Tampilkan postingan dengan label Sabang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sabang. Tampilkan semua postingan

Begini Prosesi Khanduri Laot 2019 yang Dipertujukkan di Sabang



Pulau kecil di ujung Sumatra ini mempunyai daya tarik tersendiri. Tidak hanya dikenal dengan pesona alam bawah lautnya yang mendunia, keberagaman budayanya juga menjadi atraksi yang kerap mengundang decak kagum para wisatawan yang datang kemari. 

Setiap akhir pekan atau di musim liburan, pulau ini selalu dipadati wisatawan sehingga wajah-wajah asing terlihat jelas menempati setiap sudut kota berpenduduk 40.040 jiwa itu.

Keindahan Sabang memang sudah menjadi buah bibir bagi para pelancong yang datang ke Aceh. Keelokan alamnya membuat para turis betah berlama-lama untuk bersantai. Tidak ada polusi udara, suara, atau kemacetan di sini seperti di kota pada umumnya. 

Tempat ini begitu tenang, hanya ada desiran ombak dan suara angin yang menjadi musik alam. Malah terkadang sebagian orang membuat kepanjangan Sabang dengan "santai banget".

Suasana Pulau Sabang

Saya yang sudah berkali-kali datang ke Sabang tidak pernah merasa puas menikmatinya. Adrenalin saya selalu terpacu untuk menjelajah ke berbagai tempat, sambil menyaksikan berbagai atraksi budayanya. 

Tahun 2017, saya dari Generasi Pesona Indonesia (GenPi) ditugaskan meliput kegiatan Sail Sabang 2017. Namum, kali ini saya mendapat tugas dari GenPi untuk meliput kegiatan Khanduri Laot Festival yang berlangsung pada 30 Maret-1 April 2019.

Sensasinya tetap sama, bila dulu saat Sail Sabang 2017 menampilkan atraksi tarian kolosal Laksamana Malahayati yang menceritakan sosok perempuan tangguh, berperang melawan Portugis, di Khanduri Laot Festival 2019 menampilkan atraksi tentang kehidupan masyarakat pesisir. 


Prosesi khanduri laot

Syair-syair Aceh yang diiringi dengan rapa-i

Lantunan syair berbahasa Aceh mendayu-mendayu diiringi dengan pukulan rapa-i, saat saya tiba di Dermaga CT-3 BPKS Sabang. Di tempat inilah acara pembukaan Khanduri Laot Festival 2019 berlangsung, yaitu di Gampong Kota Ateuh, Kecamatan Sukakarya. Setiap ada perhelatan besar di Sabang, tempat ini selalu digunakan untuk pembukaan acara, termasuk saat acara Sail Sabang 2017 lalu. 

Lokasinya sangat strategis, berada di pusat kota dengan dermaga yang cukup luas, sehingga memungkinkan kapal-kapal besar sandar di sana. Dermaga itu ramah pula bagi kaum disabilitas, termasuk mereka yang menggunakan kursi roda. 

Lokasi acaranya bisa diakses oleh pengguna kursi roda

Begitulah yang saya lihat saat seorang ibu paruh baya membawa anaknya menggunakan kursi roda untuk menyaksikan pertunjukan ini. Selain itu, terdapat tanah lapang yang digunakan sebagai tempat pameran stan dari setiap gampong atau daerah.

Saya begitu menikmati suara pukulan rapa-i yang ditabuh oleh beberapa pria dewasa, mengenakan pakaian serbahitam. Para pengunjung mulai berdatangan dan terlihat wajah-wajah asing, dengan warna kulit dan rambut yang berbeda dari penduduk setempat. 

Saya mengira mereka adalah para turis yang sedang berlibur di Sabang. Kepada pengunjung laki-laki dibagikan kain pengikat kepala yang biasa digunakan para nelayan saat melaut. Seorang turis laki-laki terlihat begitu senang saat menerima kain tersebut dari panitia dan langsung mengikatkan di kepalanya.

Tiba-tiba, suara rapa-i berhenti dan massa berbondong-bondong menuju gerbang dermaga. Rupanya rombongan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI bersama para pejabat Kota Sabang memasuki lokasi acara. Kedatangan mereka dihadang oleh beberapa pria yang mengenakan pakaian serbahitam dengan kopiah meukeutop khas Aceh. 

Kedatangan rombongan Kemenpar beserta para pejabat Kota Sabang

Seorang laki-laki dari rombongan Kemenpar yang bertindak sebagai pemandu, memberi salam sembari mengucapkan beberapa pantun dalam bahasa Aceh. Kemudian disambut oleh tim penghadang, sehingga terjadi saling berbalas pantun. Rombongan Kemenpar meminta izin kepada masyarakat setempat agar acara ini dibuka oleh Staf Khusus Kemenpar bidang Percepatan Calender of Event, Tasbir Abdullah.

Setelah mendapat izin dari panglima laot, mereka disambut menuju ke tempat duduk yang telah disediakan. Rapa-i pun kembali dimainkan sehingga kemeriahan menyelimuti seluruh tempat ini. Tidak hanya itu, dua paralayang dari TNI angkatan udara mengitari angkasa Sabang, sambil membawa bendera yang bertuliskan Khanduri Laot Festival 2019. 

Kemeriahan semakin bertambah ketika tim dikie geleng Laskar Ababil dari Gampong Blangblahdeh, Meukek, Aceh Selatan, menampilkan tarian dikie geleng. Ada sekitar 70 orang yang mengenakan pakaian merah putih duduk melingkar, membentuk bundaran berlapis-lapis saat memainkan dikie geleng. Syair yang dibawakan oleh syeh berisikan zikir-zikir, sedangkan para pemainnya menggeleng-gelengkan kepala secara serentak membentuk formasi yang begitu indah dilihat. 

Penampilan tim dikie geleng Laskar Ababil

Para pengunjung terpukau melihat tarian ini, bahkan Staf Khusus Kemenpar begitu takjub melihat kekompakan para pemain dike geleng yang didatangkan dari Aceh Selatan. 

"Luar biasa budaya di Aceh. Saya begitu menikmati dike geleng tadi. Apabila pemainnya lebih banyak lagi, ini menjadi sesuatu yang sangat menarik ditampilkan menjadi event besar seperti tari saman di Gayo," ujar Tasbir Abdullah saat menyampaikan sambutannya ketika membuka acara.

Tarian tron laot 

Para penari menarikan tarian tron laot

Setelah acara pembukaan yang ditandai dengan pukulan rapa-i oleh Kemenpar dan beberapa petinggi Kota Sabang, barulah masuk ke acara inti. Beberapa perempuan memakai baju serbakuning, membawa keranjang dan kain sarung, menarikan tarian tron laot

Tarian ini menceritakan tentang tradisi saat turun ke laut untuk menarik pukat, di mana para istri para nelayan sibuk memersiapkan peralatan yang akan dibawa suaminya untuk melaut. Syair-syair yang berisikan kisah kehidupan masyarakat pesisir membuat hati luluh bagi yang mengetahui maknanya. 

Saya meresapi cerita yang dilantunkan dalam bahasa Aceh itu, tanpa sadar air mata pun jatuh membayangkan kehidupan para nelayan yang berjuang mencari nafkah di laut lepas. 

Selanjutnya para nelayan turun ke kapal yang kemudian di-peusijuek oleh panglima laot. Tujuannya agar hasil tangkapan ikan dan jala yang dibentangkan diisi oleh ikan-ikan segar yang menjadi rezeki dibawa pulang untuk keluarga tercinta.

Prosesi penerikan pukat

Melihat prosesi itu, membuat hati saya berdecak kagum akan budaya yang ditinggalkan oleh para leluhur kita. Khanduri laot merupakan sebuah cara untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah Swt atas rezeki yang diberikan kepada masyarakat pesisir. 

Dalam khanduri laot ini tidak hanya sarat dengan tradisi, tapi juga sebagai ajang untuk memperkuat silaturahmi karena para pengunjung dijamu makan siang secara gratis.

Tulisan ini sudah pernah diterbitkan di Serambi Indonesia, edisi 8 April 2019 dengan judul Pesona Sabang di 'Khanduri Laot 2019.'

Mengenang Laksamana Malahayati di Acara Puncak Sail Sabang 2017



Hujan tidak kian reda, kabut menghitam, air tergenang di CT-3 Pelabuhan BPKS Kota Sabang. Sudah hampir dua jam hujan turun, membuat acara puncak Sail Sabang diiringi dengan gemercik hujan.

Kondisi ini memang tidak menjadi masalah bagi tamu undangan yang duduk di tenda utama. Mereka bisa berteduh di tenda berukuran 40 x 10 m, sehigga terhindar dari kerumanan hujan yang membuat pakaian basah.

Di tenda tersebut terdapat orang-orang penting, untuk sampai ke tenda tersebut kita haruslah melalui dua pemeriksaan dari petugas keamanan. Betapa tidak, di tenda tersebut didatangi oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla.

Turut hadir juga Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf dan pejabat lainnya baik tingkat lokal, nasional, dan internasional. Inilah acara puncak Sail Sabang 2017 yang merupakan kegiatan utama dari Sail Indonesia yang bertaraf internasional.


Beruntung aku mendapat undangan VIP yang mewakili Kementrian Pariwisata (Kemenpar) dari komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPi). Jadi, aku bisa duduk dalam satu tenda bersama orang-orang penting tersebut. Bahkan di sebelahku duduk mantan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Aceh yang saat ini bertugas di BkkbN pusat Jakarta.

Tidak bisa kugambarkan perasaanku ketika berada diantara mereka, hanya bisa mengucap syukur sembari berharap suatu saat aku bisa hadir kembali di acara yang serupa di tempat berbeda dengan status tidak lagi sebagai anak komunitas, tapi orang yang berkepentingan boleh jadi kepala dinas, gubernur, atau istri dari bupati atau wakil presiden sekali pun. Hehehe, mimpi kan nggak apa-apa?

Di tengah khidmatnya acara puncak, hujan seolah ingin ikut serta dalam acara ini yang tidak menunjukkan tanda-tanda reda. Konsep acara outdoor seperti ini haruslah memperhatikan kondisi cuaca, apalagi di bulan dengan akhiran ber-ber seperti Desember, indentik dengan hujan. Namun karena acara ini sudah jauh-jauh hari dipersiapkan, terpaksa acara tersebut tetap dilanjutkan meskipun dalam kondisi hujan.

Sebentar lagi akan ada penampilan tari kolosal Laksamana Malahayati yang menceritakan sosok perempuan perkasa berjiwa kesaktria. Dia adalah perempuan pertama di dunia yang memimpin perang laut dan berhasil membunuh Cornelis de Houtman.

Para penari sudah berdiri rapi, tidak peduli hujan membasahi tubuh mereka. Bagi mereka ialah bagaimana menujukkan penampilan terbaik kepada tamu undangan yang hadir di acara tersebut.

Sebelum penampilan tari yang akan menceritakan sejarah perang perempuan itu melawan kaphe-kaphe Belanda, telebih dahulu dibacakan doa sebagai penutup acara. Seketika itu juga kabut yang menghitam berpindah dan menampakan sinar cahaya matahari, seolah dia tahu sebentar lagi akan ada pertunjukan hebat.



Doa terus dibacakan oleh pemimpin doa, dalam pandangaanku terlihat dua orang laki-laki paruh baya menghadap ke arah laut juga berdoa dengan khusyuk. Aku berbisik dengan teman sebelahku dan bertanya apakah itu pawang hujan?

****

Para penari itu mulai menujukkan aksinya di bawah rintikan hujan, berlatarkan kapal besar yang sedang merapat di pelabuhan. 

Tarian ini melibatkan 400 penari dari pelajar yang berasal dari kota Sabang dan Banda Aceh. Semua kompak menarikan tarian kolosal yang mengisahkan seorang perempuan laksamana pertama di dunia.

Terlebih dahulu ditampilkan beberapa tarian seperti seudati, saman, dan ratoeh jaroe. Uniknya mereka menari dalam hentakan musik yang sama, tapi gerakan yang berbeda sesuai dengan gerakan tari masing-masing.

Kolaborasi ini cukup menarik perhatian, karena ditarikan banyak orang dengan alunan musik khas Aceh. Mereka berhasil menarik perhatian tamu undangan bahkan Pak JK sendiri sangat serius memperhatikan gerakan penari dan sesekali tersimpul senyum di wajahnya. 

Setelah lima menit aksi tarian itu, muncul sosok perempuan yang memerankan Laksamana Malahayati. Dalam aksinya itu dia meminta izin kepada sultan Aceh yaitu Sultan Alauddin Riayat Syah Al-Mukamil untuk membentuk pasukan janda yang ditinggal mati oleh suaminya karena perang.


Malahayati juga menjadi janda setelah perang melawan Portugis di Teluk Haru. Meskipun perperangan dimenangkan oleh armada Aceh, namun perang tersebut telah merenggut nyawa suami tercintanya. 

Dilatarbelakangi oleh kebenciannya terhadap Portugis yang menyebabkan kematian suaminya, dia pun menghimpun sebuah pasukan yang diberi nama inong balee. Pasukan ini terdiri atas wanita-wanita Aceh yang suaminya juga meninggal dalam pertempuran itu.
Pasukan Inong Bale

Penari itu cukup pandai memerankan aksinya, seolah kita benar melihat nyata kilas sejarah empat abad yang lalu. Pembawa cerita cukup cakap membawakan kisahnya, dibantu dengan musik yang dipadupadankan dengan elok membawa terharu para pengunjung.

Aksi yang menegangkan saat kapal Laksamana Malahayati menuju kapal Cornelis De Houtman, di situ terjadi pertempuran sengit di atas kapal yang mengakibatkan Corneslis de Houtman mati di bunuh oleh Laksamana Malahayati.

Kapal yang digunakan adalah kapal tiruan yang dibuat dari tripleks menyerupai kapal bajak laut. Itulah gambaran kapal zaman dahulu, sedangkan rencong dan pedang yang digunakan terbuat dari gabus yang mirip seperti aslinya.

Pertunjukkan itu sungguh membuat kita tertegun menyaksikan kehebatan perempuan Aceh masa lalu, jauh dari yang namanya emansipasi sebagaimana digaungkan oleh negara barat pada abad ini.

Pertunjukkan yang berlangsung sekitar 45 menit itu mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari penonton, bahkan Pak JK sengaja berdiri dan diikuti oleh penonton lainnya. 

Penari yang tampil di tengah hujan dan beceknya air hujan di terminal terbuka tersebut patut diberikan apresiasi sebesar-besarnya. Bukan Cuma karena aksinya membuat kita mengenang Laksamana Malahayati, namun mereka bertahan di tengah hujan yang membasahi tubuh mereka.

Totalitas mereka dalam menampilkan yang terbaik luar biasa, sebelumnya mereka juga berlatih selama dua bulan untuk bisa mempersembahkan tarian ini. Tentunya ini tidak terlepas dari dukungan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh.

Bagiku tari kolosal Laksamana Malahayati itu menghidupkan kembali semangat wanita Aceh yang dikenal sebagai perempuan tangguh dan perkasa. 

Aksi penari kolosal Laksamana Malahayati 

Sumber foto dari tim liputan GenPi Aceh.

Ketika Handphone Hilang di Pelabuhan saat Menuju Sabang


Baru saja lima menit yang lalu aku update status di Instagram bahwa aku akan ke Sabang, tapi handphone (HP) jenis ADVAN S5E keluaran tahun 2014 itu, tidak ada lagi ditanganku.

Aku berlari menuju toilet umum wanita yang ada di pelabuhan Ule Lheu, berharap menemukan HP yang sudah tiga tahun setia menemaniku. Sayangnya cuma ada gayung dan air dalam timba, di tempat pembuangan kotoran manusia itu.

Ngapain pula HP ku nangkring di kamar mandi, kan aku nggak main HP saat buang air kecil tadi?” pikiranku bermain, mengira-ngira di mana posisi HP ku.

Tidak ada salahnya memeriksa toilet itu, siapa tahu terjatuh dari tas saat aku menggantungkannya di dinding kamar mandi. Sayangnya asumsi itu tidak benar sama sekali, tidak ada ditemukan HP berjenis Android di sini. 

Aku mencoba bertanya kepada setiap orang yang keluar dari kamar mandi tersebut, namun tidak ada satu orang pun yang tahu dan melihat HP itu.

Dugaan pun mengarah pada tas ranselku, mungkin ada terselip di kantong diantara barang-barangku. Alangkah terkejutnya diriku ketika melihat ada salah satu resleting tas tidak dikancingkan, alias menga-nga begitu saja.

Di tempat itulah biasanya aku meletakkan HP itu, tapi sekarang HP nya tidak ada, hanya meninggalkan beberapa alat tulis dan kartu namaku.

Oh, Tuhan. Cobaan apa yang Kau berikan kepadaku? Meskipun HP nya butut dan sudah usang, tidak bisakah hilangnya setelah aku pulang dari Sabang?” Aku berarap dalam hati supaya Tuhan mengabulkannya.

Posisiku sangat terjepit saat itu, hanya HP itulah satu-satunya penghubung komunikasi dengan Kak Farah. Tapi HP itu tidak tahu di mana kebaradaannya dan aku berharap cemas berputar-putar, sambil menunggu kedatangan Kak Farah.

Kami ditugaskan untuk mendata fasilitas penunjang pariwisata terkait penginapan, rumah makan, dan sovenir yang ada di Kota Sabang. Proyek ini kerjasama dinas pariwisata Aceh dengan Generasi Pesona Indonesia (GenPi) Aceh yang dalam hal ini ditugaskan kepada kami berdua.

Biaya transportasi dan akomodasi selama di Sabang ditanggung oleh pihak dinas, tapi masalahnya uangnya dipegang oleh Kak Farah dan aku tidak membawa duit sepersen pun saat ini. 

Aku tetap berusaha mencari HP butut itu dan berharap Kak Farah menemukanku di pelabuhan. Aku menelusuri jalanan yang kulalui sejak tadi, yaitu dari tempat antrian motor ke toilet wanita.

Jaraknya tidak jauh hanya 200 meter, hampir empat kali aku bolak-balik melewati jalan yang sama. Aku yakin HP ku itu pasti jatuh disekitaran sini, karena tas ku saat itu terbuka atau mungkin ada orang yang sengaja membuka dan mengambil HP ku. Pikiran paranoidku pun mulai muncul.

Aku bertanya ke setiap orang yang ada di sekitar itu, tapi tidak ada seorang pun yang melihat ada HP yang jatuh. Aku memberanikan diri untuk bertanya sama tukang becak, penjual asongan, dan gerombolan anak-anak laki-laki ABG yang sedang menunggu kedatangan kapal menuju Sabang. Sepertinya mereka ingin pergi berlibur ke Sabang. Tapi satu pun tidak ada diantara mereka yang melihatnya.

Di situasi ramai seperti di pelabuhan, tentu sulit untuk melacak barang-barang yang jatuh, jika pun ada mungkin sudah raib diambil orang. Aku menuju tempat informasi, berharap ada CCTV dipasang di pelabuhan. 

Ternyata tidak ada satu pun CCTV di pelabuhan. Mereka tidak bisa membantu banyak dan hanya menyehatiku lain kali harus berhati-hati lagi.

Aku sedikit kecewa karena pelabuhan penghubung yang merupakan gerbang menuju pulau paling barat Indonesia ini, tidak dilengkapi dengan fasilitas CCTV. Aku yakin dipelabuhan Sabang yang katanya mau dijadikan sebagai Pelabuhan Hub Wisata Bahari Internasional juga tidak ada CCTV.

Mungkin mereka belum merasa penting penggunaan CCTV di pelabuhan, tapi sebentar lagi di bulan November akan ada event besar berskala internasional di Sabang, yaitu Sail Sabang 2017. Masak tidak ada CCTV sih untuk pengamanan di pelabuhan?

****

Aku semakin cemas, “Kenapa kejadian buruk ini terjadi di saat aku ingin menikmati keindaahan alam kota Sabang?”

Setelah tahun 2012 lalu aku pergi ke Sabang hanya dalam waktu semalam saja, inilah kesempatan kedua pergi menuju daerah pulau terindah di Indonesia ini.

Untungnya ada seorang laki-laki muda yang mau membantuku untuk menelpon ke nomor HP ku. Ciee, akhirnya pangeran datang juga, hahaha. 

Meskipun bukan aku, mungkin laki-laki itu juga mau membantu. Karakter orang Aceh kan memang begitu, sangat ringan tangan memberi bantuan bagi orang yang kesusahan, Semoga saja terus begitu ya.

Dia menelpon nomor HP ku berkali-kali, berharap ada terdengar nada deringnya. Aku mengajaknya menelusuri jalanan yang aku lalui dari tadi, mutar-mutar keliling pelabuhan bahkan berkali-kali pergi ke toilet wanita.

Untungnya dia sabar mengekoriku sambil mendekatkan HP nya ke telinga, berharap nomor yang dituju ada yang mengangkat dan berkata “Aku menemukan HP jenis Andoroid, di mana aku bisa mengembalikannya.” Sebuah harapan yang tidak pernah kesampaian, hanya menjadi hayalanku saja.

Aku terduduk lemas di bawah pohon cemara dekat antrian motor yang sebentar lagi akan memasuki badan kapal. Di tempat ini lah satu jam yang lalu aku sibuk chating dan update status di berbagai akun media sosialku.

Sekarang hanya tatapan kosong memandang motor yang berjejer di hadapanku. Sebentar lagi motor-motor itu bergerak memasuki badan kapal, begitu juga dengan motorku yang sudah berada diantara motor lainnya.

Pemuda yang dari tadi mengekori membantu mencarikan HP ku, mengingsut-ingsut di antara motor-motor laiannya. Sambil memegang HP yang terus mencoba menghubungi nomorku, dia mendekatkan telinganya di setiap motor yang ditelusurinya.

Melihat dirinya yang begitu bersungguh-sungguh mencari HP ku, lalu aku mendekatinya dan bertanya apa yang sedang dia lakukan. 

Dia bilang mendengar suara yang diyakininya suara nada dering HP. Aku pun memfokuskan pendengaranku dan ternyata benar itu adalah nada dering HP yang biasa aku pakai.

Dengan gerak cepat aku melewati barisan motor, menuju satu motor Honda Spacy yang tidak lain adalah motorku sendiri. Ternyata HP ku berada dia dalam tas kecil yang aku gantungkan di depan motor.

Oh Tuhan., betapa pelupanya aku sampai-sampai barangku sendiri lupa aku taruh di mana. Apa ini tanda gejala Alzhaimer

NOTE:

Semoga cerita singkatku ini jadi pengalaman buat teman-teman semua yang akan menuju ke Sabang. Apalagi di akhir November dan awal Desember nanti padat banget pelabuhannya, karena ada Sail Sabang 2017.

Nggak lucukan, kalau kamu harus menghabiskan masa liburanmu di pelabuhan lantaran kehilangan barang. Jadi, jaga sendiri barang bawaannya, jangan berharap kamu bisa melihat dari CCTV, karena tidak ada CCTV yang terpasang di pelabuhan.

Hati-hati juga bagi yang membawa pasangannya, jangan sampai tercecer atau kehilangan pasangan, karena tidak ada CCTV yang memantau pasanganmu. Hehehe.

Sampai jumpa di tulisan cuhat berikutnya. 

Enam Tempat Instagramable Banget untuk Berfoto di Sabang, Aceh

Sail Sabang 'Yell Saints'


Sebentar lagi bulan November, kamu tahu event apa di bulan itu? 

Bagi yang suka jalan-jalan dan pelesiran pasti tahu dong acara besar di akhir tahun ini, tepatnya itu di Pulau Weh Sabang, Aceh, Indonesia.

Di Pulau ini akan diadakan acara wisata bahari bertaraf internasional. Wow., pasti banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang kemari.

Event ini bernama Sail Sabang 2017 yang merupakan acara tahunan Sail Indonesia. Pada tahun 2016 lalu acara ini bertempat di Selat Karimata dan tahun ini Pulau Sabang lah yang menjadi pusat acara, sekaligus tuan rumah di pergelaran wisata bahari.


Acara puncaknya nanti akan menampilkan parade seni budaya dan parade kapal. Selain itu juga diadakan berbagai macam perlombaan seperti lomba menyelam, memancing, pemeran foto, video, dan kuliner, serta penjualan berbagai macam paket wisata.

Tentunya akan banyak wisatawan yang hadir ke acara tersebut dan akan banyak kapal-kapal pesiar yang berlabuh ke Sabang. Acara ini juga akan dihadiri oleh Presiden Indonesia bapak Jokowi. 

Nah, kamu bagaimana? Tertarik datang ke pulau barat Indonesia yang juga merupakan lokasi titik kilometer nol Indonesia?

Jika kamu datang kemari, maka enam tempat ini sangat instgramable banget untuk berfoto.

1. Tugu Kilometer Nol RI

Siapa yang tidak ingin datang ke tugu kilometer nol yang menjadi penanda geografis bagian barat Indonesia dan sebagai simbol perekat Nusantara?

Aku pernah kemari pada bulan Mei lalu, bertepatan dengan acara Pekan Nasional Petani Nelayan (Penas) XV 2017 Aceh. Meskipun acara berpusat di Kota Banda Aceh, ternyata banyak peserta Penas yang bersal dari luar Aceh menyempatkan diri menyambangi tugu kilometer nol ini.
Sail Sabang 'Yell Saints'

Lokasi tempat wisata kilometer nol ini saat itu dipadati oleh wisatawan, bahkan ada wisatawan yang bela-belain datang kemari hanya untuk berfoto dengan tugu yang berbentuk lingkaran berjeruji menyerupai angka nol itu. 

Tugu ini berada di Hutan Wisata Sabang, terletak di Desa Iboh Ujung Ba’u, Kecamatan Sukakarya. Untuk sampai kemari, kita membutuhkan waktu sekitar 40 menit berkendara dari pusat kota Sabang. 

Memang sih perjuangan banget untuk bisa sampai kemari, karena medan yang dilalui begitu terjal dan curam. Sepanjang jalan dikelilingi oleh pohon-pohon hutan dengan jalan yang menajak dan menurun. Ngeri-ngeri sedaplah saat di perjalanan.

Sail Sabang 'Yell Saints'

Setelah sampai di tugu tersebut, rasa lelahmu akan tergantikan dengan indahnya pemandangan yang berada di sana. Kamu pun bisa berfoto ria dengan tugu tersebut dan membagikannya ke akun instagrammu. Banyak banget spot menarik yang bisa kamu jadikan objek foto untuk koleksi foto di instagrammu.


2. Benteng Jepang

Sudah pernah mendengar benteng ini? Ya, di Sabang terdapat sebuah benteng peninggalan tentara Jepang.

Benteng tua ini berada di daerah Pantai Anoi Itam, jika dari pusat kota, maka kita membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk menuju kemari dengan menggunakan kendaraan.

Tempat terbaik menurutku yang instagramable banget untuk berofoto ialah di depan bunker tua yang menghadap langsung ke laut lepas. 

Sail Sabang 'Yell Saints'

Kamu seakan-akan terlihat sedang berada dimana gitu, soalnya aku pernah memosting di instagram foto selfie di depan benteng ini, sontak teman-temanku pada kepoin foto itu, hehehe.

Hamparan laut biru di depan benteng ini membuat kita betah berlama-lama, apa lagi dengah hijaunya rerumputan yang tumbuh di tanah dengan kemiringan 30º berasa kayak berada di dunia Teletubis. Kamu tahu kan film kartun itu? Generasi tahun 90-an, pasti tahu film ini.

Sail Sabang 'Yell Saints'


3. Taman BNI Kota Sabang

Tempat ini sangat cocok buat kamu yang ingin memberitahukan teman-temanmu bahwa kamu sedang berada di Sabang. Soalnya di sini ada tulisan 'I Love Sabang' segedek gaban. Kamu bisa berfoto di sela-sela huruf-huruf tersebut dengan gaya terbaik yang kamu punya.

Sail Sabang 'Yell Saints'


Taman ini sepertinya dibuat oleh Bank Nasioanl Indonesia (BNI), karena ada icon BNI di situ. Kan banyak ya BNI mendirikan taman-taman di berbagai kota, termasuk di kota kecil paling barat Pulau Sumatera ini.

Masih di sekitaran taman, ada sebuah tempat yang dibangun seperti menara, tapi bukan menara juga sih yang digunakan untuk melihat kota Sabang dari atas. Kamu cukup menaiki beberapa anak tangga dan di atas sana dan langsung bisa menikmati indahnya pemandangan laut Kota Sabang.

Sail Sabang 'Yell Saints'

Taman ini juga tidak sulit untuk dicapai, karena memang berada di pinggiran jalan. Jika kamu dari pelabuhan hendak menuju kota, maka kamu akan melewati taman ini.

Sail Sabang 'Yell Saints'


4. Taman Sabang Merauke

Selain Taman BNI Kota Sabang, ada juga taman lainnya yaitu Taman Sabang – Merauke. Kalau di Taman BNI bertuliskan I Love Sabang, di sini ada tulisan Sabang Meruake. 

Mungkin taman ini dibuat untuk menunjukkan bahwa Indonesia itu batas geografisnya dari Sabang sampai Merauke dan ini tempat paling baratnya. Itu kan menurut pemikiran aku saja, hehehe.
Sail Sabang 'Yell Saints'

Tempat ini tentunya instagramable banget untuk berfoto, bahkan waktu aku kemari ada tiga bule cewek asal Korea yang datang dengan menaiki becak motor dan meminta pada Bapak becak itu untuk memfoto mereka. Segitu antusianya mereka ya, sampai-sampai tukang becak dijadikan fotografer. Lol.


5. Pantai Gapang

Kalau kamu ke Sabang, sempatkan juga untuk mengunjungi Pantai Gapang yang berada di Kelurahan Iboih, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang.

Di kawasan ini banyak banget bule-bule yang berlalu lalang ke sana kemari, seperti kampung bule saja. Iya, benaran deh. Kalau kamu nekat, bisa ajak salah satu bule untuk berfoto dengan kamu biar tambah instagramabale gitu fotonya.

Sail Sabang 'Yell Saints'

Selain itu, di sini juga banyak toko-toko suvenir yang menjual pakaian dan pernak pernik ala pantai. Kamu bisa membelinya untuk menambah kece penampilanmu saat berfoto. Apa lagi kalau berfoto di pantainya, wuih kayak gimana gitu, karena pantainya indah banget.


6. Hotel Casanemo

Inilah hotel yang paling kece menurutku, karena banyak banget spot menarik yang bisa kita jadikan objek foto. Tempatnya juga unik karena kamar hotel ini dibuat seperti rumah-rumah kecil yang disebut bungalow.

Hotel ini juga mendapat apresiasi dari Kementrian Pariwisata Indonesia dalam ajang pariwisata bertajuk Apresiasi Pesona Destinasi Pariwisata Indonesia (APDPI) 2017, sebagai pengelola hotel ramah lingkungan (green hotel). Hebat kan?

Sail Sabang 'Yell Saints'

Tempat yang menjadi favoritku untuk berfoto ialah di tepi pantai, karena hotel ini lansung berhadapan dengan pantai Sumur Tiga. Di tepi pantai terdapat restauran bergaya minimalis dan tentunya cantik banget. Ada juga kursi pantai yang disediakan buat kamu yang ingin bersantai dan berfoto-foto manjah dengan gaya tiduran seperti para bule. 

Hotel ini berada di Jl. H. Agus Salim, Ie Meulee, Sukajaya, Kota Sabang, Aceh. Jika kamu ingin mengetahui hotel cantik dan menarik lainnya di kota Sabang, bisa baca tulisan aku tentang 7 Penginapan Romantis yang Cocok untuk Bulan Madu di Sabang.


Sail Sabang 'Yell Saints'


Nah, itu dia tempat instagramable yang menjadi rekomendasiku saat menyambangi Kota Sabang. Jadi, kamu bisa kemari nanti untuk mengabadikan foto diri atau selfie bahasa kekikiniannya. Ya, begitulah anak jaman now menyebutnya.

Aku tunggu foto terbaikmu di tempat-tempat ini ya!