Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Empat Wisata Ramah Anak di Kota Medan


Di penghujung tahun ini bertepatan dengan liburan sekolah anak-anak. Tentunya ini menjadi momen yang pas untuk membawa anak-anak liburan ke tempat wisata yang ramah anak. 

Aku sih memang belum mempunyai anak, nikah aja belum bagaimana mempunyai anak? Hehehe. Eits, tapi aku mempunyai dua keponakan yang sudah kuanggap seperti anak sendiri. Pasalnya mereka sangat dekat denganku dan selalu menunggu kepulanganku. 

Aku tinggal di Kota Banda Aceh sedangkan mereka berada di kampungku Aceh Selatan. Setiap kali aku pulang kampung, pasti ada-ada saja permintaan dari kedua jagoanku itu yaitu Alfath dan Rafqi. 

Alfath dan Rafqi

Apalagi di liburan kali ini, aku sudah berjanji akan pulang kampung dan akan membawa mereka jalan-jalan. Aku sangat berkeinginan untuk membawa mereka berwisata ke luar kota. Sepertinya Kota Medan adalah tempat yang tepat karena jaraknya tidak jauh dari Aceh Selatan kampungku. Hanya butuh waktu delapan jam untuk sampai ke kota metropolitan ini. 

Bila Tuhan mengizinkanku membawa mereka, ada empat tempat wisata di Kota Medan yang menurutku ramah anak dan menjadi tempat tujuan kami. Berikut tempat wisata yang bisa aku kunjungi nantinya bila kemari. 


1. Kebun Binatang Medan 

Tempat ini lebih dikenal dengan Medan Zoo. Terdapat lebih dari 200 jenis hewan termasuk burung, reptil, dan mamalia langka ada di sini. Tentunya Medan Zoo bisa menjadi tempat wisata dan edukasi buat Rafqi dan Alfath. Aku bisa mengenalkan jenis-jenis bintang dan warnanya yang biasa hanya mereka lihat di buka bergambar. 

Sumber foto ; https://www.liputan6.com/lifestyle/read 
Medan Zoo yang berlokasi di Jalan Bunga Rampe IV, Simalingkir Kota Medan, dibangun pada tahun 2005. Tempat ini juga dilengkapi dengan taman bermain dan tempat outbound. Berbagai permainan seperti flying fox, sungai kecil dengan jembatan tali, kolam bola, ayunan dan plosotan bisa dinikmati oleh dua keponakanku yang saat ini berusia tiga dan tujuh tahun. 

2. Taman Edukasi Avros 

Tempat berikutnya yang bisa dikunjungi ialah Taman Edukasi Evros yang berada di tengah Kota Medan. Walau pun berada di kota, tempat yang dibangun pada tahun 2014 ini banyak terdapat pepohonan dan lahan pertanian karena memang ditujukan sebagai tempat wisata alam. 

Sumber foto ; http://medan.tribunnews.com

Di sini kita bisa menanam bibit sayuran dan belajar cara menjaga lingkungan. Tentu ini menjadi daya tarik bagi kedua keponakanku. Mereka juga bisa mengenal tanaman obat karena tedapat apotik hidup yang segaja ditanam. 

Sayangnya keponakanku masih kecil-kecil banget, kalau sudah besar bisa aku bisa bawa mereka ke lokasi outbound. Namun, bila kamu pergi bersama anggota keluarga lainnya bisa mengikuti kegiatan seperti flying fox, paint ball, memanah dan lainnya. Kalau aku sih lebih memilih bermain di taman bermain yang lokasinya di dekat sungai bareng Alfath dan Rafqi. 

3. Hairos Waterpark 

Hairos Waterpark merupakan hasil renovasi dari Hairos Indah wahana kolam lama yang sudah ada di Medan sejak tahun 2005. Kemudian tempat ini dibuka kembali pada tahun 2010 dengan nama baru Hairos Waterpark. 

Sumber foto ; http://medan.tribunnews.com

Terdapat wahana air seluas 17 hektar untuk anak-anak dan orang dewasa yang dilengkapi dengan berbagai permainan seperti kolam air mancur, air terjun, ombak, dan perosotan raksasa. Tentunya semua anak akan tertarik banget datang ke tempat yang berlokasi di Jalan Jamin Ginting Kilometer 14,5 Pancur Batu. Aku bisa membayangkaan bagaimana senangnya dua keponakanku bila kuajak kemari. 

4. Wonders Water World 

Wahana air yang bisa kamu kunjungi selain Hairos Waterpark ialah Wonders Water World yang berlokasi di Jalan Padang Golf CBD, Medan Polonia. Taman air ini memiliki lima jenis perosotan yang memacu adrenalinmu, yaitu pipe line, topsy turvey, tunnel twister, bullet bowl, dan super loop. Penasarankan dengan pelosotannya? Aku juga. 

Sumber foto ; https://kartikariani.wordpress.com

Selain itu, juga ada kolam ombak, air terjun, dan kolam anak-anak dengan berbagai permainan. Ada yang perlu kamu tahu ketika datang kemari yaitu petugas di kolam tidak mengizinkan pengunjung bila membawa bakal makanan berat ke tempat ini. Jadi, bawa makanan ringan saja ya! 

Penginapan untuk Keluarga 

Tentunya bila kamu datang liburan ke Medan membutuhkan penginapan untuk keluarga. Nggak mungkinkan tinggal di tempat saudara apalagi membawa anak-anak. Namun, jangan khawatir karena sekarang ada penginapan murah, tapi nyaman untuk keluarga. 

Sumber foto ; https://biz.kompas.com/

Kamu bisa menemukan akomodasi ramah keluarga lewat Airy Rooms. Di sini kamu mendapatkan penawaran hemat dengan fasilitas standar yang akan membuat keluarga merasa nyaman. 

Fasilitas yang tersedia seperti AC, kamar mandi dengan air panas dan pancuran, TV, perlengkapan mandi, tempat tidur empuk dan bersih yang membuat anak-anak senang. Selain itu, penginapan yang disediakan Airy Rooms juga mempunyai fasilitas Wi-Fi yang bisa kamu akses 24 jam. 

Kamu bisa memesan hotel yang nyaman dan murah dengan cepat baik menggunakan kartu kredit atau transfer bank. Caranya mudah, cukup download aplikasi Airy di ponsel Android atau Apple kamu bisa langsung booking hotel di Medan. Semoga saja rencanaku liburan bersama dua jagoanku (Alfath dan Rafqi) di Kota Medan tercapai. 

Bagaimana dengan kamu tertarik membawa buah hatimu ke kota metropolitan ini? 


Menanam Edelweiss untuk Mengabadikan Cinta

Menanam edelweiss untuk mengabadikan cinta
“Mengabadikan cinta bukan dengan cara memetik bunga edelweiss dari habitatnya, tapi menanamnya supaya cinta itu abadi sesuai dengan nama bunganya yaitu bunga abadi,” Kata Mas Birama berkali-kali kepada kami, seolah kalimat itu sudah hafal di luar kepalanya. 
Mas Birama adalah penyuluh kehutanan dari Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BTNBTS). Dialah yang menemani kami untuk mengunjungi desa wisata edelweiss, yaitu Wonokitri, Tosari, Pasuruan Jawa Timur. Di desa ini edelweiss dibudidayakan sehingga para pengunjung diberi kesempatan untuk menanam dan mengambil bunga edelweiss secara legal yang ditandai dengan sertifikat. 

Bahkan pada hari ini, 10 November 2018 sedang berlangsung Festival Land of Edelweiss sebagai launching Desa Edelweiss yang dijadikan objek wisata. Sayangnya aku tidak bisa menyaksikan secarang langusung festival ini karena aku kemari sebulan sebelumnya yaitu pada 10 Oktober 2018. 




Paling tidak aku dan teman-temanku sudah merasakan berkunjung ke tempat ini dan menanam pohon edelweiss sebagai wujud untuk mengabadikan cinta. 


Saat memasuki kawasan budi daya edelweiss kami pun disambut oleh kelompok tani Hulun Hyang yang berada di Desa Wonokitri. Mereka menggunakan seragam abu-abu yang bersimbolkan Balai Taman Nasional Tengger Semeru di dada sebelah kanan dan Hulun Hyang fdi sebelah kiri. 

Salah satunya Suherman, sekretaris kelompok tani Hulun Hyang. Dia menggunakan penutup kepala dari kain batik khas Jawa. Dari dialah kami diajarkan cara menanam edelweiss dan pembibitannya. 

Suherman, sekretaris kelompok tani Hulun Hyang
Kemudian juga ada Mike yang menjelaskan kepada kami tentang jenis edelweiss dan  pentingnya bunga ini bagi masyarakat Tengger Semeru. Menurut penjelasan Mike ada tiga jenis edelweiss yang dibudidayakan di kebun Hulun Hyang yaitu anaphalis javanica, longifolia, dan viscida

Bunga edelweiss ini oleh masyarakat setempat disebut tana layu yang berasal dari bahasa sansakerta artinya tan; tidak dan layu; layu. Jadi, tana layu berarti tidak layu atau abadi. 

Bunga Tana Layu (Edelweiss)
Mereka menggunakan bunga edelweiss sebagai kebutuhan adat untuk berbagai upacara seperti leliwet, entas-entas dan karo. Bunga-bunga ini dirangkai sedemikian rupa untuk pelengkap sesajen saat upacara adat berlangsung. 

Oleh karena itulah, bunga ini dianggap sebagai kebutuhan mendasar masyarakat Tengger Semeru maka edelweiss pun dibudidayakan. Sebelumnya masyarakat sekitar mengambil bunga edelweiss di wilayah konservasi TNBTS, sehingga tanaman yang dilindungi ini pun terancam punah karena habitanya terus berkurang. 

Edelweiss yang ditanam di pinggir jalan dan di depan rumah warga

Kini edelweiss yang berada di wilayah konservasi tidak lagi terusik kehidupannya karena sudah ada budidaya edelweiss di kebun Hulun Hyang, bahkan masyarakat Tengger Semeru pun disarankan untuk menanam edelweiss di depan rumah mereka. 

Belajar Budidaya Edelweiss 

Di kebun Hulun Hyang ini kami belajar cara pengambilan biji edelweiss dari bunga yang sudah tua dan kemudian disemaikan ke medium yang sudah disediakan. Kita bisa melihat bijinya dari bunga yang sudah tua berwarna hitam seperti biji bayam. 

Mencari biji edelweiss dari bunganya yang sudah tua
Medium yang disediakan untuk penyemaian biji ini yaitu tanah yang sudah dibasahi air sehingga tanah tersebut lembab, tapi tidak becek. Setelah satu bulan pembibitan, edelweiss yang tumbuh kemudian dipindah ke polybag kecil. Lalu setelah dua – empat bulan barulah di tanam di atas tanah. 

Aku dan teman-teman pemenang lomba vlog dan staf humas Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berkesempatan menanamnya. Edelweiss yang kutanam di Wonokitri sebagai bukti bahwa aku pernah kemari dan cintaku kepada desa ini kutanam melalui bunga abadi. 


Berwisata di Desa Edelweiss 

Saat aku kemari sebulan yang lalu, kami belum diizinkan memetik bunga ini dan membawanya pulang. Pasalnya Desa Edelweiss, belum dilaunching oleh Mentri KLHK, Ibu Siti Nurbaya. Pada hari ini tentunya para pengunjung sudah bisa membawa pulang bunga edelweiss karena Bu Mentri sudah melaunchingnya. 

Mas Suherman pernah bilang kepadaku bahwa edelweiss yang kutanam akan dijaganya dan bila nanti berbunga akan dikirmkan ke tempatku di Banda Aceh. Semoga saja edelweiss yang kutanam subur dan menghasilkan bunga yang banyak sehingga aku bisa menikmati keindahannya walau ribuan kilometer dari habitatnya. 

Saat mengunjungi kebun edelweiss Hulun Hyang

Para wisatawan yang datang kemari kata Mas Suhermann juga bisa adopsi bunga edelweiss dengan cara menanamnya. Kemudian kelompok tani Hulun Hyang akan merawatnya dengan biaya perawatan Rp500.000 per batang. Kalau edelweiss tersebut berbunga, maka bunganya akan dikirim kepada pemiliknya. Bagaimana kamu tertarik? 

Selain itu, di desa ini juga menyajikan wisata petik bunga dan merangkainnya. Ini yang tidak bisa kunikmati saat berkunjung kemari, lagi-lagi karena aku keduluan datang sebelum desa ini dilaunching. 

Pengunjung berkesempatan untuk memetik edelweiss dan mendokumentasikannya tanpa dihujat oleh netizen di media sosial. Mereka akan mendapatkan lisensi berupa sertifikat untuk memiliki bunga edelweiss dan juga sebagai wujud terima kasih karena sebelumnya sudah melestarikan edelweiss dengan cara menanamnya. 

Buket bunga edelweiss yang dijual oleh warga setempat
Bunga – bunga tersebut nantinya akan dirangkai menjadi buket dan pengunjung bisa belajar membuat buket dari bunga edelweis hasil petikannya. Atau bisa juga membeli buket bunga yang sudah disediakan dan bisa digunakan sebagai suvernir untuk oleh-oleh. 

Jika sedang berlangsung upacara adat Tengger, para pengunjung bisa melihat atraksi upacara tersebut dan juga bisa belajar merangkai edelweiss untuk sesaji upacara. Tentunya banyak hal yang bisa dipelajari dan dinikmati saat berkunjung ke Desa Edelweiss. 

Hal yang paling penting saat datang kemari ialah menanam edelweiss untuk mengabadikan cinta. Sebagaimana tanaman edelweiss tumbuh, begitu pula cinta kita akan tumbuh menjadi abadi seperti bunga tana layu yang ada di Wonokitri.

Menunggu Sunrise di Bukit Cinta Bromo Tengger Semeru

Pemandangan di Bukit Cinta Bromo Tengger Semeru
Malam begitu dingin mengiringi perjalan kami, sayup-sayup terdengar suara jangkrik memecah keheningan malam saat aku menarik koperku menuju mobil. Aku tinggalkan penginapan di Jl. Raya Tulusayu 171 Tulus Besar Tumpang, Kota Malang itu tanpa berpamitan dengan pemiliknya. 

Berbeda dengan penginapan malam sebelumnya di Jakarta yang dikelilingi oleh gedung bertingkat dan cahaya lampu, penginapan bernama Rani Homestay ini dikelilingi oleh pepohonan rimbun dan bunga-bunga. Penginapan ini milik salah seorang pegawai Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BTNBTS). Berkat rekomendasi dari Kepala BTNBTS kami menginap di sini semalam, sebelum melanjutkan menuju Bukit Cinta Bromo Tengger Semeru pada pukul 02.00 WIB. 

Kedatanganku ke Kota Malang ini merupakan hadiah dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) karena menang lomba vlog. Seperti yang dijanjikan dalam lomba vlog #GreenRamadhan, empat orang pemenang akan dibawa berkunjung ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Jadi, terpilihlah empat orang yaitu Mas Catur dari Jakarta, Melin dari Kalimantan Tengah, aku dari Aceh, dan Mas Saliyo dari Yogyakarta. 

Para pemenang lomba vlog #GreenRamadhan 2018
Selain para pemenang, juga ikut serta bersama kami dua orang pegawai KLHK yaitu Mas Yuda dan Mas Onggo. Merekalah yang menemani perjalanan kami selama dua hari menjelajahi kota yang terkenal dengan Apelnya ini. 

Perjalanan Menuju Bukit Cinta 

Dua mobil yang disediakan oleh BTNBTS sudah menanti kami di halaman Rani Homestay, lengkap dengan sopirnya. Aku menaikkan koperku ke dalam mobil double cabin yang bertuliskan Polisi Kehutanan itu. Begitu juga Melin dan Mas Saliyo, meraka membawa semua barang-barangnya karena malam berikutnya kami tidak lagi bermalam di tempat ini. Kami berada di mobil yang sama sedangkan Mas Yuda, Onggo, dan Catur berada di mobil satunya lagi. Perjalanan menuju bukit cinta pun dimulai. 

Kami menempuh perjalanan sekitar dua jam lamanya untuk tiba ke Bukit Cinta. Di jalan yang begitu gelap tidak satu pun yang bisa kulihat dengan jelas, hanya berkas cahaya lampu mobil yang memperlihatkan jalan di depannya. Kantuk pun mulai menyerangku karena jam segitu waktu paling enak untuk memejamkan mata. Namun, aku tidak bisa tertidur karena tanjakan jalan yang membuat goncangan-goncangan kecil sehingga tubuh kecilku ikut terguncang. Tambahnya lagi udara dingin mulai menyelinap menembus jaket tebalku yang membuat badanku tidak tahan menahan gigil. 

Perjalanan menuju Bukit Cinta Bromo Tengger Semeru
Pukul 04.00 WIB akhirnya kami tiba di Bukit Cinta Bromo Tengger Semeru. Kerumunan orang terlihat memadati tempat ini. Mereka semua menggunakan jaket tebal, lengkap dengan sarung tangan dan penutup kepala yang berbahan rajut. Saat aku membuka pintu mobil, udara dingin langsung menyeruak tubuhku seolah jaket dan pakaianku tidak berdaya menahan dinginnya alam Bromo. 

Dunia masih gelap, sunrise yang kami tunggu kedatangannya belum memunculkan wajahnya. Namun, orang-orang sudah ramai menanti bahkan semakin lama kian bertambah jumlah orang yang datang ke tempat itu. Aku hanya bisa melihat beberapa orang dalam jarak dekat berkat pencahayaan lampu senter yang di bawa mereka dan cahaya lampu dari kios-kios kecil di sekitar tempat itu. 

“Uhh, dingin banget,” kataku pada Melin dengan suara tercekat. Kaki dan tanganku mulai gemetar menahan gigil, begitu juga dengan Melin. 

“Mbak, mbak, sarung tangannya mbak, syal, topi. Silakan mau warna apa, cuma Rp10.000 untuk sarung tangan,” teriak seorang perempuan dengan membawa keranjang yang berisi benda-benda yang disebutkannya tadi. 

Aku mendekatinya dan mulai memilih-milih sarung tangan karena benda itulah yang kubutuhkan saat ini. 

“Silahkan dipilih mbak, syal dan topi juga ada. Harganya Rp25.000 satu, di sini dingin banget nanti mbak hipotermi kalau nggak kuat,” ujar perempuan itu kepadaku sambil menyenter barang dagangannya. 

Aku membeli satu sarung tangan, topi, dan syal dengan total harga Rp70.000. Benda-benda itu berbahan dasar rajut dan cukup membantu untuk menghangatkan tubuhku. Apalagi ada tulisan Bromonya dan bisa dijadikan oleh-oleh untuk kubawa pulang nanti sebagai kenangan-kenangan. Pikirku dalam hati. 

Rupanya Melin juga tertarik untuk membelinya. Dia pun langsung memakainya dan dibantu oleh perempuan penjual yang bernama Evi itu memasangkan syal ke leher Melin. 

Melin dengan pakaian lengkapnya menggunakan topi, syal, dan sarung tangan
“Kelihatannya keren menggunakan topi dan syal itu, kayak di luar negeri saja.” kataku kepada Melin. 

“Iya Kak, Aku rencana mau menyewa jaket juga karena nanti di atas sana dingin banget kata mereka.” Dia pun pergi ke tempat penyewaan jaket. 

Selain Mbak Evi, ada puluhan penjual lainnya yang menenteng dagangannya. Mereka berasal dari warga sekitar Bromo Tengger Semeru. Ada juga yang menawarkan jasa penyewaan jaket tebal, kebanyakan mereka dari kaum laki-laki. 

Melin pun kembali dengan jaket merah tebalnya, lengkap dengan topi, syal, dan sarung tangan. Sekilas ia mirip seperti perempuan China dengan mata sipit, berkulit putih, dan rambut lurus tergurai berwarna kecoklatan. 

Aku pun tertarik menyewa jaket tebal tersebut, supaya lebih lengkap dan terlihat seperti sedang berada di China. Akhirnya aku mengeluarkan uang Rp20.000 lagi untuk sewa jaket dan langsung kugunakan untuk membungkus tubuhku yang sudah berlapis-lapis menggunakan baju. Namun, rasa dingin masih tetap terasa dan kami pun pergi ke kios untuk mencari makanan hangat. 

Makan dulu sebelum kedatangan sunrise
Aku memesan indomie rebus pakai telor dan Melin memesan Pop Mie. Rasa dingin pun sedikit berkurang setelah makanan itu masuk ke lambung karena mulai terjadi proses metabolisme di dalam tubuh. Setelah 30 menit duduk bersantai di kios kecil itu, kami pun bersiap untuk menyaksikan kedatangan sunrise dengan pemandangan Gunung Bromo di depannya. 

Akhirnya Kau Keluar Juga 

Seberkas cahaya kuning kemerahan mulai kelihatan, semakin lama kian terang. Titik-titik cahaya putih berasal dari pemukiman penduduk mulai tampak di kaki pegunungan yang menjulang tinggi. 

Detik-detik kemunculan sunrise
Orang-orang mulai beramai-ramai menaiki anak tangga untuk melihat kemunculan bola lampu dunia. Tangga ini dibuat dari semen dan berpagarkan kayu, sekilas mirip dengan Tembok Besar China apalagi dengan pakaian tebal yang digunakan orang-orang di sini. Inilah spot terbaik untuk melihat sang surya keluar dari tempat persembunyiannya yang bahasa kerennya disebut sunrise. 

Itu tangga untuk melihat spot sunrise. Foto ini diambil saat matahari sudah terbit
Selain di tempat ini, bisa juga mendaki bukit yang ada di depan tangga. Namun, jalannya lebih susah karena menanjak dan tanahnya yang berpasir. Aku lebih memilih menaiki tangga karena lebih mudah dan tentunya bisa selfie di kerumunan orang-orang yang berjaket tebal ini. 

Bisa juga mendaki menggunakan jalan di bukit yang berada di belakangku itu.
Sesampainya aku di atas Bukit Cinta, matahari pun keluar dengan gagahnya dan membentuk bulat sempurna. Aku takjub melihat keindahan ciptaan Tuhan yang tiada tandingannya ini. Bulat seperti angka nol merangkak di balik gunung, bidikan kamera pun tak henti-hentinya mengabadikan sang surya. 

Sebenarnya bulat, tapi kameramennya saja yang kurang pas ngambilnya.


Kulihat oarang-orang di sekelilingiku sibuk dengan kameranya untuk menangkap moment indah ini. Banyak juga yang menatapnya dengan lekat tanpa memperdulikan orang hilir mudik di belakangnya. Aku memilih untuk mengabadikannya beberapa kali, selebihnya menikmatinya sambil berdoa suatu saat aku bisa kembali lagi ke tempat ini dengan kekasih hatiku. 

Setelah matahari keluar dengan sempurna, barulah terang alam semesta menampakkan wajah dunia. Di sina berdiri gagah Gunung Bromo dengan puncaknya yang menganga bekas letusan ribuan tahun yang lalu. Di sampingnya terdapat gunung berbentuk kerucut yang disebut Gunung Batok. Mereka berdiri berdampingan memperlihatkan kegagahannya kepada setiap mata yang memandang. 

Gunung Bromo Tengger Semeru
Pernah lihat foto ini di mana? 
Pemandangan ini biasanya kulihat di foto, majalah, lukisan, dan di internet, tapi sekarang bisa kusaksikan langsung pemandangan yang menakjubkan ini. Tak heran banyak orang jauh-jauh datang kemari untuk menyaksikan pemandangan indah ini, bahkan harus bangun lebih pagi untuk menunggu sunrise di Bukit Cinta Bromo Tengger Semeru. 

Gimana, sudah kayak di China belum?
Ketika berada di daerahku, setiap hari kulewatkan sunrise dengan mata terpenjam tanpa mau melihat kedatangannya. Namun, di daerah orang aku menunggunya datang jauh-jauh dari pukul 02.00 WIB. Padahal benda yang kulihat objeknya sama, hanya tempat yang membedakannya. 

Di sini aku sadar bahwa ketika suatu tempat difasilitasi dengan baik dengan suasana yang berbeda, tempat itu akan lebih asyik meskipun yang dilihat benda yang sama. 



Menikmati Wisata Lintas Gayo dalam Sekali Jalan

Demo Menuangkan Kopi yang Diperagakan Pengunjung di Pabrik Oro Kopi Gayo


Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Begitulah yang diinginkan banyak traveler saat mengunjungi suatu tempat. Ya, di zaman milineal ini tujuan para traveler lebih menginginkan spot foto yang menarik dibandingkan menikmati tempat tersebut. Namun, bila kamu melewati lintas Gayo jangan terburu-buru saat mengunjungi suatu tempat karena kamu bisa melewatinya dalam sekali jalan. 

Lintas Gayo yang kumaksud adalah Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah. Saat aku ke sana bersama peserta Farmtrip Generasi Pesona Indonesia (GenPi) Aceh, pada bulan September 2018 lalu kami mengunjungi beberapa tempat hanya dalam sekali jalan. Mungkin tempat yang kami kunjungi ini bisa menjadi referensi buat kamu yang akan melintasi Gayo. 

1. Umah Pitu Ruang 

Saat memasuki Kabupaten Bener Meriah tujuan utama kami langsung ke tempat wisata umah pitu ruang (rumah tujuh ruang). Tidak jauh dari jalan raya, kami memasuki perkampungan hingga menuju Desa Bale Atu, Kecamatan Bukit Bener Meriah yang merupakan lokasi dari umah pitu ruang. 

Umah Pitu Ruang di Bener Meriah

Udara dingin pun langsung menyambut kedatangan kami. Pemandangan bukit yang mengelilingi tempat ini menambah suasana sejuk, sehingga aku harus mengancingkan jeket tebalku. Di sinilah terdapat umah pitu ruang yang merupakan rumah adat masyarakat Gayo. 

Arsitektur bangunannya berupa rumah panggung dengan tujuh kamar yang terdapat di dalam rumah tersebut. Menurut Bujang Duta Wisata Bener Meriah yang menjadi pemandu kami, rumah ini sengaja dibuat tujuh ruang karena masyarakat Gayo yang ada di Bener Meriah cenderung tinggal bersama-sama dengan keluarga besar. Oleh karena itu, rumah panggung ini dijadikan tempat tinggal bersama. 

Di tempat ini kita bisa menikmati keindahan pegunungan hijau yang terhampar luas. Selain itu, kita juga bisa beristirahat sejenak untuk melepaskan lelah karena sudah melakukan perjalanan jauh dari Banda Aceh. 

View dari dalam Umah Pitu Ruang saat Menghadap ke Pegunungan di Bener Meriah

2. Lembah Pentago 

Setelah puas menikmati keindahan pegunungan Bener Meriah di Umah Pitu Ruang, saatnya menuju Lembah Permata Dataran Tinggi Gayo (Pentago). Di sini kita akan merasakan suasana alam yang begitu alami sambil mendengarkan gemericik air sungai, burung, dan angin. Lokasinya berada di perbatasan antara Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah. 

Sungai yang Berada di Lembah Pentago

Tempat wisata Lembah Pentago dengan luas lima hektar ini, milik seorang petani bernama Lamuddin. Ia tertarik untuk mengembangkan potensi wisata yang ada di Dataran Tinggi Gayo dengan konsep alam. Dengan luas area sebesar ini, terdapat banyak wisata alam yang bisa dinikmati diantaranya area balap sepeda, panjat tebing, lokasi out bond, dan mancing galatama. Selain itu, juga terdapat perkebunan kopi, pisang, nangka, alpukat, dan sawoh yang bisa dinikmati pengunjung dengan memetiknya langsung di perkebunan. 

Di bagian lembah terdapat sungai yang cukup jernih dan dingin airnya. Diantara pepohonan kayu dan bambu, kami pun langsung melaksanakan salat zuhur secara berjamaah karena kebetulan saat itu sudah masuk waktu zuhur. Kemudian setelah itu Pak Lamuddin pun mengajak ke rumahnya untuk menikmati makan siang dengan sajian menu khas Gayo. 

Lembah Pentago yang Masih Alami

3. Oro Kopi Gayo 

Bagi pecinta kopi, jangan sampai lewatkan untuk berkunjung ke pabrik Oro Kopi Gayo yang berada di Desa Mongal, Kec. Bebesen, Aceh Tengah. Di sini terdapat berbagai rasa kopi Gayo seperti arabica, robusta, wine, king Gayo, dan banyak lainnya. 

Pabrik Oro Kopi Gayo

Kita juga bisa langsung melihat bagaimana cara pengolahannya, dari mulai dijemur, digiling, disortir, dirosting, dan sampai penyajian kopinya. Asyiknya lagi kita bisa menikmati kopi yang ada di sini sepuasnya dengan gratis. Asyik banget kan? 

Pabrik kopi yang berdiri sejak tahun 2008 ini telah mengingpor kopi ke berbagai daerah, termasuk di luar negeri. Bahkan setiap bulannya pabrik ini menghasilkan kopi yang siap diekspor sebanyak 200 ton. Coba dihitung-hitung sendiri harga satu kilogram kopi sekitar Rp85.000 dikalikan 200 ton berapa hasilnya? 

Wajarlah pabrik ini diberi nama Oro Kopi Gayo karena Oro dalam bahasa Spanyol artinya emas. Jadi, kopi bagi masyarakat Gayo diibaratkan sebagai emas yang akan mengantarkan pundi-pundi rupiah pada pengusahanya. 

Menikmati Kopi Gayo dengan Gratis

Jika kamu tertarik untuk berkunjung ke pabrik Oro Kopi Gayo bisa menghubungi langsung menejernya, Sabdan (085358392393). Saat kami berkunjung kemari sang manejer sangat welcome dengan kedatangan kami, bahkan mengajak kami berkeliling mengunjungi tiap bagian dari tempat ini. 

4. Danau Lut Tawar 

Tempat terakhir yang bisa dikunjungi saat melintasi Gayo, apalagi kalau bukan Danau Lut Tawar. Dari kejauhan pesona danau ini sudah terlihat jelas sehingga bagi siapa saja yang melintasinya pasti ingin singgah sejenak untuk menikmati keindahannya. 

Berkemah di Pinggir Danau Lut Tawar sangat Diminati oleh Pengunjung

Beruntung saat itu tujuan kami memang mengikuti camping 100 tenda yang diadakan dalam rangkaian kegiatan Gayo Alas Mountain International Festival 2018. Kami bermalam tepat berada di tepi danau dengan ratusan tenda peserta GAMI Fest. Bermalam di sini ibarat menginap di hotel seribu bintang karena di malam hari kita bisa melihat langit dengan ribuan bintang yang menghiasinya. 

Sensasi sejuk pun menusuk tulang walau sudah dibalut dengan baju tebal, tapi tetap terasa dingin. Jadi, sangat disarankan bagi kamu yang ingin kemari dan camping di pinggir danau hendaknya membawa baju tebal, sarung tangan, penutup kepala, dan syal supaya suhu tubuhmu tetap terjaga. 

Suasana di Pagi Hari Pinggir Danau Lut Tawar

Nah, itulah tempat-tempat wisata yang bisa kamu kunjungi saat melintasi Gayo. Namun, bila waktu liburanmu masih ada, kamu bisa melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Gayo Lues. Di sini kamu bisa merasakan pertualangan menjelajah keindahan alam dari negeri seribu bukit. 

Untuk informasi lebih lanjutnya bisa baca tulisaku berikut ini. 





Wisata Air Terjun Talago Batu di Negeri Para Penambang

Wisata Air Terjun Talago Batu di Negeri Para Penambang
Air Terjun Talogo Batu di Menggamat
Foto doc. pribadi

Tahukah kamu di mana negeri para penambang itu?

Negeri yang kaya akan sumber daya alam, tidak hanya air dah hutan tapi juga isi bumi lainnya seperti emas, mineral berupa bijih besi dan tembaga.

Selama sepuluh tahun terakhir tercatat ada enam perusahaan tambang resmi yang menguasai kawasan ini. Lain lagi para penambang liar, baik yang dikelola oleh warga setempat atau pun warga dari daerah lain yang datang kemari untuk menambang.

Hutannya pun juga dijarah, tidak tanggung-tanggung tahun 2016 lalu pemerintah Aceh kembali memberi izin usaha industri primer hasil hutan kayu (IUIPHHK) jenis sawmill dengan kapasitas produksi 2.000 m3 per tahun (Serambi Indonesia, 22/05/2017). 

Sungainya pun juga dieksploitasi dengan menggunakan mesin penyedot pasir. Berton-ton batu diangkat dari sungai ke daratan untuk diolah menjadi emas. 

Jalanan menuju area  tambangFoto doc. pribadi

Semua kekayaan alamnya sedang dikuasai oleh para penambang di daerah yang bernama Menggamat Kluet Tengah, Aceh Selatan. Sehingga pada 22 Mei 2017 lalu, muncul sebuah tulisan di halaman Serambi Indonesia yang berjudul Menggamat Menanti ‘Kiamat’.

****


Hujan terus turun menyambut kedatangan kami, 10 menit perjalanan dari desa Kotto ke hilir sungai Talogo Batu cukup membuat baju kami basah kuyup.

Niat kami sudah bulat pergi ke air terjun Talogo Batu, meski hujan tidak ada tanda-tanda berhenti. Awan hitam menyelimuti hutan Menggamat, burung-burung masuk ke sarang mereka, suara kodok menjadi-jadi meminta hujan ditambah lagi.

Kami terpaksa harus berteduh di pondok salah satu penambang emas. Ada belasan pondok kecil yang didirikan penambang sebagai tempat mereka berteduh.

Di pondok tersebut dilengkapi dengan kompor dan peralatan masak lainnya. Sayangnya di samping pondok itu bertaburan sampah plastik.

Kami dipersilakan untuk masuk ke pondok kayu yang diatapi dengan terpal plastik. Lantainya menggantung seperti rumah panggung Aceh, tapi tidak terlalu tinggi. 

Mereka sangat ramah dan semuanya laki-laki, ada yang berasal dari warga setempat tapi banyak juga orang daerah lain yang bekerja sebagai penambang di tempat itu. 

Untungnya Eva salah satu temanku yang juga warga kampung itu, kenal dengan beberapa penambang. Dia bercakap-cakap menggunakan bahasa Kluet, setelah 15 menit sambil menunggu hujan reda, salah satu dari mereka menghubungi temannya untuk menemani kami ke air terjun Talago Batu.

Wajar mereka mau menemani kami, karena kami perempuan semua, sangat berisiko jika kami pergi tanpa ditemani oleh warga setempat, bisa-bisa kami tersesat di dalam hutan.

Hujan mulai sedikit reda, awan hitam pun beranjak pergi ke daerah lain, cahaya matahari mulai terlihat terang. 

Pukul 13.16 WIB, kami pun makan siang di salah satu pondok penambang yang tidak berpenghunyi. Pondok penambang yang semula kami singgahi terlalu banyak asap rokok dari penambang yang merokok. Jadi kami memutuskan untuk pindah ke pondok di depannya.

Suasana makan siang di pondok penambang
Foto doc. @susi_gayo11

Untungnya Eva sudah menyediakan nasi bukus untuk kami semua, akhirnya kami makan bersama di pondok penambang emas itu.

Setelah makan siang kami mulai melanjutkan perjalanan menuju air terjun Talago Batu. Kami ditemani oleh dua orang pemuda gampong, dua orang anak laki-laki berusia 8 tahun, dan satu orang lelaki paruh baya yang berumur sekitar 40 tahun.

Mereka yang akan menunjukkan jalan dan menjadi guide kami, terlebih dahulu mereka menjelasakan medan yang akan kami lalui berupa sungai, gunung, dan bebatuan.

Kami siap dengan kondisi apapun, ya jelas dong karena kami perempuan peduli leuser. Di antara kami sudah terbiasa mendaki gunung karena berasal dari komunitas pencita alam seperti Mapala, Tim Patroli Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), dan Heperologer mania yang semuanya sering main di hutan.

Kami harus menelusuri sungai sampai ke hulu Talago Batu
Foto doc. pribadi

Hanya aku blogger nyasar ikut-ikutan dengan mereka. Tapi enam tahun yang lalu aku juga pernah mendaki gunung untuk mengambil buah durian bersama Oom ku, meskipun aku tidak mau lagi untuk mendaki yang kedua kalinya. 

Tapi kali ini rasa penasaranku mengalahkan rasa lelahku, kami melangkah dengan percaya diri melewati sungai, mendaki gunung dan bebatuan untuk sampai ke air terjun Talago Batu. 

Pertama kami harus melewati sungai kecil yang masih dangkal, aku dan teman-temanku sengaja tidak membuka sepatu supaya mempercepat gerakan kami karena ada beberapa sungai lagi yang harus ditempuh. 

Kemudian kami melewati perkebunan kopi dan kembali menemukan sungai yang sedikit dalam. Sepuluh menit kami berjalan lalu kami menemukan para penambang batu emas di kaki gunung Menggamat.

Mereka masih menggunakan alat seadanya untuk menambang, sayangnya tidak ada satu pun alat pelindung diri yang mereka gunakan seperti sarung tangan atau pun masker.
Penambang yang sedang mengambil batu emas
Foto doc. @siska_aidarahmi

Dari jauh kita bisa melihat gunung itu seperti longsor, rupanya ini jalan menuju ke atas gunung yang digunakan penambang untuk mengambil batu yang bermaterial emas.

Kami sempat bercakap-cakap sebentar dengan para penambang, Aku mengenali dua diantaranya. Keadaan ekonomilah yang mengharuskan mereka mengeruk isi perut gunung Menggamat ini.

Perjalanan kami berlanjut, hingga akhirnya sampai ke air terjun paling bawah. Air terjunnya tidak terlalu tinggi, tapi pohon yang mengeliling tempat itu membuat suasana sejuk sekitarnya.

Kami kembali mendaki menemukan air terjun berikutnya, Ini sedikit lebih tinggi dari yang pertama. Air nya keluar diantara bebatuan gunung yang licin. 
Air terjun tingkat keenam
Foto doc. pribadi

Perjalanan pun dilanjutkan, hingga akhirnya kami menemukan air terjun buatan dikarenakan kayu besar yang tumbang melintangi sungai. Sehingga membentuk pancuran seperti air terjun.
Di bawah pohon yang membentuk air terjun itu ada batu yang mirip kura-kura, benarkan?
Foto doc. pribadi

Target kami ialah air terjun teratas yaitu tingkat pertama, jadi kami harus melalui tebing setinggi lima meter. Tanah yang lembab membuat jalannya menjadi licin, perlu konsentrasi dan kehati-hatian untuk bisa sampai ke atas.

Untungnya beberapa temanku yang sudah terbiasa mendaki mempunyai teknik tersendiri untuk membantu teman-teman lain untuk sampai ke atas. Ini bukan medan yang sulit bagi teman-teman ku yang sudah terbiasa menjelajah alam, hanya lima menit kami bersembilan sudah sampai ke atas.

Rupanya ada air terjun yang keempat, walau tidak tinggi tapi asyik untuk berenang karena di bawah air terjun terdapat lubuk yang membendung air sehingga terlihat seperti kolam. Dengan sigap teman-temanku langsung mengambil pose untuk bergaya di sekitar air terjun ini.
Air terjun tingkat keempat
Foto doc. pribadi

Setelah puas berpose kami harus melewati batu di samping air terjun tersebut. Batunya lumayan licin, kurang lebih setinggi 4 meter. Temanku yang duluan sudah di atas mengulurkan akar kayu sebagai tempat pegangan. Akhirnya kami bisa melewati batuan licin itu.

Di atas sana ada air terjun ketiga dan kedua yang tidak terlalu tinggi. Jalannya tidak terlalu mendaki lagi seperti sebelumnya, tapi kita perlu menempuh beberapa sungai yang sedikit lebih dalam.

Hampir satu jam lamanya perjalanan kami, hingga akhirnya kami menemukan air terjun tingkat atas yaitu air terjun Talago Batu. Air terjun itu jatuh dari ketinggian 7 meter yang diapit oleh dua batu besar, seolah air terjun itu berada di gua.

Ini dia air terjun tingkat atas
Foto doc. pribadi

Sengguh menakjubkan, rasa lelah karena perjalanan satu jam digantikan dengan pesona keindahan Talgo Batu.

Sebenarnya jika kita tidak banyak berhenti cuma membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk sampai kemari, tapi karena kami selfie-selfie dulu setiap bertemu dengan air terjun, jadinya butuh waktu satu jam untuk sampai kemari.

Semoga tempat ini menjadi pilihan destinasi wisatamu berikutnya.

Lihatlah negeri para penambang ini masih banyak hal positif yang bisa meningkatkan taraf perekonomian masayarakat selain menambang. Salah satunya dengan menghidupkan konsep ekowisata di tempat ini.

Ada minat mau kemari?

Sudah cukup gunungnya dikeruk, batu sungainya diangkut untuk mendapatkan emas dan hutannya ditebang untuk diambil kayunya. Jangan sampai Menggamat benar menjadi kiamat karena ulah mereka uyang rakus dalam mengelola alam.