Tampilkan postingan dengan label Literasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Literasi. Tampilkan semua postingan

Pahlawan Literasi dari Tanah Deli

Pahlawan Literasi masa depan

Kedatanganku bersama tim Indonesia Melek Media [IMMedia] ke Kampung Nelayan Seberang, Desa Paluh Kurau, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Sumut bukan hanya sekadar lawatan saja. Namun, di sini kami melakukan survei ke beberapa warga terkait penggunaan media massa. 

Ada tiga item yang kami survei yaitu penggunaan televisi, media sosial, dan game online. Dari beberapa warga yang kami wawancarai secara acak, penggunaan media televisi tidak terlalu berpengaruh di desa ini karena yang mengakses media ini kebanyakan orang tua dan balita. 

Siaran yang biasa mereka tonton yaitu berita, ceramah, sinetron, dan film kartun bagi balita. Namun, mereka masih bisa mengontrol diri dalam mengatur jadwal menonton televisi. 

Berbeda dengan penggunaan media sosial dan game online yang kebanyakan digunakan oleh anak-anak dan remaja. Mereka tidak kenal waktu ketika menggunakan media sosial, bahkan mereka tidak sadar telah bergadang semalaman hanya untuk online di media sosial. Saat bermain game online mereka sanggup bermain selama tiga jam tanpa jeda sehingga kuota yang 10 GB habis dalam waktu tiga hari. 

Salah seorang anak di kampung nelayan seberang yang sedang  asyik dengan gadgetnya.

Dikarenakan begitu candunya terhadap penggunaan media online, mereka sering bolos sekolah gara-gara pergi ke warnet untuk bermain game online dan media sosial. Dari hasil survei kecil-kecilan itu, kami disuruh membuat pilot project yang bisa dilakukan nanti di daerah kami masing-masing. 

Kampung nelayan hanya sebagai sampel bahwa literasi media bagi remaja umumnya kaum muda masih sangat rendah. Maraknya perkembangan teknologi, tanpa dibentengi dengan pengetahuan literasi akan membuat generasi bangsa ini terombang-ambing tak tahu arah. Jadi, kami disuruh untuk membuat proposal kegiatan dalam menyebarluaskan literasi digital yang bila disetujui nanti akan dibiayai kegiatannya. 

Bertemu dengan Orang Hebat 

Pendiri IMMedia Sumut

Di hari kedua Kemah Literasi, kami diberi penjelasan bagaimana media digital mempengaruhi pikiran dan perilaku masyarakat. Materi itu disampaikan oleh Founder IMMedia, Riski Ramadani Nasution yang akrab disapa Dion. 

Dalam penjelasannya ia menyampaikan tentang tiga fungsi media yaitu untuk menghibur, sosial, dan pendidikan. Namun, fungsi ketiga jarang sekali dilakukan oleh media terutama media siar. Banyak siaran yang tidak mendidik kita temukan sehingga dapat berpengaruh buruk bagi yang mengkonsumsinya. 

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pun tidak bisa bertindak terlalu jauh bila ada siaran yang dianggap masyarakat tidak mendidik. Mereka akan menindaklanjuti sebuah siaran yang dianggap negatif, bila ada laporan dari masyarakat. Jumlah yang melaporkan pun harus banyak, bila hanya sedikit yang menganggap bahwa siaran itu buruk, KPI tidak bisa menghentikan siaran tersebut. 

Contoh yang baru-baru ini terjadi penolakan pada film Dilan 1990 di Makasar, padahal KPI sudah memberi izin film itu bisa ditayangkan. Begitu juga dengan film Kucumbu Tubuh Indahku yang disutradarai oleh Garin Nugroho sehingga muncul petisi untuk memboikot film yang dianggap menyebarluaskan isu LGBT ini. 

Salah satu film yang banyak mendapat kecaman, tapi merupakan film pilihan Tempo

Menurut KPI itu hanya sebagian orang yang merasakannya sehingga tidak bisa dihentikan karena ada kriteria khusus yang diperbolehkan untuk menonton film tersebut. Sebenarnya dua contoh film tersebut tidak ada yang salah, hanya saja masyarakat kita masih lemah untuk menyaring apa yang diterimanya dan ditakutkan bisa berpengaruh negatif bagi masyarakat. Hal ini disebakan karena kemampuan literasi masyarakat Indonesia sangat rendah. 

Buktinya Indonesia berada di peringkat kedua belakang dari 60 negara yang menjadi sample penelitian UNESCO. “Literasi masyarakat Indonesia masih sangat rendah, jadi tanggung jawab literasi adalah tanggung jawab kita bersama bagi yang sudah terliterasi,” ujar Dion yang merupakan alumni jurusan komunikasi dari Universitas Sumatra Utara (USU). 

Tanggung jawab itu diambil Dion bersama teman-teman IMMedia untuk melakukan penyebaran literasi dengan cara kampanye literasi, riset lapangan, dan advokasi kepada masyarakat. Kegiatan itu terus dilakukan agar masyarakat terliterasi dengan baik. 

Tak disangka pada Hari Penyiaran Nasional ke-85 1 April 2018, di Palu Sulawesi Tengah, IMMedia dinobatkan sebagai organisasi masyarakat peduli penyiaran oleh KPI. Para pemuda dari Tanah Deli ini telah membuktikan bahwa pemuda juga bisa berkontribusi membantu masyarakat terliterasi. 

Saat penyerahan penghargaan oleh Menteri Komunikasi dan Informasi Indonesia kepada Ketua Umum IMMedia

Penggagas Rumah Belajar Anak di Toba 

“Tidak perlu seberapa banyak uang yang kita miliki, seberapa tinggi status sosial di masyarakat, tapi jadilah orang yang berdampak baik bagi orang lain, terutama untuk keluarga” *Togu Simorangkir* 
Kalimat pembuka dari pendiri rumah baca di Toba, Togu Simorangkir tersebut sontak membuatku menilik kembali kehidupanku. “Apakah aku sudah berdampak baik bagi keluargaku?” 

Di saat Bang Togu berada di puncak keemasan setelah menyelesaikan studynya di Oxford Brookes Universty dan mempunyai penghasilan jutaan dolar saat itu, dia malah memutuskan pulang kampung. Tepatnya di di Toba Pulau Samosir dan mendirikan rumah baca yang kemudian berprofesi sebagai petani. 

Alasanya hanya ingin dekat dengan orang tuanya dan berdampak baik bagi orang di sekelilingnya. Ia ingin anak-anak di Toba berani bermimpi menggapai cita-cita seperti dirinya yang ingin melihat salju dan akhirnya terwujud berkat kuliah di luar negeri. 

Pendiri rumah baca di Toba, Togu Simorangkir

Dengan rumah baca yang didirikannya pada tahun 2010, ia membersamai anak-anak untuk mengantarkan mimpi mereka. Salah satu yang bisa dilakukannya ialah dengan memberikan anak-anak tersebut buku bacaan supaya mereka mengenal dunia. 

Berkat komitmen dan konsistensinya menjalankan rumah baca tersebut, pada Maret 2019, ia dianugrahi Kick Andy Heroes 2019 dan disiarkan secara langsung di Metro TV. 

“Aku tidak pernah berharap menjadi pemenang karena bukan kemenangan tujuan dari semua ini,” ujar Bang Togu yang katanya tidak suka membaca ini. 

Ketika dia tampil sebagai narasumber di acara Kemah Literasi, aku melihat sosok yang patut dicontoh dari seorang Bapak beranak tiga ini. Gayanya boleh santai karena saat itu dia mengenakan kaos hitam yang bertuliskan #boslebay kepanjangan dari beras organik, sapi, lele, bebek ayam. Kreatif banget kan? 

Pahlawan literasi dari Toba

Mungkin sangat aneh bagi masyarakat kita bila tampil dalam sebuah acara formal menggunakan kaos, tapi itulah Bang Togu. Penampilannya sesuai dengan profesinya yaitu petani, “mana tadi aku mau pakai celana pendek dan sandal jepit,” katanya yang membuat suasana forum menjadi cair. 

Bagi teman-teman yang ingin mengetahui tentang Bang Togu, tanya sama Mr. Google saja karena kalau aku ceritakan di sini, tidak akan berakhirnya tulisan ini. Namun, walau katanya dia tidak suka membaca, tapi aku mengira itu bohong karena susunan kalimat dan kata-kata yang dikeluarkannya penuh inspirasi. Seperti bersajak dan kata bijak yang dikeluarkan oleh para motivator. 

Bahkan aku mencatat ada sepuluh kalimat yang bisa dijadikan quote untuk postingan media sosial. Salah satunya yang paling aku suka kalimatnya ialah Berbuat baiklah bukan karena ingin masuk surga. Namun karena Tuhan sudah sangat teramat baik pada hidup kita. 

Pondok Belajar Arnila 


Sekilas aku sudah memberikan gambaran tentang kampung nelayan seberang di tulisan sebelumnya Perjuangan Mengikuti Kemah Literasi di Sumatera Utara. Di kampung ini terdapat Pondok Belajar Arnila yang didirikan oleh seorang dokter muda yang bernama Arnila Melina. 

Beruntung kami dapat berjumpa dengannya saat mengisi acara Kemah Literasi. Di sela-sela kesibukan koasnya sebagai dokter muda, dia menyempatkan diri berbagai cerita bersama kami para peserta Kemah Literasi. Waktunya hanya sekitar 30 menit, tapi apa yang disampaikannya membuatku begitu berkesan. 

Arnila yang merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara saat itu berkunjung ke kampung nelayan untuk menyalurkan donasi buku, tepatnya pada tahun 2013. Rupanya anak-anak di kampung tersebut tidak begitu merespon buku-buku yang dibawanya karena mereka tidak bisa membaca. 

Dari situlah muncul niat Arnila untuk mendirikan rumah baca sehingga terbentuklah Pondok Belajar Arnila yang selesai dibangun tauhun 2015. Sebelumnya ia rutin datang ke kampung ini dan mengajarkan anak-anak di musala yang ada kampung tersebut. 

Pendiri Pondok Belajar Arnila 

Namun, setelah seorang warga menghibahkan sedikit lahannya untuk membuat pondok belajar, Arnila pun bisa mengajar anak-anak di pondok tersebut. Di sinilah tempat tujuan pertama kami ketika mengunjungi kampung nelayan seberang. 

Berkat gadis cantik yang begitu konsisten mengajar anak-anak tersebut, ia mampu mengatasi buta aksara khususnya anak-anak yang ada di daerah terebut. Jika ingin mengetahui lebih dalam tentang pondok belajar ini, kamu bisa tanyakan ke Mr. Google karena cukup banyak media yang memberitakan aksinya ini. 

Ada yang begitu mengganjal dalam pikiranku dan beberapa peserta kemah literasi lainnya yang perlu kami tanyakan kepada Arnila. Kenapa dia mau melakukan semua itu yang sebenarnya tidak ada hubungan dengan keilmuannya sebagai seorang dokter? Justru malah kelihatannya yang paling urgent di kampung nelayan ialah masalah kebersihan karena banyak sampah yang tidak terkelola dengan baik. 

Jawabannya cukup membuatku terkagum karena yang bekerja dengan hatilah yang bisa menjawab dan memikirkan solusi seperti ini. 

“Saya tahu bahwa masalah sampah di kampung nelayan begitu urgent karena tidak ada tempat pengelolaan sampah. Mereka membuang sampahnya ke laut dan bila air laut pasang, rumah mereka terendam dan sampah yang dibuang ke kolong rumah mereka akan dibawa air laut dan mengendapkannya ke suatu tempat. Hal itu terus terulang yang tentunya membahayakan kesehatan mereka. Namun, meraka merasa itu bukan menjadi masalah karena keterbatasan pengetahuan mereka. Untuk menyadarkan mereka tentang bahayanya sampah-sampah ini, kita perlu memupuk pengetahuan mereka terlebih dahulu, ya salah satunya dengan mengajarkannya membaca. Supaya anak-anak dari kampung ini nantinya yang akan mengatasi sendiri masalah sampah di lingkungannya,” ujar Arnila kepada para peserta Kemah Literasi. 

Kondisi Kampung Nelayan Seberang

Aku pun mengerti maksudnya bahwa perubahan apa pun yang ingin dilakukan hendaknya didasari oleh pendidikan yang benar dilakukan dengan hati dan cinta. Lantas kemana pendidikan kita selama ini yang dibentuk dari sekolah-sekolah? Aku pun menyimpulkan bahwa sekolah hanya mengejar nilai dalam bentuk angka dan pendidikan adalah sebuah kebutuhan yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan. 

Wajar bila Pondok Belajar Arnila dan Rumah Belajar Toba digemari dan disukai anak-anak karena mereka belajar sesuai apa yang diinginkan dan dibutuhkan anak. Bukan apa yang diinginkan pemerintah dan yang dibutuhkan kurikulum. 

Sekolah Dasar yang ada di Kampung Nelayan Seberang

Empat hal yang diajarkan di sini ialah senantiasa mengucapkan terima kasih, meminta tolong, meminta maaf dan memaafkan, dan tidak membuang sampah sembarangan. Merekalah para pahlawan literasi dari Tanah Deli yang akan menjebolkan generasi terliterasi yang didik di pondok dan rumah baca. 

Bagaimana dengan Aceh? Apa yang bisa kita lakukan untuk meliterasikan masyarakat Aceh karena literasi adalah tugas bersama bagi kita yang sudah terliterasi. 


Bila ada ide atau saran tentang pilot project yang bisa kita buat di Aceh dalam kegiatan literasi, mohon kabari ke aku ya. Bisa menghubungi nomor 0852 6008 0834 (Yell Saints).

Perjuangan Mengikuti Kemah Literasi di Sumatera Utara

Peserta Kemah Literasi

“Pak, Yel tidak jadi ikut Kemah Literasi,” ujarku kepada Yarmen Dinamika, Pembina Forum Aceh Menulis (FAMe). 

“Lo, kenapa?” jawabnya yang heran atas keputusanku. 

Padahal, empat hari sebelumnya, aku begitu bersemangat mengabarkan atas kelulusanku dalam seleksi Kemah Literasi yang diadakan Indonesia Melek Media (IMMedia) di Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut), pada 25-28 April 2019. Kegiatan ini tidak ditanggung panitia biaya keberangkatannya dan justru pesertalah yang harus investasi dengan membayar sejumlah uang untuk biaya pendaftran. 

Aku sangat ingin mengikuti kegiatan berskala nasional ini karena orientasinya bagus untuk pengembangan FAMe ke depan sebagi komunitas yang fokus terhadap literasi di Aceh. Oleh sebab itu pula aku mendaftarkan diri atas nama FAMe. Namun, karena acaranya dibuat pada akhir bulan, di tengah kondisi keuanganku yang saat itu sedang menipis, maka aku batalkan untuk ikut serta dalam kegiatan penting ini. 

Akhirnya aku bisa mengikuti kemah literasi dan mengunjungi Kampung Nelayan
Uang yang aku simpan untuk keberangkatan ke Medan sebelumnya kugunakan untuk pulang ke kampung halaman, Aceh Selatan, untuk bisa ikut pemilu. Sebenarnya aku bisa saja mencoblos di Banda Aceh dengan meminta keterangan form A5, tapi ibu memintaku pulang untuk memilih di kampung karena pascanikah bulan Februari lalu, aku belum pernah pulang. Akhirnya duit itu terpakai untuk biaya pulang kampung yang jumlahnya sama dengan biaya ke Medan dari Banda Aceh. 

Sebenarnya, aku bisa saja memanfaatkan momen pemilu dengan menerima uang dari beberapa calon legislatif (caleg) yang mengandalkan praktik politik uang untuk membeli suara pemilih. Bahkan ada beberapa tim sukses (timses) caleg yang menawarkan uang dengan jumlah lumayan besar kepadaju, tapi aku menolaknya. 

Bila orang di sekitarku menjadikan momen itu sebagai ‘aji mumpung’ untuk mengumpul rupiah, biarlah mereka saja yang bersikap begitu. Tapi aku memilih untuk tidak terlibat di dalamnya. Sudah menjadi rahasia umum waktu pemilu lalu bahwa praktik uang begitu menjamur di daerahku. Namun, aku tetap memegang prinsip bahwa suaraku independen dan tak perlu dibeli. 

Akhirnya ketika balik ke Banda Aceh aku hanya menyisakan beberapa lembar uang lima puluhan ribu yang cukup untuk ongkos mobil dan biaya makan. Sedangkan honorarium menulis dan kerja paruh waktuku baru keluar awal bulan Mei. Mencari pinjaman pun juga sulit karena kondisinya di akhir bulan, makanya aku putuskan untuk membatalkan ikut acara Kemah Literasi tersebut. 

Orang baik 

Salah satu teman baik yang aku jumpai saat Kemah Literasi

“Kalau begitu, FAMe akan tanggung semua biaya pendaftaran Yelli. Untuk transportasi, Yel bisa naik bus saja dan uangnya coba pinjam di pegadaian dulu karena jangka waktunya sebentar. 

Dulu saat saya kuliah, ketika orang tua saya telat mengirimkan uang belanja maka pegadaianlah solusinya,” ujar Yarmen kepadaku. Ia juga mengomunikasikan di grup WhatsApp FAMe perihal kendala finansial yang sedang aku hadapi. Rupanya ada teman yang berbaik hati mengirimkan sejumlah uang kepadaku untuk keberangkatan ke Medan. 

Akhirnya, H-2 kegiatan Kemah Literasi, aku segera menghubungi panitia dan mengatakan aku ikut dalam kegiatan tersebut. Untungnya panitia masih mengizinkanku menjadi bagian dari peserta Kemah Literasi. Nasib baik pun kembali berpihak kepadaku, honorarium tulisan atas kerja sama dengan Traveloka di bulan Maret lalu masuk ke rekening sehingga aku tak perlu meminjam uang di pegadaian lagi. Aku pun berangkat Kamis malam, 25 April 2019 menggunakan bus menuju Kota Medan. 

Lagi-lagi aku berjumpa dengan orang baik. Saat di bus, aku bersebelahan duduk dengan seorang pria paruh baya yang hendak menuju Kota Lhokseumawe. Aku menawarkannya roti untuk membuka pembicaraan sehingga aku ada teman berbicara saat di bus. Rupanya saat makan malam di Grong Grong, Pidie, dia membayar semua makananku. Saat sarapan pagi di Medan pun demikian, aku ditraktir makan oleh teman yang juga peserta Kemah Literasi berasal dari Lhoksemawe. Ucapan terima kasih yang bisa saya ucapkan kepada orang-orang baik tersebut dan berdoa agar Allah memberkahi hidup mereka. 

Kampung nelayan 

Kampung Nelayan Seberang di Belawan, Medan yang merupakan tujuan Field Trip Kemah Literasi

Setelah bertemu panitia, kami pun menuju ke Balai Pertanian dan Penyuluhan Perikanan di Belawan, Medan, tempat penginapan dan tempat acara dilaksanakan. Butuh waktu satu jam untuk sampai ke sana menggunakan angkutan umum (angkot) dengan jalan berlubang yang mengaduk-aduk isi perut. 

“Beginilah kondisinya karena sering mobil besar muatan barang melalui jalan ini sehingga membuat jalan yang sudah di aspal ini menjadi rusak,” ujar salah seorang panitia. 

Sesampainya di sana, kami letakkan barang-barang kemudian makan siang karena setelah itu kami harus ke Kampung Nelayan Seberang yang berada di Dusun 14 Desa Paluh Kurau, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Sumut. Untuk menuju ke sana kami harus naik angkot lagi setengah jam, kemudian sesampai di dermaga harus menaiki perahu untuk menyeberang ke kampung nelayan. 

Jaraknya tak terlalu jauh, hanya butuh waktu sekitar lima menit untuk sampai ke sana, tapi yang membuat aku takjub dan terheran-heran ialah kondisi kampung tersebut. Rumah warga di kampung nelayan ini dibangun dari kayu. Disangga dengan tiang-tiang dari pohon bakau. Untuk menghubungkan antara satu rumah dengan rumah lainnya, dibangun jembatan yang juga bermaterial kayu dan hanya bisa dilalui pejalan kaki. 

Pondok Belajar Arnila di Kampung Nelayan Sebrang
Di kampung ini juga terdapat sekolah dasar, musala, pos kesehatan desa (poskesdes), dan areal pemakaman. Uniknya pemakaman ini berada di antara tanaman bakau yang ditimbun tanah sehingga membentuk delta dan bila air laut sedang pasang maka pemakaman ini terendam dan rumah-rumah warga terapung. 

Seperti perkampungan pada umumnya, aktivitas warga di sini juga berlangsung normal. Saya melihat bagaimana anak-anak asyiknya bermain di atara pepohonan bakau yang menyangga rumah mereka, para ibu yang duduk bersantai sambil tersenyum ramah menyambut kedatangan kami, dan alunan musik berasal dari salah satu rumah warga yang sedang asyik karaoke. 

Aktivitas di Kampung Nelayan

Meskipun rumah mereka berdempetan dan banyak sampah di sekitarnya, tidak membuat mereka mengeluh dengan keadaan ini. Mereka justru senang tinggal di permukiman yang, menurut saya, tidak layak untuk ditempati ini. Namun, ternyata mereka senang dan bahagia tinggal di sini. “Saya sudah delapan tahun tinggal bersama anak dan saya merasa lebih nyaman tinggal di sini daripada di tempat tinggal sebelumnya,” ujar salah satu warga yang bernama Siti kepada saya. 

Nah, begitulah. Masing-masing orang punya taste dan kriteria tersendiri dalam memaknai hidup layak dan hidup nyaman. 

Alat transportasi menuju ke Kampung Nelayan
Artikel ini sudah pernah diterbitkan di koran Serambi Indonesia, edisi 2 Mei 2019.

Geliat Literasi di Hulu Sungai Kluet Aceh Selatan

Kelas membaca dasar yang dibuat di pondok tepi sawah warga. (Foto Ikhsan)

Sudah sangat lama Dusun Sarah Baru, Gampong Alur Kejruen, Kluet Tengah (Menggamat) di pedalaman Aceh Selatan tidak memiliki perpustakaan desa atau taman baca masyarakat (TBM). Maklum, letak gampong  ini terisolasi. Lalu kekosongan forum literasi di daerah penghasil pala ini diisi oleh para relawan guru impian dari Rumah Relawan Remaja (3R).

Tidak tanggung-tanggung, mereka menyasar daerah pelosok dan terkucil ini, Gampong Alur Kejruen. Kedatangan relawan 3R ke daerah bekas konflik ini bagai kilauan cahaya emas yang membuka cakrawala anak-anak di gampong tersebut, yaitu melalui sekolah alternatif yang bernama Pustaka Kampung Impian. 

Program yang berlangsung selama satu bulan ini dilakukan oleh para guru impian. Mereka mengajarkan anak-anak membaca dan menulis. Kehadiran buku bacaan bagaikan emas bagi anak-anak di Sarah Baru. Mereka sangat antusias dan bersemangat menggali informasi dari buku-buku yang dibawa oleh para relawan ini, sama halnya dengan semangat orang-orang yang menggali emas di hutan Menggamat, daerah yang dulunya merupakan basis GAM.

Tak adanya gerakan literasi di Aceh Selatan membuat daerah ini sangat jauh dengan yang namanya buku. Jangankan di pelosok, di kota saja tidak ada satu forum pun yang fokus untuk mengembangkan literasi. Saya sempat menanyakan ke beberapa grup whats app kumpulan orang Aceh Selatan, tapi tidak satu pun yang mengetahui adanya forum atau komunitas yang bergerak di bidang literasi di kabupaten ini. Jadi, wajarlah ketika para guru impian dari 3R ini datang membawa sejumlah buku dan mengajar di Sarah Baru, mereka diterima dengan tangan terbuka oleh masyarakat hulu Sungai Kluet. 


****
Transportasi yang digunakan menuju Gampong Alur Kejruen, Sarah Baru, Kluet Utara, Aceh Selatan

Kedatangan saya ke Sarah Baru tidak lain untuk melihat geliat literasi di Aceh Selatan. Walau hanya satu-satunya, paling tidak daerah ini mulai terjamah tangan literasi. Saya harus bersabar duduk di sampan motor yang mereka sebut 'stempel' selama tiga jam. 



Inilah satu-satunya alat transportasi air yang digunakan untuk menuju Gampong Alur Kejruen, Dusun Sarah Baru, Kluet Tengah, Aceh Selatan. Sebelumnya, saya dari Tapaktuan harus menempuh jarak sekitar satu jam setengah untuk tiba di tepi sungai Lawe Melang, Kluet Tengah. Melalui sungai inilah saya dan dua rekan saya serta pengemudi sampan bermesin robin harus mengarunginya tanpa menggunakan pelampung.

Dermaga Sarah Baru
Setiba di Dermaga Sarah Baru, saya disambut oleh pemandangan hijaunya hutan yang menakjubkan. Dermaga itu tidak terlalu besar, cukuplah untuk menyandarkan beberapa 'stempel' yang ukurannya pas-pasan badan. Di belakang dermaga terdapat rumah adat Kluet yang baru dibangun menggunakan kayu. Bahan bangunan tersebut sama halnya dengan kebanyakan rumah warga, termasuk rumah tempat tinggal guru impian yang dijadikan sebagai Pustaka Kampung Impian.

Saya sangat beruntung datang saat itu, 5 Januari 2019, karena para guru impian dan anak-anak didikannya sedang mempersiapkan acara untuk Pentas Seni Sarah Baru. Mereka begitu asyiknya melukis spanduk yang akan ditempelkan pada malam pentas seni. Tidak butuh waktu lama untuk bisa akrab dengan mereka, justru kedatangan saya menambah kebahagiaan baru bagi mereka. 


Suasana di Pustaka Kampung Impian Sarah Baru, Aceh Selatan. (Foto Ikhsan)

Saya dikerumuni anak-anak dari berbagai umur, bahkan ada yang badannya lebih besar dari saya. Mereka menanyakan beberapa hal mengenai diri saya, begitu pula sebaliknya dan kami merasa seperti satu keluarga yang sudah lama tidak berjumpa. Rupanya tempat ini dijadikan sekretariat untuk anak-anak berkumpul, membaca, belajar, berkarya, dan bermain sehingga tempat tersebut selalu ramai dikunjungi anak-anak.

“Sepulang sekolah, anak-anak ini datang kemari untuk belajar bahkan anak tingkat SMP pun juga kemari dan bergabung bersama kami. Satu hal yang membuat saya senang dan tidak saya temukan di tempat lain yaitu anak-anak SMP nya juga ikut terlibat dalam program yang kami buat. Di tempat lain, biasanya mereka sudah merasa malu ikut kegiatan yang kami buat, tapi justru di sini anak SMP yang paling ramai ikut belajar,” ujar Fitri salah satu relawan guru impian.

Pentas Seni Hiburan di Sarah Baru

Malam pentas seni di Sarah Baru

Berbeda halnya dengan daerah perkotaan yang banyak menyediakan berbagai hiburan berupa pentas seni, Sarah Baru masih awam dengan pertunjukkan seni sehingga saat acara pentas seni dihadirkan di kampung hulu Sungai Kluet, antusias warga sangat tinggi untuk menyaksikan pentas seni. Hampir seluruh masyarakat Alur Kejruen hadir untuk melihat penampilan seni yang ditampilkan oleh anak-anak mereka.

Dengan panggung seadanya yang didekorasi dengan kasab sulam benang emas, anak-anak ini tampil membawakan beberapa tarian khas Aceh. Para penonton yang terdiri atas kaum ibu, perangkat desa, dan para pemuda, duduk bersama beralaskan tikar menyaksikan pertunjukkan pentas seni. Saya merasa kembali ke puluhan tahun silam saat pentas seni menjadi hiburan yang sangat disukai masyarakat sebelum arus teknologi berupa televisi dan internet datang secara global.

Adanya acara pentas seni, cukup menghibur warga Sarah Baru karena daerah ini belum ada jaringan telkomunikasi. Tidak ada yang sibuk dan lalai dengan gadgetnya masing-masing, jangankan untuk mencari hiburan melalui internet, sekadar untuk menelpon saja tidak ada signal. Maka, wajarlah kehadiran pentas seni di Sarah Baru sangat disukai semua kalangan, apalagi yang tampil adalah anak-anak mereka.

Pertunjukan seni oleh anak-anak Sarah Baru tidak lain bagian dari program Pustaka Impian. Terdapat kelas seni yang mengajarkan anak-anak untuk terampil menarikan tarian khas tradisional Aceh. Mereka berlatih di sela-sela waktu dari kelas lainnya untuk bisa ditampilkan di malam acara pentas seni.

“Kami memberikan kesempatan kepada anak-anak yang ada di desa untuk menampilkan bakat seninya melalui pentas seni. Anak-anak yang ada di desa tidak jauh berbeda dengan anak-anak yang tinggal di perkotaan, hanya saja di kota banyak fasilitas yang mendukung kreativitas mereka. Oleh karena itu, dengan adanya pentas seni ini kami ingin memberitahukan kepada bapak/ibu bahwa anak-anaknya mampu,” ujar Nanda koordinator guru impian saat menyampaikan sambutannya di malam pentas seni tersebut.

Pustaka Kampung Impian

Suasana belajar di Pustaka Kampung Impian.
(Foto : Ikhsan)

Selain kegiatan seni, ada kegiatan utama dari Pustaka Kampung Impian yang sangat erat kaitannya dengan dunia literasi. Di sini terdapat tiga kelas yaitu kelas membaca dasar, membaca lanjut, dan menulis. Mereka dikelompokkan ke kelas masing-masing sesuai kemampuannya saat di tes.

Kelas membaca dasar diperuntukkan kepada anak-anak yang tidak mengetahui huruf sama sekali. Mereka yang belajar di kelas ini akan diperkenalkan huruf abjad sampai akhir. Targetnya minimal anak mengetahui huruf dan dapat mengeja kata. Kelas membaca lanjut untuk anak-anak yang sudah mengenal huruf, tapi belum lancar membaca. Targetnya mereka bisa lancar membaca minimal satu kalimat walaupun masih terbata-bata.

Sedangkan kelas menulis adalah untuk mereka yang sudah lancar membaca dan diarahkan untuk membuat karangan berupa cerita, puisi, dan dongeng. Anak-anak yang belajar di kelas tersebut tidak dibatasi umur, tapi sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki dan hasil pada saat tes.

“Bahkan ada yang sudah duduk di kelas lima SD tapi tidak mengenal huruf sama sekali. Jadi, kami menempatkannya di kelas membaca dasar. Padahal seusia dia harusnya sudah masuk ke kelas menulis seperti kebanyakan daerah lain yang kami temui, tapi di sini kami temukan anak yang sudah duduk di kelas lima SD, tapi tidak tahu huruf. Sempat heran juga kenapa dia bisa naik kelas dan duduk di kelas lima SD? Hal ini mungkin karena guru yang mengajar di SD tersebut hanya dua orang,” ujar Nanda.

Namun, semangat belajar anak-anak di Sarah Baru sungguh luar biasa. Ada sekitar 50 orang anak yang terdaftar belajar di Kampung Pustaka Impian, semua itu dibagi ke dalam tiga kelas membaca dasar, lanjut, dan menulis. 


Kebahagian anak-anak belajar di Pustaka Kampung Impian. (Foto : Ikhsan)

Sepulang sekolah, mereka datang ke rumah Kampung Pustaka Impian untuk belajar sesuai kelas yang mereka ikuti. Tiga puluh menit sebelum kelas dimulai, mereka diwajibkan untuk membaca buku-buku yang disediakan oleh Pustaka Kampung Impian. Barulah pada pukul 14.00 WIB, mereka belajar dengan guru impian yang telah ditunjuk pada masing-masing kelas.

Uniknya di kelas Pustaka Kampung Impian ini mereka belajar di ruang terbuka seperti di bawah pohon, di pinggir sawah atau sungai, dan di mana pun tempat yang memungkinkan anak-anak bisa belajar. Sistem belajarnya pun juga tidak terlalu kaku seperti kelas di sekolah formal. Mereka dibebaskan untuk berekspresi dan berkreasi di alam bebas tanpa mengesampingkan tujuan belajarnya. Terbukti dengan cara seperti ini anak-anak lebih aktif dan mudah menerima pelajaran yang disampaikan.

Selain itu, juga terdapat kelas prakarya dan seni yang boleh diikuti oleh setiap anak. Tujuannya agar hasil karya anak-anak bisa dipamerkan pada acara pameran Pustaka Kampung Impian. Begitu juga saat acara pentas seni, anak-anak bisa tampil menunjukkan bakat seninya. Mereka juga diajak untuk menjelajah kampung mereka yang kemudian di setiap pos akan ada guru impian menjelaskan tentang keindahan kampung mereka. Termasuk tentang sumber daya alam yang dimiliki oleh Sarah Baru supaya anak-anak mencintai dan menjaga kampung mereka.

Para guru impian juga menampilkan video dan drama yang dilakoni mereka kepada anak-anak tersebut. Kemudian anak-anak tersebut mengambil kesimpulan dari apa yang dilihatnya dan dituangkan dalam bentuk tulisan atau gambar sesuai dengan kategori kelas mereka. 


“Kita mengajarkan anak-anak di sini untuk bisa memahami dari apa yang mereka lihat. Paling tidak mereka tahu tentang apa yang mereka lihat sehingga mereka bisa belajar menyaring informasi,” lanjut Nanda yang sudah tiga tahun menjadi relawan guru impian.

Di desa yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan dan arus teknologi ini, rupaya terdapat gerakan literasi yang tengah bergeliat membangun semangat anak-anak di Sarah Baru. Saya begitu terharu dan bangga dengan mereka yang mau belajar bersama guru impian. Kehadiran para guru ini bagaikan mimpi bagi mereka karena selama ini mereka masih jauh dari merasakan nikmatnya sebuah pendidikan.


Lagi-lagi tidak menggunakan pelampung

Kepulangan saya di antar sampai ke dermaga oleh anak-anak dan beberapa masyarakat, termasuk tuha peutnya. Padahal saya hanya satu malam datang kemari untuk melihat geliat literasi di hulu Sungai Kluet, Aceh Selatan ini. Namun, mereka seperti melepaskan keluarganya yang hendak pergi jauh dan entah kapan kembali. Mereka melambaikan tangan saat 'stempel' membawa saya, dan teman-teman kembali menyusuri Sungai Kluet lagi-lagi tanpa pelampung.


Artikel ini pernah diterbitkan di Tabloid Iqra oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Nomor 1 edisi 1, Februari 2019.