Tampilkan postingan dengan label Bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa. Tampilkan semua postingan

Untung Ada Bahasa Indonesia




Apa jadinya kalau manusia hidup tanpa menggunakan bahasa? Tentu dunia terasa sepi dan banyak hal yang tidak dimengerti. Mungkin bisa saja menggunakan bahasa isyarat seperti gerakan tubuh, tapi tidak semua gerakan tubuh dimengerti tanpa dilafalkan dengan bahasa lisan. 


Beruntung Tuhan memberikan kemampuan berbicara kepada manusia sehingga bahasa dengan mudah diucapkan. Namun, Tuhan tidak menciptakan manusia dalam keadaan yang sama, tapi dalam kondisi yang berbeda-beda seperti yang dijelaskan dalam kitab suci Alquran Surat Al-Hujarat, ayat 13. 

Artinya; “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sungguh, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti. ” 

Tentunya setiap bangsa dan suku di dunia mempunyai bahasa sendiri. Jangankan dunia, Indonesia yang merupakan Negara kepulauan mempunyai banyak bangsa dan ratusan suku, mempunyai bahasa berbeda. Lantas bagaimana menyatukan semua itu? 

Lahirnya Bahasa Indonesia 

Sumber: jakmall.com

Bahasa Indonesia lahir pada 28 Oktober 1928 atas prakarsa para pemuda dari berbagai pelosok Nusantara yang mengikrarkan melalui Sumpah Pemuda. Dalam ikrar tersebut, terdapat tiga poin yang salah satunya ialah melahirkan Bahasa Indonesia, yaitu poin ketiga “Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia”. 

Inilah cikal bakal lahirnya Bahasa Indonesia. Sedangkan kedudukannya sebagai Bahasa Negara Indonesia lahir setelah sehari kemerdekaan, yaitu 18 Agustus 1945. Sebagaimana yang tertuang dalam Undang-undang Dasar 1945 dalam BAB XV, Pasal 36 yang menyebutkan bahwa Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia. 

Bahasa Indonesia sendiri merupakan bentuk standar Bahasa Melayu yang banyak dipakai di wilayah Nusantara. Selain itu, juga banyak bahasa daerah dengan ragam budaya dari masing-masing wilayah. Namun, Bahasa Melayulah yang paling populer dibandingkan dengan bahasa daerah lainnya sehingga untuk dijadikan bahasa pemersatu, digunakanlah Bahasa Melayu yang distandarkan ke dalam Bahasa Indonesia. 

Dengan begitu, masyarakat Indonesia yang berada di wilayah timur, dengan masyarakat Indonesia yang berada di wilayah barat dan tengah, bisa saling berkomunikasi karena adanya Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesialah yang menyatukan mereka sehingga menjadi lambang persatuan Bangsa Indonesia. 

Lambang Persatuan Bangsa 

Sumber; suaramerdeka.com

Indonesia mempunyai sepuluh alat yang digunakan sebagai lambang persatuan bangsa, yaitu lambang negara (Burung Garuda), semboyan negara (Bhineka Tunggal Ika), bahasa negara (Bahasa Indonesia), bendera negara (Merah-Putih), lagu kebangsaan Indonesia (Indonesia Raya), konstitusi negara (UUD 1945), ideologi bangsa (Pancasila), wawasan nusantara, kebudayaan negara, dan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Di antara sepuluh alat persatuan bangsa itu, penggunaan bahasalah yang begitu kentara menujukkan lambang persatuan bangsa. Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau dengan kebudayaan dan bahasa yang beragam, tentu tidak ada titik temu bila seseorang menggunakan bahasa dari dearahnya masing-masing. 

Bisa dibayangkan bila tidak ada bahasa pemersatu, tentu artikel ini saya tuliskan dalam bahasa daerah asal saya, yaitu Bahasa Aceh. Begitu pula dengan buku-buku sekolah, tulisan ilmiah, surat dinas, kabar berita, dibuat berdasarkan bahasa yang digunakan penulisnya. 

Untung ada Bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa sehingga apa pun yang dibahasakan baik dalam bentuk tulisan, maupun secara lisan dapat dimengerti oleh seluruh rakyat Indonesia. Bahkan di media sosial, netizen bisa membuat sebuah isu menjadi trending topic berkat penggunaan Bahasa Indonesia. Padahal mereka berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang yang beragam. 


Bahasa pengantar di sekolah, pesantren, universitas, dan lembaga pemerintahan juga lebih terarah karena ada bahasa pemersatu. Begitu pula saat mengunjungi daerah-daerah yang ada di Indonesia, tanpa ada Bahasa Indonesia kita tidak bisa saling terhubung dan menjalin kerjasama. 

Rasa persatuan pun tidak akan muncul karena berbeda suku, ras, agama, dan golongan. Namun, berkat adanya Bahasa Indonesia yang menjadi lambang pemersatu, semua bisa di kesampingkan demi tujuan bersama. 


Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Bulan Bahasa 2019 dengan tema "Bahasa Sebagai Lambang Persatuan Bangsa."



14 Kesalahan Kata Mendasar dalam Penulisan Bahasa Indonesia



Setelah sekitar sepuluh bulan vakum, Forum Barsela Menulis (FBM) kembali membuat kelas menulis bersama Pak Yarmen Dinamika (Redaktur Pelaksana Harian Serambi Indonesia).

Kelas menulis kali ini lebih ramai dibandingkan sepuluh bulan lalu yang paling ramai hanya 15 orang saja. Kali ini peminatnya meningkat, karena kelasnya tidak dikhususkan untuk orang yang berasal dari wilayah barat selatan saja. 

Akan tetapi, siapa saja dan dari daerah mana pun bisa ikut kelas menulis ini. Akhirnya kelas pun membeludak sampai 27 orang. Jarang-jarang lo, sampai sebanyak ini. Apa mungkin karena gratis ya? hehehe.

Walaupun gratis, ilmu yang diberikan Pak Yarmen bukan cilet-cilet. Dia menyampaikan semua pengetahuan kepenulisannya dengan rinci dan mendetail. Bahkan saat membedah tulisanku pun, dia betul-betul membedah kata demi kata. 

Setelah menjelaskan tujuan menulis ditinjau dari aspek sosial dan ilmiah, Pak Yarmen meminta kami memperkenalkan diri satu per satu. Dan ternyata pesertanya cukup beragam.

Kelas menulis bersama Pak Yarmen di Anjungan Aceh Singkil Taman PKA

Ada yang dari blogger, dosen, mahasiswa sarjana, dan magister, bahkan ibu rumah tangga pun juga ada. Usia pun juga tidak menjadi hambatan, salah seorang teman sekolah Pak Yarmen yang usianya sudah 50 tahun juga ikut hadir untuk belajar menulis.

Sesi perkenalan pun selesai, kemudian dilanjutkan dengan membedah tulisanku yang berjudul “Sensasi Menaiki Sampan Dayung Saat ke Pulau Dua Aceh Selatan”, yang pernah diposting ke blogku pada tanggal 21 Juli, 2017.


Dari 938 kata yang terdapat dalam tulisan itu, ada 58 kesalahan kata mendasar baik dari tanda baca, ejaan, partikel, maupun transisional. Semua itu aku kategorikan menjadi 14 kesalahan kata mendasar dalam penulisan bahasa Indonesia berikut ini.

Tulisanku yang dicoret-coret karena banyak salahnya

1. Penggunaan kata yang mubazir

Terkadang kita sering menyamakan bahasa lisan dan tulisan, sehingga saat menuliskannya ada kata yang bermakna ganda, sehingga tidak perlu ditulis.

Seperti judul tulisanku “Sensasi Menaiki Sampan Dayung Saat ke Pulau Dua Aceh Selatan”.

Awalan me tidak perlu lagi ditulisakan dan kata dayung juga harus dihilangkan, karena yang namanya sampan memang didayung. 

Kata saat juga dihilangkan, karena kedudukannya sudah menunjukkan kejadian yang sedang berlangsung.

Jadi, judul yang tepat ialah “Sensasi Naik Sampan ke Pulau Dua, Aceh Selatan”. Lebih hemat kata kan?

Begitu juga pada kalimat pertama di paragraf pertama, “Pulau yang berada di Aceh Selatan ini, sedang lagi ramai dibicarakan di dunia maya”.

Kelihatan kan salahnya di mana?


2. Penulisan kata yang tidak tepat

Kebiasaan menggunakan bahasa lisan yang informal juga berpengaruh dalam tulisan. Misalnya :

Cuman seharusnya cuma.

Resiko seharusnya risiko.

Berselewiran seharusnya bersiliweran.

Kata-kata seperti di atas, cukup banyak terdapat kesalahan dalam tulisanku itu.


3. Penggunaan partikel “Pun”

Kesalahan penggunaan partikel pun juga sering terjadi di dalam kepenulisan bahasa Indonesia. Ada kalanya partikel ini digabung dengan kalimat sebelumnya, tapi ada juga yang ditulis terpisah.

Penulisan partikel pun yang digabung ialah pada kata: adapun, andaipun, akanpun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, nianpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, namunpun, sekalipun, sungguhpun, dan walaupun.

Sedangkan untuk partikel pun yang ditulis terpisah, selain yang terdapat pada kata di atas. Misalnya pada contoh di tulisanku tersebut “tulisan pun kalau mengenak di hati dapat menggerakkan ribuan massa”.

4. Kenali hukum KPTS

Hukum KPTS adalah hukum yang membuat kata kerja berawalan K, P, T, dan S menjadi lebur saat bertemu imbuhan me, men, meng, menge, meny, dan menye.

Contoh kesalahan dalam tulisanku: “Tulisanku ampuh untuk mempengaruhi orang untuk datang ke Aceh Selatan”. 

Harusnya memengaruhi.


5. Penggunaan kata “lo”, “eh”

Ketika kita ingin menumbuhkan interaksi dengan para pembaca, sering kita menyelipkan kata bahasa lisan seperti “lo” atau “eh” sebagai kata seru menyatakan heran, terperajat, dan sebagainya.

Namun tulisannya sering salah atau malah ditambah, seperti tulisanku berikut:

“Karena tulisan itu ibarat bom atom loe Pak”.

ehh.., ternyata sampannya kejauhan dari air laut”.


6. Kesalahan ejaan

Kesalahan ejaan yang sering terjadi ialah pembubuhan tanda baca, khususnya tanda koma (,). Berikut beberapa kesalahan yang terdapat di tulisanku.

“Saat aku ke Pulau Dua Aceh Selatan

Mestinya ada tanda baca koma untuk memisahkan nama tempat di atas Pulau Dua, Aceh Selatan.

Sebelum kata yang tidak boleh ada tanda koma karena yang tersebut bermakna sabagi penghubung antar kalimat.

“Di tempat ini tidak ada pelabuhan atau dermaga untuk berlabuhnya sampan atau boat, yang ada Cuma hamparan pasir”.

Begitu juga kata dan tidak boleh ada tanda koma sebelumnya, kecuali perincian dari kata-kata yang setara mengikutinya.

“Ternyata adik ini berasal dari Aceh Jaya, dan memang kesehariannya setelah pulang sekolah bekerja sebagai nelayan membantu orang tuanya yang berprofesi sebagai nelayan”. (Salah).

“Tanpa ada kacamata renang, tabung oksigen, dan sebagainya” (Benar karena perincian).


7. Penempatan tanda seru yang tidak tepat

Aku paling sering menggunakan tanda seru ditulisanku, masalahnya tanda seru pada kalimatnya kurang tepat. Misalnya pada contoh berikut.

“Nah, ini aku ceritain gimana sensasi naik sampan dayung ke Pulau Dua tersebut!

“Setelah kembali ke kota Banda Aceh, kita bisa sesuaikan kok!” 

Seharusnya tanda seru ini dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau rasa emosi yang kuat.


8. Pemakaian akronim dan singkatan

Akronim adalah kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata. Jadi cara penulisannya hanya menggunakan huruf kapital diawal. Ditulisanku itu terdapat kesalahan, karena aku menggunakan huruf kapital semuanya.

“Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Air Sialang (HIPMAS)”. Seharusnya Hipmas.

Sedangkan singkatan dilafalkan huruf per huruf, jadi harus ditulis besar semuanya.

Misalnya Forum Barsela Menulis (FBM).


9. Penulisan angka

Hal yang jarang sekali kita ketahui bahwa penulisan angka dari satu sampai sebelas haruslah menggunakan huruf. Sedangkan dari angka 12 ke atas boleh menuliskannya dengan angka, karena terdiri dari dua suku kata.

Contoh yang salah “membutuhkan waktu perjalanan 2 jam menggunakan bus”.

Contoh yang benar “membutuhkan waktu perjalanan dua jam menggunakan bus”.


10. Penulisan nilai rupiah

Ketika menuliskan nilai nominal rupiah, kesalahan yang sering terjadi ialah penempatan tanda baca berupa titik (.).

Misalnya “Tarifnya sekitar Rp.500.000 untuk 30 penumpang”.

Penulisan yang benar ialah Rp500.000. 


11. Penggunaan kata depan dan imbuhan

Dua hal ini sering kali letaknya terbalik-balik, bahkan membingungkan kita saat menempatkannya. Biasanya pada kata di dan ke.

Penggunaan kata di atau ke sebagai kata depan menunjukkan tempat melakukan aktivitas atau keberadaan. Biasanya diikuti kata benda yang menunjukkan tempat dan penulisannya dipisahkan.

Contoh salah “Nanti dia akan memandumu sampai kesana”.

Contoh benar “Nanti dia akan memandumu sampai ke sana”.

Penggunaan kata di atau ke sebagai imbuhan berfungsi menunjukkan bentuk pasif. Biasanya diikuti kata kerja atau kata benda yang dijadikan kata kerja, penulisannya pun disambung.

Contoh salah “Dayung-dayung, sampan di dayung”

Contoh benar “Dayung-dayung, sampan didayung”.


12. Pemakaian kata sapaan

Ternyata dalam tulisan ada kata sapaan yang harus dikapitalkan huruf pertamanya. Misalnya kata Pak, Bu, Anda, Bang, Kak dan Dek

Akan tetapi tidak semua sapaan juga dikapitalkan huruf awalnya, misalnya kamu, dia, mereka, adik, kakak, dan lain sebagainya.

Contohnya “Semoga dilirik oleh Pak Kadis Pariwisata Aceh Selatan”.


13. Penggunaan subjek ganda

Tanpa disadari terkadang kita sering menggunakan subjek ganda, padahal penggunaan subjek lebih dari satu bukanlah kalimat yang benar.

Contoh salah “Kita para panitianya pergi traveling”.

Contoh benar “Kita panitianya pergi traveling”.


14. Pemakaian istilah asing

Istilah asing, baik itu bahasa latin ataupun daerah hendaknya ditulis dengan huruf miring. Misalnya “Coba aja kalau ada peralatan snorkeling dan diving di sini”.

Itulah beberapa kesalahan yang sering terjadi saat kita menulis bahasa Indonesia. Emang sih harus sering berlatih, dan jeli untuk menempatkan kata-kata tersebut, tapi seiring dengan seringnya menulis dan membaca, kamu akan bisa memahaminya.

Peserta kelas menulis FBM