

Terlepas dari itu, fakta ilmiah harus dibuktikan karena sebagai masyarakat beragama Islam, kita tidak boleh mempercayai sepenuhnya yang berbau mistik seperti itu. Apalagi sampai takabur bahwa Aceh Selatan tidak akan terkena tsunami karena ada Tuan Tapa dan ulama yang melindunginya. Nauzubillahiminzalik jika pemikiran ini terus dipercayai.

Ini Fakta Ilmiahnya

Sejak lama aku sudah mulai mempertanyakan hal ini, tentang kenapa Aceh Selatan tidak terkena tsunami Aceh 2004, hingga akhirnya aku bertemu dengan Dr. Eng. Hamzah Latief. Dia seorang dosen program studi Oceanografi, Departemen Geofisika, dan Meteorologi ITB yang mengetahui banyak tentang tsunami dan gempa.

Aku menanyakan tentang alasan kenapa di Aceh Selatan, khususnya Tapaktuan tidak terjadi tsunami Aceh 2004, padahal kota ini dekat dengan laut. 

Saat wawancara dengan Dr. Eng. Hamzah Latief
Sumber foto : @Ayu'Ulya

Menurutnya pusat gempa hebat itu berada di dasar laut, dekat Pulau Simeulue, sekitar 20-25 km lepas pantai. “Saat tsunami Aceh 2004 Aceh Selatan tertahan oleh Pulau Simeulu yang posisinya berhadapan langsung dengan Aceh Selatan. Sehingga air yang sampai ke Aceh Selatan pun hanya rembesannya saja.” Kata ahli tsunami dari ITB tersebut.

Dr. Didik saat menyampaikan materinya saat diskusi publik refleksi 13 tahun tsunami Aceh
Sumber foto doc. pribadi.

Hal yang sama juga dibenarkan oleh Dr. Didik Sugiyanto, MT, pakar kebencanaan Aceh. Bahwasanya Aceh Selatan terselamatkan oleh Pulau Simeulu karena arus yang dilewati gelombang tsunami tergantung batimetrinya.


Batrimetri ialah ilmu yang mempelajari kedalaman di bawah air dan studi tentang tiga dimensi lantai Samudra atau danau.

Karena batrimatri Aceh Selatan ada Pulau Siemeulue, maka Simeulue jadi benteng dan pelindung bagi Aceh Selatan. Itulah alasan kenapa Aceh Selatan tidak terkena Tsunami Aceh pada tahun 2004 lalu.

Penjelasan tentang pusat gempa oleh Dr. Didik 
berdasarkan sumber dari Prof. Hamzah Latief

Saat aku bertanya kepada dua orang ahli tsunami tersebut apakah kemungkinan Aceh Selatan berpotensi terkena tsunami? Tentu jawab kedua orang tersebut, karena jika sumber gempanya berada di tempat lain, Aceh Selatan juga bisa terkena tsunami apalagi daerah ini sangat dekat dengan pantai.

Mendengar penjelasan mereka memberikan pencerahan bagiku bahwa bukan karena kotaku yang keramat terhindar dari bencana besar pada abad ini, tapi karena posisi gempanya yang tidak berhadapan langsung dengan pusat gempa.

Dikarenakan tsunami ini merupakan siklus, ada kemungkinan suatu saat nanti tsunami bisa meluluhlantakkan pantai di bagian selatan Aceh ini. Hal ini juga dibenarkan oleh Dr. Hamzah Lathief pada tahun 1863 wilyah Aceh Selatan mempunyai riwayat mengalami tsunami.

Jika dilihat tata kelola kota di Aceh Selatan, pemerintah khususnya di daerah Tapaktuan yang merupakan ibu kota Aceh Selatan, terus melakukan perluasan kota dengan cara reklamasi pantai.


Reklamasi adalah suatu kegiatan atau proses memperbaaiki daerah atau areal yang tidak berguna menjadi daerah yang dapat dimanfatkan untuk berbagai keperluan manusia seperti pelabuhan, bandara, kawasan perindustrian, pemukiman, sarana sosial, rekreasi, dan sebagainya.

Tentunya setelah reklamasi akan banyak orang yang menempati daerah ini dan dijadikan sebagai pusat aktivitas di Kota Tapktuan. Bisa dibayangkan bagaimana nanti jika tusnami melanda kota ini, tentu akan banyak korban jiwa yang berjatuhan.

Reklamasi pantai di Aceh Selatan
Sumber foto : http://www.pikiranmerdeka.co
Hendaknya pemerintah setempat mengetahui tentang risiko bencana sebelum dilakukannya reklamasi pantai karena ini bisa menjadi ancaman besar buat kita di masa yang akan datang.

Semoga pemerintah Aceh Selatan terbuka matanya terhadap apa yang telah dilakukannnya karena jika relakmasi pantai terus dilakukan berarti sama saja kita menunggu datangnya bencana.