Tampilkan postingan dengan label Sail Sabang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sail Sabang. Tampilkan semua postingan

Mengenang Laksamana Malahayati di Acara Puncak Sail Sabang 2017



Hujan tidak kian reda, kabut menghitam, air tergenang di CT-3 Pelabuhan BPKS Kota Sabang. Sudah hampir dua jam hujan turun, membuat acara puncak Sail Sabang diiringi dengan gemercik hujan.

Kondisi ini memang tidak menjadi masalah bagi tamu undangan yang duduk di tenda utama. Mereka bisa berteduh di tenda berukuran 40 x 10 m, sehigga terhindar dari kerumanan hujan yang membuat pakaian basah.

Di tenda tersebut terdapat orang-orang penting, untuk sampai ke tenda tersebut kita haruslah melalui dua pemeriksaan dari petugas keamanan. Betapa tidak, di tenda tersebut didatangi oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla.

Turut hadir juga Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf dan pejabat lainnya baik tingkat lokal, nasional, dan internasional. Inilah acara puncak Sail Sabang 2017 yang merupakan kegiatan utama dari Sail Indonesia yang bertaraf internasional.


Beruntung aku mendapat undangan VIP yang mewakili Kementrian Pariwisata (Kemenpar) dari komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPi). Jadi, aku bisa duduk dalam satu tenda bersama orang-orang penting tersebut. Bahkan di sebelahku duduk mantan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Aceh yang saat ini bertugas di BkkbN pusat Jakarta.

Tidak bisa kugambarkan perasaanku ketika berada diantara mereka, hanya bisa mengucap syukur sembari berharap suatu saat aku bisa hadir kembali di acara yang serupa di tempat berbeda dengan status tidak lagi sebagai anak komunitas, tapi orang yang berkepentingan boleh jadi kepala dinas, gubernur, atau istri dari bupati atau wakil presiden sekali pun. Hehehe, mimpi kan nggak apa-apa?

Di tengah khidmatnya acara puncak, hujan seolah ingin ikut serta dalam acara ini yang tidak menunjukkan tanda-tanda reda. Konsep acara outdoor seperti ini haruslah memperhatikan kondisi cuaca, apalagi di bulan dengan akhiran ber-ber seperti Desember, indentik dengan hujan. Namun karena acara ini sudah jauh-jauh hari dipersiapkan, terpaksa acara tersebut tetap dilanjutkan meskipun dalam kondisi hujan.

Sebentar lagi akan ada penampilan tari kolosal Laksamana Malahayati yang menceritakan sosok perempuan perkasa berjiwa kesaktria. Dia adalah perempuan pertama di dunia yang memimpin perang laut dan berhasil membunuh Cornelis de Houtman.

Para penari sudah berdiri rapi, tidak peduli hujan membasahi tubuh mereka. Bagi mereka ialah bagaimana menujukkan penampilan terbaik kepada tamu undangan yang hadir di acara tersebut.

Sebelum penampilan tari yang akan menceritakan sejarah perang perempuan itu melawan kaphe-kaphe Belanda, telebih dahulu dibacakan doa sebagai penutup acara. Seketika itu juga kabut yang menghitam berpindah dan menampakan sinar cahaya matahari, seolah dia tahu sebentar lagi akan ada pertunjukan hebat.



Doa terus dibacakan oleh pemimpin doa, dalam pandangaanku terlihat dua orang laki-laki paruh baya menghadap ke arah laut juga berdoa dengan khusyuk. Aku berbisik dengan teman sebelahku dan bertanya apakah itu pawang hujan?

****

Para penari itu mulai menujukkan aksinya di bawah rintikan hujan, berlatarkan kapal besar yang sedang merapat di pelabuhan. 

Tarian ini melibatkan 400 penari dari pelajar yang berasal dari kota Sabang dan Banda Aceh. Semua kompak menarikan tarian kolosal yang mengisahkan seorang perempuan laksamana pertama di dunia.

Terlebih dahulu ditampilkan beberapa tarian seperti seudati, saman, dan ratoeh jaroe. Uniknya mereka menari dalam hentakan musik yang sama, tapi gerakan yang berbeda sesuai dengan gerakan tari masing-masing.

Kolaborasi ini cukup menarik perhatian, karena ditarikan banyak orang dengan alunan musik khas Aceh. Mereka berhasil menarik perhatian tamu undangan bahkan Pak JK sendiri sangat serius memperhatikan gerakan penari dan sesekali tersimpul senyum di wajahnya. 

Setelah lima menit aksi tarian itu, muncul sosok perempuan yang memerankan Laksamana Malahayati. Dalam aksinya itu dia meminta izin kepada sultan Aceh yaitu Sultan Alauddin Riayat Syah Al-Mukamil untuk membentuk pasukan janda yang ditinggal mati oleh suaminya karena perang.


Malahayati juga menjadi janda setelah perang melawan Portugis di Teluk Haru. Meskipun perperangan dimenangkan oleh armada Aceh, namun perang tersebut telah merenggut nyawa suami tercintanya. 

Dilatarbelakangi oleh kebenciannya terhadap Portugis yang menyebabkan kematian suaminya, dia pun menghimpun sebuah pasukan yang diberi nama inong balee. Pasukan ini terdiri atas wanita-wanita Aceh yang suaminya juga meninggal dalam pertempuran itu.
Pasukan Inong Bale

Penari itu cukup pandai memerankan aksinya, seolah kita benar melihat nyata kilas sejarah empat abad yang lalu. Pembawa cerita cukup cakap membawakan kisahnya, dibantu dengan musik yang dipadupadankan dengan elok membawa terharu para pengunjung.

Aksi yang menegangkan saat kapal Laksamana Malahayati menuju kapal Cornelis De Houtman, di situ terjadi pertempuran sengit di atas kapal yang mengakibatkan Corneslis de Houtman mati di bunuh oleh Laksamana Malahayati.

Kapal yang digunakan adalah kapal tiruan yang dibuat dari tripleks menyerupai kapal bajak laut. Itulah gambaran kapal zaman dahulu, sedangkan rencong dan pedang yang digunakan terbuat dari gabus yang mirip seperti aslinya.

Pertunjukkan itu sungguh membuat kita tertegun menyaksikan kehebatan perempuan Aceh masa lalu, jauh dari yang namanya emansipasi sebagaimana digaungkan oleh negara barat pada abad ini.

Pertunjukkan yang berlangsung sekitar 45 menit itu mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari penonton, bahkan Pak JK sengaja berdiri dan diikuti oleh penonton lainnya. 

Penari yang tampil di tengah hujan dan beceknya air hujan di terminal terbuka tersebut patut diberikan apresiasi sebesar-besarnya. Bukan Cuma karena aksinya membuat kita mengenang Laksamana Malahayati, namun mereka bertahan di tengah hujan yang membasahi tubuh mereka.

Totalitas mereka dalam menampilkan yang terbaik luar biasa, sebelumnya mereka juga berlatih selama dua bulan untuk bisa mempersembahkan tarian ini. Tentunya ini tidak terlepas dari dukungan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh.

Bagiku tari kolosal Laksamana Malahayati itu menghidupkan kembali semangat wanita Aceh yang dikenal sebagai perempuan tangguh dan perkasa. 

Aksi penari kolosal Laksamana Malahayati 

Sumber foto dari tim liputan GenPi Aceh.

Berburu Oleh-Oleh Khas Nusantara di Event Sail Sabang 2017

Western Sovenir
Doc. Foto pribadi


Aku tertegun melihat barang-barang yang terpajang di estelase sebuah tokoh, berbagai macam kerajinan khas nusantara ada di sini. Tidak hanya barang-barang kerajinan Aceh, tapi juga barang-barang di seluruh Indonesia. 



Ketika Handphone Hilang di Pelabuhan saat Menuju Sabang


Baru saja lima menit yang lalu aku update status di Instagram bahwa aku akan ke Sabang, tapi handphone (HP) jenis ADVAN S5E keluaran tahun 2014 itu, tidak ada lagi ditanganku.

Aku berlari menuju toilet umum wanita yang ada di pelabuhan Ule Lheu, berharap menemukan HP yang sudah tiga tahun setia menemaniku. Sayangnya cuma ada gayung dan air dalam timba, di tempat pembuangan kotoran manusia itu.

Ngapain pula HP ku nangkring di kamar mandi, kan aku nggak main HP saat buang air kecil tadi?” pikiranku bermain, mengira-ngira di mana posisi HP ku.

Tidak ada salahnya memeriksa toilet itu, siapa tahu terjatuh dari tas saat aku menggantungkannya di dinding kamar mandi. Sayangnya asumsi itu tidak benar sama sekali, tidak ada ditemukan HP berjenis Android di sini. 

Aku mencoba bertanya kepada setiap orang yang keluar dari kamar mandi tersebut, namun tidak ada satu orang pun yang tahu dan melihat HP itu.

Dugaan pun mengarah pada tas ranselku, mungkin ada terselip di kantong diantara barang-barangku. Alangkah terkejutnya diriku ketika melihat ada salah satu resleting tas tidak dikancingkan, alias menga-nga begitu saja.

Di tempat itulah biasanya aku meletakkan HP itu, tapi sekarang HP nya tidak ada, hanya meninggalkan beberapa alat tulis dan kartu namaku.

Oh, Tuhan. Cobaan apa yang Kau berikan kepadaku? Meskipun HP nya butut dan sudah usang, tidak bisakah hilangnya setelah aku pulang dari Sabang?” Aku berarap dalam hati supaya Tuhan mengabulkannya.

Posisiku sangat terjepit saat itu, hanya HP itulah satu-satunya penghubung komunikasi dengan Kak Farah. Tapi HP itu tidak tahu di mana kebaradaannya dan aku berharap cemas berputar-putar, sambil menunggu kedatangan Kak Farah.

Kami ditugaskan untuk mendata fasilitas penunjang pariwisata terkait penginapan, rumah makan, dan sovenir yang ada di Kota Sabang. Proyek ini kerjasama dinas pariwisata Aceh dengan Generasi Pesona Indonesia (GenPi) Aceh yang dalam hal ini ditugaskan kepada kami berdua.

Biaya transportasi dan akomodasi selama di Sabang ditanggung oleh pihak dinas, tapi masalahnya uangnya dipegang oleh Kak Farah dan aku tidak membawa duit sepersen pun saat ini. 

Aku tetap berusaha mencari HP butut itu dan berharap Kak Farah menemukanku di pelabuhan. Aku menelusuri jalanan yang kulalui sejak tadi, yaitu dari tempat antrian motor ke toilet wanita.

Jaraknya tidak jauh hanya 200 meter, hampir empat kali aku bolak-balik melewati jalan yang sama. Aku yakin HP ku itu pasti jatuh disekitaran sini, karena tas ku saat itu terbuka atau mungkin ada orang yang sengaja membuka dan mengambil HP ku. Pikiran paranoidku pun mulai muncul.

Aku bertanya ke setiap orang yang ada di sekitar itu, tapi tidak ada seorang pun yang melihat ada HP yang jatuh. Aku memberanikan diri untuk bertanya sama tukang becak, penjual asongan, dan gerombolan anak-anak laki-laki ABG yang sedang menunggu kedatangan kapal menuju Sabang. Sepertinya mereka ingin pergi berlibur ke Sabang. Tapi satu pun tidak ada diantara mereka yang melihatnya.

Di situasi ramai seperti di pelabuhan, tentu sulit untuk melacak barang-barang yang jatuh, jika pun ada mungkin sudah raib diambil orang. Aku menuju tempat informasi, berharap ada CCTV dipasang di pelabuhan. 

Ternyata tidak ada satu pun CCTV di pelabuhan. Mereka tidak bisa membantu banyak dan hanya menyehatiku lain kali harus berhati-hati lagi.

Aku sedikit kecewa karena pelabuhan penghubung yang merupakan gerbang menuju pulau paling barat Indonesia ini, tidak dilengkapi dengan fasilitas CCTV. Aku yakin dipelabuhan Sabang yang katanya mau dijadikan sebagai Pelabuhan Hub Wisata Bahari Internasional juga tidak ada CCTV.

Mungkin mereka belum merasa penting penggunaan CCTV di pelabuhan, tapi sebentar lagi di bulan November akan ada event besar berskala internasional di Sabang, yaitu Sail Sabang 2017. Masak tidak ada CCTV sih untuk pengamanan di pelabuhan?

****

Aku semakin cemas, “Kenapa kejadian buruk ini terjadi di saat aku ingin menikmati keindaahan alam kota Sabang?”

Setelah tahun 2012 lalu aku pergi ke Sabang hanya dalam waktu semalam saja, inilah kesempatan kedua pergi menuju daerah pulau terindah di Indonesia ini.

Untungnya ada seorang laki-laki muda yang mau membantuku untuk menelpon ke nomor HP ku. Ciee, akhirnya pangeran datang juga, hahaha. 

Meskipun bukan aku, mungkin laki-laki itu juga mau membantu. Karakter orang Aceh kan memang begitu, sangat ringan tangan memberi bantuan bagi orang yang kesusahan, Semoga saja terus begitu ya.

Dia menelpon nomor HP ku berkali-kali, berharap ada terdengar nada deringnya. Aku mengajaknya menelusuri jalanan yang aku lalui dari tadi, mutar-mutar keliling pelabuhan bahkan berkali-kali pergi ke toilet wanita.

Untungnya dia sabar mengekoriku sambil mendekatkan HP nya ke telinga, berharap nomor yang dituju ada yang mengangkat dan berkata “Aku menemukan HP jenis Andoroid, di mana aku bisa mengembalikannya.” Sebuah harapan yang tidak pernah kesampaian, hanya menjadi hayalanku saja.

Aku terduduk lemas di bawah pohon cemara dekat antrian motor yang sebentar lagi akan memasuki badan kapal. Di tempat ini lah satu jam yang lalu aku sibuk chating dan update status di berbagai akun media sosialku.

Sekarang hanya tatapan kosong memandang motor yang berjejer di hadapanku. Sebentar lagi motor-motor itu bergerak memasuki badan kapal, begitu juga dengan motorku yang sudah berada diantara motor lainnya.

Pemuda yang dari tadi mengekori membantu mencarikan HP ku, mengingsut-ingsut di antara motor-motor laiannya. Sambil memegang HP yang terus mencoba menghubungi nomorku, dia mendekatkan telinganya di setiap motor yang ditelusurinya.

Melihat dirinya yang begitu bersungguh-sungguh mencari HP ku, lalu aku mendekatinya dan bertanya apa yang sedang dia lakukan. 

Dia bilang mendengar suara yang diyakininya suara nada dering HP. Aku pun memfokuskan pendengaranku dan ternyata benar itu adalah nada dering HP yang biasa aku pakai.

Dengan gerak cepat aku melewati barisan motor, menuju satu motor Honda Spacy yang tidak lain adalah motorku sendiri. Ternyata HP ku berada dia dalam tas kecil yang aku gantungkan di depan motor.

Oh Tuhan., betapa pelupanya aku sampai-sampai barangku sendiri lupa aku taruh di mana. Apa ini tanda gejala Alzhaimer

NOTE:

Semoga cerita singkatku ini jadi pengalaman buat teman-teman semua yang akan menuju ke Sabang. Apalagi di akhir November dan awal Desember nanti padat banget pelabuhannya, karena ada Sail Sabang 2017.

Nggak lucukan, kalau kamu harus menghabiskan masa liburanmu di pelabuhan lantaran kehilangan barang. Jadi, jaga sendiri barang bawaannya, jangan berharap kamu bisa melihat dari CCTV, karena tidak ada CCTV yang terpasang di pelabuhan.

Hati-hati juga bagi yang membawa pasangannya, jangan sampai tercecer atau kehilangan pasangan, karena tidak ada CCTV yang memantau pasanganmu. Hehehe.

Sampai jumpa di tulisan cuhat berikutnya. 

7 Alasan Sabang Jadi Pelabuhan Hub Wisata Bahari Internasional


www.tribunnews.com
SAIL SABANG 2017 sebentar lagi digelar di Kota Sabang, hanya tinggal menghitung hari. Kota ini akan dipenuhi oleh orang-orang dari berbagai macam negara.